Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Ambar melangkahkan kakinya memutari rumah yang terakhir kali dia datangi setahun yang lalu itu. Semuanya masih sama seperti ingatannya. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Feli di dalam rumah ini. Sepertinya benar kalau dia adalah satu-satunya wanita yang pernah datang kemari. Tapi ... kenapa tidak ada pembantu seperti saat terakhir kali dia kemari? Apa benar cowok itu menginginkan dia mengurus rumah sebesar ini sendiri? Atau ini adalah cara cowok itu memaksanya menghapus perjanjian yang telah mereka setujui bersama tepat sebelum menikah? Sungguh cowok yang jahat. Seharusnya Ambar tahu kalau hal ini akan terjadi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya cowok yang keluar dari kamarnya itu.


"Masuk ke kamar"


"Itu kamar tamu"


"Tapi itu adalah kamar yang saya pakai terakhir kali"


Ambar tidak merasa melakukan kesalahan tapi raut wajah cowok itu berubah menjadi agak muram.


"Kau istriku. Kita memakai kamar yang sama"


Lupa? Tidak. Tentu saja Ambar tidak akan lupa kalau dia adalah istri cowok itu sekarang. Dia hanya tidak ingin sekamar dengan laki-laki yang akan memaksanya membatalkan perjanjian itu.


"Saya harus bekerja sampai malam hari. Takut mengganggu Anda yang ... "


Belum selesai AMbar bicara, cowok itu membawa semua barangnya ke kamar utama. Gagal sudah rencana Ambar.


Kamar utama ini ternyata cukup besar. Dengan kasur berukuran besar, meja kerja dan ruang pakaian yang ada di belakangnya. Kamar mandinya juga cukup luas meskipun hanya terdapat pancuran dan toilet.


"Rumah ini terl;alu besar" kata Ambar.


"Lalu?"


"Saya tidak akan bisa mengurusnya sendiri"


"Sobek perjanjian itu dan aku akan mendatangkan orang untuk membantumu"


Tidak. Ambar tidak akan pernah menyobek perjanjian itu meskipun badannya hancur karena harus mengurus rumah seluas ini.


Hanya tiga puluh menit saat dia bertekad. Ambar sudah menyesali keputusannya. Kenapa di rumah ini tidak ada bahan makanan satupun? Setelah kelelahan memeriksa semua kamar dan ruangan, dia harus berhadapan dengan lemari es yang kosong. Apa cowok itu berharap dia belanja dan mengisi dapur sendiri? Apa memang ini pekerjaan sebagai seorang istri? Tapi dia tidak pernah mengurus rumah dan lemari es seluas ini. Ini seperti lima kali ... bukan ... sepuluh kali skala rumahnya.


"Kenapa belum ada makan siang?" tanya cowok yang turun memakai kaos hitam dan celana panjang berwarna krem itu.


"Saya akan memesannya secara online"


"Apa? Online? Apa kau benar-benar akan melakukan itu?"


"Kenapa? Apa Anda ingin kita makan diluar saja?"

__ADS_1


"Itu membuang waktu"


"Kalau begitu kita akan memesan secara online"


Ambar mengeluarkan ponsel dari kantungnya dan mulai berselancar, memilih menu makanan yang sekiranya bisa dinikmati oleh orang seperti cowok itu.


"Aku tidak suka makanan yang pedas"


Ambar terkejut mendengar suara yang begitu dekat dengan telinganya. Dia tidak sadar kalau cowok itu sudah ada tepat dibelakangnya.


"Saya tidak akan pesan makanan pedas" jawabnya lalu berusaha untuk menjauh.


"Aku juga tidak suka makanan seperti ini"


Kali ini cowok itu mengulurkan tangan dan menjangkau ponsel Ambar yang berada dekat dengan dadanya. Membuat punggung Ambar merasakan kehangatan yang aneh.


"Iya. Saya akan pesan yang ... bisakah Anda sedikit"


"Apa?"


"Anda terlalu dekat"


Ambar berharap cowok itu akan menjauh mengerti perkataannya. Tapi tidak. Suaminya itu semakin mendekat dan menempelkan tubuhnya. Membuat Ambar tidak nyaman dan ingin mendorong cowok itu. Tapi dia menahan tangannya. Hanya saja ... kenapa sekarang Ambar dapat merasakan napas cowok itu di wajahnya?


"Anda terlalu dekat"


"Ha? Ada Larry dan ... "


"Mereka tidak akan pernah masuk tanpa perintah"


"Tapi ... "


"Lepaskan sekarang!"


"Ha?"


"Lepas hijabmu!


"Tidak. Anda harus menjauh sekarang. Saya harus pesan makanan"


"Paksa aku"

__ADS_1


Wajah mereka sangat dekat, membuat napas Ambar sedikit terganggu. Jantungnya berdetak lebih kencang.  Apalagi saat cowok itu menggesek-gesekkan tubuhnya pada dada Ambar, dia merasa tidak bisa berpikir.


"Hentikan!"


"Kenapa? Aku tidak menyentuhmu. Tanganku di atas"


Memang benar cowok itu tidak menyentuhnya tapi ini lebih dari itu. Ambar harus bisa lepas dari posisi ini, lalu bagaimana caranya?


"Pergi!"


"Paksa aku"


Tidak bisa. Ambar tidak bisa memaksa cowok itu menjauh. Kenapa? Karena untuk melakukannya dia harus mendorong atau menyentuh cowok yang resmi menjadi suaminya itu. Hal itu bisa juga berarti Ambar menginginkan mereka bersentuhan dan perjanjian akan berakhir saat itu juga.


Dia tidak bisa melakukannya tapi cowok ini semakin mendesak tubuhnya ke dinding. Dia tidak bisa lepas kalau seperti ini. Terpaksa Ambar menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa.


"Tolong"


"Apa? Kau ingin aku mengakhiri semua ini?"


Kini kaki cowok itu menempel di pangkal paha Ambar karena perbedaan tinggi mereka, dan itu semakin menyiksanya. Perlahan suhu ruangan seperti meroket dan membuat tubuh Ambar berkeringat. Dia memegang erat baju hangatnya untuk menahan diri tapi sebuah ******* lolos dari mulutnya. ******* karena cowok itu membuat puncak dadanya tergelitik.


"Jangan" kata Ambar berusaha menyembunyikan desahannya.


"Kenapa kau menyiksa diri? Kita bisa melakukannya sekarang juga"


"Tidak ... tidak. Tidak boleh"


"Kau tahu aku sangat mencintaimu dan ingin menyentuh semua bagian tubuhmu sekarang"


"Anda gila"


"Aku gila karenamu. Dan kau tahu itu sejak lama"


Kata-kata terakhir yang diucapkan cowok itu membuat pikiran Ambar kembali normal. Gila karenanya sejak lama?


"Karena saya tahu, Anda seharusnya tidak melakukan ini" katanya dengan tegas dan membuat cowok itu berhenti bergerak.


"Apa maksudmu?"


"Meskipun Anda gila seharusnya tidak melakukan hal jahat itu pada Feli"

__ADS_1


Karena ucapan Ambar, cowok itu menjauh. Menyimpan tangan di saku lalu mengernyit dan melangkah pergi.


"Kau belum bisa memaafkan aku rupanya" kata cowok itu lalu pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Di satu sisi, Ambar merasa lega cowok itu tidak melanjutkan tingkahnya tadi. Di sisi yang lain, Ambar merasa buruk karena telah menyinggung masalah Feli. Tapi ... bagaimanapun perasaan cowok itu padanya, seharusnya tidak sampai mengorbankan Feli dan calon bayinya. Hal itu membuat Ambar semakin merasa bersalah. Apalagi kini dia seperti merebut posisi yang ditempati Feli sebelumnya.


__ADS_2