Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Ponsel Adhi kini telah berganti posisi beberapa kali hanya dalam waktu satu jam saja. Dia memindahkan ponselnya terus menerus, berharap kalau tempat menentukan sinyal. Tapi tidak ada yang berbeda. Wanita itu tidak menghubunginya sama sekali. Bahkan dia telah meninggalkan pesan tapi tidak dibaca oleh Ambar. Apa wanita itu memang sibuk karena harus berpindah tempat menginap? Atau ... Ambar kesal padanya? Tapi ... kesal kenapa? Dia tidak merasa melakukan sesuatu yang membuat wanita itu kesal.


Adhi kini bekerja di salah satu klub miliknya. Dia masih sibuk melihat laporan yang lama sekali tidak diperiksanya secara langsung.


"Apa Anda menunggu telepon?" tanya anak buah yang dipercaya olehnya.


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Anda terus menerus memeriksa ponsel"


"Tidak, aku tidak menunggu apapun. Aku hanya ... "


Tidak ada pesan balasan ataupun telepon masuk, Adhi meletakkan ponselnya lagi dan bertambah kesal.


"Kenapa kau masih disini?" tanya Adhi lagi, melihat anak buahnya masih di ruangannya.


"Saya menunggu laporan yang Anda baca" jawab anak buahnya membuatnya sadar kalau selama beberapa jam in dia terlalu memusatkan pikiran pada ponselnya.


"Keluarlah!"


Adhi tidak ingin lagi membaca laporan apapun sekarang. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan malam dan memutuskan untuk pergi.


Dia melihat rumah putih yang ada di depannya dan menghubungi seseorang. Sekitar lima menit kemudian, ada seorang wanita yang keluar dari rumah itu dan menghampirinya yang sedang menunggu di samping mobil.


"Ngapain kamu kesini? Malem-malem lagi"


"Ini belum malam. Mana dia?"


"Siapa? Ambar?"


"Iya"


"Kan aku udah bilang dia gak tidur disini lagi. Udah nyewa hotel"


"Dimana?"


"Dia gak bilang sama kamu?"

__ADS_1


"No"


"Kalo gitu aku juga gak bisa bilang. Itu terserah Ambar, takutnya dia lagi istirahat kamu ganggu"


Adhi merasa heran kenapa wanita itu tidak mau menerima teleponnya dari siang tadi. Sudah berulang kali Adhi mencoba menghubungi lagi, tapi tetap tidak diterima. Bahkan pesan yang dikirim Adhi juga tidak terbaca, padahal nomor wanita itu aktif.


"Apa nama hotelnya?"


"Aku udah bilang gak bisa bilang"


"Sial!! Katakan nama hotelnya?!" bentak Adhi pada Rea yang kemudian terkejut melihat perubahan emosinya. Dia sudah kesal sekali sejak tadi siang karena wanita itu.


"Emangnya kamu mau ngapain sih Dhi?"


"Bukan urusanmu"


"Wah, aku sampe ninggalin meja makan nih"


"Apa nama hotelnya?"


"Tunggu. Kalian ada masalah ya?"


"Apa?"


"Tadi Ambar keliatan gak suka banget bicaraain kamu. Kalian emang ada masalah ya?"


"Bukan urusanmu"


"Tapi, eh. Tunggu. Kamu jangan-jangan salah paham ya sama kelakuan Ambar pagi tadi"


"Apa?"


"Tadi pagi, Ambar bersikap mesra itu bukan karena dia suka sama kamu lho. Dia sama aku punya rencana buat bikin Feli cemburu, itu sebabnya dia nempel ke kamu"


Rencana? Bukan karena Ambar suka? Adhi merasa bingung sekarang. Pagi tadi, Ambar melingkarkan tangan di lengannya, memanggil namanya dan membelanya di hadapan Danial bukan karena suka?


"Apa maksud kalian?"

__ADS_1


"Gini ya. Aku sama Ambar mikir kalo Feli itu pasif banget. Gak bisa ngeluarin apa yang ada di dalam hatinya. Makanya kita bikin Feli cemburu. Eh ... kata Ambar itu berhasil. Feli mukanya merah terus pingsan. Berarti memang Feli suka banget sama kamu Dhi. Terus kamu gimana?"


Adhi membutuhkan waktu lama untuk mencerna semua yang didengarnya baru saja. Aneh. Dia tidak merasa senang akan berita ini. Dia merasa ... marah. Marah karena ... wanita itu berani membohonginya. Tapi ... bukankah Ambar dan Rea hanya mencoba untuk menolongnya? Tidak, itu bukan menolong namanya. Itu ... membuatnya bingung.


"Dhi. Adhi. Aku balik ke rumah ya. Jangan ganggu Ambar kalo dia lagi tidur!"


Rea kembali masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Adhi di pinggir jalan begitu saja. Pantas saja wajah Feli merah sekali, lalu pingsan. Perempuan itu memang benar-benar mencintainya. Harusnya Adhi merasa senang dan apa? Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus diperbuatnya saat dia tidak merasa senang akan hal itu? Tidak. Dia harus bertemu dengan perempuan yang membuatnya bingung. Atau dia tidak akan bisa tidur malam ini.


Adhi pergi ke hotel tempat wanita itu tinggal untuk sisa liburannya dan berdiri tepat di pintu kamar. Awalnya dia ragu apakah perlu melakukan semua ini. Tapi dia tidak bisa berpikir lagi dan mengetuk pintu kamar itu. Mengetuk pelan lalu berangsung menjadi semakin keras karena tidak ada reaksi dari dalam kamar.


"Maaf, apakah Anda ingin menemui tamu di kamar itu?" tanya pelayan hotel pria yang mengetahui perbuatannya.


"Iya, dia istriku tapi tidak membiarkanku masuk" jawab Adhi berbohong.


"Apakah Anda sedang bertengkar?"


"Iya. Aku menyakiti hatinya pagi tadi dan dia keluar dari rumah lalu tidur disini"


"Anda sedang dalam masalah rupanya"


"Bisakah kau membuka pintu ini? Aku takut ada apa-apa dengan istriku"


"Itu menyalahi aturan hotel kami. Maaf tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa"


"Aku akan membayar, berapapun"


Pelayan hotel itu tampak ragu untuk sesaat. Tapi setelah Adhi mengeluarkan beberapa lembar ratusan dolar, pelayan itu membuka pintu kamar Ambar dengan senang hati. Adhi berhasil masuk ke dalam kamar dan melihat wanita yang dicarinya dari siang tidur nyenyak di depannya. Wanita itu tidak memakai penutup kepala dan menampakkan rambut pendek hitamnya. Adhi mendekat ke arah ranjang dan duduk tepat di sebelah tubuh Ambar. Amarah dan kebingungan yang dirasakannya sejak tadi menghilang sudah entah kemana. Dia hanya bisa terdiam dan mengamati wajah Ambar untuk beberapa waktu. Lalu wanita itu bergerak menyajikan punggungnya yang terbuka.


"Gaun tidur yang bagus" komentar Adhi saat melihat gaun tidur Ambar yang memperlihatkan hampir semua bagian atas tubuh wanita itu. Tanpa menunda lagi, dia melepas mantel dan jasnya lalu berbaring dan memeluk Ambar. Hangat sekali, dan ... nyaman.


Perlahan sekali, Adhi membelai kulit lengan Ambar yang putih tak berjejak dan tenggelam dalam mimpi dimana dia menyentuh semua bagian tubuh wanita itu. Malam berlalu dengan cepat lalu Adhi merasakan sesuatu yang ganjil. Dia membuka matanya dengan susah payah dan merasakan napas hangat menyapu leher dan dadanya. Rupanya Ambar bergerak lagi dan kini menghadap ke tubuhnya. Adhi mengecup pelan dahi Ambar llau berusaha tidur lagi. Tapi dia tidak bisa melakukan itu. Dia harus pergi sebelum wanita itu terbangun dan sadar akan kehadirannya.


'Sebentar lagi, lima menit lagi' pikirnya lalu membuka mata lebar-lebar.Tidak boleh. Tidak boleh. Dia harus segera pergi sekarang juga.


Adhi melepaskan pelukannya dan Ambar mendesah sedikit. halus sekali sampai dia ingin mendengarnya lagi. Adhi tinggal sedikit lebih lama dari rencananya dan mulai membelai wajah Ambar. Sial. Sepertinya dia mulai terjatuh pada pesona wanita ini. Pesona yang laki-laki lain tidak pernah tahu. Dan itulah yang membuatnya bingung. Namun, dia sadar akan banyaknya perbedaan yang mereka miliki. Rasa sukanya pada wanita ini juga masih terllau dangkal dibandingkan dengan perasaannya pada Feli. Malam ini, ddia akan menata kembali perasaannya dan menghapuskan semua ingatan tentang tubuh, aroma dan pesona Ambar di dalam pikirannya. Selamanya. Dan memulai perjuangannya untuk mendapatkan perempuan yang benar-benar dia cintai.


"Selamat tidur" katanya lalu mengecup bibir Ambar. Dia meninggalkan wanita itu dan kembali ke apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2