
"Bos, Apa Bos masih ada di bandung?"
"Tidak. Aku ada di Jakarta"
"Wah, saya sudah bingung waktu Bos kemarin bilang mau nginap di bandung. Di hotel Lembang yang lagi penuh lagi" Kenzo berjalan cepat keluar dari mobilnya, menuju apartemen Bosnya di lantai lima.
"Ada apa?"
"Kita ada masalah dengan pembelian tanah di Bali"
"Masalah apa?"
"Saya ke apartemen Bos sekarang"
"Datanglah"
Adhi menutup telepon anak buahnya dan melihat matahari yang baru saja terbit di Timur. Apa wanita itu sudah bangun sekarang? Mungkin Ambar tidak akan menyangka kalau Adhi sudah kembali ke jakarta. Dia bahkan tidak bisa mendapatkan kamar hotel meskipun dengan iming-iming banyak uang. Sungguh profesional sekali pegawai hotelm di Lembang itu. Sepertinya Adhi harus berkenalan dengan pemiliknya.
"Bos"
Adhi menoleh dan melihat asistennya telah membawa tas jinjing yang biasa dipakai Kenzo keluar negeri.
"Apa aku harus pergi kesana?"
"Iya?"
"Baiklah"
Adhi segera pergi ke kamarnya dan membereskan pakaian yang akan dia pakai mungkin untuk dua hari ke depan. Setelahnya Adhi memberi isyarat kepada Kenzo untuk segera berangkat.
"Bos sebaiknya berpikir untuk menikah"
"Apa maksudmu?"
"Bos itu harus punya seseorang yang bisa mengurus kebutuhan Bos. Juga, coba Bos pindah ke sebuah rumah yang besar dan megah. Bukan apartemen kecil kayak gini"
"Itu bukan urusanmu"
"Iya. Saya hanya kasihan saja lihat Bos seperti orang yang tidak diurus"
"Apa kau sudah bosan bekerja untukku?'
"Tidak ... sama sekali tidak"
"Kalau begitu tutup mulutmu"
"Baik Bos"
__ADS_1
Adhi melihat Kenzo yang mengemudikan mobil ke bandara dan mulai berpikir ide anak buahnya itu. Menikah ... dia tidak pernah berpikir tentang hal itu sejak terpaksa melepas Feli enam tahun lalu. Dia juga tidak pernah berpikir untuk bersama wanita manapun.
Setelah mandi dan berjalan kaki di sekitar hotel, Ambar pergi untuk sarapan. Dia melihat sekeliling restoran, seperti sedang mencari seseorang tapi tidak menemukan siapapun yang dikenalnya. Saat makanan datangpun, Ambar menoleh ke tempat duduk di sebelahnya seperti menunggu seseorang untuk mengisi kursi itu. Dia menarik napas panjang selama beberapa kali lalu mulai menikmati sarapannya sendiri. Sarapan yang enak, membuat hati Ambar senng sekali. Dia kembali ke kamar dan mulai mencari rute jalan ke tempat yang ingin dia kunjungi sebelum plang ke Jakarta. Dan sebuah telepon tanpa nama datang ke ponselnya. Apa pelanggan baru? Tanpa berpikir apa-apa, Ambar mengangkat telepon itu dan terkejut karena yang menghubunginya seorang laki-laki.
"Assalamualaikum" sapa laki-laki itu dengan nada suara yang lembut.
"Wallaikumsalam"
"Apa ... ini Ambar?"
"Iya benar. Ini siapa ya?"
"Aku, Galih"
Seketika Ambar menjauhkan ponsel dari telinganya dan terdiam saat mendengar nama itu disebut. Galih, putra Bos ayah Ambar. Laki-laki yang meminta untuk dikenalkan padanya.
"Iya"
"Apa kamu ada waktu?"
Ohh. Laki-laki ini sepertinya akan mengajak Ambar bertemu. Bagaimana ini? Apa yang harus Ambar katakan? Dia memang sudah berjanji pada ayah dan ibunya untuk bertemu laki-laki ini. Tapi, kenapa cepat sekali?
"Saya ... ada di Bandung"
"Iya" Sampai detik ini sudah berapa kali Ambar bersyukur karena dia berada di Bandung.
"Apa kita bisa ketemu kalo kamu di Jakarta?"
Pertanyaan itu membuat Ambar berpikir keras. Apa dia siap untuk bertemu dengan laki-laki ini? Apa dia siap menuju sesuatu yang disebut dengan pernikahan seperti yang selalu dibicarakan ayahnya?
"Ambar?" tanya laki-laki itu lagi karena Ambar terdiam sebentar.
"Eh, bisa" Akhirnya Ambar menjawab. Dia mungkin belum siap tapi tidak ada salahnya mencoba. Belum tentu juga laki-laki ini adalah jodohnya.
"Apa kita bisa ketemu hari Selasa? Aku ngajar sampe jam tiga sore"
"Boleh"
"Aku pengen ajak kamu makan jam tujuh-an kalo kamu gak apa-apa"
"Iya"
"Ya, sudah"
"Iya"
__ADS_1
"Apa aku ... boleh hubungi kamu lagi sebelum Selasa?"
Ha? Apa maksud laki-laki ini? Tapi, Ambar tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Iya"
"Ya ... Assalamualaikum Ambar"
"Wallaikumsalam"
Ambar termenung dan melihat ponselnya dalam waktu yang sangat lama. Semuanya adalah proses. Tidak mungkin dia akan menikah dengan cepat hanya karena berkenalan dan bertemu dengan satu laki-laki. Apalagi, laki-laki itu tidak pernah sekalipun dikenalnya. Ambar kembali mengangkat wajahnya dan mengingat apa tujuannya pergi ke Bandung. Tapi semua itu terlupa dengan cepat karena dia memilih untuk segera pulang ke Jakarta. Setidaknya dia akan melupakan semuanya karena sibuk bekerja. Jadi, Ambar memilih untuk pulang ke Jakarta, menyudahi liburannya dan pergi ke toko. Tempat dia membangun usahanya dari awal sampai sekarang. Tempat dia bisa meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja.
Dua hari berlalu sejak Adhi mengurus pembelian di Bali. Semuanya telah berakhir dengan baik. Dan kalau dihitung dengan teliti, Adhi telah memiliki hampir dua puluh tanah dan lima rumah yang berbeda luas dan lokasi. Tujuan dia membeli tanah sebanyak itu adalah tentu saja untuk investasi. Dia tidak bisa hanya mengandalkan usaha cafe disini dan klub malamnya di Eropa. Alasan dia memilih untuk membeli tanah di Indonesia, karena ini adalah negara yang menerimanya begitu saja saat harus meninggalkan London beserta keluarganya. jadi, kemungkinan besar, dia akan menetap di negeri ini sampai kapanpun.
Dia pulang ke apartemen kecilnya dan berpikir tentang apa yang diusulkan Kenzo selama dua hari ini. Pindah ke salah satu rumah yang telah dia beli. Tapi, kalau hanya sendiri, itu artinya sama saja. Lebih baik dia tetap tinggal di apartemennya yang sekarang. Lagipula, keluarganya tidak akan pernah menyangka dia mau tinggal di apartemen kecil seperti ini. Mereka tidak akan pernah menemukannya.
"Bos, malam ini banyak reservasi di cafe. Saya lebih baik pergi kesana" kata Kenzo setelah meletakkan koper Adhi di kamar.
"Aku akan pergi kesana setelah matahari tenggelam"
"Baik Bos. Saya pergi dulu"
Adhi melihat kepergian anak buahnya lalu pergi ke kamar untuk berbaring.
Dia mendengar kabar tentang Feli selama di Bali. Keluarga yang telah mengusirnya akan mengadakan pesta Bridal Shower untuk calon menantu mereka. Feli. Adhi meletakkan lengannya di bawah kepala dan melihat langit merah yang mulai muncul.
"Apa kau benar-benar akan menikah?" tanya Adhi, inginnya didengar oleh perempuan yang dicintainya.
Selama enam tahun, dia selalu membayangkan hari dimana Feli akan resmi menjadi istri kakaknya. Llau, apa yang akan dia lakukan setelah hal itu terjadi? Dan semakin dekat hari itu datang, Adhi mulai mempertanyakan banyak hal. Contohnya, apa dia akan menikah? Apa dia akan menemukan seorang perempuan yang dicintainya melebihi rasa cintanya pada Feli? Apa ... dia akan bahagia?
Daripada terus menerus berpikir tentang hal ini, Adhi memilih untuk segera berangkat ke cafe miliknya. Saat dia berpikir akan melihat sesuatu yang menyenangkan, Adhi salah. Dia melihat Kenzo bersikap seperti akan mengamuk. Dan alasannya, segera Adhi ketahui dengan cepat. Pandangan mata tajam Kenzo tidak berpindah dari wanita berhijab yang sekarang sedang makan dengan seorang pria lain.
"Apa yang sedang kaulakukan?" tanya Adhi pada anak buahnya yang siap melangkah ke meja Ambar dan menghajar pria itu.
"Lihat itu. Katanya tidak pernah makan dengan pria lain. Lalu, apa ini?"
"Jaga kelakuanmu!"
"Saya tidak peduli"
Sesaat sebelum Kenzo lepas kendali, suara wanita yang mendekati Adhi membuat anak buahnya itu tenang.
"Lho, Bos, Kenzo. Kok kalian disini?"
Adhi melihat tatapan mata tenang yang ada di depannya. Dia teringat akan malam yang dihabiskannya dengan wanita itu. Malam tenang dengan obrolan yang mengalir begitu saja. Sangat nyaman sehingga Adhi tidak berpikir tentang kesulitan yang dihadapinya.
__ADS_1