Second Lead Fate

Second Lead Fate
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Seorang wanita, akhirnya masuk kedalam mobil Adhi selama ... entah berapa lama. Mungkin beberapa tahun setelah dia memutuskan untuk tidak akan pernah dekat dengan wanita manapun setelah didera rasa sakit hati karena Feli.


"Kenapa?" tanyanya melihat wanita itu tidak berhenti mengamati bagian dalam mobilnya.


"Gak. Gak ada apa-apa"


"Baru kali ini?"


"Ha?"


"Masuk ke dalam mobil seperti ini?"


"Oh. Iya"


Jawaban polos Ambar selalu bisa membuat Adhi menyunggingkan senyumnya.


"Sejak kapan kau memiliki mobilmu?" tanya Adhi tiba-tiba.


"Kapan ya? Dua tahun yang lalu. Sejak saya harus pergi kesana kemari dan membutuhkan kendaraan angkut"


Inilah yang disukai oleh Adhi, berbicara dengan Ambar mengenai apa saja. Dan wanita itu menanggapinya dengan baik. Tidak seperti wanita lain yang selalu membahas wajah, baju dan tasnya.


"Kau tidak ingin menggantinya?"


"Tidak"


"Kau tidak ingin yang seperti ini?"


Kali ini Adhi memang agak sedikit menyombongkan apa yang dimilikinya. Tapi wanita itu pasti menganggapnya biasa saja.


"Tidak"


"Apa?" Adhi terkejut dengan jawaban Ambar. Bukankah orang lain pasti akan menjawab ingin mobil yang seperti milik Adhi lalu memintanya membelikan satu.


"Saya tidak ingin tampak kaya tapi sebenarnya tidak punya apa-apa"


Sudah beberapa kali, Adhi kagum dengan jawaban yang diberikan oleh Ambar. Meskipun berusia enam tahhun lebih muda darinya, sepertinya wanita itu berpikir dengan cara dewasa.


"Itu pemikiran bodoh. Kau harus tampil baik agar bisa mendapatkan klien yang lebih besar. Dan juga bisa memperbesar kiosmu"


"Kios? Sekarang Anda menyebutnya kios?"


"Karena terlalu kecil"


Adhi cukup terkejut dengan ukuran toko yang selalu disebutkan oleh Ambar. Ternyata tidak sebesar yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Iya. Seharusnya kami pindah ke ruko yang lebih besar. Tapi ... masih ada sisa waktu sewa setengah tahun lagi"


Tanpa terasa mereka sampai ke sebuah restoran yang sering didatangi oleh Adhi.


 


Ambar melihat restoran yang kini berdiri tegak di depannya. Wah, kelihatan mewah dan mahal sekali. Padahal Ambar berpikir kalau cafe milik Bos Kenzo sudah mewah, tapi ini, lebih bagus dan mewah lagi. Berapa harga kopi di restoran ini? pikir Ambar sebelum masuk ke dalam restoran. Suasana di dalamnya sangat elegan dengan kursi berlapis kulit hitam, lampu gantung berbentuk setengah bola. Alat makan berkilau yang tertata apik di atas meja, juga gelas berkilau menambah keindahan restoran ini. Tapi tetap saja, sepertinya ini akan menjadi makan malam mewah pertama dan terakhir yang pernah Ambar alami. Seandainya saja dia memiliki lebih banyak uang, maka ayah ibunya juga bisa menikmati semua ini. Perlahan Ambar merasa bersalah karena bisa datang ke tempat seperti ini.


"Disini terkenal dengan makanan Perancis, jadi aku akan memesan"


"Yah" jawab Ambar pasrah. Dia hanya mengerti beberapa kata saja dalam menu yang ada di tangannya.


"Apa kau ingin coke atau kopi?"


Ambar membalik menu dan sampai ke bagian minuman. Kebanyakan yang dijual memiliki kandungan alkohol di dalamnya.


"Kopi, Cappucino"


"Baiklah"


Ambar menutup menu dan meletakkannya di meja. Dia tidak ingin lagi melihat harga makanan yang terdiri dari tiga angka itu.


Bos Kenzo selesai memilih makanan dan memberikan menu kepada pelayan. Cowok itu kemudian melihat ke arah Ambar.


"Apa?" tanya Ambar.


"Apanya?" Ambar tidak mengerti pertanyaan yang diajukan cowok itu.


"Apa kau terkesan dengan tempat ini?"


"Iya. Bagus sekali"


"Kau harus memperbesar usahamu agar bisa makan di tempat seperti ini, setidaknya seminggu sekali"


Ambar mencibir. Sombong sekali cowok itu. Bisa mengajak Ambar ke tempat seperti ini saja sudah sombong. Belum lagi, bilang kalau usaha Ambar ternyata kecil. Duh, rasanya ingin seklai Ambar melempar air ke wajah cowok itu.


"Sebaiknya Anda mengajak Feli kemari dan bukan saya" balas Ambar kesal.


"Ternyata kau melihat Feli datang tadi pagi?"


Ambar menggigit bibirnya. Seharian ini ia tidak mebicarakan ataupun memikirkan tentang Feli sama sekali.


"Iya"


Setelah Ambar menjawab, makanan datang melengkapi minuman yang sudah diberikan tadi.

__ADS_1


"Kau melihat semuanya?"


Ambar mengalihkan padanngannya dari piring di depannya dan melihat mata biru Bos Kenzo.Anehnya dia tidak merasakan apa-apa saat melihat mata biru itu.


"Iya"


"Dan itu sebabnya kau marah?"


"Marah? Kenapa saya marah?"


"Kau bersikap dingin"


"Saya? Sepertinya tidak. Sepertinya Anda salah paham. Saya hanya terlalu capek karena tidak tidur dengan cukup"


"Benarkah?"


"Iya"


Tidak ada lagi pembicaraan antara Ambar dan Bos Kenzo. Mereka sibuk menikmati makanan yang tersaji. Atau setidaknya, itu yang sedang Ambar lakukan sekarang. Acara makan malam di restorang bintang lima dengan koki michelin akhirnya berakhir. Ambar tidak ingin tahu berapa yang harus dibayar cowok itu untuk makanan tadi. Dia memilih segera pergi keluar restoran dan berdiri di depan mobil Bos Kenzo. Tapi cowok itu tidak segera datang membuatnya melihat ke dalam restoran lagi. Disana Ambar melihat cowok bule itu sedang berbicara dengan dua orang lain. Sepertinya mereka berada di tingkat kehidupan yang sama. Orang kaya maksdunya. Dan perempuan yang juga berbicara dengan Bos Kenzo tampak ... cantik. Gaun merah menjuntai sampai di bawah lutut, riasan penuh, tas mahal dan sepatu dengan alas berwana merah. Perempuan itu juga pasti orang kaya.


Ambar berbalik dan berjalan ke depan mobil Bos Kenzo.Dia melihat tampilannya yang terpantul di depan kaca mobil. Tidak cocok. Bagaimana bisa dia berani datang ke tempat seperti ini dengan penampilan seperti itu? Seharusnya dia menolak makan malam ini. Tanpa menunggu lagi, Ambar memesan gojek motor dan pergi dari restoran mewah itu. Di atas motor, dia mulai merasa nyaman kembali. Dengan angin yang menerpa seluruh tubuhnya itu, Ambar merasa lebih baik daripada beberapa menit lalu.


Sampai di depan toko, Ambar melihat seseorang yang duduk di atas kap mobilnya.


"Kenzo?"


Laki-laki itu melihatnya dan kemudian berdiri.


"Kemana Lo?"


"Aku ... ada perlu" Ambar tidak akan pernah mengatakan kalau dia tadi mekan malam super mewah.


"Aku cari kamu dari tadi. Kenapa gak angkat telpon?"


"Oh, kamu telpon?" Ambar memeriksa ponselnya dan melihat tiga panggilan tak terjawab dari Kenzo.


"Jangan pernah di silence!"


"Keterusan dari sholat Maghrib tadi"


"Kamu udah makan?"


Ambar melihat ke wajah Kenzo dan menggeleng kuat. "Belum"


"Ayo makan lalapan bebek deket sini!" ajak Kenzo membuat hati Ambar senang. Dia lebih suka memakan bebek yang digoreng dalam minyak hitam daripada steak yang ada di restoran tadi.

__ADS_1


"Ayo!!" seru Ambar lalu berjalan di samping temannya, menuju lalapan bebek pinggir jalan.


__ADS_2