
"Apa kamu boleh disini?"
Ambar menatap pria yang rambutnya memutih seluruhnya itu. Ayah Kenzo, Pakde Agus tampak khawatir dengan kehadirannya sejak tadi di rumah ini. Dan baru kali ini ayah Kenzo menanyakannya.
"Kenapa Pakde?"
"Pakde kan ... bekas tahanan"
Ambar berpikir sejenak, dia tidak ingin memberikan jawaban yang asal untuk masalah seperti ini.Apalagi tiga anggota keluarga pakde Agus sedang memberi perhatian padanya sekarang.
"Bapak sama ibu sebenernya pengen kesini juga Pakde, Tapi ternyata Bapak harus nganter Bos-nya keluar kota. Ibu juga ada pengajian di rumah saudara. Jadinya ... cuma Ambar yang bisa kesini. Kalo mereka ada waktu, pasti bakal nengok Pakde sama Budhe juga kok" jawab Ambar tidak menimbulkan raut kekecewaan di wajah Pakde Agus.
Apa yang dikatakan Ambar bukanlah bohong. Kedua orang tuanya memang sedang ada acara hari ini, dan tidak bisa datang ke syukuran Pakde Agus. Toh, ayah dan ibu Ambar tidak pernah memandang rendah ayah Kenzo. Pakde Agus memang melakukan kesalahan dengan berbuat jahat. Semua orang pasti mendapatkan pengampunan kalau bertobat. Dan ayah Kenzo sudah melakukannya sejak awal-awal ditangkap dulu. Apalagi Pakde Agus menyaksikan sendiri penderitaan yang harus ditanggung keluarganya karena perbuatan jahatnya.
"Oh. Iya. Alhamdulillah kalau gitu. Pakde juga makasih kamu udah nemenin Rindu sama bantu Kenzo"
Ambar hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Ngapain sih Pak ngomong gitu. Ambar nanti gak mau kesini lagi" ujar Kenzo yang baru kembali dari menerima telepon.
"Kak Ambar itu gak mau kesini soalnya kakak maksa terus sih"
"Hei anak kecil, diam!"
"Dih, dia yang suka marah"
Ambar kini tertawa sedikit. Dia tidak memiliki saudara jadi merasa senang kalau melihat interaksi antara Rindu dan Kenzo.
Acara syukuran Pakde Agus telah usai, dan Ambar berada di dekat mobilnya untuk pulang. Kenzo mengikutinya untuk membawakan dua buah kotak nasi syukuran.
"Makasih ya Ambar. Kamu ... "
Ambar memukul bahu temannya itu.
"Udah. Jangan sampe kamu juga ngomong kayak gitu"
Ambar dan Kenzo saling berpandangan dan tertawa. Ambar merasa sangat lega akhirnya dapat melihat senyum di wajah temannya. Senyum lepas yang tertunda selama lima tahun ini.
"Aku pasti lebih seneng lagi kalo kamu mau nerima lamaran ku" kata Kenzo, mengingatkan Ambar pada rencananya setelah balik dari London.
__ADS_1
Dia merogoh kantung di dalam tas-nya dan mengeluarkan cincin pemberian Kenzo.
"Ini" katanya lalu menyodorkan cincin itu kembali ke pemiliknya.
"Apa maksudnya nih? Kamu?"
"Aku gak bisa nerima cincin ini Ken. Aku ... suka sama orang lain"
Senyum di wajah Kenzo segera sirna setelah mendengar pengakuan Ambar. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, tapi semakin ditunda ... maka akan semakin memberatkan hatinya. Kenzo mengambil cincin di telapak tangan Ambar lalu menatapnya.
"Siapa? Aku kenal?"
"Itu adalah masalahku. Kamu gak boleh tahu"
"Cowok itu? yang di restoran waktu itu?" tanya Kenzo.
Ambar ingin segera pergi, menghindari pertanyaan Kenzo tapi tidak bisa. Dia ditahan oleh temannya itu.
"Aku mau pulang"
"Jawab dulu. Siapa cowok itu?"
"Bukan Bos kan?" tanya Kenzo lagi. Kini Ambar kesal, dia menggeser badan besar Kenzo dengan seluruh kekuatannya dan membuka pintu mobilnya.
"Bos bakal nikah sama Feli Minggu ini.Masa' kamu suka sama suami sahabat kamu sendiri?"
Ambar membatalkan niatnya masuk ke dalam mobil lalu menoleh ke arah Kenzo.
"Aku tahu. Aku sangat tahu"
Ambar masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari depan rumah Kenzo.
Di rumah, Ambar meletakkan dua kotak nasi pemberian ibu Kenzo di atas meja makan.
"Udah selesai acaranya Ambar?"
"Iya Bu. Cuma ngasih tetangga aja"
"Udah kamu sampaikan kalo ibu gak bisa ke sana gara-gara acara keluarga"
__ADS_1
"Udah Bu"
"Ibu takut kalo Ayahnya Kenzo mikirnya ibu gak mau ke sana gara-gara yang lain"
"Gak apa-apa kok Bu. Nanti kan ibu bisa ke sana"
Ambar menenangkan kecemasan yang dirasakan ibunya karena tidak bisa datang ke rumah Kenzo. padahal dalam hati, dia merasa bersalah pada temannya itu. Sepertinya Ambar salah karena menolak lamaran Kenzo dengan alasan tadi. Seharusnya dia diam saja atau memberi alasan lain. Tapi ... dia memang tidak bisa menerima lamaran Kenzo karena hatinya telah memilih laki-laki lain. Meskipun cowok itu akan segera menjadi suami sahabatnya. Ambar melepas semua bajunya dan ingin pergi mandi. Lalu ponselnya berdering, membuatnya batal pergi ke kamar mandi.
"Halo. Assalamualaikum"
"Ambar"
"Oh, apa Feli?"
Baru saja Ambar berpikir tentang sahabatnya ini, ternyata Feli menghubunginya.
"Besok kami bakal sampai di Indonesia jam lima sore. Tapi Adhi ke Jakarta besoknya. Jadi, hari Jumat aku minta tolong kamu buat ngepas baju sama Adhi ya?"
"Apa??"
"Iya. Aku kan harus siap-siap di Bali. Jadi aku minta tolong bawa Adhi ke butik itu buat ngepas setelan jasnya"
"Kayaknya gak perlu Feli. Kata butiknya, pak Adhi sering bikin setelan jas di sana. Jadi udah ada ukurannya"
"Tapi, Mbar. Aku pengennya semua sempurna. Termasuk penampilan Adhi"
"Kenapa gak sama kamu aja Fel?"
"Aku sibuk ngurus keluarga di Bali Mbar. banyak yang kaget soalnya calon pengantin pria berubah. jadi aku harus kasih penjelasan. Minta tolong ya. Adhi bakal ada di Jakarta selama sehari penuh dan baru datang ke Bali waktu malam sebelum hari H"
"Tapi Fel"
"Minta tolong ya Mbar. Kan kamu juga udah kenal sama Adhi"
Sebelum Ambar siap menyangkal pernyataan Feli, teleponnya sudah terputus. Dia memang mengenal calon suami Feli, tapi dia tidak merasa bangga dengan hal itu. Dia malah ingin melupakan segala hal yang berhubungan dengan cowok itu. Kalau bisa, dia akan memilih untuk tidak hadir di pernikahan Feli hanya untuk menghindari bertemu dengan cowok itu. Tapi ini ... dia akan bertemu dan menemani cowok itu mengepas setelan jas pernikahannya. Apa yang harus dia lakukan? Dia tidak bisa meminta bantuan Kenzo lagi. Malam ini Ambar baru saja menolak lamaran temannya itu dengan alasan menyukai orang lain. Dan Kenzo tahu pasti siapa cowok itu. Apa dia harus menghubungi Rea? Tapi Rea berkata sedang sibuk dan hanya bisa datang ke Indonesia tepat sehari sebelum pernikahan Feli. Itu berarti hari Sabtu.
"Duh gimana ini?" pikir Ambar bingung sendiri.
Setelah sepuluh menit mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri, Ambar mulai sadar tentang kebodohannya sendiri. Tidak ada yang tahu tentang dia menyukai Bos Kenzo. hanya Rea dan Kenzo saja yang tahu. Cowok itu juga akan segera menikah dengan Feli, jadi kenapa dia bingung? yang terpenting adalah menyembunyikan perasaannya jauh di dalam hati agar tidak terlihat di permukaan. Dengan begitu semua akan baik-baik saja. Ambar mulai memantapkan hati dan memusatkan pikiran untuk melupakan semua perasaaan yang dimilikinya untuk cowok itu. Sebaiknya dia juga mengingat semua keburukan cowok itu agar tidak terlena lagi saat bertemu nanti. Yah, benar.seperti itu maka dia akan baik-baik saja.
__ADS_1