Second Lead Fate

Second Lead Fate
Sembilan Puluh Satu


__ADS_3

Ambar terpaku pada layar ponselnya, masih mengenakan mukena yang digunakan untuk sholat Subuh. Dia ingin segera membalas pesan yang dikirimkan oleh Feli tapi ... jarinya terasa kaku. Meskipun dia sudah berjanji melupakan perasaannya pada cowok itu, tapi hatinya masih saja sakit. Tidak lama, dia kemudian mengetik ucapan selamat untuk sahabatnya itu.


"Selamat atas pernikahanmu. Semoga bahagia" hanya kata-kata itu yang sanggup dia ketik dan kirim ke Feli. Seminggu lagi, Feli akhirnya mendapatkan kehidupan yang ddiinginkan. Menikah dengan laki-laki yang dicintainya, dan harusnya Ambar sebagai sahabatnya merasa senang. Dia harus menghapus semua air matanya dan menunjukkan wajah penuh kebahagiaan pada Feli.


"Sudah sholat Mbar?" tanya ibunya, Ambar tidak sadar kalau wanita yang melahirkannya itu mengamati sejak tadi.


"Sudah Bu"


"Kamu kenapa?"


"Hah? Kenapa emangnya?"


"Sejak pulang dari London, kamu lebih diem. Gak kayak biasanya"


"Ah enggak kok Bu. Cuma kecapekan aja sama jetlag"


"Ibu tau pasti ada masalah lain"


Entah itu firasat atau apa, tapi ibunya selalu tahu kalau ada yang terjaddi padanya. Apakah itu memang kemampuan ajaib seorang ibu? Apakah Ambar harus menceritakan semuanya? Tapi dia tidak ingin ibunya merasa khawatir dengan masalah ini.


"Ambar ...  suka sama cowok. Dia ... ganteng banget, tinggi, baik, juga punya banyak usaha sukses. Tapi, cuma Ambar yang suka, cowok itu enggak" ceritanya lalu merasa malu.


"Ibu kenal gak sama tuh cowok?"


Ambar mencoba mengingat dan tidak yakin kalau ibunya mengingat Bos Kenzo.


"Gak. Ibu gak kenal. Tapi ... semua udah selesai"


"Selesai?"


"Iya. Ambar tah pasti kalo cowok itu gak suka sama Ambar. Soalnya cowok itu bakal nikah minggu ini"


Rasa sedih mulai menguasai hati dan pikiran Ambar lagi dan air mata menutupi penglihatannya.


"Itu berarti namanya belum jodoh"


Ambar melihat ibunya dan tersenyum.


"Iya"


"Apa kamu mau ibu kenalin ke cowok lain?"


"Ibu ah. Kok jadinya gitu"


"Ya gak apa-apa. Sekalian biar bisa apa namanya? Move on?"

__ADS_1


Kini Ambar tertawa. bagaimana bisa ibunya yang menghabiskan waktu seharian di rumah itu mengerti arti kata move-on.


"Gak mau dulu Bu. Ambar masih ... pengen ngembangin toko aja. Sama banyakin kenalan"


"Namanya jodoh itu kita gak tau. Bisa aja kamu ngomong kayak gini ternyata besok tunangan."


"Waduh, cepet amat Bu. Sama siapa?"


"Ya siapa gitu"


"Ibu ada aja"


"Jangan kebanyakan sedih. Minta ketenangan hati dan pikiran sama Allah, biar kamu bisa seneng lagi" nasehat ibunya yang kemudian pergi meninggalkannya sendiri di kamar. Setelah bicara ternyata hati Ambar menjadi tenang dan tidak lagi merasa sedih. Sekarang, sepertinya tidak akan masalah meskipun dia menerima kabar apapun dari Feli.


Sebelum berangkat ke toko, Ambar menepati janjinya pada Kenzo. Dia pergi ke rumah Kenzo untuk menjemput Rindu dan Budhe Fatma.


"Budhe, Rindu. Assalamualaikum"


"Waallaikumsalam. Kak Ambar udah dateng"


"Iya."


"Duh, kak Kenzo itu emang gak bisa diandelin. Masa dari semalem gak pulang"


"Iya, Kenzo lagi sibuk banget di kerjaannya. makanya aku yang anter kamu sama Budhe"


Ambar melihat wanita pruh baya yang dulunya merupakan istri Kepala sekolah, kini berubah sangat sederhana. Bahkan lebih sederhana daripada ibu Ambar.


"Budhe"


"Iya Mbar. Makasih udah mau nganter ya"


"Iya. Gak apa-apa Budhe"


Tepat pukul setengah tujuh, Ambar membawa keduanya untuk pergi ke Rutan tempat ayah Kenzo akan dibebaskan. Dan setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya ayah Kenzo keluar dari Rutan. Tampak berwibawa meskipun digerus hukuman lima tahun di dalam penjara. Untuk kekhilafan yang dilakukannya.


Budhe Fatma segera menghampiri dan memeluk suaminya. Mereka sama-sama menangis dan ayah Kenzo terus menerus mengucapkan kata maaf. Rindu menangis, dan Ambar menarik adik Kenzo itu ke dalam pelukannya. Pertemuan pertama yang penuh dengan air mata. Tapi berubah kegembiraan saat mereka sampai di rumah. Untuk ayah Kenzo, ini pertama kalinya melihat rumah mereka. Karena setelah kasus itu, mereka terpaksa pindah ke tempat yang lebih kecil. Juga untuk menghindari pembicaraan yang menyudutkan dari para tetangga.


"Kenzo?"


"Kerja. Dari kemarin belum pulang"


"Terus ini?" tanya ayah Kenzo dengan menunjuk Ambar.


"Saya Ambar, temen Kenzo"

__ADS_1


"Oh, kamu yang bantu dari awal ya. Makasih ya Nak"


"Iya Pak"


Tidak mau mengganggu kegembiraan yang melupa itu, Ambar memutuskan untuk segera pergi bekerja. tentu saja setelah berpamitan pada semuanya.


Ambar ada di tokonya sat telepon masuk ke ponselnya. Dia pikir itu Kenzo yang ingin mengetahui bagaimana keadaan rumahnya, ternyata bukan.


"Ambar!"


Feli. Apa sahabatnya itu sudah mengetahui balasan pesan yang Ambar kirim tadi pagi?


"Fel. Apa kabar?"


"Baik. Makasih ya Mbar. Aku seneng banget dapat balasan dari kamu"


Ambar kini merasa sedikit tenang dan tidak terlalu sedih. Mungkin pengaruh nasehat ibunya.


"Iya. Selamat ya"


"Kamu pasti nemenin aku kan nanti di Bali? Rea katanya gak bisa dateng sebelum hari H soalnya"


Ouhh. Ambar lupa kalau Feli memang merencanakan pernikahan di Bali.


"Minggu ini ya?"


"Iya"


"Mudah-mudahan bisa. Emangnya kamu balik ke Indonesia kapan?"


"Hari Kamis ini. Dua hari lagi, tapi langsung ke Bali. Disana semuanya sudah siap meski harus ngubah nama pengantin prianya. Hanya satu yang belum"


"Apaan?"


"Setelan jas Adhi. Aku mau minta tolong kamu buat beliin di Jakarta"


Apa? Ambar harus membeli setelan jas untuk pernikahan cowok itu? Kenapa dia? Ambar mencoba untuk tenang dan bicara lagi dengan Feli.


"Apa gak baik beli di London aja? Takutnya aku salah beli ukuran" alasan Ambar, padahal dia hanya tidak ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan cowok itu.


"Kayaknya gak bisa Mbar. Adhi sibuk banget, dan aku juga harus nemenin ibuku belanja. Belum ngurus tiket sama berkas-berkasnya. Tolong ya Mbar."


Memang benar bulan ini tokonya tidak begitu sibuk, tapi bukan berarti Ambar bisa melakukan itu. bagaimana sebaiknya dia mengatakan keberatannya pada Feli?


"Tapi Fel"

__ADS_1


"Oh, kalo gak kamu suruh Kenzo aja gak apa-apa. Kenzo pasti tahu ukuran Adhi kan? Aku harus pergi dulu ya Mbar. Adhi udah bangun"


Ambar masih ingin menolak ide Feli, tapi teleponnya ditutup begitu saja oleh sahabatnya itu.Bagaimana ini? Apa Ambar bilang aja ke Kenzo? Tapi Kenzo juga sibuk dengan permintaan Bos-nya. Ahhh. Ambar menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. Dia sajalah yang melakukan hal itu. Lagipula hanya membeli setelan jas. Apa susahnya?


__ADS_2