
Ambar sedang menikmati upacara adat yang sedang dilaksanakan tepat di depan matanya. Temannya terlihat sangat senang karena akhirnya menemukan seorang suami yang diidam-idamkannya selama ini. Ditengah acara, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ambar segera mengambil ponsel yang ada di kantong gaun dan memeriksa pesan yang baru saja diterimanya.
"Aku akan pulang ke Indo"
Hampir saja Ambar bersorak setelah melihat pesan yang Rea kirimkan.
"Kapan?"
"Kapan?" tanya Feli dan Ambar hampir bersamaan.
"Sabtu depan. Tapi cuma sehari terus balik lagi"
Ambar menatap ponselnya dan merasa kecewa. Rea memang sangat sibuk. Di London, Rea baru saja merintis perusahaan baru di bidang fashion dan tidak bisa sering-sering menghubungi Feli maupun Ambar. Ambar tahu itu, tapi tetap saja, dia kecewa. Ingin sekali dia menghabiskan waktu bersama sahabatnya seperti dulu. Tapi kini mereka bertiga memiliki kehidupan masing-masing yang sangat berbeda satu sama lain.
"Aku tunggu" bunyi pesan yang akhirnya Ambar kirimkan setelah berpikir selama beberapa menit.
"Aku akan ikut dari London"
"Lho, Fel. Kamu di London?"
Ambar baru tahu kalau Feli ternyata di London.
"Iya. Aku harus ikut acara keluarga Danial disini"
"Oh iya. Kemarin aku ketemu sama dia tapi Feli jadi sombong. Mentang-mentang calon Nyonya keluarga Syahputra"
Kalau dulu, saat Ambar tidak tahu apapun tentang keluarga calon suami Feli, dia akan membalas seenaknya. Tapi sekarang. Salah satu anggota keluarga Syahreza ada di ruangan yang sama dengan dia. Menonton upacara adat yang sebaian besar membosankan. Kenapa Tuan Adhitama Sayhreza tidak hadir dalam acara keluarganya sendiri? Kenapa keluarga cowok itu seperti menganggapnya tidak ada? Kesalahan apa yang membuat cowok itu tidak dianggap oleh keluarganya sendiri? Ambar mencari keberadaan salah satu anggota keluarga Syahreza itu dan akhirnya menemukannya. Cowok itu duduk santai melihat pertunjukan tari dan sesekali berbicara dengan orang yang duduk satu meja dengannya. Ambar lama menatap ke arah cowok itu sampai mereka ternyata saling melihat.
Mata biru. Meskipun dari jarak sejauh ini, Ambar masih bisa mengagumi mata yang indah itu.Ternyata, pemilik mata indah itu memiliki cerita hidup yang berbeda dari yang Ambar bayangkan. Seorang cowok yang berasal dari negara kerajaan itu ternyata ... kasihan juga. Selain kehilangan perempuan yang dicintainya karena kakak sendiri. Cowok itu juga dibuang oleh keluarganya sendiri. Rasa iba membuat Ambar merasa sedih. Hidup Ambar juga keras, tapi dia masih memiliki ayah dan ibu yang selalu hadir di sisinya. Tidak seperti cowok itu. Lama sekali mereka berdua saling bertatapan. tak terasa acara adat telah usai dan pembawa acara mempersilahkan para tamu undangan untuk makan.
Ambar menurunkan pandangan dan membalas pembicaraan ramai dua sahabatnya.
"Aku akan menunggu kalian disini"
"Ya.... aku juga pengen batagor nih"
Ambar tersenyum karena balasan Rea. Dia tidak menyangka ada seseorang yang sejak lima menit lalu berdiri di belakangnya dan membuat teman-teman kursusnya tersipu. Ambar menyimpan ponsel di tasnya lalu melihat aura aneh dari para teman satu mejanya.
"Ada apa?"
"Itu" jawab temannya lalu menunjuk ke atas kepala Ambar.
Dia mendongak dan menatap mata biru yang berada jauh dari atas kepalanya.
"Oh" kata Ambar kaget.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan sayang?"
Mata Ambar terbuka lebar mendengar panggilan yang paling dibencinya. kenapa cowok ini panggil dia seperti itu lagi? Feli ada di London. jauh sekali dari Bandung.
"Waah ini siapa? Kok panggil Ambar sayang?" seru salah satu teman kursus Ambar yang suka bergosip.
"Ambar calon istri saya"
"APA???" jerit Ambar dan teman-temannya.
Kenapa? Kenapa cowok itu mengatakan Ambar calon istrinya disaat tidak ada Feli disini?
Adhi sedang melihat upacara adat yang tersaji di depannya ketika tersadar ada sepasang mata melihat ke arahnya. Wanita itu memandangnya dengan tatapan yang tidak disukai Adhi. Tatapan iba yang sangat ketara. Setelah semua acara yang membosankan itu akhirnya selesai, dia berjalan dengan cepat, menghampiri Ambar. Melihatnya, wanita itu terlihat terkejut tapi tidak merubah tatapan iba di wajahnya. Akhirnya Adhi memberikan sesuatu yang bisa dibahas oleh teman-teman Ambar, mungkin sampai lama sekali. Wanita itu segera berdiri menghadapnya dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Kenapa???" bisik Ambar
"Apa?"
"Kok bisa?"
"Apa ... sayang"
"Sebaiknya kita bicara sebentar"
"Aku lapar. Apa kau tidak akan menemaniku makan? Sayang?"
"Nanti saja. Kita bicara ddulu"
Wanita itu menarik tangan Adhi sampai di luar tempat acara pernikahan.
"Apa-apaan itu?"
"Apa"
Ambar terlihat sangat marah dengan tangan yang dilemparkannya ke segala arah.
"Kan disana tidak ada Feli atau siapa-siapa yang berhubungan dengan Feli? Lalu kenapa Anda?"
"Kau harus merubah panggilanmu kepadaku"
"Apa?"
"Tidak ada seorangpun di Indonesia memanggil kekasihnya dengan panggilan Anda"
__ADS_1
"Apa itu penting sekarang? Yang paling penting adalah Anda memanggil saya dengan ... sebutan yang menjijikkan itu. Di depan semua teman kursus yang sama sekali tidak ada hubungan dengan Feli sama sekali"
Apa Adhi kelewatan? Tidak. Masalah ini terlalu kecil untuk menghukum wanita itu.
"Aku lebih suka panggilan honey atau babe?"
"Honey ... honey. Beli madu aja sana yang asli"
"Apa?" Adhi heran wanita ini masih bisa bercanda meskipun sedang marah.
"Bos. Kalo di sinetron atau novel yang ngomong gini itu cowoknya. Tapi sekarang saya aja. Kalo kita ketemu di tempat lain yang tidak ada Feli. Bisa gak kita pura-pura gak saling kenal? Gak usah nyapa, atau bahkan gak usah lihat-lihatan"
Adhi melihat bibir yang terus bergerak di depannya. Bibir wanita itu tebal di bawah. kalau berciuman mungkin Adhi akan memilih menghisap bibir bawah itu dulu, lalu memasukkan lidahnya perlahan dan ... . Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dia berpikir sesuatu yang seperti itu ... dengan Ambar?
"Bos, apa Anda mendengar saya?" tanya Ambar menyadarkannya.
"Iya. Aku mendengarnya."
"Kalau begitu tolong ralat ucapan Anda tadi. Anda harus menjelaskan kepada semuanya kalau saya ini hanyalah ..."
"Tidak mau"
"Ha?"
"Aku tidak mau. Adhitama Elvan Syahreza tidak akan pernah meralat ucapannya"
"Hooo begitu bangga pada diri sendiri. Saya heran kenapa?"
"Apa?"
"Tidak. Tuan Adhitama Elvan Syahreza"
"Maksudmu apa Ambar Pramesti Ramdhani?"
"Bagaimana Anda bisa tahu nama saya?"
"Kaupikir?"
"Kenzo. Pasti anak somplak itu"
"Kau panggil temanmu seperti itu?"
"Dia pantas menerimanya. Karena dialah saya terjebak dengan Anda. Pangeran kedua keluarga Syahreza"
Setelah bicara seperti itu, Ambar ingin melarikan diri dengan berjalan menjauh dari Adhi. Tentu saja dia tidak akan membiarkannya. Adhi memeluk tubuh Ambar dari belakang. Kebetulan kedua lengannya berada tepat di ujung buah dada Ambar. Dan dia merasakan kedua puncaknya mengencang karena sentuhan Adhi. Wanita ini ... terangsang padanya?
__ADS_1