
Sejak Adhi datang, hati Feli menjadi tidak tenang.Terakhir mereka bertemu adalah saat Adhi ada di apartemen dan menolak pemberiannya. Sejak itu Feli tidak berani lagi mencari tahu tentang apa yang tejadi pada laki-laki itu. Apalagi, kehadiran Ambar juga sedikit menahan perasaannya. Saat makan siang, Feli tidak berhenti menatap laki-laki yang dicintainya itu. Rasanya ingin sekali melupakan dimana dia sekarang berada dan dengan siapa dia berdiri saat ini. Tapi itu tidak mudah. Dua minggu lagi. Dia tidak akan pernah bisa memiliki perasaan seperti ini. Dia tidak akan pernah bisa mencintai laki-laki seperti dia mencintai Adhi. Sungguh menyesakkan.
"Adhi menyukainya" komentar Danial tiba-tiba membuat Feli terkejut. Dan itu terjadi tepat saat Adhi emngajak Ambar pergi.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" tanya Feli sedikit takut. Takut kalau perasaannya tampak jelas karena pertanyaannya.
"Adhi sangat benci wanita miliknya menghabiskan waktu dengan laki-laki lain.Apalagi denganku"
"Benarkah?" Feli merasakan sedih yang perlahan datang menguasainya. Kalau memang Adhi mencintai Ambar, maka ... cintanya memang harus berakhir sampai disini.
"Kenapa? Kenapa kau terlihat terkejut karena aku berkata seperti itu?"
"Tidak. Aku ikut senang. Ambar kan temanku. Sahabatku"
"Tapi wanita itu menarik juga. Mudah untuk diajak bicara"
Danial kemudian meninggalkan Feli sendiri untuk bicara dengan ayah ibunya. Feli melihat keluar jendela dan tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
"Apa yang kau bicarakan dengan Danial?" tanya Adhi segera setelah dia dan Ambar ada di dalam mobil yang mengantar mereka ke tempatnya..
"Tidak ada. Kami hanya membicarakan Anda dan Feli yang bicara berdua lalu ... "
"Lalu?"
"Yah, itu saja. Dia tidak berkomentar apapun tentang Anda dan Feli. Tapi rasanya seperti saya yang diinterogasi"
"Apa hanya itu?"
"Iya. Oh iya. Ada lagi"
"Apa itu?"
"Saya baru tahu kalau kakak Anda itu memiliki lesung pipi. Tinggi, tampan, punya lesung pipi, dan kaya. Wah, kak Danial memang tampak seperti bangsawan Inggris yang sempurna bagi Saya. Aplagi rambutnya cokelat keemasan saat tertimpa sinar matahari. Rasanya seperti melihat pangeran abad 19 di depan mata"
Panas rasanya hati Adhi mendengar kata-kata Ambar.
Awalnya dia tidak mengira Ambar dapat bicara lancar dengan anggota keluarganya. Namun saat mendengar Danial tertawa, Adhi mulai penasaran apa yang dibicarakan oleh keduanya. Dan mendengar bagaimana Ambar memuji kakaknya itu, menyebabkan hati dan otaknya seakan mau meledak.
"Jangan dekat-dekat dengan Danial. Apalagi bicara dengannya"
"Emangnya kenapa? Kan lumayan buat praktek bahasa Inggris"
"Kau ... bisa melakukannya denganku"
"Ih ogah"
"Kenapa?"
"Belum bicara aja udah dimarahi"
"Tidak akan"
"Emangnya kenapa sih?"
"Aku ... "
Adhi berhenti detik itu juga. Kalau dipikir, kenapa juga dia marah hanya karena Ambar bicara dengan kakaknya? Lagipula itu bukan urusannya kalau Ambar senang bicara dengan orang lain.
"Wah, ngambek lagi ya. Iya deh saya gak akan ngobrol sama kakak Anda lagi?" tanya wanita itu lalu membuang wajahnya ke arah jendela mobil.
"Kau bisa melakukannya"
"Ha?"
"Kau bisa bicara dengan siapapun yang kau mau" katanya lalu mengatakan alamat baru pada sopir.
__ADS_1
"Oh. Ya udah kalo gitu"
Mobil melaju dengan lancar dan mulai memasuki daerah Notting Hill. Di depan sebuah rumah yang memiliki cat putih, mobil akhirnya berhenti.
"Kau turun disini!" katanya pada Ambar.
Tanpa mengeluh dan membalas, Ambar segera turun dan memandang rumah putih itu.
Tak lama ada seseorang yang keluar dari rumah putih itu dan langsung memeluk Ambar.
"Kamu gak apa-apa kan Mbar? Duhh aku kuatir banget. Kamu gak di apa-apain kan?"
"Memangnya apa yang mungkin terjadi padanya?" kata Adhi lalu menurunkan koper Ambar disana.
"Yah kan aku gak tau. Kali aja keluargamu nyiksa Ambar"
"Memangnya kamu pikir dia mata-mata"
"Ya kali aja"
"Omong kosong. Sudah. Aku harus pergi"
"Eh, kamu pergi ggitu aja?"
"Aku harus mengurus sesuatu"
"Oh bisnis kamu ya?"
"Bukan urusanmu"
Adhi kembali ke dalam mobil dan meneruskan perjalanannya ke apartemennya di London bagian Timur. Ke salah satu klub dan apartemennya berada.
"Mbar ayo masuk!"
Ambar menoleh ke arah Rea
"Oh, iya"
Dia mengangkat kopernya dan masuk ke dalam rumah dengan gaya victoria itu.
"Aku tadi kuatir banget lho waktu kamu gak balik-balik"
"Permisi" katanya lalu masuk ke dalam rumah Rea. Setelah melihat kemewahan di rumah keluarga Syahreza yang seperti kastil, Ambar kembali merasa kagum. Rumah Rea sangat bergaya klasik namun modern secara bersamaan. Garis besarnya, rumah teman-temannya jauh sekali dari kata sederhana. Ambar jadi agak sedikit minder melihat semua kemewahan ini.
"Ngapain kamu berjingkat gitu?" tanya Rea.
"Takut karpetnya rusak"
"Duh jangan kampung deh"
"Lha aku emang dari kampung"
"Ayo, aku antar kamu ke kamar"
"Ayah, ibu, kakakmu kemana Re?"
"Ayah, ibu lagi ke Dubai. Kakakku udah punya rumah sendiri"
"Wah, sibuk semua ya. Kamu gak sibuk Re?"
"Sibuk. Tapi ngapain sih kamu nanya-nanya gitu?"
Ambar menghentikan langkahnya di lantai dua rumah Rea lalu sadar kalau dia terlalu rendah diri.
"Maaf. Aku cuma gak mau ganggu kesibukan kamu"
__ADS_1
"Kayak orang lain aja"
"Iya. Maaf ya"
"Udah ah. jangan minta maaf. Toh aku yang salah gak pernah ajak kamu kesini. padahal kita temenan udah lama banget"
Ambar tersenyum. Merasakan kedamaian setelah seharian disuguhkan kemewahan demi kemewahan yang mungkin tidak akan pernah dia rasakan lagi.
Setelah mandi dan sholat Maghrib, Ambar membuka notebooknya. Di Indonesia sekarang jam 12 malam. Dia tidak berani mengganggu istirahat kedua orang tuanya, juga para pegawainya. Jadi, dia hanya bisa memeriksa akunnya., Berharap hari ini ada pesanan yang datang. Dan dia mulai senang saat melihat tiga pesanan masuk ke akun media sosialnya. Tapi, karena perbedaan waktu, dia tidak bisa berharap balasan cepat dari pemesan souvenir dan undangannya.
"Ngapain Mbar?" tanya Rea yang masuk ke dalam kamar.
"Lagi lihat insta sama email. Kenapa?"
"Ayo makan! Aku ajak kamu makan di kafe sekalian lihat suasana London"
"Beneran?"
"Iya"
"Oke-oke"
Keduanya lalu berangkat ke kafe yang kata Rea menyajikan makanan halal terkenal. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan di sepanjang jalan dan Ambar kagum pada keteraturan kota ini.
"Udah mulai musim semi tapi kok ya masih dingin" komentar Rea. Temannya itu tidak tahu kalau AMbar harus menggunakan tiga lapis baju untuk keluar karena kedinginan.
"Kamu aja gak tahan. Apalagi aku"
"Oh iya. Kamu butuh jaket lebih tebal gak?"
"Gak usah. Ini aja cukup. Tapi, malem disini enak banget ya"
"Iyalah. Gak pengap kayak Jakarta. Sayang Feli gak bisa ikut"
Ambar mengingat raut wajah yang ditunjukkan temannya itu selama makan siang.
"Aku tadi kasihan banget sama Feli"
"Oh iya. kamu ketemu Feli ya?"
"Iya. Tau gak? Feli terus-terusan ngelihatin wajahnya Adhi terus"
"Keliatan banget ya"
"Iya"
Rea menunjuk sebuah restoran yang memiliki kursi di pinggir jalan dan mengajak Ambar kesana. Ini mah resto, pikir Ambar.
"Makanya Mbar. Gimana rencana kita buat bantu Feli?"
Ambar duduk lalu melihat-lihat menu yang disodorkan.
"Aku tadi juga ketemu Danial. kayaknya tuh orang juga cinta sama Feli deh"
"Iya sih. Terus gimana dong?" tanya Rea lalu memesan dengan satu jari telunjuknya.
Saat menunggu makanan datang, keduanya terdiam karena bingung memikirkan bagaimana caranya membuat Feli bersatu dengan laki-laki yang dicintainya. Padahal Ambar merasakan sedikit sakit di dadanya setiap membicarakan hal ini. Tapi Feli dan Bos Kenzo memang perlu dibantu agar bisa bahagia. Keduanya saling mencintai.
"Gimana kalo kita bilang aja ke Feli. Aku sama calon adik iparnya itu gak ada hubungan apa-apa." saran Ambar segera ditolak oleh Rea.
"Kita butuh awalan dulu. Feli kan bukan orang yang ambil inisiatif dulu"
"Jadi?"
"Oh iya. Gimana kalo kita bikin Feli cemburu habis karena liat kamu mesra-mesraan sama Adhi?"
Sebuah ide yang gila. Ambar tidak akan pernah melakukan hal itu. Apalagi dia berusaha melupakan rasa dalam hatinya sendiri.
__ADS_1