Second Lead Fate

Second Lead Fate
Enam Puluh Dua


__ADS_3

Adhi melihat wanita yang duduk di sebelahnya ini sedikit gelisah ketika pesawat mulai take-off. Dia pikir, Ambar akan melakukan sesuatu seperti wanita lain seperti memeluk tangan atau badannya. Tapi tidak. Ambar tidak melakukannya. Wanita itu begitu tegang dan mencengkeram pegangan kursi lalu fokus pada satu titik di depannya. Sayang sekali, pikir Adhi lalu cepat-cepat menyingkirkan perasaannya itu. Dia seharusnya bersyukur karena Ambar terlihat sangat mandiri dan bisa melakukan semuanya sendiri. Bahkan saat Ambar sedang mengerjakan sesuatu, wanita itu tampak serius dan dewasa.


Perlahan dia mengagumi wanita yang sedang mengulum pensil di mulutnya itu. Tiba-tiba Adhi memikirkan sesuatu yang aneh. Dia membayangkan yang ada di dalam mulut  Ambar bukanlah pensil, tapi ... .


"Apa Anda membutuhkan sesuatu Tuan?" tanya pramugari mengejutkan Adhi dan membuyarkan bayangannya.


"Tidak, tidak" Dia bingung, ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam tubuhnya, dan dia mengerti kalau hal itu akan menyebabkan miliknya berdiri. Dia ingin menekan keinginannya tapi Ambar menatap matanya dengan polos. membuat tubuhnya semakin panas dan akhirnya ... mengalami pelepasan yang tidak diduga.


"Anda kenapa?"


"Tidak. Tidak ada"


Mata Ambar menyipit lalu mengalihkan pandangan ke arah pramugari.


"Saya ingin kopi panas kalau boleh"


"Baik Miss"


Secangkir kopi panas melewati depan wajah Adhi dan disambut dengan senyum Ambar.


Saat pramugari pergi, Adhi segera berdiri dan pergi ke kamar mandi. Sial, sial sial, bagaimana bisa dia mengalami hal ini? pikirnya lalu menyeka cairan yang keluar dari tubuhnya itu dengan tisu. Setelah sedikit kering, dia kembali ke kursinya dan mandapatkan pandangan heran dari Ambar.


"Apa?"


"Ha?"


"Kenapa kau melihatku?"


"Karena saya punya mata" jawab Ambar lalu kembali melihat laptopnya. Adhi heran, bagaimana bisa dia mendapatkan pelepasan hanya karena melihat wajah Ambar. Dia pasti sudah terlalu lama tidak pernah menyentuh perempuan.


"Apa?" tanyanya lagi saat memergoki Ambar melihatnya lagi.


"Anda sakit ya?"

__ADS_1


"Apa???"


"Keringatan banyak banget tuh"


Ambar menjulurkan tangannya dan menunjuk dahi Adhi yang mulai basah karena keringat. Dia tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Tapi dia tahu tidak ingin berdekatan dengan wanita ini. Apa daya mereka harus tetap duduk bersebelahan selama kurang lebih enam belas jam lagi.


"Urus dirimu sendiri!"


"Ngapain sih kok sewot?"


"Apa?"


"Iya sewot. Marah-marah terus dari tadi"


Ambar beralih ke laptopnya dan melupakan pernah bicara pada Adhi. Syukurlah. Setidaknya itu yang sedang Adhi butuhkan saat ini.


 


Enam belas jam lagi.


Rasanya Ambar sudah tidak tahan bersikap biasa saja kalau cowok itu masih duduk di sebelahnya. Apalagi, saat kakinya tidak berada di atas tanah, sepertinya Ambar menjadi tidak tenang. pasti ini efek tidak pernah terbang dalam waktu lama seperti sekarang. Dia merasa bosan dan mulai mencoret-coret kertas. Mmebuat rancangan souvenir baru yang kemudian dia hapus lagi. Seperti itu saja selama beberapa menit selanjutnya lalu dia benar-benar bosan.


Sepertinya lebih baik dia tidur saja. Toh, kursi tempatnya duduk terasa nyaman. Ambar menyenderkan punggungnya lalu mulai menutup mata. Berharap saat terbangun pesqwat ini telah mendarat. Dan ... pastinya hal itu tidak akan terjadi. Satu jam kemudian dia terbangun, masih mendengar suara pesawat dan melihat kursi penumpang lain di depannya.


"Duh, kok gak nyampe-nyampe sih?" tanyanya kesal.


"Kau pikir kita sedang ke Bandung?"


Ambar mendengar suara Bos Kenzo, tapi seperti lebih dekat dari biasanya. Dia mencoba membuka mata lebar-lebar dan terkejut karena sedang tertidur di pundak cowok itu. Segera saja Ambar mencabut kepalanya dari pundak Bos Kenzo dan merasa malu.


"Maaf. Saya tidak tahu"


"Tenanglah! Aku tidak akan meminta bayaran"

__ADS_1


Ambar merekatkan bibirnya dan berharap tidak tidur tadi. Bagaimana bisa dia tidur di pundak Bos Kenzo? Padahal dia sudah mengatakan pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak. Kalau begini, detak jantungnya pasti naik lagi. Daripada berpikir yang tidak-tidak, dia memilih bekerja dan melihat drama Korea.


Sedang asyik-asyiknya menonton, Ambar merasakan perutnya sakit. Ya Allah kenapa juga dia mesti membuang hajat saat di pesawat? Bukannya nanti aja saat transit atau gimana. Ingin sekali dia menahannya tapi tidak bisa. Akhirnya Ambar menyerah, dia berdiri lalu melihat cowok yang duduk disebelahnya.


"Saya ingin ke kamar mandi"


"Oh ya" Cowok itu melipat meja dan mendekatkan laptop ke arah badannya.


Ambar mulai berjalan dengan pelan dan tiba-tiba pesawat berguncang dengan keras. Tentu saja dia kaget dan bercampur dengan takut. Tanpa sadar dia duduk di pangkuan cowok itu. Cowok yang seharusnya dia jauhi. Tapi Ambar tidak bisa bangun, dia terlalu takut. Setelah guncangan pesawat mereda, dia segera bangun. meminta maaf ala kadarnya dan pergi ke kamar mandi. Semua dia lakukan tanpa melihat wajah Bos Kenzo sama sekali.


 


"****" pikir Adhi.


Dia mengalami pelepasan lagi. Yang kedua dalam beberapa jam aja. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?Semua ini terjadi karena wanita itu. Ambar. Kenapa juga wanita itu jatuh dan duduk tepat di pangkuannya? Miliknya segera bereaksi saat itu juga dan tak lama mengalami pelepasan. Bagaimana nasib ****** ******** sekarang? Oughhh, Adhi tidak berani membayangkannya. tapi dia harus segera membersihkannya. kalau tidak dia akan terlihat seperti buang air di celana.


Adhi berdiri dan merasa tidak nyaman. Mungkin sebaiknya dia mengganti celananya, tapi semua pakaiannya ada di koper. Dan dia tidak memiliki celana cadangan di tas kerjanya. Lama sekali dia menunggu giliran di kamar mandi. Dan ternyata karena siapa? Lagi-lagi, wanita itu yang membuatnya kesal karena menunggu.


"Lama sekali"


"Oh, Anda juga pengen buang air?"


"Aku ... " Tidak, tidak mungkin Adhi mengatakan apa yang terjadi padanya.


"Silahkan" kata wanita itu lalu bergeser. Sayangnya saat itu pramugari lewat dan membuat ruang menjadi lebih sempit untuk mereka berdua. Adhi terpaksa menekan Ambar dengan badannya. Saat pramugari lewat, dia mundur dan melihat sesuatu yang ganjil.


Ambar menghembuskan napas panjang, terlihat dari gerakan dadanya. Wanita itu tidak melihat ke arah wajah Adhi sama sekali saat bingung karena jalannya terhalang tangan Adhi. Terlihat sekali wanita itu ingin menghindar cepat-cepat dari situasi ini, dan itu membuatnya merasa ganjil. Apakah? Wanita ini memiliki perasaan padanya? pikir Adhi curiga. Dia kemudian melakukan gerakan berani menekan tubuh Ambar dan mendekatkan wajahnya ke bagian leher wanita itu.


"Aku lelah sekali menunggumu" katanya dengan suara yang berat.


Wanita itu tidak melakukan apa-apa dalam beberapa detik lalu menatapnya tepat di mata. Adhi dapat melihat getaran halus di mata Ambar. Oh, jadi, wanita ini menyukainya? tebak Adhi lalu merasakan dorongan kuat di dadanya.


"Anda pasti sudah gila" jawab Ambar lalu pergi.

__ADS_1


Adhi tidak mengejar Ambar dan memilih masuk ke dalam kamar mandi. Disana dia merasakan akibat langsung dari perbuatannya. Untuk yang ketiga kalinya dia mengalami penegangan di bagian pribadinya. Semua itu membuatnya hampir gila. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya????


__ADS_2