Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Iri, itulah yang sedang Feli rasakan saat ini. Pada siapa? Tentu saja pada Ambar. Sahabatnya yang datang dari Jakarta itu. Teman yang bahkan tidak pernah melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi itu bisa berbicara dengan lugas pada calon ayah mertuanya. Sesuatu yang tidak pernah sekalipun Feli lakukan selama ini. Meskipun dia adalah tunangan Danial, Feli tidak memiliki waktu ataupun kesempatan untuk berbicara seperti itu pada calon mertuanya. Dan diam-diam dia merasa iri pada Ambar. Sesuatu yang gila sebenarnya, tapi beralasan.


Pertama, temannya itu memiliki kehidupan yang menyenangkan. Dapat memutuskan apa yang ingin dilakukannya adalah sebuah privilage bagi Feli. Karena dari kecil sampai sekarang, dia tidak pernah memutuskan apapun untuk hidupnya. Semuanya telah diatur oleh orang tuanya. Bahkan mencari sekolah, pekerjaan dan calon suami. Semuanya telah diatur oleh orang tuanya, tanpa ada kesempatan untuk melawan.


Kedua, temannya itu memiliki usaha yang bisa menopang keluarganya. Begitu ... mandiri. Berdiri diatas kaki sendiri untuk emmenuhi kebutuhan uang dirinya maupun keluarganya. Tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk menutup semua kekurangan uang yang harus ditanggungnya seperti Feli. Bahkan dia tidak pernah bekerja sekalipun. Yang dilakukannya hanyalah belajar piano, tata krama dan cara menjadi istri yang baik.


Dan ketiga yang paling penting. Ambar dapat merasakan perhatian dan kasih sayang Adhi. laki-laki yang dicintainya sejak lama. Kali inidia tidak tahan melihat keduanya berlaku manis satu sama lain. Seperti yang sedang dilakukan oleh Adhi saat ini. Laki-laki itu membelai kepala Ambar dengan lembut. Dan pandangan AMbar bertaut dengan mata Adhi yang biru secerah langit itu. Sungguh, Feli tidak bisa menahan rasa isri yang tumbuh semakin besar dalam dirinya. Dia kini mungkin bisa saja membenci Ambar, sahabat yang sudah dikenalnya sejak remaja itu.


 


Rea tidak berhenti mengagumi kemampuan Ambar menangani situasi dengan baik. Selama ini sebenarnya dia terus saja dijodohkan dengan Adhi oleh kepala keluarga Syahreza itu. Tapi dia tidak pernah sekalipun menyukai Adhi. Karena memang Adhi bukanlah laki-laki selera Rea. Dia suka yang lebih liar dan berani. Dan untunglah Ambar, bisa membuat kepala keluarga Syahreza itu menutup mulutnya. Dan tidak akan pernah menyebutkan masalah dia dan Adhi untuk selama-lamanya. Lalu dia melihat gerakan tangan Adhi menyapu kepala Ambar dengan perlahan. Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang dilakukan anak bodoh itu?


Rea kemudian menoleh untuk memeriksa wajah Feli. Merah sekali. Sudah bisa dipastikan kalau Feli tidak suka dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya. Memang inilah yang menjadi tujuan Rea dan Ambar semalam. Membuat Feli cemburu akan kemesraan mereka. Hanya saja, kenapa yang membuat langkah maju adalah Adhi? Dan bukannya Ambar? Sama seperti saat Adhi membungkus tubuh Ambar dan memeluknya semalam. Juga senyuman aneh yang ada di wajah anak bodoh itu saat Ambar menyelipkan tangannya di lengan Adhi. Apa langkah Rea dan Ambar membuat Feli cemburu sudah salah? Apa ini akan berakhir sesuai dengan keinginan mereka. Rea tidak tahu lagi. Dia memilih memakan sarapan yang ada di piringnya dalam diam.


 


Ambar ingin sekali menghalau belaian tangan Bos Kenzo di kepalanya. Ingin sekali tapi juga tidak ingin. Entahlah. namun, bukankah ini hal yang baik? Menurut rencana Rea, sesuatu seperti inikah yang seharusnya membangkitkan amarah dan kecemburuan Feli? jadi, Ambar menikmati belaian Bos Kenzo samapi cowok itu menarik tangannya sendiri. Sakit kalau memikirkan semua ini hanya untuk membuat Feli cemburu. Yah, memang begitulah adanya. Ambar harus segera menerimanya atau akan merasakan sakit hati yang teramat sangat lagi.


Selesai makan pagi, ternyata mereka tidak diijinkan pulang terlebih dahulu. Sang ayah dan Ibu memiliki rencana untuk mengajak Ambar berkeliling rumah mirip istana ini. Entah untuk tujuan apa? Pamer atau memang itu budaya yang ada di sini. Ambar mengikuti saja langkah sang ibu yang membimbingnya ke dalam rumah. Disaat Bos Kenzo, Rea, Feli, Danial bahkan sanga ayah tetap di halaman belakang.


"Ini adalah ruang keluarga. Kami sering sekali menghabiskan waktu disini" kata sang ibu seperti bangga. Ambar melihat sekeliling dan menemukan beberapa foto keluarga disana. Banyak sekali foto Danial yang menerima penghargaan, medali atau piala dipajang disana. Sedangkan foto Bos Kenzo hanyalah saat cowok itu masih kecil. Mungkin berumur enam atau tujuh tahun. Mata itu, memang indah meskipun cowok itu masih kecil.


"Kau jatuh cinta pada Adhi karena matanya?" tanya sang ibu mengejutkan Ambar. Apa begitu nampak di wajahnya? Dia harus lebih berhati-hati sekarang.


"Iya. Mata Adhi sangat indah. Seperti mata Anda"


"Benarkah? Itulah yang memang kurasakan sejak anak itu lahir. Sangat mirip denganku"


Ambar merasakan getir kesedihan dalam kata-kata sang ibu. Sepertinya wanita ini begitu merindukan putranya, tapi tidak bisa menunjukkannya.


"Tapi, kenapa foto Adhi hanya ada satu ini?" tanya Ambar tidak bermaksud apa-apa. Mungkin saja foto Bos Kenzo tersimpan di sudut ruangan lain dan Ambar belum melihatnya.


"Memang hanya satu. Karena ayahnya membuang semuanya"


"Apa? Maaf" Ambar tidak berani bicara lagi. Dia tidak seharusnya bertanya seperti itu. Bisa dibilang dia sedang mengorek alasan diusirnya cowok itu dari rumahnya sendiri.


"Tidak apa-apa. Adhi rupanya belum menceritakan hal itu padamu ya? Pasti karena itu hanya akan membuktikan kalau kami adalah orang tua yang buruk"


Lho, bukannya Bos kenzo diusir dari rumahnya karena terlalu badung? kenapa sekarang sang ibu menyebut kalau mereka orang tua yang buruk? Ambar tidak mengerti dan merasa kalau dia tidak perlu tahu hal ini. Hanya saja, sang ibu tidak melepasnya pergi. malah mengajaknya ke tempat lain di lantai kedua.

__ADS_1


"Tangga ini sangat indah" kata Ambar berusaha merubah suasana.


"Benarkah? Tangga ini dibuat atas permintaanku. karena aku ingin sekali tangga yang mewah seperti yang ada di istana"


Wuihh. Istana? Apa maksudnya istana itu istana tempat Ratu tinggal? Sungguh impian yang besar sekali.


"Wah, Anda memiliki selera yang bagus" puji Ambar basa-basi.


Mereka berdua berjalan untuk beberapa waktu lalu berhenti di depan dua pintu besar yang tinggi.


"Ini adalah kamar Adhi. masuklah" kata sang ibu lalu membuka pintu kamar. Tampaklah disana foto-foto Bos Kenzo sejak kecil sampai dewasa. Kebanyakan tidak diambil dengan keluarganya, tapi orang lain.


"Ini?"


"Dia selalu mengambil gambar dengan teman-temannya, lalu memajang semua itu disini"


"Temannya banyak sekali ternyata"


"Iya. Tapi kebanyakan hanya membawa pengaruh buruk pada Adhi"


Oh sial. Sepertinya Ambar tidak perlu mendengarkan semua ini. Dia harus mencari ide untuk keluar dari percakapan tentang masa lalu Bos Kenzo ini.


Belum selesai Ambar meminta ijin pergi. Sang ibu mengangkat satu foto putranya yang lama tak pulang dan terdiam untuk beberapa menit.


"Bagaimana dia hidup disana?" tanya wanita yang mungkin berumur lima puluhan itu.


"Maksud Anda?"


"Aku dengar dia memiliki rumah sekarang. Apa itu lebih besar dari apartemennya?"


Wah, tenyata sang ibu tahu tentang rumah baru putranya yang tinggal jauh disana.


"Sangat lebih besar dari apartemennya" jawab Ambar menimbulkan senyum di wajah sang ibu.


"Benarkah? Untunglah dia mau pindah. Aku sangat sedih mendengar dia hidup di apartemen satu kamar itu selama ini"


"Bos, eh ... Adhi hidup dengan sangat nyaman di Jakarta. Dia memiliki banyak hal yang tidak saya miliki meskipun harus menggosok pantat dengan api. Maksud saya ... "


Sang ibu tertawa mendengar penjelasan Ambar.

__ADS_1


"Aku tahu maksudmu. Tapi benarkah itu?"


"Iya"


"Syukurlah dia mau bertanggung jawab pada dirinya sendiri disana. Tidak seperti saat tinggal disini.Aku tahu seharusnya tidak menceritakan ini. Tapi Adhi memiliki banyak alasan untuk diusir dari rumah ini. Awalnya dia melakukan **** pertamanya di umur dua belas tahun. Dengan gurunya di sekolah. Setelah itu, dia mulai mengenal obat terlarang dan minuman keras. Teman-teman yang seperti racun dan wanita-wanita gila yang mengincar kesenangan uang milik Adhi. Semuanya tampak sangat hancur saat itu. Sampai ayahnya tidak tahan lagi dan mengusir Adhi begitu saja. Juga karena menyentuh wanita milik kakaknya"


Mata Ambar terbuka lebar. Apa yang baru saja didengarnya. **** awal, narkoba, miras? Wah, sungguh sesuatu yang benar-benar akan membuatmu terusir dari rumah.


"Tapi, kenapa Anda tidak memanggilnya kembali saat Adhi sudah berubah?" tanya Ambar ingin tahu. Memang semua kenakalan itu terjadi, meskipun begitu cowok itu tetaplah anak mereka. Tidak bisa diperlakukan seperti tidak ada begitu saja.


"Entahlah. Mungkin penyesalan karena tidak bisa mendidik anaklah yang membuat kami tidak bisa melakukan itu"


"Ohh"


Ambar tidak bertanya lagi lalu ada bayangan hitam besar di depannya. Itu ... Bos Kenzo. Orang yang sedang dibicarakan muncul sendiri disana.


"Apa yang ibu lakukan?"


"Tidak ada, Ambar hanya ingin melihat foto-fotomu"


Apa? Kapan Ambar mengatakan itu? Bukannya sang ibu sendiri yang membawa Ambar kesini?


"Danial dan Feli membutuhkan ibu dibawah"


"Benarkah? Kalau begitu ibu ke bawah"


Sekarang saatnya Ambar mengikuti sang ibu lagi ke bawah. Dia berjalan tapi terhalangi oleh bayangan hitam tinggi di depannya. Wajah Bos Kenzo begitu terlihat lain dari saat makan pagi tadi.


"Apa kau sudah cukup mengumpulkan informasi?"


"Apa?" lagak Ambar, seperti orang bodoh.


"Siapa yang memerintahkanmu untuk mencari tahu tentangku?"


"Tidak ada. Saya juga tidak ingin tahu. tapi ibu Anda ... "


Dan tanpa diduga, tanpa pernah terpikir sekalipun dalam benak Ambar. Cowok itu mendorong Ambar dengan keras ke atas ranjang lalu menindihnya. Rasa takut segera muncul dan menguasai otak Ambar.


"Apa yang Anda lakukan?"

__ADS_1


Cowok itu tidak memberikan jawaban dan memegang wajah Ambar dengan tangannya yang besar. Lalu ... menciumnya begitu saja. Tanpa aba-aba dan peringatan apapun. Menempelkan bibir panas itu ke bibir Ambar yang dingin.


__ADS_2