Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Lima Belas


__ADS_3

Feli datang ke tempatnya bertemu Ambar dengan perasaan marah. Dia tidak akan segan memberikan umpatan pada sahabat yang berani berselingkuh dengan suaminya itu. Tapi ... kenapa Rea datang ke pertemuan mereka? Dan membawa-bawa tentang dia yang juga melakukan hal sama saat bertunangan dengan Danial. Akhirnya Feli menyerah. Dia memang sehrusnya tidak menyalahkan Ambar untuk kehidupan pernikahan yang tidak sesuai dengan harapannya. Hanya saja, bagaimana caranya membuat Adhi mencintainya lagi? Bagaimana dia bisa menjalani semuanya setelah mengetahui bahwa suaminya mencintai wanita lain?


Dia menyudahi pelukan dua sahabatnya dan kemudian terdiam untuk beberapa saat.


"Aku ... masih gak bisa maafin kamu Mbar" katanya lemah.


"Gak apa-apa Fel. Aku ngerti"


"Mulai sekarang tolong jangan muncul di dekat aku sama Adhi lagi"


"Iya"


"Kamu juga Re. Tolong mengerti posisiku"


Rea kelihatannya masih belum bisa menerima tapi mencoba untuk mengerti.


"Itu urusanmu dengan Adhi. Aku dan Ambar tidak akan ikut campur."


"Aku pergi dulu" kata Feli lalu berdiri dari kursinya. Sebelum sempat melangkah, Ambar memegang lengannya dengan lembut.


"Aku bakal nunggu wa dan telepon kamu Fel. Kamu tetap sahabat aku dan Rea, sampai kapanpun"


Setelah mendengar hal itu Feli melangkah keluar dari restoran. Dia pulang dalam keadaan bingung. Tidak tahu harus melakukan apa. Hanya saja, setidaknya dia tahu suatu saat nanti saat hatinya menjadi lebih baik. Feli akan sanggup menghubungi dua sahabatnya dan berkumpul lagi seperti dulu. Seperti saat mereka hanyalah siswa SMU yang tidak berpikir tentang cinta.


"Kemana kamu?" tanya ibunya sesaat setelah Feli sampai di rumah.


"Keluar sebentar"


"Mana anak itu?"


"Adhi? Di perusahaan"


"Ibu sudah bilang besaran uang yang dia kirim kurang. Apa kamu tidak bilang padanya?"


Sebenarnya Feli juga merasa kesal karena masalah ibunya yang terus menerus meminta uang dari Adhi. Dia merasa malu karena seakan menjadi imbalan untuk mendapatkan uang dari Adhi.  Mirip seperti saat dia bertunangan dengan Danial dulu.


"Sudah. Tapi bisa tidak ibu tidak meminta uang dari Adhi sesering itu?" tanyanya berusaha berani.


"Apa? kamu berani melawan ibu?"


"Bukan. Hanya saja"


Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi kanannya. Padahal disanalah dia ditampar Rea tadi. Feli hanya bisa meringis sakit saat darah muncul di ujung bibirnya.

__ADS_1


"Jangan pernah katakan apa-apa tentang ibu!! Diamlah seperti biasanya dan suruh anak itu mengirim uang pada ibu secepatnya" ucap ibunya lalu pergi meninggalkannya sendiri.


Tubuh Feli terasa lemah dan dia duduk di atas lantai. Rasanya sungguh melelahkan hidup seperti ini. Ayah dan ibunya tidak pernah menganggapnya sebagai seorang anak. Mereka hanya mengandalkannya untuk menarik laki-laki yang bisa membantu masalah keuangan perusahaan. Feli juga menyesal tidak pernah ikut campur dalam masalah perusahaan. Dia juga tidak pernah merasakan bagaimana beratnya bekerja untuk mendapatkan uang. Hidupnya memang seperti putri. Tapi putri yang bodoh dan tidak bisa apa-apa selain mencintai laki-laki yang kini bahkan menyukai wanita lain.


"Apa yang kau lakukan?"


Sebuah suara terdengar dan Feli segera mengangkat tubuhnya sendiri dari atas lantai. Dia melihat Adhi dan merasa sedikit lebih baik sekarang.


"Kamu ... pulang?"


"Ibumu kemari?"


"Iya ... ibu" Feli menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai terasa nyeri dari suaminya.


"Aku sudah mengirim uang padanya. Katakan itu padanya. Dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi!"


Feli melihat punggung suaminya yang berjalan melewatinya, tanpa melihat keadaannya sama sekali.


"Aku bertemu Ambar" katanya menghentikan langkah suaminya. Adhi akhirnya menoleh dan melihat ke arahnya. Setelah sekian lama, Feli dapat melihat wajah suaminya lagi.


"Sejak kapan kamu menyukainya? Apa kamu masih menyukainya? Lalu apa yang akan terjadi padaku? Apa kamu akan menceraikan aku? Kapan? Setelah kamu mengambil perusahaan dan membuat keluargaku miskin?" lanjut Feli, mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya. Tapi ... Adhi hanya diam, tidak menjawab. Apa dia memang akan diceraikan? Setega itukah laki-laki yang dicintainya selama sepuluh tahun terakhir itu?


"Kenapa diam saja??!" Feli tidak kuat lagi menahan rasa sakit di hatinya. Dia menerjang dan memberikan beberapa pukulan di dada suaminya. Tapi Adhi hanya diam saja menerima semuanya. Ternyata benar, dia telah kehilangan cinta suaminya. Hilang sepenuhnya. Lalu ... apa yang akan tersisa untuknya sekarang? Setelah beberapa saat Feli berhenti memukul dan menangis, menyesali semuanya yang terjadi di hidupnya.


Berpisah? ternyata Adhi memang berniat menceraikan dia.


"Kenapa Ambar? kenapa kamu harus menyukai sahabatku?!! Kenapa??!!" teriak Feli masih tidak bisa menerima akhir dari kisah cintanya.


"Aku terlambat menyadari perasaanku pada Ambar. Seharusnya aku memang tidak menikah denganmu. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab" jawab Adhi lalu meninggalkannya sendirian di ruang tengah. Apa? Sekarang bahkan Adhi menyesal menikah dengannya? Air matanya berhenti menetes dan Feli berjalan lemah ke kamarnya. Dia kini hanya ingin tidur. Tidur yang lama dan bermimpi berada dalam masa-masa bahagianya. bahagia dengan teman-temannya dan juga bertemu Adhi yang masih mencintainya.


"Kamu kapan datang? Kok tahu aku disini?" tanya Ambar pada Rea yang masih menyimpan rasa marah di wajahnya.


"Lusa kemarin. Kamu juga kenapa gak bilang masalah seperti ini?"


"Re. Aku emang yang salah"


"Iya. Tapi apa kamu terima aja dihina kayak gitu? Jatuh cinta kan gak bisa direncanakan"


"Iya. Tapi kau jatuh cinta sama laki-laki milik sahabat aku. Jadi aku tetap salah"


"Yang penting kan kamu udah bantu mereka nikah"


"Tapi ... cowok itu ... "

__ADS_1


Rea melihat ke arahnya dan mulai curiga. Karena alasan yang tepat.


"Kamu ketemu Adhi?"


"Iya"


"Kapan?"


"Dua bulan lalu"


"Aduhhh. Kepalaku. Kenapa kamu? Aduhh"


Rea memegang kepalanya, seakan merasa pusing karena apa yang diceritakan oleh Ambar.


"Gak ada yang terjadi. Cowok itu juga gak bakal nemuin aku lagi"


"Iya tapi kamu kan tahu kalo Adhi itu sukanya ... "


"Tetep aja. Kami gak akan bisa bersama"


"Jadi, udah selesai sekarang?"


"Sudah"


Kali ini Rea sepertinya yakin kalau memang tidak ada lagi hubungan antara Ambar dan cowok itu. Karena memang dari awal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Udah ah. Aku malas ngurusin masalah Feli lagi"


Ambar menarik napas dengan berat. Dia merasa karena perasaannya yang lemah, membuat persahabatan mereka bertiga menjadi hancur seperti ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan untuk Feli? Tidak ada. Sepertinya semakin jauh dia dari Feli, maka akan semakin baik.


"Tapi ... Feli keliatan pucet banget ya" kata Ambar berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Masa hamil empat bulan kurus gitu" timpal Rea.


"Apa dia bakal gak apa-apa?"


"Gak tau lah. itu urusan Adhi, bukan kita lagi. Ayo balik ke Jakarta. Aku mesti balik ke Lonodn malam ini"


"Lagian kamu ngapain kesini"


"Udah dibantu malah ngeluh. Dasar gak tau terima kasih"


"Terima kasih" jawab Ambar segera takut akan kemarahan Rea.

__ADS_1


Mereka berdua pulang ke Jakarta tanpa menghabiskan waktu di Bali lagi. Mulai sekarang sepertinya Bali akan menjadi tempat yang tidak akan pernah didatangi oleh AMbar lagi. Sampai nanti Feli menghubungi dan memintanya datang. Semoga saja itu adalah saat sahabatnya itu melahirkan bayi yang lucu. Ambar berdoa keras agar Feli segera memaafkan dia. Bagaimanapun, dia telah menyakiti hati sahabatnya itu.


__ADS_2