Second Lead Fate

Second Lead Fate
Lima Puluh Empat


__ADS_3

"Ambar duduk!" kata ayahnya saat Ambar turun dari kamar dengan pakaian siap pergi.


"Ambar sibuk Pak. Bu, Ambar berangkat dulu"


"Ambar!!"


Ambar tidak mengindahkan teriakan ayahnya dan segera masuk ke dalam mobil. Sejak semalam sampai sekarang, berada di dalam rumah membuatnya sesak. Dia ingin segera pergi dari rumah dan bekerja saja. Itu sebelum dia mendapatkan tamu yang paling tidak diinginkannya.


"Mbar"


"Kenzo, ngapain pagi-pagi gini?"


"Aku tadi ke rumah. Katanya kamu udah berangkat"


"Kamu ke rumah?"


Ambar memasukkan kunci di pintu toko dan membukanya dengan satu dorongan kuat. Ada bau lem kuat dari dalam toko karena Ambar dan pegawainya sedang mengerjakan kotak souvenir kemarin.


"Iya. Aku ketemu Ibu"


"Oh, kenapa cari aku?"


"Kamu bisa diem dulu gak?"


"Apa?"


"Kamu bisa gak diem dulu"


Ambar berhenti berjalan, berbalik mengahadap temannya dan memilih diam. Perlahan Kenzo mendekatinya dan mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.


Sebuah cincin emas dengan pola bergulir kini ditunjukkan Kenzo ke arahnya.


"Mbar ... kalo mau nikah mending sama aku aja. Mau gak kamu nikah sama aku?"


Ambar tidak bergerak. bahkan matanya berhenti mengedip dalam waktu beberapa detik lalu kemudian normal kembali. Dia tidak menyangka. Sangat tidak menyangka akan mendapatkan lamaran, di waktu pagi seperti ini. Bukan. Dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan lamaran dari siapapun. Apalagi Kenzo, sang penakluk wanita yang merupakan temannya sejak lama.


"Kalo kamu butuh waktu buat jawab, gak apa-apa. Aku tahu kamu pasti kaget. Tapi ... aku udah suka kamu dari lama. Aku nunda kasih tahu kamu karena takut pertemanan kita bakal rusak setelah ini. Kamu simpen aja cincin ini, kalo nanti kamu terima kamu pake. Tapi kalo ... "


Ambar menolak menerima cincin pemberian dari Kenzo. Bukan karena menolak tapi juga tidak berniat menerima. Dia melihat mata Kenzo bergetar dan mulai bingung.


"Aku ... "


"Kamu kaget ya?"


Tidak. Sebenarnya, daripada dibilang kaget, dia lebih ke tidak tahu mau berbuat apa. Dia tidak menyukai Kenzo seperti yang diharapkan temannya itu. Hubungan mereka bagi Ambar hanyalah sebatas pertemanan biasa. Dan sebenarnya Ambar mulai menghindari pertemuan dengan Kenzo karena pernyataan disaat dia tidur waktu itu. Tapi, kalau secara langsung diminta menjawab seperti ini. Rasanya sangat sulit.


"Ken, aku ... "

__ADS_1


"Jangan dijawab sekarang. Aku sebenernya juga gak mau buru-buru ngelamar kamu. Tapi, niat bapak jodohin kamu, bikin aku terancam"


Ambar benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Dia tidak memiliki keberanian untuk menikah dengan siapapun sekarang.


"Tapi, aku ... "


"Pegang aja cincin ini. Nanti kalo kamu udah mau nerima dan nikah sama aku, pake ya"


Sebenarnya, dari tadi Ambar sudah berusaha menolak permintaan Kenzo. Tapi temannya itu terus saja memotong perkataannya. Membuat Ambar seperti orang bodoh saat akhirnya Kenzo berlari ke mobilnya dan pergi dari halaman toko.


Tak lama dua pegawainya datang bersamaan dan terkejut melihat Ambar.


"Kak Ambar ngapain berdiri disini?"


Ambar tidak menjawab, dia hanya bisa menggenggam cincin pemberian Kenzo di tangan kirinya.


"Kak. Kak Ambar?"


"Eh, iya"


"Apa kak Ambar sakit?"


"Gak"


"Terus kenapa kak Ambar?"


"Aku tadi periksa kotak yang kita bikin kemarin. Ada seratus masih belum dilipat"


"Oh, iya kak."


"Kita lanjtin aja sekarang. Mumpung gak ada pesanan yang lain buat minggu ini"


"Beres kak"


Setelah pekerjaan berakhir dan waktu pulang tiba, Ambar mulai cemas. Dia sudah membuat suasana rumah menjadi tidak menyenangkan. Apalagi sekarang, pikirannya juga dibebani dengan lamaran mendadak Kenzo yang tidak pernah diperkirakan olehnya sama sekali. Dia berjalan ke depan mobil tapi tidak memiliki keinginan berkendara. Jadinya, tepat sebelum adzan sholat Maghrib berkumandang, Ambar berjalan tak tentu arah. Setelah waktu sholat tiba, dia melihat sekelilingnya dan menemukan sebuah masjid besar dan indah di pinggir jalan. Dia pergi ke Masjid dan menunaikan sholat tiga rakaat itu. Sesudahnya dia duduk di depan masjid dan mulai menyadari sudah berjalan terlalu jauh dari tokonya. Dia tidak mengenali lingkungan yang ada di sekitarnya. Sepertinya lingkungan perumahan mewah yang tidak pernah didatangi oleh Ambar sama sekali.


 


"Aku akan pegi kesana sekarang" kata Adhi mengabari Kenzo. Ada masalah di salah satu klubnya sekarang. Perkelahian antara penerus perusahaan kaya yang disebabkan karena perebutan wanita. Adhi mulai malas menghadapi masalah demi masalah yang ada di klubnya ini. Dia memikirkan rencana untuk menutup klub di jakarta tapi belum menemukan bisnis lain yang bisa dijalananinya untuk memperoleh uang.


"Apa Anda akan pulang malam Tuan?"


Adhi melihat ke arah pembantu yang baru dimilikinya dua hari lalu. Bersama rumah, satpam dan dua pembantu lainnya.


"Iya. Aku akan pulang tengah malam. Kalian tidak usah menyiapkan apa-apa"


"Baik Tuan"

__ADS_1


Ternyata Andy berbakat merekrut pembantu. Selama dua hari ini Adhi tidak memiliki keluhan apapun tentang pegawai yang ada di rumah barunya.


Dia memacu mobilnya keluar rumah dan menyusuri jalan paving dengan pohon-pohon besar di kedua sisinya. Lingkungan rumah yang tenang dan nyaman, seperti yang selalu diinginkan oleh Adhi. Juga dekat dengan pusat kota, seperti yang dibutuhkannya. Saat mobilnya hampir keluar lingkungan perumahan, tiba-tiba matanya melihat seseorang. Seseorang yang dia kenali. Dia segera menghentikan mobil dan keluar untuk mengejar wanita itu.


"Ambar!" panggilnya lalu wanita itu menoleh ke arahnya.


"Lho kok"


"Apa yang kau lakukan?"


"Ha? Saya?"


Adhi mulai melihat Ambar dari ujung kepala sampai kaki. Dia mendapati sepatu Ambar kotor seperti baru saja dipakai berjalan jauh.


"Kamu jalan? Kemana mobilmu?"


"Mobil? uhhh, saya hanya pengen jalan"


"Ini bukan jalan ke tokomu"


"Masa'? Oh iya"


Wanita itu mulai melihat sekelilingnya dan melanjutkan perjalannya kembali ke arah luar perumahan. Adhi mulai merasa ada yang tidak beres dengan Ambar. Seminggu sudah dia tidak bertemu dengan Ambar, dan wajah wanita itu lebih suram daripada sebelumnya.


"Ambar!" panggilnya lalu Ambar menoleh sekali lagi.


"Apa?"


"Apa kamu mau minum kopi?"


"Gak" Wanita itu melanjutkan langkahnya setelah menolak ajakan Adhi


"Kamu tidak boleh jalan seperti ini!"


Adhi menyusul langkah dan menarik lengan wanita itu. Ambar nampak tidak suka dengan caranya, sehingga Adhi terpaksa melepaskan pegangannya.


"Apa sih?"


"Aku akan mengantarmu pulang"


"Gak mau"


"Apa"


"Udahhh. Bisa gak Bos pergi aja? Saya ini pengen jalan"


Tepat sedetik setelah Ambar mengatakan hal itu, rintik hujan dari awan mendung yang menggantung sejak sore tadi mulai turun dengan derasnya.

__ADS_1


Adhi kini menatap wajah basah Ambar yang terpaksa naik ke mobilnya.


__ADS_2