Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Satu


__ADS_3

Akhirnya rangkaian pernikahan Feli dimulai. Meskipun baru dua jam sejak keluar dari rumah sakit, Ambar menguatkan diri untuk berangkat ke Bali. Tentu saja dengan banyak nasehat dari ibunya. Dan dia seharusnya bisa bertemu dengan Rea di bandara. Penerbangan Ambar terpaksa diundur karena keadaan tubuhnya dan sampai di Ngurah Rai tepat saat pesawat Rea juga mendarat. Dari jauh, Ambar akhirnya melihat Rea yang memakai kemeja berwarna hijau salem itu.


"Rea!!" teriak Ambar lalu mendapatkan pelukan yang hangat dari sahabatnya itu.


"Kamu kok pucet Mbar? Kamu juga baru sampai?"


"Iya. Aku sedikit sakit perut tadi pagi. Jadinya terpaksa mundurin jadwal"


"Oh... apa itu karena ... Adhi?"


"Ha? Kok kamu mikir gitu sih Re? Aku tuh kecapekan gara-gara nyelesaiin undangan dua hari kemarin. Kan aku udah cerita sama kamu" jawab Ambar berharap Rea percaya dan tidak membicarakan masalah cowok itu.


"Ya udah deh. Yang penting kita udah disini"


"He em"


"Kita berangkat sekarang?"


"Oke"


Keduanya pergi ke hotel yang telah disewa seluruhnya untuk pernikahan Feli dan menemukan sebuah keanehan. Tidak ada tanda-tanda acara pernikahan disiapkan di dalam hotel. Juga tidak ada tamu yang seharusnya sudah datang sejak pagi tadi.


"Kok sepi ya?" komentar Rea sesaat setelah berhadapan dengan resepsionis hotel.


"Nanti malem kali ramenya"


"Aneh. Gak ada rangkaian bunga atau apapun juga. Ini kayak bukan acara nikahan aja"


Belum sempat mereka bertanya apakah tempat yang didatangi benar, seorang perempuan tiba-tiba memeluk dari belakang.


"Rea, Ambar!!!"


Ambar dan Rea tersenyum dan membalas pelukan Feli, sang calon pengantin.


"Fel, kok sepi banget nih hotel?" tanya Rea tanpa basa-basi lagi.


"Oh. Itu ... banyak tamu yang batal dateng"


"Apa??" seru Ambar dan Rea bersamaan.


Ternyata setelah mendengar kalau mempelai prianya berubah, banyak tamu yang menghubungi keluarga Feli dan membatalkan kedatangan mereka. Dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Feli menjelaskannya dengan raut wajah yang seperti ingin menangis.


"Terus, gimana pendapat Adhi?" tanya Rea lagi. Mendengar nama cowok itu disebut, dada Ambar perlahan sakit lagi. Dia memilih diam dan hanya mendengar pembicaraan dua sahabatnya.


"Gak ada. Keluarga Syahreza juga gak datang buat acara besok"

__ADS_1


Ambar mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dia heran sekali dengan keadaan yang terjadi di hadapannya. Seorang anaka akan menikah tapi, keluarganya tidak ada yang datang? Apa keluarga Syahreza memang sekejam itu? Bukannya Nyonya Syahreza baik sekali pada Ambar kemarin?


"Alasannya?"


"Katanya mereka malu, calon menantunya menikah dengan anak yang berbeda. Mereka menganggap kalau aku ... sudah selingkuh dengan Adhi"


"Wah gila. Padahal mereka juga tahu alasan sebenarnya. Aku gak pernah berpikir mereka gitu" komentar Rea dengan kasar. tapi Ambar tetap diam. Dia tidak ingin ikut campur lagi dalam masalah keluarga ini.


"Tapi ... kamu gak apa-apa Fel?" tanya Ambar, berusaha mengalihkan inti pembicaraan.


"Gak apa-apa Mbar. Aku tetep bahagia karena bisa menikah dengan Adhi"


Sepertinya Ambar salah bertanya. Dia merasakan rasa sakit di dada lagi sekarang.


"Yah kalo gitu bagus deh. Tapi Fel, aku pengen istirahat dulu boleh gak. Jet lag banget nih" kata Rea lalu mengajak Ambar untuk pergi.


"Iya. Kalian istirahat aja dulu. nanti malem kita makan bareng ya"


"Iya"


Rea seperti menyeret Ambar dan masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan untuk mereka berdua.


"Wah gila banget gak sih. Ini sih namanya pernikahan yang dipaksakan. Gimana bisa keluarga mempelai pria gak ada yang dateng sama sekali. Tapi yah gimana lagi" kicau Rea lalu melihat ke arah Ambar.


"Kenapa?"


"Ha?"


"Yah, kita kan bakal ketemu Adhi hari ini dan besok. gak ada tempat untuk lari"


"Gak apa-apa Re. I'm really fine"


"Iya juga sih. Sama kayak Danial juga kayaknya udah lupa sama Feli. Malah sekarang ketemu terus sama kakak gue. katanya mereka udah jadian dan tidur sama-sama"


Wah, berita yang sangat mengejutkan. Ambar tidak pernah menyangka Danial bisa melupakan Feli dengan begitu cepat. Tapi dia bersyukur kalau Danial dapat melakukan hal itu. Tidak seperti dia yang masih terkurung dalam perasaannya sendiri.


Ambar baru saja selesai sholat Maghrib saat pintu kamar hotelnya diketuk oleh seseorang. Dia memang tidak keluar kamar hotel sejak siang tadi karena menemani Rea yang ingin terus bercerita sampai tertidur tadi.


"Siapa?" tanyanya lalu membuka pintu.


"Oh, kamu baru selesai sholat?"


"Ken. kamu dateng juga"


"Ya iyalah. Yang nikah besok kan Bos gue"

__ADS_1


"Iya" kata AMbar lalu tersenyum. Akhirnya dia mendengar suara Kenzo setelah saling tidak menyapa selama tiga hari.


"Kalian diajak makan sama keluarga calon pengantin. Kalo kamu ngerasa gak nyaman aku bisa ajak makan di tempat lain"


"Makasih. tapi kayaknya aku mesti dateng sama Rea"


"Ya udah. Kamu ... ya udahlah"


"Ken ... " panggil Ambar saat temannya itu ingin pergi"


"Apa?"


"Bisa kita ketemu nanti malem?"


"Mau apa?"


"Minum kopi bareng?"


"Boleh"


Ambar kembali tersenyum, dia senang akhirnya bisa mendapatkan waktu untuk bicara dengan Kenzo. Dan mungkin memperbaiki pertemanan yang hampir rusak ini.


Selepas Rea bersiap, mereka berdua keluar dari kamar menuju tempat makan di dekat pantai. Belum sampai di tempat makan malam, mereka disuguhkan acara drama keluarga yang cukup membuat ragu untuk bergabung. Sepertinya ibu Feli merasa malu karena banyak tamu yang tidak datang ke pernikahan besok. Ibu Feli juga menyebut-nyebut kekurangan calon menantu yang duduk tepat di depannya. Hal itu membuat Ambar dan Rea membatalkan niat untuk bergabung. Mereka memutuskan makan malam di restoran hotel dan kemudian kembali ke kamar.


"Re, aku pengen ketemu sama Kenzo dulu"


"Anak itu disini ya"


"Iya"


"Iya deh. Aku juga pengen tidur aja lagi. Masih jet lag."


Ambar berjalan di sepanjang pantai, menunggu kedatangan Kenzo yang sudah dihubunginya lewat pesan. Lama juga dia menunggu tapi Kenzo tak kunjung muncul. Suara deburan ombak yang ada di depannya mulai terdengar menggoda. Ambar melepaskan sepatunya dan berjalan di garis air. Sungguh nyaman sekali. Meskipun dia tidak sendiri di sepanjang pantai ini, tapi hatinya sedikit terhibur. Tapi ... kemana sebenarnya Kenzo? Kenapa temannya itu tidak kunjung datang? Ambar memeriksa ponselnya dan tidak ada pesan ataupun telepon dari Kenzo. Bahkan pesan yang dikirimnya setengah jam lalu tidak terbaca.


Apa dia kembali saja ke kamar dan menemani Rea? Tidak, dia menunggu saja sedikit lebih lama. Lagipula tidak setiap hari dia bisa berjalan-jalan di pantai seperti sekarang. Saat dia berjalan, tiba-tiba dua tiga anak berlari  disebelahnya. Anak-anak itu bercanda dan kemudian tidak sengaja menyenggol Ambar. Dalam pikirannya sudah terbayang rasa malu yang harus ditahan karena terjatuh ke dalam air. Tapi, apa yang dibayangkannya tidak terjadi. Dia tidak merasakan air asin di tubuhnya, tapi menghirup aroma yang dikenalnya. Perlahan Ambar membuka mata dan tepat di depannya tersaji dada bidang dibalik kemeja yang kancingnya terbuka.


"Dasar anak-anak nakal" kata cowok itu menyadarkan Ambar milik siapa tubuh yang sigap menangkapnya.


Saat anak-anak klecil yang tadi hampir membuatnya jatuh akhirnya pergi karena perkataan Bos Kenzo, Ambar mencoba untuk mendongak. Matanya bertemu dengan laut biru yang sangat dirindukannya. Dia kembali menunduk, menghindari tatapan mata biru yang bisa membuatnya hilang akal itu. Namun rupanya terlambat karena tangannya perlahan naik tanpa bisa dikendalikannya. Menyentuh dada telanjang yang ada tepat di depannya. Ambar merasakan kehangatan tiap kali ujung jarinya bertemu dengan kulit cowok itu. Dan sepertinya dia menjadi semakin gila karena menikmati apa yang sedang dilakukannya.


Lalu, tiba-tiba saja tangannya berhenti bergerak saat akan menjelajah lebih jauh. Sepertinya kesadarannya mulai muncul dan dia segera melepaskan tangannya.


"Kau ... menyukaiku" kata cowok itu membuatnya takut. Dia mundur selangkah dan kakinya menyentuh ombak yang datang.


"Tidak" Ambar menjawab seperti itu tapi rasa sakit di dadanya semakin menyiksa.

__ADS_1


"Kau menyukaiku Ambar Ramadhani"


"Tidak" Dia memberanikan diri untuk menatap wajah Adhitama, laki-laki yang telah membuatnya tersiksa selama beberapa minggu ini. Saat air mata mulai meluncur turun ke pipinya, dia berhasil mengatakan 'Tidak'  untuk yang terakhir kalinya lalu berlari pergi. meninggalkan alas kakinya di pantai bersama cowok itu.


__ADS_2