
"Sial. Sakit juga"
Adhi meringis dan menggosok pipi kirinya yang mungkin akan mulai bengkak itu. Ambar meninjunya dengan cukup kuat. Dia tidak pernah menyangka wanita itu memiliki keahlian untuk mengalahkannya dalam sekali pukul saja.
Adhi tidak tahu apa yang merasukinya tadi. Ambar menghilang diajak oleh ibunya masuk ke dalam rumah. Saat dia menunggu cukup lama dan wanita itu belum juga kembali, Adhi pergi menyusul masuk ke dalam rumah. Dan ternyata Adhi menemukan keduanya sedang berbincang di dalam kamar yang dulu dihuni olehnya. Kamar yang bahkan dia belum masuki setelah sepuluh tahun ini. Dan mulai terdengarlah ibunya membicarakan tentang masa lalu. Wanita itu tidak diam saja dan malah mengajukan pertanyaan terus menerus, seperti ingin tahu semua hal. Termasuk alasan ayah dan ibunya tidak pernah menjenguk Adhi di Jakarta. Hal itu membuatnya ... malu. Seakan Adhi tidak bisa membela dirinya sendiri dihadapan orang tuanya. Dia marah. Sangat marah pada wanita yang suka ikut campur itu.
Dan tanpa menahan diri lagi, dia segera masuk ke dalam kamar serta menahan Ambar disana. Awalnya wanita itu terlihat biasa saja namun Adhi ingin sedikit menghukumnya. Menghukum wanita yang selalu ingin tahu itu. Dan secara tiba-tiba muncul sesuatu yang gila di kepalanya. Dia ingin mencicipi tubuh Ambar. Tubuh yang tidak pernah dilihat laki-laki manapun selain dia. Tubuh yang belum pernah disentuh oleh siapapun selain dirinya. Dia. Memang hanya dia yang pernah melihat dan menyentuh tubuh tertutup itu. Hanya dia. Dengan satu hentakan, tubuh AMbar telah terjatuh ke atas ranjang dengan mudah. Lalu dia menindih tubuh kecil tak bersaya itu.
Kini, mata Ambar berubah. Terisi dengan ketakutan dan entah kenapa itu semakin membuat Adhi bergairah. Dia tidak tahan lagi dan akhirnya mengecup dan menempelkan bibirnya dalam waktu sangat lama. Sebelum sebuah tangan kecil meninjunya dengan keras. Sangat keras dan mampu menggulingkannya ke samping karena terlalu sakit. Wanita itu tidak berkata apa-apa setelah meninjunya dan hanya kabur keluar kamar. Tak lama, muncullah penyesalan di dalam diri Adhi. Dia berhasil untuk menahan diri selama ini. Lalu, apa yang dilakukannya sekarang? pikirnya lalu menggosok pipi kirinya lagi. Berharap pukulan itu tidak menimbulkan memar yang terlalu parah.
Ambar berlari. Dia tidak peduli sedang ada di rumah orang lain. Yang bisa dia lakukan hanyalah berlariu menuju tempat dimana temannya berada. Dan saat dia melihat Rea sedang berdiri sendiri di dekat pohon besar, dia segera menghampiri dan memeluknya.
"Ambar. Kenapa?"
Ambar tidak bicara. Tidak ingin bicara tentang apa yang baru saja dia alami. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Pergi menjauh dari cowok gila itu.
"Kita pergi. Tolong"
"Apa yang terjadi"
"Pergi, cepat pergi!!" kata Ambar dengan suara kecil. Takut ada orang yang mendengarnya. Rea pasti terkejut dengan yang dilakukan olehnya sekarang. Tapi AMbar tidak peduli. Dia ingin pergi dari tempat ini. Sekarang juga.
"Iya. Iya. Kita akan pergi. Aku juga harus pergi ke kantor sebentar.. Tapi, kau harus mencoba untuk tenang. Oke!"
Ambar menarik napas lalu membuangnya. Dia melakukan beberapa seri latihan pernapasan untuk menurunkan detak jantungnya yang terlanjur naik drastis. Naik karena terkejut, adrenalin dan juga berlari cepat ke halaman.
"Bisa tidak kita pergi sekarang?" kata Ambar setelah agak tenang.
"Apa yang terjadi?"
Ambar tidak akan pernah sama sekali menceritakan apa yang terjadi padanya barusan.
__ADS_1
"Aku ingin buang air besar"
"Apa???!!"
"Iya. Aku gak bisa BAB di rumah mirip istana kayak gini. Gak bisa keluar"
Lebih baik dia malu karena kotoran daripada menceritakan hal yang memalukan itu.
Rea dengan cepat merespon kata-kata Ambar dengan tertawa terbahak-bahak. Temannya itu tidak menahan diri untuk tertawa dan mengejek Ambar dengan tatapan mata yang merendahkan. Biar. Tidak apa-apa.
"Baik. Oke. Kalo di kantorku kira-kira bisa gak?"
"Bisa. Bisa. Pasti bisa" jawab Ambar segera.
"Kita pamit dulu yuk"
"Kamu aja bisa gak?"
"Lha, emangnya kenapa?"
"Aku ... takut kentut di depan mereka"
"Buahahahaha" tawa Rea meledak tapi tidak membuat Ambar malu.
"Bisakah kau cepat? Aku sudah tidak tahan lagi"
"Iya. Iya. Kamu ke mobil dulu sana. Aku nyusul habis pamit"
"Cepet ya"
Rea segera mendekati pemilik rumah saat Ambar mengingat-ingat tempatnya masuk ke halaman ini. Dengan bertanya pada pelayan yang ada di tiap pintu, akhirnya Ambar berada di jalan yang tepat. Tapi, seseorang menunggunya di tengah jalan. Seakan mengerti kalau dia ingin segera keluar dari tempat ini. Bagaimana ini? Dia tidak ingin melihat cowok itu. Dia sama sekali tidak ingin bertemu dengan Bos Kenzo. Tapi, jalannya ... .
"Aku tahu kau ingin segera pergi" kata cowok itu dari jarak sekitar dua meteran. Ambar tidak bisa maju ataupun mundur, jadi dia diam di tempat dengan sedikit-sedikit menoleh ke belakang. Memeriksa kedatangan Rea.
__ADS_1
"Bisakah Anda minggir?"
"Aku menyesal. Harusnya aku tidak melakukan hal itu"
Semakin cowok itu bicara, Ambar semakin mengingat apa yang baru saja terjadi. Bagaimana sentuhan bibir yang panas dan kenyal itu membuat pikiran dan hatinya tidak tenang.
"Saya hanya ingin pergi sekarang" kata Ambar lagi. Dia tidak melihat cowok itu datang mendekat karena dari tadi menunduk.
"Kau sudah berjanji untuk membantuku"
Duhh, cowok ini selalu mengingatkannya tentang hal itu.
"Anda pikir saya akan membantu setelah tadi?"
"Aku sudah meminta maaf dan kupikir itu cukup"
Ambar menatap garang ke arah cowok yang sudah membuatnya berdosa itu. Dia tidak ingin lagi membantu cowok itu. Tidak lagi.
"Oh. Begitu?Kalau Anda berani berpikir seperti itu. Kenapa Anda tidak segera merebut wanita yang Anda cintai dan membawanya pergi. Tidak bersembunyi dibalik sandiwara ini hanya untuk memastikan Feli baik-baik saja?"
Ambar bertetapan intens dengan cowok yang ada di depannya. Tepat di depannya. Tapi kini dia tidak lagi memiliki perasaan yang aneh. Dia hanya memiliki rasa malu akan dosa karena telah melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.
"Apa?" Cowok itu berusaha memegang Ambar tapi dia bisa menghalaunya. Apa yang mereka lakukan sekarang seperti sedang latihan pencak silat saja.
"Jangan berani menyentuh saya!"
"Oh iya. Kau akan melakukan apa? Menonjokku lagi?"
"Saya bisa melakukan lebih dari itu"
"Coba saja kalau mau. Aku juga belajar jujitsu dan taekwondo"
"Saya pencak silat dan teratai putih. Sedikit kuda lumping" pamer Ambar tidak mau kalah.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara yang menghentikan perang kemampuan itu.
"Kalian ngapain sih. Udah pada gila ya??"