Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Enam Belas


__ADS_3

Keadaan Feli semakin tidak baik, dan dia merasakannya. Bayinya divonis kurang gizi meskipun masih berada di dalam kandungan dan dia tidak memiliki keinginan untuk memperbaikinya. Untuk apa? Setiap kali periksa, dia juga selalu datang sendiri. Memang suaminya selalu pulang tapi ... perlakuannya tetap seperti sebelumnya. Selalu dingin saat bersamanya. Baik itu di dalam rumah maupun menghadiri acara resmi perusahaan.


"Anda harus makan dengan baik Nyonya. Kalau tidak"


"Baik Dok" katanya tanpa semangat.


"Anda harus benar-benar mengerti kalau ini berbahaya. Kehamilan Anda menjadi semakin lemah dari hari ke hari. Dan saya takut ... "


"Mungkin memang seharusnya begitu"


"Apa?"


"Mungkin seharusnya saya tidak hamil. Agar suami saya bisa hidup bahagia"


Pasti dokter kandungan Feli sekarang merasa bingung dengan semua ucapannya. Dia melihat calon ibu lain yang duduk di ruang tunggu dan merasa iri. bagaimana mereka terlihat bahagia dengan kehamilannya? Sedangkan dia tidak. Feli berjalan keluar dari rumah sakit dan melihat ke arah langit. Sejak kapan dia tidak pernah lagi melihat matahari? Feli menghabiskan banyak waktu di kamar untuk berbaring dan tidur. Sering kali dia juga tidak makan tapi suaminya tidak peduli. Ayah dan ibunya juga hanya mementingkan transferan uang daripada keadaan putri mereka. Sepertinya ... kehadiran Feli dan bayinya tidak terlalu berpengaruh pada hidup tiga orang itu.


"Nyonya, bagaimana keadaan bayi Anda?" tanya pembantu yang ada di rumah ini. Hanya mereka yang sering bertanya dan memperhatikan keadaan Feli. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk merubah situasi pernikahannya dengan Adhi yang sudah rusak dari awal.


"Baik. Aku mau tidur"


"Tapi Nyonya. Sebaiknya Anda makan dulu. Apa saya harus memasak makanan kesukaan Anda?"


Sejak kapan mereka tahu makanan kesukaanku? pikir Feli.


"Tidak perlu"


Tidak ada yang tahu apa makanan kesukaannya. Kecuali ... sahabatnya yang sengaja dia jauhi itu.


Saat malam datang, Feli tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Dia meringis dan memeluk perutnya dalam gelap kamar yang sepi itu. Tidak memiliki keinginan untuk memanggil siapapun sampai pagi menjelang. Matahari muncul membuat matanya sedikit silau. Dimana dia? Oh iya ... masih ada di dalam kamarnya. Tapi dia tidak ingat telah pindah ke lantai semalam? Kenapa juga bajunya basah?


"Nyonya!!!!" teriak pembantu saat dia keluar dari kamar.


Kenapa mereka histeris? Apa yang mereka lihat?


"Apa yang terjadi padamu?" teriak Adhi lalu segera berlari padanya? Apa dia bermimpi? Tidak. Laki-laki yang menjadi suaminya lima bulan lalu itu benar-benar berlari padanya. Dengan raut wajah khawatir yang dirindukannya.


"Saya akan panggil ambulans" kata pembantunya tapi Feli tidak mengerti.


"Cepat!!!"


Dia tidak mengerti kenapa orang-orang ini khawatir. Bahkan Kenzo yang baru datang menatapnya dengan ngeri. Suaminya segera memeluk dan mengangkat tubuhnya. Dia bahagia sekali sampai pingsan dan tidak tahu yang terjadi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ambar sedang sarapan bubur ayam di kantor. Dia tidak sempat makan di rumah karena ibunya sedang pergi ke saudaranya untuk healing. Katanya bosan harus terus memasak untuk ayahnya. Biasa. Itulah yang terjadi saat kedua orang tuanya itu bertengkar. Padahal hanya karena akhir sinetron yang tidak sesuai dengan harapan. Ambar hampir tertawa mendengar silat lidah antara kedua orang tuanya. Tiba-tiba ponsel yang ada disampingnya menyala. Kenzo. Kenapa pagi-pagi begini temannya menelepon? Bukannya di Bali seharusnya sekarang sudah jam sembilan pagi?


"Assalamualaikum"


"Wallaikum salam"


Ambar mendengar nada suara Kenzo berbeda dari biasanya. tidak ceria dan sedikit membuatnya hampir muntah.


"Ada apaan Ken? Tumben pagi-pagi telepon"


"Mbar. Feli"


Ambar terdiam saat mendengar nama sahabatnya disebut oleh Kenzo. Biasanya temannya itu memanggil nama Feli dengan sebutan Nyonya. Kenapa sekarang?


"Kenapa?"


"Feli kritis"


"Apa? kenapa? Kok bisa" Perlahan ada rasa takut yang menguasai dada Ambar. Dia terus saja membayangkan bagaimana wajah Feli di kepalanya.


"Pendarahan. Banyak dan sekarang kritis"


"Aku kesana sekarang. Apa nama rumah sakitnya?"


Kenzo mengatakan nama rumah sakit tempat Feli dirawat dan Ambar segera memesan penerbangan ke Bali.


"Kak, mau kemana?" tanya pegawainya. Ambar berhasil memesan penerbangan ke Bali untuk satu jam mendatang. Dia harus cepat pulang dan mengambil baju dan segera pergi ke bandara.


"Urus toko dulu. Aku harus ke Bali"


Untung saja pegawainya tidak bertanya lagi dan Ambar segera tancap gas pulang untuk membereskan baju. Secepat kilat dan kini dia telah berada di jalan menuju bandara. Tidak lupa Ambar menghubungi Rea yang mungkin pada jam segini masih tidur. Dia berulang kali menelepon sampai Rea akhirnya mengangkat.


"Apaan Mbar? Kamu gak tahu kalo disini masih malem?"


"Re, Feli kritis" katanya tidak membuang waktu.


"Apa?"


"Sekarang aku ke bandara, mau ke Bali"


"Aku pinjam pesawat Danial kalo gitu"

__ADS_1


"Aku tunggu di Bali"


"Iya"


Mobilnya berjalan begitu cepat ke bandara dan Ambar berhasil masuk ke dalam pesawat setelah berada dalam urutan terakhir boarding. Dadanya berdegup dengan kencang karena ketakutan. Feli, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa?


Ambar merasa tubuhnya sangat lemah sekarang. Dia tidak ingin membayangkan apa-apa sebelum melihat sendiri keadaan sahabatnya itu.


"Ya Allah. Lindungi Feli" Doanya dalam satu jam perjalanan ke Bali.


Akhirnya satu jam penyiksaan berakhir dengan cepat. Ambar berlari keluar bandara Ngurah Rai dan memesan sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit. Kenzo menjemputnya di pintu masuk dan segera membawanya ke kamar perawatan Feli. Kata-kata intensif yang ada di ujung lorong menuju kamar Feli, membuatnya semakin ketakutan. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak. Seharusnya tidak begini. kata-katanya dalam hati sampai melihat Feli berbaring dengan wajah pucatnya di atas ranjang rumah sakit.


"Kenapa? Kok bisa? Kok bisa?" tanyanya lalu melihat ke samping dan menemukan suami Feli berdiri di sampingnya. Belum sempat dia bertanya [ada cowok itu, seorang dokter keluar dari kamar rawat Feli dan memberikan informasi yang kembali membuat Ambar terpukul.


"Saya sudah duga ini akan terjadi. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayi Anda Tuan Adhi. Dan ... pendarahan terjadi lebih dari enam jam. hal itu membuat keadaan Nyonya Feli semakin memburuk. Semoga Tuhan memberikan keajaiban. Kalau tidak ..."


"Tidaaaakkk" teriak seseorang di belakang Ambar. Sedangkan dia seperti tidak percaya mendengar semua kata-kat dokter. Ambar segera mencengkeram kerah dokter yang terlihat berpengalaman itu dan bertanya sekali lagi.


"Apa maksud Anda keajaiban? Apa maksud Anda? kenapa Feli butuh keajaiban?"


"Mbar. udah Mbar" kata Kenzo berusaha menahannya.


"Jawab!!! Kenapa?" teriaknya lagi membuat suaranya menggema di lorong.


"Keadaan Nyonya Felisya memang sudah buruk sejak datang pagi ini. Kami sudah berusaha memperbaiki semuanya, tapi ... "


Ambar melepaskan kerah dokter itu dan kemudian merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.


Air mata lalu menetes di pipinya dan seakan tidak mau berhenti.


"Mbar" kata Kenzo lalu memeluknya.


"Gak mungkin. gak mungkin. Feli. Feli Ken"


"Iya. Kamu harus sabar"


"Feli Ken. Feli"


"Iya"


Kenzo berusaha untuk menenangkannya tapi percuma. Dia tidak bisa menahannya lagi. Ambar menangis dalam pelukan Kenzo, merasakan sakit yang teramat buruk di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2