
Setelah Rea pulang untuk makan malam keluarga, Ambar merasa lapar. Dia tidak berani keluar dari kamar karena takut kesasar lalu memutuskan untuk menghubungi ibunya. Setidaknya menghibur diri agar tidak merasa lapar lagi. Tapi tidak berhasil. Satu jam berlalu saat Ambar menghubungi ibunya, dan rasa lapar itu telah berganti menjadi pusing. Pasti maag-nya kumat.
'Aduh gimana nih?' katanya pada dirinya sendiri. Lalu, dia melihat dua kantung plastik hitam yang dibawa oleh Rea. Meskipun makanan itu dibelikan oleh cowok itu, dia tidak punya pilihan lain. Akhirnya Ambar memilih mie cup dan minuman yoghurt. Dia menyeduh mie dan makan dengan cepat. Berharap rasa pusing di kepalanya hilang.
Semua usahanya tidak berhasil. Rasa pusing itu semakin menjadi saat dia selesai sholat Isya'. Padahal Ambar harus tidur cepat karena rencana perjalanan besok yang cukup menguras energi. Dia tidak ingin pingsan atau merasa lemah lalu menyusahkan orang lain. Ambar teringat pada tas obat yang ddibawakan oleh ibunya dan mencari paracetamol. Satu pil meluncur lancar ke dalam perutnya dan Ambar mulai merasa baik. Hanya saja, kantuk mulai menyerangnya. Rea mengatakan tidak akan datang lagi malam ini, jadi dia memilih untuk segera tidur saja. Memakai gaun tidur pinjaman dari Rea, Ambar mulai membungkus dirinya dengan selimut dan menaikkan suhu kamar sedikit.
Keesokan harinya, Ambar bangun sebelum pukul lima pagi. Dia mengambil wudhu dan bersyukur rasa pusing di kepalanya hilang. Tapi, apa itu? Kenapa ada tanda merah di leher, pundak dan dadanya? Memang hanya tiga, tapi aneh sekali. Dalam hotel yang sebagus ini, tidak mungkin ada serangga di dalam selimutnya. Iya kan? tanya Ambar pada dirinya sendiri. Dia juga menemukan bibirnya terasa agak bengkak sedikit. Juga badannya beraroma agak aneh. Apa memang selimut kamar ini bermasalah? pikir Ambar lalu memutuskan untuk mengajukan keluhan ke pihak hotel.
Sekitar pukul tujuh pagi, Rea datang untuk menjemputnya.
"Gimana? kamu bisa tidur kemarin?" tanya Rea khawatir
"Bisa. Aku minum paracetamol"
"Lho kenapa?"
"Sakit kepala"
"Apa kita gak pergi aja Mbar?"
"Eh, jangan dong. Masa gara-gara aku kamu gak ikut"
"Ya Gak apa-apa. Daripada kamu sakit nanti"
"Gak kok Re. Aku udah sembuh. Cuman kayaknya nih kasur ada serangganya deh"
"Lha kenapa?"
"Badanku ada merah-merahnya"
Ambar lalu menunjukkan bekas merah yang perlahan memudar pada Rea.
"Itu bukan serangga Mbar"
"Lha, apa dong? Liat nih, bibir aku tadinya agak bengkak. Yang bawah, sekarang udah mendingan"
"Itu sih bekas *****"
Ambar terkejut bercampur tidak percaya. Dia ... sendirian dalam kamar hotel ini. Tidak ada orang lain dan bagaimana caranya dia di ... *****? Aneh sekali pikiran Rea.
"Duh, kamu jangan macem-macem deh Re. Aku kan sendirian di dalem kamar"
"Iya juga ya. Tapi beneran ini kayak bekas cium orang"
__ADS_1
"Jangan gitu ah. jadi serem akunya!" kata Ambar kesal. Seharusnya dia tidak mengatakan apa-apa tadi.
"Ya udah deh. Aku gak ngomong lagi. Tapi kemarin itu ada yang ... "
"Apa?"
"Eh gak"
Rea tidak meneruskan kata-katanya, membuat Ambar penasaran. Tapi dia tidak berpikir lagi tentang hal itu dan mulai memakai bajunya. Celana hitam, kaus panjang dan jaket denim membuatnya tampak siap untuk pergi mendaki gunung.
Keduanya akhirnya berangkat ke salah satu restoran untuk makan pagi.
"Kalian sudah datang?" tanya seseorang dari belakang Ambar lalu duduk tepat di sebelahnya. Tiba-tiba Ambar merasa kesal karena kehadiran cowok itu.
"Baru dateng Dhi"
Dari sapaan Rea, sepertinya sahabatnya itu memang sudah janjian dengan Bos Kenzo. Ambar merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
"Iya. Aku bangun terlambat"
"Kenapa?"
"Gara-gara seseorang"
"Apa yang kamu makan?" tanya cowok itu lalu mencondongkan badannya ke arah Ambar.
"Roti" jawab Ambar singkat.
"Jalur pendakiannya sedikit jauh. Lebih baik kamu makan lebih banyak"
"Ya"
"Wah, perhatian banget kamu sama Ambar Dhi" kata Rea lalu menerima tatapan keji dari Ambar.
Dia tidak suka digoda, apalagi membawa-bawa cowok itu.
"Apa kamu ingin diperhatikan Re?"
"idihhh, jijik. Gak mau deh aku"
Ambar hanya diam saja dan tidak ingin terlibat percakapan Bos Kenzo dan Rea. Lebih baik dia segera menghabiskan makanannya dengan menutup kuping.
Makan pagi selesai dan mereka bertiga keluar dari restoran.
__ADS_1
"Aku gak bawa mobil kesini, jadi kita bertiga naik mobil kamu ya Dhi" kata Rea.
Ambar sengaja berdiri di belakang Rea dan cowok itu, menghindari percakapan yang tidak penting.
"Iya"
Ingin sekali Ambar menolak pergi bersama cowok itu, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin berjalan sampai tempat tujuan.
"Duduk di depan ya Mbar"
"Gak"
Ambar berhasil masuk ke kursi penumpang belakang, meninggalkan Rea untuk duduk di sebelah Bos Kenzo. Dan perjalanan menuju Lake District-pun dimulai.
"Gimana Dhi sama yang aku kasih tahu kemarin?"
"Aku sudah berpikir dan ... aku akan melakukan sesuatu mulai sekarang"
"Bener?"
Ambar tidak tahu apa yang dibicarakan dua orang di depannya. Dia pikir itu pembicaraan tentang pekerjaan.
"Iya. Aku akan merebut Feli dari Danial dan segera menikahinya"
Jantung Ambar seperti berhenti berdetak. Mata dan tangannya mulai bergetar. Dia harus berusaha menenangkan diri agar yang terjadi di tubuhnya tidak sampai terlihat dari depan. Tapi ... apa benar yang didengarnya tadi?
"Oh, pasti kamu gak tau ya Mbar. Kemarin malem Adhi dateng ke rumah terus aku ceritain masalah rencana kita. Wah, gentle juga kamu Dhi. Cepet gerak, biar Feli gak keburu nikah"
"Iya"
Seharusnya apa yang didiengar oleh Ambar adalah kabar gembira. Tapi kenapa dia tidak bisa tersenyum? Kenapa wajahnya menjadi kaku selayaknya disiram oleh air es? Dia tidak bisa mengontrol wajahnya sendiri dan memilih menunduk. Menyembunyikan sakit yang semakin terasa di dalam hatinya.
"Gimana caranya tapi kamu mau ngerebut Feli?"
"Aku akan mengajaknya bicara dulu. Kalau Feli memang mencintaiku, kami pasti akan menemukan caranya"
"Kerennnn. Gitu dong. Kenapa juga baru sekarang?" kata Rea lalu menonjok lengan cowok itu. Ambar sekilas melihatnya saat melirik ke arah wajah Bos Kenzo.
"Semoga saja semua berjalan lancar"
Lancar? Iya, semoga semuanya lancar dan ... ahhh kenapa bahkan dalam hati Ambar tidak bisa mendoakan yang terbaik untuk cowok itu dan Feli?
"Mbar, gimana menurut kamu? Akhirnya kita gak perlu jalanin rencana itu lagi" seru Rea gembira sekali. Ambar mengeraskan rahang lalu menunjukkan senyum ke arah depan. Dia tidak tahu kalau cowok yang sedang memegang setir memperhatikannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Semoga semua lancar dan Anda ... bisa ... menikah dengan Feli" katanya lalu menundukkan wajah lagi.