Second Lead Fate

Second Lead Fate
Lima Puluh Lima


__ADS_3

Adhi kembali melirik Ambar untuk yang kesekian kalinya. Wanita ini kembali diam dan tidak seperti biasanya. Apa mungkin Ambar memiliki masalah? Dengan tokonya? Tidak mungkin. Toko kecil seperti itu jarang memiliki masalah besar. Kecuali pemiliknya terlibat masalah judi atau hutang. Dan Adhi yakin, Ambar bukan pemilik yang seperti itu. Jadi kemungkinan besar, masalahnya ada pada keluarga Ambar. Karena wanita itu juga belum memiliki kekasih, sejauh yang Adhi tahu.


Badan Ambar mendekat ke arah kaca mobil ketika Adhi memasukkan mobil ke rumah barunya.


"Aku tidak tinggal lagi di apartemen" katanya berusaha membuat wanita itu bicara.


"Ohh"


"Masuklah ke rumah. Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu ke kamar dan berganti pakaian"


"Ha???" teriak Ambar membuat Adhi terkejut.


"Kenapa?"


"Saya akan pulang sekarang saja"


"Kau basah"


"Iya saya tau"


"Kau akan sakit kalau memakai baju yang basah"


"Badan saya kuat"


"Aku tidak suka melihatmu seperti itu masuk ke mobilku"


"Jangan dilihat dan saya bisa pulang sendiri"


"Kau pikir bisa memesan ojek online dari sini?"


"Saya bisa jalan"


"Kau terlihat bodoh sekaliĀ  sekarang"


"Ha??"


Adhi menarik napas, kesal karena beradu mulut dengan wanita ini dapat menguras eneginya.


"Jangan keras kepala. Aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan dalam keadaan seperti itu"


"Kenapa memangnya?"


"Apa?"


Wajah Ambar berubah. Wanita itu menyatukan alis dan terlihat marah.


"Kenapa Anda tidak membiarkan saya sendiri?"


"Karena kamu ... wanita"


"HAH. Memangnya kenapa dengan wanita? Anda pikir semua wanita itu lemah? Tidak bisa membela dirinya sendiri? Tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan laki-laki? harus menjadi istri seorang laki-laki baru diakui bahwa dia wanita?"


Indonesia. Selain memiliki banyak pulau, juga memiliki budaya yang susah untuk dihapuskan begitu saja. Termasuk masalah pernikahan. Wanita yang sekiranya telah masuk usia dewasa pasti secara tidak langsung didorong untuk menikah. Adhi awalnya terkejut melihat banyak sekali wanita muda disini yang sudah menikah. Tapi kini dia sudah terbiasa.


"Jadi, masalah pernikahan lagi?"


"Ha? Oh. Maaf saya sepertinya ... "


"Sekarang apa lagi selain perjodohan? Jangan-jangan ada yang sudah melamarmu?"


Ambar mengangkat kepala, dan melihat ke arah Adhi dengan mata terbuka lebar. Apa? Ada yang sudah melamar wanita itu? Siapa? Dan kenapa dia menyesal menebak dengan benar?


"Saya ... benar-benar harus pulang sekarang"

__ADS_1


Wanita itu berjalan ke arah pintu melewati Adhi yang berdiri tegak di tempatnya. Tanpa sadar dia menahan lengan Ambar dan melihat tepat di mata wanita itu.


"Siapa?"


"Hah?"


"Siapa yang melamarmu?"


"... bukan urusan Anda"


Ragu, Adhi melihat keraguan dari wajah Ambar.


"Kau menerimanya?"


Tiba-tiba Ambar menjadi tenang. Wanita itu menurunkan pandangan dan menjawab pertanyaan Adhi.


"Belum"


Adhi menarik napas lega. Kini, rasa tertekan yang baru saja ada di hatinya perlahan menghilang. Dan perlahan, dia melepas lengan Ambar.


"Aku tidak bisa memberi nasehat apapun pada masalahmu. Tapi, kalau memang tidak ingin menikah, katakan saja dengan lantang"


"Seandainya itu mudah"


"Kenapa? Kau tidak berhutang pada mereka. Pasti orang tuamu akan mengerti kalau memang kau belum memiliki keinginan menikah"


"Tapi itu sulit sekali bagi saya. Karena saya ... wanita"


"Kau bukan wanita bagiku"


"Apa?"


"Kau seperti teman laki-lakiku"


"Aku hanya bersikap sopan"


"Cih"


Ambar tersenyum, membuat Adhi tenang dan nyaman. Dia bahkan tidak sadar telah dilihat tiga pembantu yang sejak tadi ada di dekat mereka.


"Oh, bisa kalian siapkan satu kamar untuk ... temanku ini?"


"Wah, teman ... whats up man?" goda Ambar tapi tidak membuat Adhi kesal.


Untunglah tiga pembantunya cepat mengerti dan segera melaksanakan perintah Adhi.


"Aku akan meminjamkan baju sementara pembantuku mengeringkan pakaianmu"


"Tidak perlu. Saya bisa langsung pulang dengan keadaan seperti ini"


"Jangan menolak. Aku tidak bisa membiarkan teman yang kelihatan seperti pengemis"


"Ha?? Pengemis. Anda benar-benar keterlaluan"


Untunglah, wanita itu menurut dan segera pergi ke kamar tamu yang baru saja selesai ditata tadi pagi. Adhi kemudian menghubungi Kenzo dan berkata akan terlambat datang ke klub.


"Tapi Bos"


"kau selesaikan saja masalah di klub kalau bisa"


"Bos, ini anak petinggi. Saya mana berani"


"Aku akan segera kesana setelah ini"

__ADS_1


Adhi pergi ke kamarnya dan segera mengganti bajunya yang basah. Tak lupa dia mengambilkan Ambar kemeja dan celana untuk ganti. Dia berjalan ke kamar tamu dan membuka pintu tanpa mengetuk. Dan apa yang tampak di matanya, mengejutkan Adhi.


Selama mengenal Ambar, Adhi memang memiliki bayangan bagaimana tampilan Ambar tanpa penutup kepala dan baju serba panjang itu. Tapi sekarang Adhi bisa melihat dengan matanya sendiri, bagaimana tampilan Ambar dibalik penutup kepala dan baju super panjang itu. Rambut lurus sepundak yang bergerak lembut, kulit putih tanpa noda dan siluet dada Ambar yang tampak sintal dan besar. Dia jadi ingat bagaimana rasanya menyentuh dada Ambar waktu itu. Kenyal dan padat. Lalu ... pinggang kecil, pantat yang masih terangkat ke atas tanda wanita itu belum disentuh oleh siapapun. Juga kaki ramping yang melengkapi tubuh Ambar. Wah. Adhi memang tidak mengharapkan ini. Tapi ... dia merasa bersyukur bisa melihat tubuh Ambar dibalik semua kain itu. Pantas saja wanita itu terasa ringan di gendongannya saat itu. Rupanya Ambar sudah bukan lagi Ambar yang dikenalnya enam tahun lalu.


"Tuan"


"Tuan"


Perlu beberapa detik bagi Adhi sadar bahwa kelakuan mesumnya ketahuan. Untungnya hanya oleh pembantunya.


"Anda?"


"Aku ... berikan ini untuk Ambar" katanya terbata lalu kembali ke kamarnya.


"Baik Tuan"


Apa yang ada di pikirannya sekarang? Kenapa dia melihat tubuh Ambar dan tampak seperti orang mesum di depan pembantunya? Sial. pasti otaknya kacau gara-gara kehujanan. Tapi ... seandainya pembantunya tidak menyadarkannya. Mungkin Adhi sudah menerobos masuk ke dalam kamar tamu, menyentuh setiap jengkal tubuh Ambar dan meninggalkan jejak kepemilikan di kulit wanita itu. Menjadi laki-laki pertama yang menyentuh Ambar, pasti merupakan sesuatu yang menyenangkan, pikirnya lalu membayangkan semuanya. Tunggu, kenapa dia membayangkannya? Itu tidak boleh. Bukan karena Ambar adalah wanita yang masih suci. Tapi karena dia tidak mencintai wanita itu. Dia tidak mungkin menyentuh seseorang yang tidak dia cintai. Karena satu-satunya perempuan yang dia cintai hanyalah Feli. Feli.


Selesai menyebut nama Feli berulang kali, Adhi bisa menegakkan punggung lagi. Dia turun ke bawah dan bertemu pembantunya yang lain.


"Katakan pada temanku kalau aku pergi ke klub. Dia bisa tidur disini atau pulang setelah bajunya siap pakai"


"Baik Tuan"


"Juga ... siapkan teh hangat untuknya!"


"Baik Tuan"


Adhi melangkahkan kakinya keluar rumah dan segera pergi ke klub. Dia harus bekerja agar tidak berpikir macam-macam.


Ambar sedang melepas baju saat terdengar ketukan di pintu.


"Siapa?"


"Maaf Mba. Saya disuruh Tuan mengantar baju"


Ambar menarik selimut yang tertata rapi di atas kasur untuk menutupi tubuhnya dan membuka pintu yang sudah ... terbuka.


"Mana?"


"Ini Mba"


"Makasih"


Ambar menutup pintu dan segera berganti pakaian. Kemeja dan celana Bos Kenzo itu tentu saja terlalu besar untuknya. Dia hanya memakai kemeja cowok itu dan setengah tubuhnya telah tertutupi.


"Wah, gede banget" ucap Ambar lalu memutuskan tidak akan memakai celana cowok itu. Bisa-bisa dia tenggelam di dalam celana nanti. Tak lama, ada suara ketukan lagi di pintunya.


"Iya, siapa?" tanya Ambar dari balik pintu.


"Maaf Mba. Saya mau ambil baju Mba-nya buat dikeringin"


"Oh iya. Sebentar"


Ambar membuka pintu lalu melihat keluar kamar dengan was-was. masih dengan selimut yang membungkus tubuhnya dari kepala sampai kaki.


"Ini sudah semua Mba?"


"Iya. Ini aja. Minta tolong ya Mba"


"Baik"


Sesudah pakaiannya dibawa pergi, Ambar bingung. Dia tidak mungkin keluar dari kamar hanya memakai selimut seperti ini. Jadi, dia harus bertahan di kamar ini sampai pakaiannya kering? Tapi, kamar ini bagus juga. Lebih kecil dari kamar Ambar tapi tertata rapi. Minimalis dan rapi, dengan kamar mandi dalam yang juga bersih. Ambar mulai melihat-lihat dan kagum dengan baiknya rumah ini dibuat.

__ADS_1


"Bisa gak ya aku punya rumah kayak gini?" katanya lalu berbaring di atas kasur empuk dan hangat.


__ADS_2