Second Lead Fate

Second Lead Fate
Delapan Puluh Enam


__ADS_3

"Apa Anda membutuhkan hal lain?" tanya pramugari pada Ambar yang masih meneteskan air mata dalam diamnya. Dia menggeleng lalu pramugari meninggalkannya. Sebenarnya tadi dia duduk bersama dua penumpang lainnya tapi karena terus menangis, jadinya dia dipindah ke bagian belakang. Untunglah pramugari dan pilot tidak mempermasalahkan masalah tangisnya yang tidak berhenti. Mereka hanya takut Ambar mengganggu kenyamanan penumpang lainnya. Lagipula ini kelas ekonomi dimana penumpangnya lebih banyak. Setidaknya kini dia merasa baik-baik saja. Setelah mengeluarkan air mata tanpa henti selama dua jam akhirnya Ambar merasa lelah dan tertidur.


Dia terbangun saat pesawat melakukan transit di Doha, Qatar.Di bandara ini, beberapa hari lalu dia datang dengan cowok itu. Cowok yang entah berapa kali berganti celana karena alasan yang tidak diketahui. Ambar tersenyum karena mengingat hal itu lalu kemudian menjadi murung lagi. Takut menjadi kembali sedih, Ambar memilih untuk berjalan-jalan di bandara. Membeli roti dan kopi lalu sholat di mushola yang bagus dan bersih. Setelah shalat jama' dia kembali ke ruang tunggu yang disarankan dan menanti keberangkatan pesawat menuju Jakarta.


Enam jam kemudian akhirnya Ambar menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Yang menyambutnya pertama kali adalah hawa panas Jakarta. Meskipun sumpek, tidak nyaman tapi ini adalah negaranya, kotanya tempatnya lahir dan tumbuh lalu hidup sampai sekarang. Ambar merasa beruntung akhirnya dapat pulang lagi ke Jakarta.


"Sayang!!" teriak suara yang dikenalnya. Tapi dia pura-pura tidak mengenal laki-laki yang memanggilnya seperti itu dan memilih berjalan cepat ke arah lain. Laki-laki itu rupanya mengejar dan berhasil menahan kepergiannya.


"Ngapain sih kamu Ken. Malu tau"


"Kamu pulang gak ngabarin. Untung aja Bos kasih kabar kalo kamu bakal pulang subuh kemarin. Kalo gak ... "


Bos? Ternyata cowok itu memberitahukan kepulangannya pada Kenzo. Berarti Bos Kenzo sudah tahu tentang rencana pulang Ambar dari malam sebelumnya. Tapi wajah cowok itu tampak biasa saja saat Ambar pergi.


'Ya iyalah. Emangnya aku siapa?' pikir AMbar mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi.


"Cih. Aku emang pengen bikin kejutan tau" alasan Ambar yang diterima Kenzo dengan baik.


"Aku seneng banget kamu pulang Mbar. Besok ayah aku bakal pulang dan kamu juga pulang"


Oh iya. Ambar lupa dengan rencana kepulangan ayah Kenzo. Alhamdulillah. Setidaknya dia hadir dalam momen penting temannya yang sudah lama ditunggu-tunggu itu.


"Oh iya. Untung ya"


"Berarti kita bisa sekalian lamaran ya"


"Ha? Apaan?"


"Ayah aku pulang terus lamaran ke kamu"


"Siapa yang mau nerima kamu?"


"Yah, cincicnnya belum dipake juga ya"


Hampir saja Ambar memakai cincin pemberian Kenzo saat terdiam di tepi danau waktu itu. Untung otaknya masih waras dan menggagalkan niatannya yang aneh itu.


"Aku pengen pulang nih. Kamu bawa mobil kan?" tanya AMbar tidak tahan untuk pulang dan bertemu dengan ibunya.


"Ya. Ayo pulang sayang"

__ADS_1


"Cih. Sekali lagi kamu panggil aku itu. Aku jahit bibir kamu"


"Duh, jahat banget. Ngomong-ngomong, aku dapet oleh-oleh gak?"


"Ada"


"Beneran? Apaan?"


"Gantungan kunci sama magnet kulkas"


"Yah, itu mah beli disini juga banyak"


"Tapi kan struk pembeliannya ada Londonnya"


"Beneran cuman itu Mbar?"


"Gak tau ah. Aku mau pulang dulu, ketemu ibu"


Tanpa bertanya lagi, Kenzo membawa AMbar ke dalam mobilnya. Mereka berbincang tentang rencana kepulangan Ambar yang mendadak berubah juga kejadian yang menimpa Bos Kenzo di London.


"Aku kaget kemarin Bos tiba-tiba suruh aku siapin semua surat tanah dan rumah. Ternyata ada kejadian gitu"


"Iya"


"Jadi ... akhirnya Bos bakal nikah sama Feli ya. Cocok sih emang"


Ambar menggigit bibir bawahnya. Dia juga tahu akan hal itu.


"He eh"


"Cuma, aku agak gak rela kalo Bos jual semua hasil usahanya buat kayak gini lagi"


"Lagi? Emangnya dulu pernah?"


"Pernah. Waktu aku dipecat dulu. Juga gara-gara masalah kayak gini kan. Duit Bos habis dikasih ke ortunya Feli. Sampai sekarang gak ada balasannya sama sekali. Terima kasih aja gak ada.  Bahkan Bos jadi bangkrut dan harus mulai dari bawah lagi. Mabuk sampe apartemennya jadi kayak kandang babi. Kamu masih inget kan?"


Ambar teringat lagi peretemuannya dengan Bos Kenzo yang mengubah apartemennya menjadi penuh dengan pecahan botol alkohol. Dan gara-gara kejadian itu, dia harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tuanya.


"Oh, waktu itu"

__ADS_1


"Iya. Duh, kita bener-bener mulai dari nol. Aku heran kok bisa Bos masih suka sama Feli setelah tahu orang tuanya kayak gitu"


"Hush. kamu gak boleh ngomong gitu" kata AMbar berusaha menahan semua omongan yang keluar tak tersaring dari mulut Kenzo.


"Oh iya. Maaf"


Tapi, Ambar benar-benar tidak tahu kalau enam tahun lalu Bos Kenzo mengalami kesulitan samapi sebesar itu. Dia pikir cowok itu hanyamembuat masalaha besar saja.


"Aku gak anter sampe depan rumah ya Mbar"


"Eh, kenapa?"


"Bapak kamu"


"Ahhh. Iya Gak apa-apa"


"Semoga bapak kamu mau nerima aku secepatnya. Biar kita bisa nikah"


Percuma Ambar merasa sedikit kasihan pada Kenzo. Ternyata temannya itu memiliki niatan lain.


"Dihhh. Siapa yang mau nikah sama kamu" jawab Ambar lalu keluar dari mobil Kenzo. Temannya itu membantu mengeluarkan koper Ambar lalu melepasnya begitu saja di depan gang masuk rumah.


"Hati-hati sayang"


"Duhh. Bisa gak sih kamu gak panggil aku gitu lagi? Udah sana pulang! Makasih ya udah jemput"


Kelihatannya Ambar harus secepatnya mengembalikan cincin pemberian Kenzo untuknya. Dia tidak ingin memberikan harapan palsu pada temannya itu.


Sampai di rumah, ibunya memandang Ambar seakan tak percaya. Dilepaskannya selang air untuk menyiram tanaman dan segera berjlan cepat mendatangi Ambar.


"Assalamualaikum Bu" sapa Ambar lalu ememluk ibunya dan menangis.


"Wallaikumsalam. Kok kamu gak ngabari kalo pulang?"


"Kejutan Bu"


"Alhamdulillah. Kamu udah pulang Nak. Alhamdulillah. Tapi kenapa nangis?"


"Kangen Bu. Ambar kangen banget sama ibu"

__ADS_1


Tidak bohong. Ambar rindu sekali dengan ibunya. Terutama saat berada di bawah kucuran air hujan Lake District dua hari yang lalu. Kini dia bisa tenang, karena ibunya akan melindunginya dari penyakit hati apapun. Ayahnya juga berada dekat dengannya supaya Ambar bisa merasa kuat lagi. Kini dia kembali ke kehidupannya yang biasa. Tidak lagi berharap dan bermimpi yang lebih tinggi dari apa yang dia miliki sekarang.


__ADS_2