
"Bagaimana bisnismu?"
Adhi melihat malas ke ayahnya yang sedang bertanya.
"Baik"
"Sudah berulang kali kukatakan untuk menutup klub seperti itu!"
Senyum sinis hadir di wajah Adhi. Ayahnya bahkan tidak mengedipkan mata saat mengusirnya sepuluh tahun lalu. Kenapa sekarang seakan ingin mencampuri urusannya.
"Itu bukan urusanmu"
"APA???"
Ayaahnya berdiri karena marah. Seperti inilah kelakuan ayahnya ketika marah. Selalu berlebihan dan tidak bisa menila yang salah atau benar lagi. Persisi seperti saat itu.
"Sudah. Baru kali ini Adhi pulang"
"Dasar anak tidak tahu diri"
Adhi dan orang tuanya memang sudah lama sekali tidak pernah bertemu. Tapi rasanya tidak selama itu. Karena Adhi mulai merasa seperti telah berada di rumah ini lama. Pertengkaran demi pertengkaran yang dilakukannya dengan ayahnya memang sering terjadi dari dulu.
"Sungguh. Aku merasa kau sudah kembali Dik" komentar Danial lalu tertawa bahagia.
Sebagai anak tertua, tentu saja Danial tidak akan pernah nmengalami apa yang dirasakan oleh Adhi. Danial akan selalu berada di atas dan pantauan orang tuanya. Kesalahan apapun yang ddibuat Danial akan dianggap tidak ada. Sedangkan Adhi? Semuanya akan terakumulasi dengan baik.
"Maaf kalau kau mendengar semua ini, ... Ambar?"
Adhi menoleh untuk memastikan Ambar mengerti pertanyaan ibunya. Tapi sejak tadi, wanita itu seperti tidak memiliki masalah untuk berkomunikasi.
"Tidak apa-apa. Itulah keluarga" jawab Ambar, mengejutkan Adhi.
Keluarga? Cih, Pasti karena Ambar belum pernah tahu apa yang orang tua itu lakukan pada Adhi.
"Apa orang tuamu masih ada?"
"Yes"
"Apa mereka pernah melakukan sesuatu?"
"Tentu saja"
"Apa itu?"
"Menikah"
Adhi kembali menoleh pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Memang benar kalau orang tua Ambar sedang menekan tentang pernikahan. Tapi, sepertinya itu bukan bahasan yang tepat untuk siang ini.
"Ho ho. Jadi orang tuamu ingin putraku menikahimu?" lanjut ayahnya ingin ikut campur. Adhi mulai was-was, kalau Ambar menjawab dengan sembarangan.
"No. Orang tua saya bahkan tidak mengenal ... "
Sial. Benar saja. Wanita ini memang tidak bisa membaca situasi dengan baik.
"Kami belum memutuskan hal itu" potong Adhi lalu menatap tajam pada Ambar. Dan akhirnya wanita itu mengerti kesalahannya.
Makan siang akhirnya selesai tanpa ada kejadian yang diluar rencana. Ambar ternyata cukup bisa menguasai dirinya dan tidak membicarakan masalah hubungan mereka lagi.
__ADS_1
"Adhi" panggil seseorang. Adhi memperhatikan perempuan yang datang mendekatinya. Feli, sungguh ingin rasanya dia membawa perempuan ini pergi. Tapi, dia tidak bisa egois dan menghancurkan keluarga Feli hanya untuk kebahagiannya.
"Kau disini"
"Iya. Aku senang kau bisa datang ke acara ini"
"Yah, meskipun aku tidak diundang"
"Maaf. Aku ingin mengundangmu tapi ... "
Ada keraguan di dalam suara halus dan merdu yang dikeluarkan oleh Feli. Apa itu karena sebenarnya perempuan itu tidak menginginkan pernikahannya? Lalu, bagaimana caranya Adhi menyelamatkan perempuan yang dia cintai selama ini?
"Tidak apa-apa. Aku tidak kemari karena acaramu"
"Apa?"
"Sebaiknya aku mengajak Ambar pergi"
Adhi sebenarnya tidak ingin pergi. Dia ingin terus bicara dengan Feli, hanya saja ... . Semua itu tidak akan terlihat baik bagi siapapun.
"Iya. Kalian pasti capek setelah penerbangan lama"
"Iya"
Kalau dipikir-pikir ini adalah pertama kalinya Adhi bicara pada Feli dalam waktu yang lama. Setelah Feli resmi dilamar Danial, Adhi berusaha menghindar karena ingin melupakan calon pengantin kakaknya. Namun, semua itu tidak berhasil menyingkirkan cinta dari dalam hatinya.
Ambar memandang ke arah cowok bermata biru itu dan Feli. Bisa terlihat dengan jelas kalau keduanya saling menahan diri. Menahan diri untuk menunjukkan cinta pada satu sama lain. Ambar merasa itu bodoh sekali. Namun, banyak alasan yang membuat keduanya melakukan itu. Dan dia tidak berani ikut campur.
Cemburu? Apakah mungkin dia cemburu? Tidak. Ini bukan cemburu. Ini adalah rasa kasihan pada dua insan yang saling mencintai tapi tidak bisa bersatu itu.
"Apa Anda tidak cemburu Tuan Danial?"
"Kenapa kau membalas pertanyaan dengan pertanyaan?"
"Karena Anda selalu bertanya dari tadi"
"Kau terganggu?"
"Tidak"
"Kalau begitu kenapa kau tidak menjawab?"
"Apa pertanyaannya?"
Danial tersenyum. Senyum terindah yang pernah Ambar lihat. Gila. Deretan gigi dan lesung pipit itu membuat laki-laki di depannya tampak tidak terlalu menakutkan. Malahan, cakep banget, pikir Ambar.
"Subhahanallah" katanya kelepasan.
"Apa?"
"Tidak" sangkal Ambar merasa ketahuan sudah mengagumi ciptaan Allah yang bagus sekali ini. Tinggi, tampan, punya lesung pipit, berwibawa dan terakhir kaya raya. Sungguh sempurna sekali profil kakak Bos Kenzo ini.
"Kau mengatakan sesuatu"
"Iya"
__ADS_1
"Apa artinya?"
"Artinya saya memuji Allah, Tuhan saya"
"Kenapa?"
"Bisakah Anda tidak terus bertanya?"
"Tapi wajahmu merah, membuatku ingin terus bertanya"
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
Satu hal. Satu hal membuat Ambar tidak meragukan kalau laki-laki ini adalah kakak Bos kenzo. Keduanya sangat menyebalkan. Menyesal Ambar berbicara dengan laki-laki ini.
"Hahahahaha" tawa Danial memecah suasana hening di ruang makan ini.
"Kini aku mengerti kenapa Feli berteman denganmu" kata laki-laki itu seperti meremehkan. AMbar merasa sia-sia kalau menjawab pujian kaka Bos Kenzo ini. Tapi dia harus melakukannya.
"Dan itu karena?"
"Karena kau sangat lucu"
"Saya bukan komedian"
"Kau lebih dari komedian"
Ambar menarik napas panjang, berusaha menahan kekesalan yang memenuhi hatinya.
"Terserah"
"Kenapa kau tertawa?" tanya Feli yang ternyata mendekati mereka. Ambar memandang Bos Kenzo yang sedang berjalan mendekat juga dengan gelas minuman di tangannya.
"Temanmu ini, ternyata lucu juga" tuduh Danial.
"Sudah saya bilang. Saya bukan komedian"
"Iya, Ambar memang seperti itu" balas Feli memperparah keadaan. Jadi, lebih baik Ambar diam saja sekarang. Tahu-tahu badannya bergerak ke samping dengan kekuatan yang tidak terduga. Membuatnya menabrak dindding daging keras, dadda Bos Kenzo.
"Kita pergi sekarang"
Menahan sakit di lengannya, Ambar mengangguk. Menyetujui ide Bos Kenzo. Semakin lama disini, Ambar jadi tidak tega melihat wajah Feli yang sebentar sedih, sebentar senang tapi terpaksa.
"Kemana kalian pergi? Bukankah kalian akan menginap disini?" tanya sang ibu menahan kepergian putranya.
"Tidak. kami akan tidur di apartemenku"
"Tapi, kita baru saja bertemu setelah sepuluh tahun. Bukankah kau ingin makan malam disini dulu?"
Sang ibu sepertinya tidak ingin berpisah dari putranya yang lama tak kembali. Tapi Bos Kenzo sangat kuat pendiriannya. Atau munkin hanya keras kepala saja.
Akhirnya kami pergi dari rumah keluarga Syahreza setelah menyanggupi akan datang pada sarapan keluarga besok pagi dengan mengundang Rea juga.
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Danial" kata Bos Kenzo mengejutkan. Kenapa? Apa karena cowok ini membenci kakaknya? Atau ada alasan lain?
__ADS_1