
"Ambilkan minum untuk ibumu!"
"Iya"
Setelah dua hari di rumah sakit, akhirnya ibu Ambar pulang ke rumah. Keadaan tubuh ibunya memang masih lemah tapi akan membaik siring berjalannya waktu.
"Kamu gak kerja?" tanya ibunya setelah menerima air putih dari Ambar.
"Gak Bu. Ambar libur dulu"
"Udah cukup ada Bapakmu di rumah. kamu kerja saja sana"
"Tapi Bu"
"Kamu udah beresin barang pinjaman kemarin?" tanya ibunya lalu melirik keluar kamar.
"Udah. Ambar udah kembaliin semua"
Tentu saja Ambar sudah mengembalikan semua barang pinjaman yang digunakan untuk lamaran kemarin. Meskipun meerima banyak pertanyaan dari tetangga, dia menjawab semuanya dengan jujur.Dia tidak jadi menikah karena calonnya belum cocok.
"Kamu kerja aja sana" kata ibunya lagi.
"Tapi Bu"
"Udah gak apa-apa. Dua hari kemarin pasti banyak kerjaanmu yang tertunda"
Ambar menyerah. Dia tidak mungkin bersikeras menunggu ibunya di rumah sekarang. Lagipula, ibunya juga membutuhkan banyak waktu untuk berisitirahat. Setelah memastikan makan siang siap, dia pamit pada orang tuanya dan pergi bekerja.
Meskipun terkejut dengan kedatangannya, dua pegawai Ambar kembali bekerja seperti biasa. Dia juga kembali menghadap laptop dan memeriksa desain undangan yang dipesan oleh pelanggan minggu lalu sebelum dicetak. Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu ruangannya mengganggu fokus Ambar. Dia mendongak dan terpaku.
"Re" panggilnya dengan suara bergetar.
"Mbar"
Ambar menutup mulutnya dan mersasa tidak percaya dengan matanya sendiri.
"Kamu ... kapan?"
Ambar segera meninggalkan pekerjaannya dan memeluk Rea. Memeluk sahabat yang sudah dua tahun tidak pernah ditemui dan dihubunginya itu.
"Aku dengar ibumu masuk rumah sakit. makanya aku kesini"
"Dengar dari mana?" tanya Ambar penasaran.
"Bocah bodoh"
"Kenzo? Bagaimana?"
"Yah begitulah. Jangan tanya lagi"
Bagaimanapun cara Rea mengetahui kabar ibunya, Ambar tidak peduli. Yang terpenting akhirnya dia bisa bertemu sahabatnya itu lagi.
__ADS_1
"Aku merindukanmu" kata Ambar lalu ememluk Rea lagi"
"Aku juga. Tapi bisakah kita ke rumahmu? Aku capek dan jetlag"
"Baiklah"
Ambar batal bekerja dan menyerahkan toko ke dua pegawainya. Dia pulang kembali ke rumah dan senang melihat ibunya tersenyum karena kedatangan Rea. Keduanya berbincang sebntar sebelum Rea mengikuti langkah AMbr ke kamarnya.
"Kamu tinggal disini? Bukan di hotel?" tanya Ambar.
"Iya. Kenapa? Gak suka?"
"Suka banget"
Ambar kembali memeluk Rea dan merasa sangat bahagia. Baru kali ini rasanya bibirnya akan sobek karena terlalu banyak tersenyum. Dia mengantar Rea ke kamar dan tak sengaja sahabatnya itu melihat gaun biru yang masih tergantung di luar lemari.
"Gaun? Bagus banget. Kayak gaun pengantin"
Ambar merasa malu dan segera memasukkan gaun itu ke dalam lemari.
"Cuma gaun biasa"
"Untuk apa?"
"Itu ... " Ambar ingin sekali berbohong, tapi ini adalah hari pertama dia bertemu dengan Rea. Rasanya akan sangat tidak baik jika dia kembali berbohong saat ini.
"Apa ada yang aku harus tahu?" tanya Rea lagi.
Rea membuka matanya lebar-lebar, terlihat sekali kalau terkejut dengan apa yang dikatakan Ambar.
"Siapa?"
Bagaimana Ambar bisa mengatakan siapa yang melamarnya? Apa yang akan dikatakan oleh Rea nanti? Tapi dia tidak menerima lamaran itu. Jadi ...
"Adhi"
"Siapa?"
"Mantan suami Feli"
Segera setelah Ambar jujur, Rea terdiam. Dia sudah tahu kalau Rea pasti terkejut dan marah. Tapi ...
"Apa kamu menerimanya?"
"Apa? tentu saja tidak. Re, aku tidak menerimanya. Tidak mungkin menerimanya"
"Kenapa?"
Ha? Kenapa Rea sekarang menanyakan alasan dia tidak menerima lamaran cowok itu? Bukannya sudah jelas sekali alasan dibalik penolakannya?
"Re, gimana bisa aku ... "
__ADS_1
"Kamu masih belum bisa lupain Feli?"
"Gimana aku bisa lupa?"
"Tapi ini sudah dua tahun Mbar. Aku dan kamu yang masih ada di dunia ini seharusnya melanjutkan hidup dan melupakan masa lalu"
Ambar merasa sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Rea. Bukankah seharusnya Rea yang lebih marah dan kesal padanya? Bukankah seharusnya Rea membenci cowok itu melebihi rasa bencinya?
"Tapi aku tidak bisa melupakan Feli"
"Aku juga. Hanya saja, semuanya sudah berlalu dan kita harus menjalani masa sekarang dengan baik"
"Re ... "
"Aku tahu kamu merasa bersalah karena secara tidak langsung menyebabkan kematian Feli. Tapi semua itu gak bener Mbar. Kamu bukan penyebab kematian Feli. Semuanya merupakan takdir yang aku dan kamu gak bisa rubah lagi"
Ambar merasa dirinya menjadi lebih kecil dari biasanya. Dia selalu merasa menyalahkan diri sendiri, membuat dirinya menderita merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Dia harus dihukum karena penderitaan yang dirasakan oleh Feli. Tapi ... yang dikatakan Rea juga ada benarnya. Semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa dia lakukan bisa merubah hal itu.
"Tapi Re. Tetap saja, harusnya aku tidak menyukai cowok itu. Harusnya aku ... "
"Apa dengan menyalahkan dirimu sendiri, Feli bisa hidup lagi?"
"Apa?"
"Meskipun kamu menderita dan menyalahkan diri. Feli gak akan bisa hidup lagi Mbar. Kamu harus sadar tentang hal itu"
Ambar terdiam. Dia tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya.Sepertinya dia membutuhkan waktu untuk menerima semua itu secara perlahan.
Tapi bagaimana bisa ia mengakhiri semuanya? Disaat dia sudah terbiasa menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Feli dan juga terbiasa membiarkan dirinya merasa tidak bahagia.
"Aku ... gak tau Re. Aku pikir, aku harus menderita sampai nanti"
"Apa kamu mau bikin orang tua kamu menderita juga?"
Sama. Apa yang dikatakan Rea sama seperti yang dikatakan cowok itu. Dan Ambar dengan mudah akan menjawabnya
"Tidak. Tapi aku gak tau caranya untuk ... "
Ambar melihat ke arah Rea dan merasa bingung. Rea akhirnya memeluk Ambar dengan erat seperti ingin meringankan penderitaan yang selama ini dirasakannya.
"Apa aku boleh tidak menderita lagi?" tanyanya dengan suara sangat kecil.
"Boleh"
"Apa aku boleh melupakan apa yang terjadi dua tahun lalu dan melanjutkan hidupku?"
"Boleh"
"Apa aku ..."
"Kau boleh melakukan apapun terhadap hidupmu sendiri Mbar. Apalagi menemukan seseorang dan menikah. Membahagiakan orang tua kamu.Kita tidak akan pernah melupakan Feli. Tapi kita juga harus menjalani hidup dengan baik agar tidak menyesal nanti"
__ADS_1
Kini, seakan beban yang selama ini berada di pundak Ambar terlepas satu demi satu. Kedatangan Rea hari ini merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah pada Ambar. Dia menangis, kali ini dengan keras. Dia tidak ingin lagi menyembunyikan derita dalam hatinya sendiri. Dia akan mengeluarkan semua bersama tangisnya. Agar besok dia bisa menjalani hidup tanpa merasa bersalah lagi pada sahabatnya yang seperti peri hutan itu.