Second Lead Fate

Second Lead Fate
Sembilan Puluh Empat


__ADS_3

"Adhi. Kamu dari mana? Tadi aku dan ibu ... "


Adhi melihat perempuan yang ada di depannya. Kini dia tidak memiliki perasaan yang sama terhadap perempuan ini. Dia tidak lagi merasakan cinta yang menggebu pada Feli. Dan semua itu karena sesuatu yang baru saja dia temukan malam ini. Dia ... menyukai orang lain.


Ambar, wanita yang hanya ada di sekitarnya selama dua bulan sanggup menggantikan Feli. Semua perasaan selama sepuluh tahun itu telah hilang sepenuhnya, digantikan dengan keinginan menggebu untuk dekat, memeluk, mendengar suara, dan memiliki Ambar. Lalu, apa yang akan dia lakukan dengan Feli? Apa dia akan membatalkan pernikahan yang hanya tinggal menunggu hari itu? Apa yang akan terjadi pada Feli kalau dia melakukannya?


Bayangan melihat kekecewaan yang ada di wajah Feli kemudian menggerogoti hatinya. Dia tidak bisa menjadi orang jahat seperti itu. Apalagi pada Feli, perempuan yang dicintainya selama ini. Lalu, Ambar? Apa dia akan melepaskan kesempatan untuk memiliki Ambar? Menerima kemungkinan kalau Ambar akan segera dijodohkan atau menerima lamaran Kenzo?


"Adhi, kamu kenapa?" tanya Feli lagi sepertinya mulai merasakan perbedaan sikap Adhi.


"Tidak ada" jawabnya menyembunyikan perang batin dalam dirinya.


"Tapi, kamu kelihatan capek. Apa kita perlu ke dokter?"


"Aku sudah pergi"


"Kamu ke dokter? Kenapa?"


Adhi mengangkat celananya sedikit dan memperlihatkan perban yang terpasang di kaki kanannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa?"


"Tidak apa. Hanya terkilir"


"Maaf aku tidak tahu. Harusnya aku tahu kalau kekasihku sedang terluka dan tidak menghabiskan waktu dengan ibu. Maafkan aku"


Perempuan yang ada di depannya berlutut dan menangis. Adhi segera turun dan mengangkat tubuh kecil Feli.


"Aku tidak apa-apa" jawab Adhi lalu dipeluk oleh Feli. Bagaimana bisa Adhi mengatakan kalau dia tidak lagi mencintai Feli? Apakah perempuan ini akan sanggup berdiri di atas kedua kakinya dikala Adhi mengejar kebahagiaan barunya? Semua itu tidak mungkin dilakukannya. Tidak mungkin.


"Kita akan segera pulang ke Indonesia" kata Feli, kini tidak lagi menangis.


"Iya"


Kini Adhi harus hidup dengan penyesalan seumur hidupnya. Semua itu karena kesalahannya sendiri. Tidak menyadari perasaannya lebih awal.


"Hari ini kak Ambar kok keliatan bingung banget?" tanya salah satu pegawai toko Ambar.


"Gak kok. Kan kita baru aja nerima pesenan lumayan banyak. Jadi ... "

__ADS_1


"Iya kak. Saya juga heran. Padahal belum ada pernikahan di bulan ini. Tapi kita nerima pesenan buat ultah kantor, sama ulang tahun banyak banget"


"Itu namanya rejeki. Yang penting kita kerjain sebaik mungkin. Biar semua pemesan gak kecewa dan pesen lagi dilain waktu"


"Iya kak"


Ambar senang menjadi sangat sibuk. Dengan begini dia tidak akan memikirkan selain pekerjaannya.


Baru saja merasa lega, tiba-tiba dia menerima pesan.


"Adhi sudah ada di Jakarta. Nanti jemput kamu di toko. Tolong bantuin ya Mbar"


Sampai sudah pesan dari sahabatnya yang akan membuat harinya menjadi penuh dengan siksaan. Tidak tahu kapan, siang, petang atau malam, Ambar akan bertemu dengan cowok itu. Tapi dia telah menguatkan hati untuk bertemu cowok itu. Jadi, sepertinya tidak akan ada masalah.


Ambar belum pernah belajar kalau semua yang telah disiapkan akan menjadi sia-sia dikala dia berurusan dengan yang namanya hati. Melihat cowok yang akan segera menjadi suami sahabatnya Minggu ini keluar dari mobil, membuatnya hampir kehabisan napas. Tidak tahu kenapa, tapi ... cowok itu terlihat lain. Lebih terlihat berwibawa dan tinggiii sekali.


Dia hanya bisa mencoba untuk meraih oksigen sebanyak-banyaknya sebelum pingsan di depan cowok itu.


"Lama tidak bertemu" kata cowok itu menyiksa tenggorokan Ambar. Dan mata biru itu, ohhh Ambar sungguh merindukannya.


"Hanya lima hari. Belum terlalu lama" jawab Ambar berusaha tidak terlalu kaku.


"Berangkat sekarang saja. Saya juga masih harus bekerja nanti"


Petang ini, Ambar masuk ke dalam mobil Bos Kenzo. Mereka berdua pergi ke salah satu butik kepercayaan para orang kaya untuk membuat jas. Hanya saja, kali ini tidak ada obrolan atau pembicaraan apapun diantara keduanya. Bos Kenzo diam dan Ambar tidak memiliki keinginan untuk bicara.


Sampai di butik, keduanya segera menemui salah satu konsultan.


"Saya sudah menyiapkan semuanya. Silahkan Anda berdua ke ruangan di sebelah sana"


"Baiklah"


Sebenarnya dibanding Ambar, Bos Kenzo yang paling sering pergi ke butik ini. Kata konsultan yang didatangi Ambar, cowok itu telah memesan lebih dari dua puluh jas selama ini. Dan itu membuat Ambar hanya sebagai pengikut, daripada penunjuk jalan untuk Bos Kenzo.


Mereka berdua duduk di sofa yang sama, menunggu konsultan dan jas yang dipesan dengan memainkan ponsel masing-masing. Tidak ada kata-kata diantara keduanya dan Ambar merasa asing dengan cowok itu. Ini bagus, untuk segera move on dari perasaannya.


"Ini adalah jas yang Anda pesan. Kami memakai ukuran Tuan Adhi yang sebelumnya. Apa Anda ingin mencobanya?" kata konsultan yang baru datang dengan membawa setelan jas berwarna hitam.


"Aku akan mencobanya"

__ADS_1


Ambar melihat cowok itu bangkit dari sofa lalu pergi dibalik tirai untuk mencoba jasnya. Beberapa menit kemudian tirai dibuka dan di depan mata Ambar tampaklah betapa kerennya calon suami Feli itu.


Setelan jas, dasi kupu-kupu dan rompi dalaman yang berwarna hitam membuat cowok itu terlihat sangat ... tampan. Kontras dengan warna mata biru yang dimiliki cowok itu.


"Ukurannya berubah sedikit di bagian bahu dan celana. Saya akan memperbaikinya dan memastikan Anda akan menerimanya sebelum besok malam. Bagaimana menurut calon pengantin perempuan?"


Mata Ambar terbuka lebar. Bagaimana bisa sang konsultan menyebutnya calon pengantin perempuan. Itu membuat ... .


"Bukan dia. Calon istriku seratus kali lebih cantik daripada dia"


Belum sempat hati Ambar tersipu, Bos Kenzo telah menarik garis batas yang sangat jelas.


"Oh maaf. Saya pikir"


Ambar hanya bisa menatap punggung cowok yang sedang ada di depannya. Begitu cintanya cowok itu pada Feli sampai harus berkata seperti itu.


Ambar tersenyum, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


"Saya pikir panjang lengannya juga agak kurang panjang" pendapat Ambar setelah berhasil menenangkan diri.


"Oh iya. Saya pikir juga begitu. Baiklah, saya akan memperbaikinya juga"


"Terima kasih"


Akhirnya cowok itu kembali berada di balik tirai untuk melepas setelan jas pernikahannya.


"Mohon maaf Nona"


Tiba-tiba saja konsultan yang membantu Bos Kenzo keluar dan bicara dengannya.


"Ada apa?"


"Sepertinya Tuan Adhi tidak enak badan di dalam. Wajahnya pucat sekali. Apa saya harus memanggil ambulance?"


Mendengar konsultan itu begitu khawatir, membuat Ambar bergegas pergi ke balik tirai.


Cowok yang tadi berdiri begitu tinggi, sekarang seperti tidak bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Ambar segera mendekat dan menopang tubuh besar Bos Kenzo lalu memerintahkan konsultan untuk mengambil kursi dan minum. Tapi, to yang dilakukan Bos Kenzo menghentikannya. Cowok itu memutar badan Ambar dan memeluknya.


"Diam disini dan jangan lakukan apa-apa. Sebentar saja"

__ADS_1


Ambar dan konsultan jas saling bertukar pandangan bingung. Tapi ... konsultan itu sadar diri dan segera pergi. Ambar tidak tahu yang harus dilakukannya sekarang. Dia ingin sekali menolak pelukan cowok itu tapi ... . Tidak. Ini salah. Bagaimanapun keadaannya, seharusnya Ambar tidak menerima pelukan ini. Ambar segera mendorong Bos Kenzo dengan keras dan membuat cowok itu oleng. Kini Ambar dapat melihat masalah sebenarnya pada cowok itu.


__ADS_2