Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Puluh Dua


__ADS_3

"Pergilah ke Kantor Urusan Agama besok dan siapkan surat-surat agar aku bisa menikah secepatnya!" perintah Ahi pada asisten barunya. Tentu saja Larry hanya bisa melihatnya dengan tatapan tak mengerti. Adhi lupa, asistennya bukan orang Indonesia yang bisa mengurus hal-hal semacam ini. Disaat itulah Adhi mengingat asistennya yang dulu bekerja padanya. Di dalam mobil, dia menghubungi mantan anak buahnya itu dan meminta Kenzo datang ke kamar hotelnya pagi besok. Untunglah Kenzo menyanggupi dan tidak bertanya macam-macam tentang alasan pertemuan ini., Membuat Adhi sedikit merasa lega. Hanya sebentar lagi, usahanya untuk membuat Ambar menjadi miliknya seutuhnya akan terlaksana. Dia tidak sabar lagi dan merasa sangat bersemangat sekarang.


"Assalamualaikum" sapa Adhi saat Kenzo datang ke kamarnya keesokan harinya.


"Wallaikum ... salam. Wah, saya masih tidak terbiasa mendengar Bos bicara seperti ini"


"Duduklah!" kata Adhi lalu menunjuk kursi di depannya.


"Siapa mereka?" tanya Kenzo melihat Larry dan dua pengawal yang berdiri di belakangnya.


"Pegawaiku"


"Anda mendapatkan pekerjaan besar?"


"Yah, seperti itulah"


"Lalu, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya? Apa ini tentang bisnis? Apa Anda akan membuka restoran atau hotel di Singapura?"


Meskpiun sedikit ragu, Adhi mulai mengatakan niatnya memanggil Kenzo ke tempatnya.


"Aku ingin kau mengurus sesuatu untukku"


"Mengurus sesuatu?"


"Iya. Aku ingin kau mengurus pernikahanku"


Terdapat waktu hening untuk beberapa lama sebelum Kenzo mulai memiliki wajah serius.


"Anda akan menikah? Secepat ini?"


"Iya"


"Dengan orang Indonesia?"


"Iya"


Kenzo terlihat tersenyum lalu kembali bertanya.


"Kenapa Anda meminta tolong kepada saya?"


"Karena hanya kau orang yang bisa mengurus pernikahanku di Jakarta"


"Wanita itu orang Jakarta?"

__ADS_1


 "Iya"


"Wah"


Terlihat sekali ekspresi tidak suka d wajah Kenzo, pasti karena anak bodoh itu mengira Adhi akan menikah dengan wanita selain Ambar.


"Aku ingin menikah sebelum akhir Minggu ini. Jadi, kau akan mengurus semuanya hari ini juga" kata Adhi lalu meletakkan identitas dirinya di atas meja.


"Sebelum akhir Minggu ini? Besok? Anda ingin menikah besok? Siapa wanita itu? Apa Anda mengenalnya di Singapura?"


"Ambar"


"Apa?"


Sekarang Kenzo tampak terkejut karena mendengar nama Ambar yang disebutkan oleh Adhi.


"Aku tidak tahu alsanmu mengatakan Ambar sudah menikah dan menanti kelahiran anaknya. Tapi ya. Aku mengetahui kalau semua yang kau katakan itu tidak benar. Dan sekarang aku akan menikahinya"


Kenzo terdiam. Tidak bisa menyangkal kebohongan yang telah dilakukannya. Yang sempat membuat hidup Adhi seakan hancur saat mendengar Ambar telah menemukan pria lain untuk membahagiakannya.


"Saya tidak ingin Ambar tampak menyedihkan"


Adhi kini mnegerti kenapa Kenzo mengatakan semua itu.


"Apakah kali ini Anda bisa membuatnya bahagia?"


Adhi seperti berhadapan dengan saudara Ambar. Tapi karena dulu Kenzo pernah menyukai AMbar, dia mengerti rasa cemas itu.


"Iya. Aku yakin" jawab Adhi tegas lalu melihat ke arah mata Kenzo yang seperti mencari jawaban jujur itu.


"Baiklah. Saya akan membantu Anda. Tapi ... pastkan AMbar tidak lagi menangis kali ini. Atau saya akan menghancurkan Anda dengan cara apapun" kata Kenzo lalu mengambil identitas diri Adhi dan pergi dari kamar hotel.


"Apa dia bisa dipercaya Tuan?" tanya Larry setelah Kenzo tidak tampak lagi.


"Dia adalah asistenku yang terbaik" jawab Adhi lalu berbalik dan melihat Larry seakan berharap Kenzo akan menjadi asistennya lagi.


Ambar masih memandangi kotak merah berisi perhiasan berlian yang ditinggalkan cowok itu di rumahnya semalam. Pagi ini dia berencana untuk mengembalikan perhiasan ini dan sekali lagi menolak lamaran yang diajukan cowok itu. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan Rea dan orang tuanya, Ambar akan menolak cowok itu.


"Kemana Nak?" tanya ibunya yang melihat AMbar akan keluar dari rumah.


"Ambar mau keluar sebentar Bu"


Tidak mungkin ibunya tahu tentang niatnya, tapi apa yang dipikirkan Ambar ternyata benar. Ibunya pasti tahu tentang apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya sekarang.

__ADS_1


"Bisa ibu bicara?"


Ambar terpaksa menurut dan duduk di dekat ibunya yang masih tampak lemah bahkan seminggu setelah keluar dari rumah sakit itu.


"Bapak memang seharusnya gak menuntut kamu untuk segera menikah"


Ambar merasa dibela dan bersemangat sekarang. Dia tahu ibunya akan berada dalam posisi netral meskipun memiliki impian melihatnya menikah.


"Benar Bu. Bapak harusnya memang gak boleh kayak gitu kemarin"


"Tapi ... bisa tidak kali ini Ambar menurut saja sama keinginan Bapak?"


Ambar terkejut, dia menoleh dan melihat wajah ibunya.


"Ha?"


"Waktu kemarin sakit, ibu ngerasa takut banget. Takut karena belum menuntaskan tugas ibu merawat kamu"


Ambar terdiam. Dia emmang tahu kalau ibunya merasa seperti ini. Tapi masih tidak menginginkan sebuah pernikahan sebagai pemecahan masalahnya.


"Jadi ... ibu pengen Ambar nikah sama cowok itu?" kata Ambar terbata-bata.


"Nak Adhi memiliki agama yang sama dengan kita. Meskipun punya masa lalu yang gak baik, tapi ibu yakin Nak Adhi cinta sama kamu. Dan mau berusaha membahagiakan kamu"


Setelah perbincangan singkat dengan ibunya, Ambar kini berdiri di depan mobilnya. Berpikir tentang apa yang akan dilakukannya sekarang. Setelah berpikir sejenak, dia masuk ke dalam mobil dan pergi.


Dan sekarang dia berdiri di depan seorang cowok yang memandangnya dengan mata biru sejernih lautan itu.


"Aku tidak tahu kalau kau mencariku. Seharusnya tadi kau memintaku datang" kata cowok itu lalu menyambutnya dengan sebuah pelukan.Hangat memang dan juga hatinya terasa tenang tiap kali bertemu dengan cowok ini. Hanya saja ... .


"Saya ... akan menikah dengan Anda"


"Apa?"


"Saya menerima lamaran Anda"


Cowok itu melepaskan pelukannya lalu berusaha mencium Ambar. Tentu saja dia berhasil menghindar dengan mendorong dirinya sendiri menjauh dari tubuh cowok itu.


"Bukan berarti Anda bisa melakukan semuanya sesuai keinginan Anda. Saya akan menikah asalkan Anda menyetujui syarat yang saya ajukan"


"Syarat?"


"Iya"

__ADS_1


Ambar memang bisa bersikeras tidak menikah dan tetap dalam pendiriannya untuk tidak menikah. Tapi ... orang tuanya adalah prioritas utama dalam hidupnya. Kali ini pun, meskipun harus mengorbankan dirinya. Ambar akan menikah. Tapi dia juga tidak ingin merasa sakit lagi seperti dua tahun lalu. Dia harus bisa membentengi dirinya sendiri sampai nanti benar-benar siap menerima cowok itu sebagai suami seutuhnya.


__ADS_2