
Ambar terbangun pagi-pagi sekali. Dia tertidur setelah sholat isya' kemarin dan kini merasa sangat lapar. Tapi, dia masih memakai baju serba kebesaran milik Bos Kenzo. Apa pembantu rumah ini sudah datang? Sepertinya belum karena Ambar belum mendengar suara apapun sejak bangun tadi. Menetapkan hati, Ambar keluar dari kamar dengan memakai mukena. Untung saja mukena ini tidak menerawang meskipun tipis, sehingga dia berani keluar meskipun tidak menggunakan celana dibaliknya. Hanya kemeja kedodoran milik Bos Kenzo. Dia berjalan cepat ke arah ruangan besar yang penuh dengan cahaya matahari.
"Ini ruang tamu" katanya menyimpulkan sendiri.
Yang tampak di ruang itu juga meja panjang dengan delapan kursi berwarna kayu.
"Ruang makan" kata Ambar lagi lalu kembali berjalan mengelilingi rumah milik Bos Kenzo itu. Tapi dia belum menemukan ruang cuci. Kemungkinan besar, baju, celana dan hijabnya ada di ruang itu.
"Kamar lagi" ucapnya setelah menemukan dua kamar dengan luas lebih kecil. Lengkap dengan kamar mandi di antaranya.
"Lha ini dia"
Akhirnya Ambar menemukan ruang dengan mesin cuci di dalamnya. Ruangan itu terletak agak jauh dari ruang tamu yang besar tadi. Tersembunyi dibalik kamar dan dapur. Setelah membuka semua mesin di ruangan itu, Ambar menemukan baju, celana dan hijabnya. Lengkap, telah wangi dan kering.
Sebaiknya dia kembali ke kamar sekarang, berganti baju dan segera pergi dari rumah ini. Meskipun tidak jujur mengatakan dia tidur dimana, Ambar sudah mengabari ibunya semalam. Tapi dia harus segera pulang sekarang juga. Atau situasinya akan semakin rumit. Hampir sampai di kamar yang digunakannya, tiba-tiba sebuah pintu terbuka dengan kencang. Ambar terkejut dan memilih mematung di tempatnya berdiri. Seorang cowok dengan rambut coklat acak-acakan keluar dari kamar itu. Dan dengan melihat mata biru yang ada di depannya, Ambar tahu siapa cowok itu. Bos Kenzo membuka matanya begitu melihat Ambar dari atas ke bawah.
"Kamu"
"Iya"
"Kenapa masih ada disini?"
"Iya, saya juga mau pergi ini. Tapi cari baju tadi"
"Kamu bau"
"Apa?"
"Kamu bau"
Bagaimana bisa Bos Kenzo mengatakan sesuatu seperti itu kepada seorang perempuan? Dengan sadar diri, Ambar mundur dan sedikit menjauh dari hadapan cowok itu.
"Saya juga pengen mandi tapi gak ada alat mandi di kamar itu"
"Kau bisa memintanya kemarin"
"Saya ... ketiduran kemarin habis sholat Isya'"
"Mandi saja di kamar mandiku. Aku tidak tahu dimana pembantu meletakkan barang-barang"
__ADS_1
"Saya tadi lihat di rak dekat mesin cuci tapi ... "
Belum selesai bercerita, Bos Kenzo sudah memvonisnya.
"Tidak sopan"
"Ha?"
"Bagaimana bisa kau berkeliling di rumah orang lain? Tanpa ijin pemilik rumah?"
"Tapi saya itu tadi lagi cari baju terus gak ketemu jadinya ... "
"Mana aku tahu ada barangku yang kau curi"
"Astaghfirullah. Ngapain saya nyuri"
"Bisa saja"
"Lihat nih, saya gak bawa apa-apa. Seain baju, celana sama hijab. Lho ... liat nih"
Ambar membuka baju, celana dan hijabnya. Bersih tidak ada barang lainnya.
"Buka penutup badanmu!"
"Ha?"
"Anda sudah gila ya?"
Ambar menambah langkah mundurnya, karena cowok di depannya kini mulai menakutkan baginya. Bos Kenzo tampak seperti orang lain. Tidak tenang dan berkelas, tapi lebih terlihat sembarangan dan seperti laki-laki lain.
"Aku bekerja keras untuk setiap jengkal rumah ini. Jadi, kau pasti tahu rasanya kalau ada seseorang yang memanfaatkan kebaikanmu?" Cowok itu mulai melangkah maju, membuat Ambar semakin mundur.
"Saya tidak mencuri apapun" jawabnya tegas.
"Buktikan!"
"Saya tidak akan pernah membuka mukena ini dihadapan Anda. Meskipun saya harus mati"
"Benarkah? Apa itu memang diperlukan? Kamu bisa merasakan sesuatu yang belum pernah kau alami sebelumnya. Bagaimana?"
__ADS_1
"Apa maksud Anda?"
"Ayolah. Aku yakin kau tidak pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Dan aku akan menjai laki-laki pertama yang akan melakukan itu"
Otak Ambar bekerja dengan sangat baik pagi ini. Dia mulai mengkalkulasi apa yang harus dilakukannya dalam keadaan seperti ini. Badan Bos Kenzo tinggi dan besar. Sekali tertangkap maka Ambar tidak akan berkutik lagi. Satu-satunya pilihan untuk menghindari sesuatu yang mengerikan itu adalah ... lari. Ambar segera berbalik dan mulai berlari untuk menyelamatkan dirinya. Dia seharusnya tidak ada di rumah ini. Seharusnya dia ada di rumah, tidur nyenyak dan sarapan nasi goreng buatan ibunya. Sepertinya ini adalah hukuman yang diberikan oleh Allah karena dia berani menentang orang tuanya. Penyesalan demi penyesalan muncul di pikiran Ambar, membuatnya berlari semakin kencang. Tapi dia tidak mendengar langkah kai di belakangnya. Dia memberanikan diri menoleh dan melihat Bos Kenzo berdiri tetap di tempatnya tadi. Sedetik kemudian cowok itu tertawa keras sekali. Ambar baru sadar telah dikerjai.
"Bhua hahahahahaha"
Sesak. Sesak sekali dada Adhi karena tertawa. Dia melihat wajah ketakutan Ambar yang sedang berlari dan tidak tahan lagi. Terpaksa dia menekuk tubuh karena perutnya terasa sakit.
"Hooo. Lucu sekali" komentar wanita yang baru saja lari dan kembali menghampiri Adhi.
"Kau, masih saja berpikir aku tertarik padamu"
Adhi masih memegang perutnya yang sakit dan terus tertawa.
"Saya tidak tertarik pada Anda. Saya bisa pastikan hal itu"
"Lalu, kenapa kau lari? itu tandanya kau berpikir kalau aku tertarik pada tubuhmu"
"Saya ... saya"
Baru kali ini Adhi melihat wanita itu tidak dapat menjawab dan terbata. Dia merasa puas sekali bisa membuat Ambar kesal.
"Ambar ... Ambar. Kau terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Itulah masalahmu"
"Apa?"
"Cepat ganti bajumu dan pergi dari sini. Aku tidak ingin dianggap seperti pria mesum yang mau saja pada semua tipe wanita"
"Apa????"
"Baru kali ini aku mendengarmu berkata seperti itu. Biasanya kau seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa"
Ambar tidak bisa menjawab lagi. Wanita itu memilih pergi ke kamar dan mengunci pintu.
Adhi menyisir rambut dengan jari-jarinya dan mendesah berat. Sial. Kenapa dia terdengar seperti orang jahat setelah menggoda wanita itu. Ini adalah hukuman karena Ambar berani berjalan-jalan di rumahnya tanpa pakaian lengkap. Apa wanita itu tahu kalau hanya memakai kain tipis sebagai penutup tubuh, akan memperlihatkan kulit Ambar yang halus tersapu kain. Juga membentuk pangkal paha dengan jelas. Meskipun Ambar bukanlah tipe wanita kesukaannya. Meskipun di dalam hatinya hanya ada Feli. Tapi, nalurinya sebagai laki-laki pasti muncul setelah melihat semua itu. Sebaiknya Ambar segera pergi dari sini agar Adhi tidak berbuat sesuatu. Sesuatu yang akan membuat mereka berdua terluka nantinya.
__ADS_1
Ambar tidak habis pikir. Bagaimana bisa cowok itu membuatnya tampak sangat bodoh dan memalukan. Dia harus segera pergi dari tempat ini. Juga tidak ingin lagi bertemu dengan cowok itu. Tidak akan lagi.