
Meskipun beberapa kali mengedipkan matanya, cowok itu tidak hilang. Kini Ambar tahu yang sedang dialaminya sekarang bukanlah mimpi tapi kenyataan. Ingin sekali dia tetap membuka matanya tapi tidak bisa. Setelah menatap mata biru yang cerah itu akhirnya Ambar menutup mata dan berencana tidur kembali. Namun, sentuhan janggal membuatnya susuah beristirahat. Hanya sentuhan kecil dan tidak terlalu terasa sedang dilakukan Bos Kenzo padanya. Seharusnya Ambar menarik tangannya, tapi tidak bisa. Bukan karena badannya masih lemah. Dia masih ingin merasakan aliran listrik hangat yang sedang beredar di tangannya.
"Anak saya Ambar Ramadhani!"
Mendengar suara ibunya, membuat Ambar terpaksa menarik tangannya. Dia membuka mata dan berusaha memperbaiki penampilannya.
"Sebaiknya Anda pergi sekarang" katanya pada Bos Kenzo.
"Kenapa?"
"Ibu saya sepertinya sudah datang"
"Benarkah?"
"Iya. Sebaiknya ... " Belum selesai Ambar menyuruh cowok itu pergi, ibunya menyibakkan tirai dan menunjukkan wajah khawatir.
"Ambar!!" seru ibunya lalu menghambur ke Ambar.
"Kamu gak apa-apa? Katanya kamu pingsan. Dimana? Kenapa?" lanjut ibunya tidak memberi kesempatan Ambar untuk bicara.
"Gak apa-apa Bu. Cuma kecapekan"
"Kan ibu udah ngomong jangan kerja sampe malem. Kamu tuh emang bikin orang tua khawatir aja"
"Iya. Maaf"
"Tapi, lha ini siapa?" tanya ibunya lalu menunjuk Bos Kenzo yang masih duduk tenang di kursinya. Kenapa cowok itu tidak pulang saja?
"Saya Adhi" jawab Bos kenzo lalu berdiri dan sedikit membungkuk hormat.
"Wah, cakep banget. Oh kamu yang tadi telpon saya ya? Apa kamu bisa bahasa indonesia?" tanya ibu Ambar tak berhenti.
Oh iya, lupa. Tampilan Bos Kenzo sekarang memang bule banget. Apalagi dengan mata biru dan rambut coklat yang halus itu. Eh, apaan sih? Kenapa Ambar sampai berpikir seperti itu? Sepertinya infus yang diberikan dokter memberi pengaruh buruk pada otaknya.
"Saya ... Adhi. Saya ... "
"Dia yang nolongin Ambar tadi Bu. Untung aja ada mas ini jadi Ambar dianter ke rumah sakit"
Sebelum cowok itu mengatakan sesuatu, Ambar harus memberikan penjelasan pada ibunya.Kalau tidak akan terjadi kesalah pahaman yang tidak perlu.
"Oh gitu. Teng kyu ya mas. Semoga Allah membalas kebaikan mas-nya"
Untunglah, ibu Ambar tidak berpikir yang macam-macam karena kehadiran Bos Kenzo. Tapi, seharusnya cowok itu segera pergi atau akan terjadi sesuatu yang aneh nantinya.
"Iya. Ambar juga udah bilang makasih tadi. Kayaknya mas-nya juga bakal pergi kok Bu"
"Lho jangan dulu. Kita makan dulu"
"Apa?"
"Iya tapi kan dia udah nolong kamu Mbar. Jarang-jarang juga ibu ketemu bule cakep banget kayak gini"
__ADS_1
Melihat ibunya begitu terpesona dengan penampilan Bos Kenzo, membuat Ambar sedikit jijik. Dia tidak pernah mengira ibunya yang selalu anggun dengan hijab besar dan gamisnya bisa menunjukkan ketertarikan pada seorng cowok.
"Sebaiknya saya pergi. Karena saya hanya menolong mba Ambar saat pingsan tadi"
Penekanan pada kata Mba terasa sekali di telinga Ambar. Padahal cowok itu usianya lebih tua enam tahun. Ambar merasa kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Semakin cepat Bos Kenzo pergi maka semakin baik.
"Oh ya sudah kalo gitu. Terima kasih sekali lagi ya Mas"
"Iya. Permisi" sapa cowok itu lalu melihat ke arah Ambar. Dia berkesempatan melihat mata biru yang indah itu lagi. Perlahan detak jantung Ambar menjadi lebih cepat tapi dia tidak menyadarinya.
Setelah berpamitan pada ibu Ambar, Adhi melangkah keluar dari ruang UGD. Sebenarnya dia tidak ingin pergi, tapi kehadirannya akan memberikan waktu yang sukit bagi wanita itu. Tepat sebelum dia melanjutkan langkahnya, ada seorang pria yang pernah dilihatnya. Pria itu datang bersama orang tua yang memiliki kemiripan tipis dengan Ambar. Apa mungkin? Adhi ingin sekali kembali ke ruangan Ambar dan melihat apa yang terjadi setelah dua pria itu muncul. Tapi percuma. Apa yang terjadi pada wanita itu bukanlah urusannya. Dia sudah menolong Ambar dengan membawa ke rumah sakit dan sepertinya itu cukup. Adhi pergi keluar dari rumah sakit dan berpikir bagaimana caranya pulang.
"Halo"
Akhirnya dia menghbungi Andy.
"Wah ada apa kau telepon?"
"Apa kau bisa menyuruh orang untuk mengantarkan mobilku?"
"Mobilmu? Siapa yang berani membawanya selain aku?"
"Kalau begitu, bawa mobilku ke rumah sakit dekat stadion olahraga pusat"
":Rumah sakit? Apa kau kecelakaan lagi?"
"Iya, iya. Beri aku waktu untuk rapat sekitar sepuluh menit"
"Apa? Sial. Ya sudah. Aku akan menunggu"
"Oke ... oke"
Setelah menutup teleponnya, Adhi menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sebuah tempat untuknya bisa duduk selama sepuluh menit ke depan. Sepuluh menit berubah menjadi setengah jam saat dia menunggu di sebuah kedai kopi di dalam rumah sakit.
"Sial" umpatnya. Dia tidak suka menunggu seperti ini. Waktunya terbuang begitu saja selama tiga puluh menit. Hanya untuk menunggu Andy yang tidak bisa dihubungi saat ini.
"Kamu tunggu sini. Kamu naik mobil Nak Galih nanti. Mobilmu biar Bapak urus"
Adhi menoleh ke kanan dan melihat Ambar duduk tepat di sebelahnya. Pria tua yang dilihatnya masuk ke ruang UGD ternyata benar ayah Ambar.
"Ambar masih kuat nyetir Pak. Jangan ngerepotin orang"
"Ini bukan ngerepotin. Nanti Nak Galih juga bakal jadi suami kamu"
"Pak!!"
Tanpa bermaksud menguping, Adhi mendengar semua yang sedang terjadi dengan wanita itu. Ambar terlihat tidak suka setiap kali ayahnya menyebutkan masalah suami. Rupanya, pria satunya yang pernah dilihat Adhi makan malam dengan Ambar, adalah calon yang dijodohkan untuk wanita itu.
"Sudah Mbar. Kamu mending nurut ke Bapakmu. Kamu juga masih lemes. takutnya malah ada apa-apa nanti"
__ADS_1
"Tapi Bu"
Adhi melihat rasa tidak suka yang jelas ditunjukkan oleh Ambar pada pria pilihan orang tuanya. Perjodohan. Baru kali ini Adhi melihat dengan mata kepalanya sendiri, akibat dari sebuah perjodohan. Ingin rasanya dia menyelamatkan wanita yang terlihat lemah itu. Tapi ... berulang kali lagi dia mengatakan kepada dirinya sendiri. bahwa itu bukan urusannya.
"Lho, kok Mas-nya masih disini?"
Adhi kembali menoleh dan ibu Ambar masih bisa mengenalinya.
"Iya. Saya sedang menunggu mobil"
Ibu Ambar mengangguk-angguk berusaha memahami maksud Adhi.
"Anda menunggu mobil sejak tadi?" tanya Ambar dengan suara lemahnya.
"Iya"
Wanita itu terdiam sejenak, sepertinya sedang berpikir.
"Anda bawa mobil saya saja"
"Apa?"
"Daripada menunggu lama. Anda pasti sibuk sekali sekarang. Bawa saja mobil saya"
"Ambar" ibu Ambar sepertinya protes pada keputusan anaknya. Mungkin ibunya berpikir kalau mereka tidak saling kenal tapi Ambar berani meminjamkan mobil pada Adhi.
"Baiklah kalau kau memaksa"
Adhi bangun dari kursinya lalu menghampiri Ambar. Wanita itu merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci mobil. Tanpa berpikir, menyerahkannya pada Adhi.
"Ahh. Iya deh kalau Ambar sudah bilang gitu. Anda orang baik jadi ... " komentar ibunya khawatir akrena putrinya dengan mudah memberi kunci mobil pada orang asing.
"Ini kartu nama saya. Besok pagi, saya akan mengantar mobil Ambar ke rumah. Kalau besok mobil belum juga kembali, Anda bisa melaporkan saya ke polisi"
"Apa?? Eh . Iya"
Tanpa menolak, ibu Ambar menerima kartu nama Adhi.
"Kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih ... sudah me ... minjam ... kan mo ... bil"
Ucapan Adhi terputus-putus karena merasakan gerakan aneh di kemejanya. Rupanya, tangan Ambar mencengkeram kuat kemejanya. Seperti tidak ingin membiarkan Adhi pergi.
'Apa kau tidak suka dengan pria itu? Atau kau hanya benci dijodohkan?' tanya Adhi dalam hati.
Tiba-tiba dia tidak tega melihat mata Ambar yang sedikit lagi keruh dengan air mata. Adhi menatap mata Ambar dan berusaha memahami keinginan wanita di depannya. Lalu, Ambar melepaskan cengkeramannya dan menundukkan kepala.
"Terima kasih" katanya dan kembali duduk di kursi. Kemungkinan masih merasa pusing.
"Baiklah. Aku pergi dulu. mari" ucap Adhi lalu menunduk pada ibu Ambar dan berjalan pergi ke tempat parkir.
Memang benar apa yang terjadi pada Ambar bukanlah urusannya. Tapi ... dia berhenti berjalan dan merasa ada yang aneh dengan hatinya. Rasanya sesak. Tidak enak sekali.
__ADS_1