
Mata Ambar terbuka tapi dia tidak ingin bangun. Badannya terasa lemah sekali, seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Malam kemarin, dia tidak makan, begitu juga pagi ini. Karena terlalu khawatir dengan pesanan undangan yang mendadak itu. Tapi, kenapa lanit-langit kamarnya berubah gelap? Bukannya putih seperti biasanya. Apa matanya menggelap atau karena cuaca diluar sedang mendung? Ambar menolehkan wajahnya ke samping kiri dan menemuka hal aneh lagi. Bantal dan selimut yang sedang dipakainya berwarna abu-abu tua. padahal dia tidak pernah punya sarung bantal berwarna abu. Mungkin ibunya yang memebli dan mengganti tanpa bertanya pada Ambar terlebih dahulu.
Sangat hangat dan halus, ibunya pintar memilih bahan selimut. Ingin rasanya dia tidur lebih lama, tapi tidak mungkin. Sekarang pasti sudah waktunya sholat Dhuhur dan dia harus segera sholat lalu makan. Lebih baik makan lebih banyak siang ini, untuk mengembalikan tenaganya. Dengan malas, Ambar menyingkap selimut lalu duduk dan termenung. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, seperti memeriksa sesuatu. Tunggu, ini bukan kamarnya. kamarnya tidak seperti ini. Dan ibunya tidak mungkin mengubah kamarnya dalam waktu beberapa jam saja. Lalu, dia sebenarnya dimana?
"Kau sudah bangun?"
Ambar melotot melihat orang yang masuk ke dalam kamar dan bertanya padanya. Apa ini? Jangan bilang kalau dia seadang ada di kamar Bos Kenzo.
"Saya ... gimana bisa saya"
"Kau tidur segera setelah aku menggantikanmu menyetir"
"Tapi, kenapa?"
"Aku ingin sekali meninggalkanmu di mobil, tapi rasanya itu tidak benar"
Tidak peduli benar atau tidak. Seharusnya Ambar tidak berada disini. Di rumah seorang laki-laki dalam keadaan tidur. Sekarang dia harus segera pergi dari tempat ini, sebelum ... .
"Akkhhh" teriak Ambar tiba-tiba kesakitan
"Kenapa?"
"Aduhh" Ambar merasakan sakit yang belum pernah dialaminya selama ini. Perut bagian atasnya terasa ditusuk oleh pedang setip kali dia bergerak. Sakit sekali. Terpaksa Ambar membatalkan niatnya untuk bangun dan merintih kesakitan.
"Sepertinya kau harus ke rumah sakit" saran cowok yang mendekat ke arahnya.
Sebenarnya Ambar tidak berpikir perlu ke rumah sakit. Tapi, daripada disini atau di rumahnya, dia lebih baik pergi ke rumah sakit. Setidaknya disana banyak orang dan juga dokter yang siap memeriksa keadaannya.
"Iya, tolong antar saya ke rumah sakit" katanya sambil tetepa memegangi perutnya.
Cowok yang dikira Ambar akan membantu membawanya ke rumah sakit itu keluar dari kamar sebentar dan masuk kembali ke kamar. Dengan satu gerakan cepat, Bos Kenzo mengangkat badan Ambar begitu saja. Ambar terkejut tapi tidak bisa protes. Rasa sakit di perutnya lebih penting daripada bagaimana dia dibawa ke rumah sakit. Lagipula, dia tidak yakin bisa berjalan sampai ke mobil. Tapi, apa perlu menempelkan tubuh Ambar ke dada bidang cowok itu?
"Sepertinya lebih baik pakai mobilmu yang sudah siap pergi"
Ambar mengangguk, menyetujui rencana Bos Kenzo. Dia lalu menempelkan kepalanya ke bahu cowok itu karena tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Minta tolong"
"Iya, aku akan mengantarmu ke rumah sakit"
Suara cowok itu begitu dalam dan menenagkan bagi Ambar yang sedang menahan sakit. Dengan kecepatan super, akhirnya Ambar sudah berada dalam mobil. Cowok itu meletakkannya perlahan seakan takut menambah rasa sakit Ambar lalu pergi ke sisi pengemudi.
Tidak tahu bagaimana mereka sampai di rumah sakit dalam waktu singkat, Ambar segera membuka pintu mobil dan berencana keluar sendiri. Dia tidak ingin merepotkan Bos Kenzo untuk menggendingnya lagi.
"Apa kau bisa jalan?" tanya cowok itu, melihat Ambar berencana berjalan sendiri.
"Bisa"
"Aku akan menggendongmu"
__ADS_1
"Jangan! Banyak orang disini"
"Apa?"
"Saya tidak mau membuat Anda malu"
"Malu?"
Ambar berdiri dengan dorongan penuh tangannya yang memegang pintu mobil. Dan dia segera berjalan menuju ruang yang bertuliskan UGD besar di depannya.
"Tolong" katanya sebelum kehilangan kesadaran.
Adhi segera menangkap wanita yang bersikeras berjalan sendiri ke dalam rumah sakit itu. Untung saja dia mengikuti Ambar masuk, atau wanita itu akan terluka di kepala karena pingsan secara tiba-tiba.
"Dimana saya bisa membaringkannya?" tanyanya lalu menggendong Ambar dengan mudah.
"Mba ini sakit apa?" tanya perawat yang menunjuk ke salah satu ranjang kosong.
"Tidak tahu. Bangun tidur, dia merasakan sakit di perutnya lalu pingsan"
"Apa Mba-nya ada alergi obat-obatan?"
"Saya tidak tahu"
"Lho, masnya ini bukan suaminya?"
"Bukan"
"Baiklah"
Tanpa menunggu lebih lama, Adhi pergi ke mobil Ambar dan mencari tas wanita itu. Dia ingat Ambar meletakkan ponselnya di tas setelah selesai menelepon Rea tadi pagi. Dan ... benar. Adhi emnemukan ponsel Ambar.
"Untung tidak dikunci" kata Adhi lalu mencari nomor yang ada di buku kontak wanita itu. Ketemu, ada nama Bapak dan Ibu disana. Sepertinya lebih baik kalau Adhi menghubungi ibu Ambar terlebih dahulu.
"Assalamualaikum" sapa seseorang disana sebelum dering ketiga muncul.
"Eh, iya" Adhi belum bisa mengatakan balasan salam yang dia tidak tahu.
"Ini siapa? Ini nomor anak saya"
"Saya ... Adhi. Sekarang Ambar ada di rumah sakit"
"Apa??? Rumah sakit? Kenapa?"
Adhi mendengar nada penuh kekhawatiran dari seorang ibu.
"Saya akan mengirimkan nama rumah sakitnya"
"Iya ... iya. Terima kasih"
__ADS_1
Adhi menutup telepon dan melihat wanita yang terbaring lemah di dekatnya. Sungguh tidak biasa melihat Ambar seperti ini.
"Uhh"
Adhi melihat Ambar bergerak. Wanita itu rupanya sudah sadar dari pingsannya.
"Ambar"
"Hemm?"
"Apa kau bisa membuka mata?"
Ambar perlahan membuka matanya dan memperlihatkan warna mata hitamnya.
"Dimana?"
"Rumah sakit. Kau baru saja pingsan"
"Pingsan?"
Wanita itu menggerak-gerakkan tangannya berusaha mencari sesuatu. Adhi menyodorkan ponsel dan Ambar mengambilnya.
"Aku menghubungi ibumu karena tidak tahu apakah kau memiliki alergi"
"Ha?"
"Sebaiknya aku memanggil dokter sekarang"
Adhi meninggalkan wanita yang masih terlihat lemah itu sendiri untuk memanggil dokter dan perawat.
Setelah pemeriksaan, baru diketahui kalau sebenarnya Ambar hanya kelelahan.
"Anda harus banyak beristirahat. Anda boleh pulang setelah infusnya habis" penutup diagnosa dokter lalu pergi.
"Terima kasih Dok" jawab Ambar lalu melihat ke arah Adhi.
"Apa?"
"Terima kasih sudah mengantar saya kesini. Anda sebaiknya pulang sekarang"
"Kau mengusirku?"
"Bukan. Saya hanya tidak enak merepotkan Anda terus. Ibu sama Bapak juga sudah berangkat ke rumah sakit"
Adhi memilih untuk tidak pergi dan duduk di kursi penunggu. Dia menatap wajah pucat Ambar dan tersenyum.
"Aku akan menunggu. Aku ingin melihat orang tua yang membiarkan putrinya kelelahan sampai seperti ini"
"Ha?"
__ADS_1
"Lebih baik kau tidur saja. Aku akan tetap disini"
Ambar mengedipkan matanya berulang kali lalu mulai berbaring. Wanita itu lama sekali melihat ke arah Adhi sampai sebelum tidur lagi. Adhi kembali tersenyum lalu menyentuh punggung tangan Ambar dengan jarinya.