Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Dalam hidupnya, Adhi jarang sekali berbohong. Dia adalah tipe laki-laki yang memilih diam daripada bebohong. Termasuk pada kasus Feli, perempuan yang dicintai tapi tidak bisa dimilikinya. Tapi, kini dia lebih banyak mengutarakan kebohongan daripada kejujuran. Apalagi, terkait dengan masalah Ambar. Dari awal mereka bertemu, Adhi terus saja bicara bohong. Termasuk apa yang baru saja dia ucapkan pada wanita itu. Seandainya ada kesempatan dan wanita itu dalam keadaan tak bisa melawan, dia pasti akan melaksanakan apa yang dikatakannya tadi. Melepas penutup kepala dan baju Ambar lalu meninggalkan bekas kecupan di sekujur tubuh wanita itu. Membayangkan hal itu saja, membuat bagian bawah tubuh Adhi bergetar. Untung saja dia bisa mengendalikan diri dengan baik hari ini.


Mereka berdua sampai di halaman lagi lalu Ambar mulai berperan sebagai kekasih yang baik. Kali ini tanpa menggandeng tangan Adhi yang terlanjur berada di posisinya. Saat mereka berdua tampak di halaman, ibu Adhi segera menghampiri Ambar dan mengajaknya berbicara berdua saja. Semoga saja keduanya tidak membicarakan masa lalu Adhi lagi.


"Dhi" sapa perempuan dengan suara kecil dan halus dibelakangnya. Adhi berbalik dan di depannya berdiri Feli dengan wajah penuh rona merah muda.


"Sebaiknya kau tidak mendekatiku" kata Adhi dalam mode cool. Dia tidak ingin Danial melihat tunangan atau calon istrinya berbicara dengan Adhi. Meskipun Adhi sebenarnya menyukai hal itu.


"Tapi ... "


"Kau tahu apa yang terjadi padaku sepuluh tahun lalu. Jadi ... jangan macam-macam"


"Adhi" panggil Feli dengan suara parau nan halus. Suara yang berhasil menggetarkan hati Adhi pada saat mereka pertama bertemu sepuluh tahun lalu.


"Jangan panggil aku"


"Adhi"


Tiba-tiba saja perempuan yang ada di depannya itu menangis. Melihat hal itu tentu saja membuat Adhi terkejut. Dia ingin sekali merengkuh Feli dalam pelukannya dan menenangkan perempuan yang dicintainya ittu. namun sayangnya, dia tidak bisa melakukannya. Dan hasil dari apa yang tidak diperbuatnya adalah teriakan dari sisi lain ruangan. Teriakan Danial yang mampu menggetarkan seisi rumah ini.


"Apa yang kau lakukan???"


Adhi mengambil langkah mundur, menjauhi perempuan yang ingin sekali dia tenangkan itu. Tapi langkahnya terlalu lambat sehingga masih tertangkap oleh Danial. Kemarahan yang dilihat Adhi di mata kakaknya tampak begitu nyata saat ini. Dan dia harus mempersilahkan Danial untuk menarik kerah kemeja yang sedang dipakainya. Meskipun rasanya mirip seperti tercekik.


"Aku ... tidak melakukan apa-apa"


"Oh ya??? lalu kenapa Feli menangis? Apa yang kau lakukan??"


"Tidak ... "


Sepertinya percuma saja Adhi menjelaskan, Danial telah mencengkeram dengan kuat dan tidak ingin melepaskannya sama sekali. Sampai ... .


"Apa yang Anda lakukan?"


Adhi dan Danial menoleh bersamaan ke samping dan melihat Ambar berdiri disana. Berani mengajukan pertanyaan pada kakaknya yang sedang marah. Sungguh berani dan bodoh secara bersamaan, pikir Adhi.

__ADS_1


"Jangan ikut campur!!" balas Danial dengan geram, tanpa melepaskan kerah kemeja Adhi.


"Bisakah Anda bersikap seperti putra pertama keluarga Syahreza dan bukan seperti preman pasar?"


Mendengar kata-kata Ambar membuat Danial melepaskan Adhi tapi bergerak untuk mengancam wanita itu. Adhi segera berdiri di depan Ambar, untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada wanita itu.


"Wanita yang banyak bicara. Aku salah menilaimu"


"Anda tidak perlu menilai saya. Tidak ada artinya bagi saya"


"Kau pasti belum tahu siapa lawanmu"


"Danial Putra Syahreza, 32 tahun, putra pertama keluarga Syahreza. Saya tahu siapa Anda"


"Wanita sepertimu tidak layak disini"


"Anda juga"


"Apa katamu?"


Tidak tahan, Adhi menatap Ambar dari jarak dekat sekali. Mencoba mengisyaratkan agar wanita itu menutup mulutnya.


"Kau punya kekasih yang sangat tidak pantas berada disini" ejek Danial mulai membuat Adhi kesal.


"Dia kekasih yang aku cintai. Dan aku tidak peduli apakah kami pantas disini atau tidak"


"Ohh. Sungguh berani. Seperti Adhitama sepuluh tahun lalu. Adik yang berani membawa dan bercinta dengan calon istri kakaknya. Apa kau rindu masa-masa itu dan ingin mengulanginya?"


"Cukup. Aku tidak akan melayanimu"


"Kenapa? Karena sekarang calon istriku bukan wanita yang mudah tergoda padamu? Atau kau merasa puas dengan wanita yang menutupi semua bagian tubuhnya seperti itu?"


Adhi tidak ingin berkomentar pada apapun yang dikatakan oleh Danial. Dia memilih untuk diam dan menarik Ambar dlam pelukannya.


"Danial cukup!!!" teriak Feli menghentikan kata-kata ejekan Danial. Adhi melihat betapa gemetar Feli saat mencoba menghentikan Danial dan mulai merasa sedih. Dia tidak bisa melindungi perempuan yang sebenarnya ingin sekali dia lindungi itu.

__ADS_1


"Aku cuma bicara dengan Adhi dan Ambar adalah sahabatku. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu pada ... " Belum selesai bicara, Feli tiba-tiba terjatuh ke belakang. Pingsan. Tentu saja secara reflek Adhi maju dan ingin menangkap tubuh perempuan yang dicintainya itu. Tapi dia urungkan karena sudah ada Danial yang siap disana.


Danial segera membawa tubuh Feli masuk ke dalam rumah. Lalu ayah dan ibunya mengikuti keduanya ke dalam rumah, meninggalkan Adhi sendiri di halaman.


"Dia sudah tampak sakit tadi" gumam Adhi khawatir. Sejak tadi dia memang melihat rona merah di pipi Feli. hal itu menandakan perempuan yang dicintainya itu telah sakit sejak pagi. Seharusnya dia menyarankan Feli untuk beristirahat tadi. Bodoh sekali dia ... tidak bisa menyadari hal berbahaya seperti itu.


"Apa Anda sakit?" tanya seseorang, menyadarkan Adhi kalau dia tidak sendiri. masih ada Ambar di sebelahnya.


"Tidak. Aku hanya ... "


"Anda tersiksa karena tidak bisa menolong Feli"


Adhi menarik napas panjang lalu berdiri tegak, menyembunyikan perasaannya.


"Kau tidak akan pernah mengerti" jawab Adhi lalu kembali diam.


 


Sepertinya Ambar mengerti bagaimana rasanya. Tersiksa karena melihat orang yang kau sukai sedang meratapi wanita lain. Dia pikir, sakit itu telah lewat sebelum Ambar berangkat ke London. Ternyata, tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi dia bisa melihat jelas bagaimana cinta Bos Kenzo begitu besar pada Feli. Seharusnya dia memang tidak pernah datang ke London, dan menyaksikan semua ini.


"Sebaiknya saya pergi" ucapnya karena tidak kuat lagi menahan sakit di dalam hati.


"Aku tahu kalau kau tidak bisa melihat ketidak adilan ataupun menerima ejekan dengan baik. Tapi ... bisakah kau menahan diri?"


"Ha?"


Ambar tidak mengerti dengan apa yang baru diucapkan Bos Kenzo baru saja.


"Kau memang hanya pantas bersama seseorang seperti Kenzo"


Seberkas kilat seperti datang dan membelah hati Ambar menjadi dua. Dia tidak memiliki keinginan apapun saat membela cowok itu di depan keluarganya dan Feli. Sama sekali tidak ada. Tapi ... ternyata balasan yang diterimanya adalah direndahkan oleh cowok itu. Cowok yang seharusnya lebih mengenal dirinya daripada orang lain di London ini.


"Ha? Mungkin itu memang benar. Mau bagaimana lagi? Saya memang perempuan kampung. Sama sekali tidak sebanding dengan Feli" kata Ambar dengan tersenyum. Padahal dalam hati dia merasa ingin menangis.


"Aku akan mengantarmu ke rumah Rea dan kuharap kau bisa lebih menjaga mulutmu" ucap Bos Kenzo sama sekali tidak merasa bersalah telah merendahkan Ambar.

__ADS_1


"Baiklah" jawab Ambar lalu menelan rasa kesal dan malu yang ada di ujung lidahnya.


__ADS_2