
Feli tampaknya kecewa dengan penolakan Adhi. Tapi, ini bukan saatnya dia bersenang-senang dan meraih apa yang memang dia inginkan selama ini. Apalagi Danial telah mengeluarkan pengumuman resmi tentang pembatalan pernikahan. Juga mengabarkan hal itu pada semua tamu undangan. Feli yang ada di dalam kamar tidak lama keluar dengan wajah yang pucat.
"Ini ibu" kata kekasih Adhi lalu menunjukkan nama penelpon di ponselnya. Adhi mengambil ponsel Feli lalu menyambungkan telepon.
"Feli!!! APA INI???" teriak ibu Feli penuh Amarah.
"Selamat pagi. Nyonya. Ini Adhitama"
"APA?? Kenapa kau yang mengangkat telpon putriku? Apa pembatalan ini semua karenamu?"
Adhi hanya bisa menjawab iya atas semua tuduhan yang diberikan oleh ibu Feli. Dia tidak bisa berkutik. Itulah yang memang terjadi.
"Saya akan pulang ke Indonesia dan membicarakan semua ini"
"Tidak perlu! Aku akan kesana dan meminta Danial untuk berpikir ulang. Kau bukan apa-apa kalau dibandingkan calon menantuku itu"
Sebelum Adhi sempat membela dirinya sendiri, ibu Feli menutup telepon. Tidak memberikan kesempatan pada Adhi untuk menjelaskan.
"Aku akan mencoba bicara pada ibu" kata Feli lalu mengambil ponsel dari tangannya.
Bagaimanapun berbicara secara langsung sepertinya adalah cara yang terbaik untuk menyelesaikan semua ini. Adhi harus bersiap diri saat nanti orang tua Feli ada di London. Dia juga harus datang ke kediaman Syahreza dan menghadapi kemarahan ayahnya. Sungguh, Adhi tidak pernah berpikir kalau apa yang diinginkannya selama sepuluh tahun ini membuat situasi menjadi rumit. Ini semua tidak akan terjadi kalau saja dia sabar menghadapi wanita itu. Wanita yang membuat darahnya mendidih dan melakukan sesuatu seperti ini.
Tunggu, apa dia merasa menyesal telah melakukan semua ini? Seharusnya tidak. Karena dia kini dapat bersama dengan perempuan yang dicintainya. Bukankah itu seharusnya membahagiakan untuknya? pikir Adhi dalam hati mulai meragukan dirinya sendiri.
"Gimana ini Dhi? Ayah sama ibu mau kesini. Ketemu orang tua Danial"
"Tenang saja. Besok aku akan pergi ke kediaman Syahreza dan ... "
__ADS_1
"Aku ikut" potong Feli.
"Tidak perlu. Lebih baik aku sendiri saja"
"Tapi ... aku juga bingung harus bagaimana. Rea pasti akan bekerja dan Ambar pulang besok pagi"
Pulang? Apa kata Feli tadi? Ambar, wanita itu. Wanita yang membuatnya dalam situasi ini kabur begitu saja besok? Adhi mendadak maah. Dia tidak tahu kalau semua ini memang rencana wanita itu agar dapat segera kembali ke Jakarta dan menerima pinangan Kenzo. Mendadak Adhi tersenyum kesal.
"Besok pagi?"
"Kenapa?"
Adhi menoleh dan baru sadar kalau komentarnya menimbulkan tanya pada Feli. Benar, kenapa dia harus kesal dengan kabar ini? Bukankah dia harus senang karena wanita yang tidak ada hubungan dengannya itu akhirnya pergi?
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir tentang kedatangan orang tuamu. Semoga mereka tidak sampai besok juga"
Malam pertamanya dengan Feli sejak dia merebut calon istri kakaknya itu berjalan cukup tenang. Dia tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun dengan kekasih barunya itu. Karena pikirannya secara aneh dipenuhi dengan ingatan saat terakhir kali dia melihat Ambar. Wanita itu sedang berdiri di tengah hujan turun saat Adhi memutuskan untuk mendatangi Danial. Setelah itu Adhi tidak melihat Ambar sama sekali. Bahkan saat akhirnya dia mendapatkan Feli, wanita itu juga tidak tampak di pondok. Kenapa? Apa Ambar sudah merencanakan semua ini? Sengaja memicu kemarahannya hanya agar bisa pulang lebih cepat? Kalau itu memang yang terjadi, dia ingin sekali melihat bagaimana wajah Kenzo saat Ambar meenrima lamarannya. Senyum sinis kembali menghiasi wajah Adhi. Membuatnya tidak bisa tidur sama sekali malam itu, meskipun Feli berada di pelukannya.
Pagi-pagi sekali Adhi bangkit dari ranjangnya, meninggalkan Feli yang tertidur lelap. Berdiri di depan jendela besar apartemennya, menanti matahari memperlihatkan sinarnya. Hal ini telah dilakukannya selaa beberapa kali sejak bulan lalu. Tidak ada alasan khusus kenapa dia melakukannya. Hanya saja dia terbangun dan ingin melakukannya. Dan hari ini dia tidak tidur hanya untuk melakukan hal ini. Matahari akhirnya muncul dan menampakkan sinar kemerahannya. Adhi merasakan kehangatan setelah melihat hal itu lalu kembali ke kamarnya dan melihat ponsel Feli berdering. Ini waktunya, untuk melihat kepergian wanita itu.
Adhi dan Feli berangkat ke bandara setelah sarapan singkat. karena Rea mengabarkan waktu kepergian Ambar dipercepat sekitar satu jam. Awalnya pasti Rea ingin mereka tidak datang, lalu berubah pikiran dan mengganti jam keberangkatan sebenarnya wanita itu. Sungguh licik.
"Ayo cepet, nanti keburu Ambar berangkat" pinta Feli agar Adhi mempercepat langkahnya. Setelah beberapa waku, Adhi mulai melihat sosok wanita itu. Wanita yang membuatnya terjaga semalaman. Ambar tampak biasa saja namun berubah saat melihat Feli datang. Wanita itu juga sekilas melihat ke arah Adhi sebelum merendahkan pandangannya.
Saat panggilan akhir boarding diumumkan, wanita itu segera berpelukan dengan kedua sahabatnya. mengatakan sampai bertemu lagi dan mendoakan kebahagiaan untuk Feli. Dan ... sampailah wanita itu di depannya. Perlahan ada perubahan besar terasa pada tubuh Adhi. Jantungnya seakan berdetak dengan rima yang berbeda dari biasanya. Tidak ada kata dari wanita itu yang terdengar di telinganya. Sampai Ambar menyinggung tentang kakinya. Kakinya yang sakit sejak sore kemarin dan tidak ada yang tahu. Lalu wanita itu mengucapkan selamat tinggal dan pergi. Menghilang dari pandangannya.
"Duh, sdih banget" kata Feli memecah perhatiannya. Sedetik kemudian dia sibuk menghibur kekasihnya.
__ADS_1
Tapi, saat dia memandang Rea, ada gurat wajah yang penuh amarah diperlihatkan padanya. Kenapa? Kenapa sahabat Feli itu kelihatan marah padanya? Karena dia bahagia sekarang? Tidak sempat bertanya, Rea memutuskan untuk menyusul Ambar menghilang begitu saja.
Adhi masih menghibur Feli yang masih menangis karena kepulangan Ambar. Dan terasa ponselnya bergetar.
"Halo"
"Dimana kau sekarang?"
Ayahnya. Adhi harus menunggu sepuluh tahun dan melakukan hal ini agar bisa dihubungi oleh ayahnya.
"Bandara"
"Datang ke rumah sekarang"
Hanya satu perintah lalu pria tua pemarah itu mematikan telepon begitu saja.
"Kita harus pergi ke rumah Danial sekarang" kata Adhi membuat Feli ketakutan. Terlihat di wajahnya yang pucat dan lemah.
Sampai di kediaman Syahreza yang harusnya juga rumahnya, Adhi disambut dengan tatapan tak bersahabat dari ayahnya. Sebuah tamparan dengan mudah mendarat di pipinya lalu makian bertubi-tubi diterimanya tanpa membalas.
"Tidak cukupkah kau merebut kekasih kakakmu? Kini kau menginginkan calon istrinya. Dan kau juga Feli, kenapa kau?!" Kemarahan pria tua itu berhenti saat Feli membalas dengan air mata.
Kali ini ibunya ada disana tapi tidak melakukan apa-apa. Bahkan tidak ingin membela mantan calon menantunya yang lemah tak berdaya itu. Adhi berhasil menahan rasa sakit di kakinya dan berdiri kembali. Saat itu Danial turun dari kamarnya dan melihat betapa menyedihkannya dia dan Feli. Padahal Adhi tidak pernah ingin dilihat dengan sebelah mata oleh kakaknya itu.
"Danial, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Ini juga adalah salahku" Feli ingin menghampiri kakaknya yang sampai di lantai dasar itu tapi ditahan oleh Adhi. Dia tidak ingin kekasihnya menanggung rasa malu seperti ini.
"Aku tidak ingin kalian ada disini. Pergilah sekarang juga!" kata Danial lalu pergi meninggalkan rumah. Kemungkinan besar untuk bekerja.
__ADS_1
"Ibu sangat kecewa padamu. Ambar perempuan yang baik. Ibu tidak bisa membayangkan betapa sedih anak itu dan memilih pulang ke Indonesia begitu saja tanpa bertemu ibu" kata ibunya lalu mengajak ayahnya pergi dari ruang tamu yang penuh suara tangis Feli. Perempuan yang baik? Iya, Ambar memang perempuan yang baik. Tapi, perempuan itulah yang membuatnya melakukan semua ini. Perempuan itu ... yang menatapanya dengan wajah polosnya sampai pagi tadi.