
"Cepat pergi ke London. Ibu tidak suka kamu lama-lama di Indonesia"
"Iya "
"Pokoknya nanti malam kamu berangkat ke London lagi. Bantu persiapan pesta kamu disana!"
"Iya"
Feli mengemas beberapa baju yang akan dipakainya di London. Dia merasa bingung karena tidak tahu berapa baju yang diperlukan. Mungkin saja dia tidak akan pulang ke Indonesia sampai sebelum pernikahan.
"Ibu denger Adhi juga bakal ke London?"
Tangan Feli terhenti, dia baru dengar kabar ini. Tujuannya mengundang Ambar, sahabatnya memang untuk memberi dorongan pada Adhi ke negara kelahirannya itu. Apa benar rencananya berhasil?
"Feli tidak tahu"
"Ibu juga dengar kalau sahabatmu yang miskin itu jadi pacarnya"
"Bu!"
"Apa? mama benar kan? Ibu gak tahu gimana hubungan mereka. Tapi jangan sampai kehadiran Adhi di London merubah apa-apa. Keluarga kita membutuhkan kekuatan keluarga Syahreza. Ayahmu juga tidak bisa memimpin perusahaan sendiri"
"Feli tahu"
"Bagus. Senyumlah!! kau akan menjadi pengantin keluraga kaya tidak lama lagi"
Feli menghentikan apa yang sedang dilakukannya setelah tau ibunya pergi. Dua minggu lagi akhirnya dia akan segera menjadi istri dari Danial. Sang penerus perusahaan kaya yang memiliki kekuasaan besar. Dia melihat dirinya sendiri pada pantulan cermin dan mulai merasa sedih bercampur kesal.
Memang benar berkat dia mengundang Ambar pada pestanya di London, Adhi akan pulang kesana juga. Lalu? Apa yang akan dilakukannya kalau Adhi ada disana? Tidak ada. Persiapan pernikahan telah rampung. Semuanya siap menyambut Feli menjadi Nyonya Danial Syahreza kurang dari dua minggu lagi. Dia mulai merasa mual. Dengan segera Feli pergi ke kamar mandi dan memuntahkan makan malamnya.
"Re, aku ... pengen batalin pernikahan aku"
Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Feli mengirim pesan itu pada sahabatnya di London. Tentu saja pesannya membuat Rea langsung menelepon.
"Kamu gila?"
"Re"
"Fel, pernikahan kamu tinggal tiga minggu lagi"
"Iya aku tahu. Tapi ... "
"Apa karena Adhi?"
Feli tidak bisa menjawab pertanyaan Rea. Dia hanya diam saja dan mulai menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak. Aku hanya ... belum siap"
"Kamu masih di Indo?"
"Iya"
"Apa aku harus kesana?"
"Gak Re"
__ADS_1
"Fel, kalo kamu memang pengen batalin pernikahan, aku bakal dukung. Tapi, kamu harus pasti sama keputusan kamu. Jangan mundur"
Feli tidak bicara, membuat Rea bingung. Dia lalu berpikir kembali dan sadar kalau semuanya sudah terlambat.
"Nggak. Aku akan tetap nikah sama ... Danial. Dia baik"
"Fel"
"Aku tadi cuma bingung. pasti karena kecemasan sebelum pernikahan"
"Fel, aku pasti mendukung apapun keputusan kamu. Jangan pernah berpikir kalau semuanya akan selesai dengan pengorbanan kamu. Nanti kamu hancur sendiri"
Feli menutup telepon Rea dan pergi ke atas ranjang. Dia tidak ingin mengemas pakaiannya lagi. Dia juga tidak ingin pergi ke London. Dia ... juga tidak ingin menikah. Yang dia inginkan hanyalah pergi ke pelukan Adhi dan menangis sepuasnya. Tapi ... semua itu tidak akan mungkin terjadi. Tanggung jawab. Hanya itu yang harus dilkakukannya. Demi keluarganya, maka Feli harus melakukan semua ini.
Ambar merasa pekerjaannya lancar minggu ini. Dua pegawai yang dimilikinya sangat terampil dan membanggakan. Dia tidak bisa berhenti tersenyum karena hatinya merasa lega. Desain produk baru dan katalog tokonya mendapat apresiasi yang baik. bahkan sangat baik. hanya dalam seminggu, tokonya kebanjiran pesanan. Meskipun ada pesanan mendadak atau masih terlalu lama untuk dikerjakan, dia bangga.
"Kak, katanya kak Ambar mau liburan ya minggu depan?" tanya pegawainya tiba-tiba.
"Eh, iya. Minggu depan ya"
Ambar lupa sama sekali dengan rencana pergi ke London selama seminggu itu.
"Wah, bawain oleh-oleh ya kak"
Tunggu, Ambar baru mengingat rencana itu.Padahal Rea selalu mengingatkannya setiap hari.
"Oke deh. Tapi lihat dulu nanti ya. Kan aku kesana bukan buat liburan"
"Tapi sama aja lah kak. Kapan lagi ke luar negeri kalo bukan liburan?"
"Jangan lupa mintain foto mas bule cakep yang kemarin itu ya kak. Kan dia bakal jadi adik iparnya sahabat kak Ambar"
Bule? Apa maksud dua pegawainya cowok itu? Cowok yang selama satu minggu ini tidak ada kabarnya sama sekali.
"Beres deh" jawab Ambar tanpa kepastian. Tidak mungkin dia akan meminta foto cowok itu. Tidak akan pernah. Dia bersusah payah memohon kepada Allah agar tidak lagi bertemu dengan cowok itu. Dan dia tidak akan pernah meminta yang sebaliknya. Itulah yang ada di pikirannya sebelum Rea mengusulkan sesuatu yang bodoh.
Malam hari ini akhirnya Ambar bisa bersantai di rumahnya. Hal yang sudah lama sekali tidak pernah dia lakukan karena sibuk. Disaat memakan gehu pedes kesukaannya, Rea menelepon.
"Assalamualaikum"
"Ambar. Kamu tuh gak pernah bales wa. Aku kuatir tau gak"
"Kayaknya gak deh. Kamu kan posting kegiatan sibuk terus. Gimana aku mau ganggu"
"Ya deh. Kita impas. Tapi ... ada yang mau aku omongin ke kamu"
Ambar yang awalnya senderan di kursi teras rumah, menegakkan punggungnya. Dia jarang mendengar nada serius yang dikeluarkan oleh Rea seperti sekarang.
"Apaan Re?"
"Mbar, aku tau kalo kamu menjaga dirimu dengan baik. Aku juga tau kalo itu emang tuntutan agama. Tapi ... bisa gak kamu longgarin dikit aja"
"Apaan sih? Kok tiba-tiba bawa agama. Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Feli"
"Feli kenapa?"
Kini Ambar menjadi lebih khawatir. Kalau berhubungan tentang Feli, sepertinya ada masalah yang sulit untuk diselesaikan.
"Kita harus mengusahakan Feli dan Danial membatalkan pernikahan"
Ambar belum pernah mendengar ide segila ini dari Rea. Mungkin pernah saat mereka masih SMU, tapi sekarang? Bukankah Rea sendiri yang mengatakan kalau calon suami Feli merupakan penerus perusahaan jasa keamanan kaya dan berkuasa. Ambar pernah bertemu dengan yang namanya Danial dan tidak ingin mengulanginya lagi. Aura laki-laki itu terasa berat baginya. Seperti bertemu seseorang dengan kepercayaan diri dan tidak mudah untuk dibengkokkan.
"Kamu gila ya Rea"
"Apa??? Hei Ambar. Bukan berarti kamu bisa ngehina kayak gitu mentang-mentang udah dijodohin"
"Apa hubungannya sama dijodohin? lagian kamu sendiri yang bilang kalo keluarga tuh calon suami Feli punya kekuasaan yang mengerikan"
"Iya. Tapi kita kan mau jodohin Feli sama keluarga Syahreza juga"
"Apa?"
Tiba-tiba perut Ambar bergejolak. Dia serasa ingin muntah, mungkin karena kebanyakan makan gehu.
"Iya. Kita juga harus berusaha supaya Adhitama merebut Feli dari tangan kakaknya"
"Dengan cara?"
"Kamu sama Adhi harus pura-pura jadi pacar mesra yang bertengkar lalu putus di depan mata semua orang. Termasuk Danial sama Feli. Terus kamu juga deketin Danial dan merayunya"
"Apa kamu bilang?"
"Makanya aku bilang kamu bisa gak lebih longgar dengan masalah melindungi diri dan menggoda putra pertama keluarga Syahreza?"
Bukan marah, Ambar malah ingin tertawa karena rencana bobrok Rea. Sahabatnya ini mungkin terlalu sibuk dan mulai menderita depresi tahap awal.
"Re, kamu periksa ke dokter sana"
"Eh kenapa?"
"Kayaknya kamu gila beneran"
"Apaa???" teriak Rea memekakkan telinga. Ambar menjauhkan ponselnya untuk beberapa detik lalu menempelkannya lagi di telinga.
"Rea, ini bukan masalah keyakinan yang dipertaruhkan. Tapi harga diri dan nama baik"
"Lha?"
"Tidak peduli agamanya. Yang menggoda putra pertama keluarga Syahreza itu harus lebih cantik daripada Feli. Bukannya aku yang penampilannya pas-pasan kayak gini. Kamu tuh sebenernya emang cuma mau ngejek aku doang kan?" Ambar marah. Dia tidak terima dengan cara berpikir Rea yang abnormal. MKasa dia diusulkan untuk menggoda Danial Syahreza. Gak bisa dipercaya, pikir Ambar.
"Tapi kamu bisa jadian sama Adhi meskipun bohongan"
"Itu bukan pertimbangan. Yang terjadi antara aku sama tuh cowok murni kebetulan dan nasib naas"
"Tapi, bisa aja Danial suka sama tipe cewek kayak kamu"
"Duh, kamu kayaknya emang mau bikin aku kesel ya Re? Untung aja kamu jauh, kalo gak ... habis kamu!!"
__ADS_1
"Iya udah, kalo gitu kita butuh rencana baru"
Ambar diam, dia tidak ingin memberikan tambahan apapun pada rencana Rea. Selain tidak ingin repot, dia juga tidak ingin bertanggung jawab seandainya terjadi sesuatu dengan ketiga orang yang sedang mengalami cinta segitiga itu.