
Ambar sampai di hotel sekitar pukul empat sore. Dia segera mandi lalu menunaikan ibadah sholat yang tertunda. Sejak tadi di mobil sampai sekarang, Rea sama sekali tidak bertanya apapun. Hal itu membuat Ambar sedikit merasa bersalah. Bagaimanapun dia telah melakukan kesalahan besar. Menyukai laki-laki yang mencintai temannya sendiri. Selesai sholat, dia menatap mata Rea yang sejak tadi mengamatinya. Masih dalam balutan mukena dia duduk di sebelah sahabatnya.
"Re, aku ... "
"Aku yang salah"
Apa? Kenapa? Ambar tidak mengerti kenapa Rea mengakui kesalahan yang dia buat.
"Re"
"Aku udah nyuruh kamu yang sama sekali gak pernah kenal laki-laki buat ngelakuin ini itu. Padahal harusnya aku ngelarang kamu dari awal"
"Itu bukan kesalahan kamu. Itu semua salah aku. Aku yang kege-eran sama perasaan aku sendiri"
Keduanya lalu terdiam. Merasa bersalah terhadap satu sama lain.
"Terus kamu gimana sekarang?"
"Aku? Gak apa-apa. Tapi ... aku kayaknya pengen cepet pulang"
"Ke Jakarta?"
"He ehm"
"Besok gimana? Toh Danial udah ngumumin pembatalan pernikahannya dimana-mana"
"Masa'?"
Ambar tidak tahu kalau ternyata Danial melakukan semuanya dengan cepat. Laki-laki itu pasti sedang terluka sekarang.
"Kamu ... kenal Danial?"
"Kami ketemu satu kali. Tapi, Danial udah punya firasat kalo Feli bakal pergi"
"Jadi dia tau?"
"Iya"
"Pantes. Cepet banget geraknya. Gak tau deh sekarang gimana keluarganya Feli ngadepin ini. Eh ... maaf Mbar. Aku gak sengaja"
"Gak apa lagi Re. Kan cuma aku yang punya perasaan kayak gini. Aku mohon kamu gak pernah ngomong ke siapapun tentang ini. Apalagi ... Feli"
Meskipun Ambar tahu bagaimana sifat Rea. Dia hanya ingin memastikan kalau masalah ini tidak terdengar di telinga Feli dan tentu saja ... cowok itu.
__ADS_1
"Aku janji. Apa tiket kamu udah siap?"
"Aku udah beli tadi waktu di mobil. Pagi besok, jam tujuh aku balik ke Jakarta"
"Kalo gitu aku nginep disini aja. Nemenin kamu"
"Iya"
Akhirnya Rea menemani malam terakhir Ambar di London. Mereka mendengar kabar kalau Feli juga sudah ada di London dan sedang menghadap ke kediaman keluarga Syahreza untuk masalah hubungannya dengan Bos Kenzo. Untuk itu sepertinya AMbar dan Rea hanya bisa mendukung dengan doa. Mereka tidak bisa mencamuri urusan antara kedua keluarga yang pasti terkejut.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rea yang mengajak Ambar makan malam diluar.
"Kebab"
"Oke. Aku juga ah"
Mereka berdua memakan makanan khas Turki itu dengan cepat, lalu berjalan di sepanjang jalan yang mulai ramai dengan orang pulang kerja.
"Aku pasti bakal kangen sama suasana kayak gini" kata Ambar.
"Ya, pastiin aja kalo kamu bakal kesini lagi"
"Mudah-mudahan bisa. Aku juga pengen ngajak Bapak sama ibu kesini"
Oh, Ambar tidak tahu kalau ternyata ada kejadian seperti itu saat dia tetap di jalan setapak tadi.
"Emangnya mereka?"
"Eh, maaf lagi Mbar. Aku belum bisa ... "
"Luka-luka dong" kata Ambar mencoba bersikap senormal mungkin. Padahal dalam hati dia mengkhawatirkan keadaan cowok itu.
"Iya. Apalagi Danial nyerangnya gak ditahan-tahan. Darah ada dimana-mana tadi. Tapi, udahlah gak usah diomongin lagi. Toh, udah selesai"
"Iya"
Sebuah pilihan yang bagus dari Rea. Kalau tidak, Ambar akan semakin mengkhawatirkan keadaan cowok itu.
Malam terakhir Ambar di London berlalu dengan cepat. Semalaman Ambar bicara dengan Rea dan tidak menyangka waktunya untuk pulang segera datang.Sebelum pukul setengah lima, dia sudah selesai mempersiapkan barang-barangnya. Tidak lupa mengemas oleh-oleh yang mendadak dia beli semalam sepulangnya dia dari makan malam.
"Udah siap semua?" tanya Rea yang sedikit-sedikit menguap.
"Udah. Tinggal mandi sama sholat terus aku berangkat"
__ADS_1
"Oke"
Satu jam kemudian, Ambar sudah ada di Bandara. Menunggu proses boarding yang akan segera dia lakukan. Rea dengan setia menunggu disebelahnya. Lalu, terdengar suara yang dikenalnya.
"Ambar!"
Ambar menoleh ke arah suara dan dimatanya terlihat sosok yang ingin sekali dihindarinya saat ini. Kenapa? Kenapa mereka berdua datang ke bandara? Ambar melirik ke arah Rea dan temannya itu meringis.
"Maaf, Feli desak aku terus. Aku gak tau kalo mereka dateng berdua" bisik Rea tepat sebelum Ambar dipeluk oleh Feli.
"Makasih. Makasih. Tapi kenapa kamu mau pulang?" tanya Feli dengan tetap mendekap Ambar erat-erat. Mata Ambar kemudian tertuju pada kaki yang sedang mendekat juga. Kaki itu terlihat ... pasti sakit, pikirnya lalu kembali fokus pada sahabatnya.
"Maaf ya Fel. Tapi, aku mesti pulang. Ada kerjaan besar di toko"
"Gak bisa dua hari lagi? Kita belum jalan-jalan berempat"
Aduh, kalau sampai itu terjadi. Pasti Ambar tidak tahu harus melakukan apa.
"Kan yang penting kamu udah sama orang yang kamu cintai. Jadi, aku bisa tenang ninggal kamu" kata AMbar dengan napas agak tercekat.
"Ambar. makasih ya. Kalo gak ada kamu. AKu sama Adhi pasti gak bisa kayak gini"
Ambar melepas pelukan Feli yang semakin menekan dan menatap lekat peri hutan yang menjadi semakin cantik itu.
"Kamu pasti bisa, meski aku gak ada. Asalkan kamu mau jujur. Semoga kamu bahagia sekarang"
Feli meneteskan air mata mendengar perkataan Ambar. Untuk yang terakhir, Ambar memeluk sahabatnya yang akhirnya bisa tersenyum dalam tangis itu. Lalu, tiba-tiba saja dia sudah ada di hadapan cowok yang tak sanggup dilihatnya.
"Selamat Bos" kata Ambar tanpa mengangkat kepala sama sekali. Dia tahu itu akan menjadi masalah, tapi Ambar belum siap melihat wajah Bos Kenzo.
"Kau ... akan pergi?"
"Iya"
"Aku ... minta maaf sudah ikut campur urusanmu dengan Kenzo. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu"
Hal ini lagi ternyata dibahas oleh cowok itu. Kini, sepertinya Ambar bisa mendongak dan melihat wajah cowok yang ada di hadapannya.
Dia melakukannya dan tampaklah mata biru yang membuatnya terpesona. Mata biru seperti lautan yang memanggilnya mendekat. Mata biru yang akhirnya dimiliki oleh orang lain. Sampai kapanpun, sepertinya AMbar tidak akan bisa melupakan mata biru itu. Dia berusaha keras agar tidak menangis di hadapan Bos Kenzo.
"Iya. Tidak apa-apa> Selamat ... tinggal. Semoga ... Anda bisa ... membahagiakan Feli. Dan ... saya harap Anda memeriksakan diri ke dokter. Kaki Anda terlihat ... "
Ambar menghentikan kata-katanya dan menggigit bibir. Itu bukan urusannya lagi, kenapa dia menyebutkan masalah kaki cowok itu?
__ADS_1
Ambar mundur, menjauh dari cowok yang aromanya melekat erat di hidungnya lalu segera menghampiri Rea. Memeluk sahabat-sahabatnya untuk yang kesekian kalinya dan pergi ke tempat boarding. Tentu saja dengan senyum yang dipaksakan. Selamat tinggal cinta pertama yang ternyata dapat menyiksanya sebanyak ini. Semoga kelak dia tidak akan pernah merasakan hal ini lagi. Ambar pergi, meninggalkan London tanpa berbalik lagi. Dia siap menatap masa depannya dengan lebih ambisius sekarang.