Second Lead Fate

Second Lead Fate
Empat Puluh


__ADS_3

"Assalamualaikum"


"Waallaikumsalam. Sudah pulang?"


Ambar melihat ayah dan ibunya belum juga beristirahat di kamar ketika dia pulang. Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat mereka terbangun sampai sekarang? Lalu, Ambar teringat dengan siapa di makan malam hari ini.


"Kok gak tidur Bu?"


"Sudah ketemu Nak Galih?" tanya ayahnya tidak sabaran.


"Dah"


"Terus?" tanya ibunya penasaran.


"Gak ada terusannya. Kami cuman makan terus pulang"


"Tapi kamu makan sampe jam segini sama Nak Galih?"


Ambar melihat jam tangannya dan tidak sadar kalau sekarang sudah jam sembilan tiga puluh malam.


Tidak mungkin Ambar mengatakan kalau dia menghabiskan lebih banyak waktu dengan Bos Kenzo daripada Mas Galih.


"Ambar jalan-jalan dulu tadi" jawabannya segera menimbulkan kekecewaan di wajah kedua orang tuanya.


"Jadi kamu gak suka sama Nak Galih?" tanya ayahnya tanpa basa-basi.


"Bukan, Pak. Cuman ... "


"Ambar kan baru pertama kali ini ketemu Nak Galih. pasti nanti bisa ketemu lagi. Iya kan Mbar?"


Untung saja ibunya mengerti apa yang Ambar pikirkan dan berusaha meredam kemarahan ayahnya.


"Gimana kamu bisa nikah kalo kayak gini!" bantah ayahnya lalu pergi ke kamar. Meninggalkan Ambar dan ibunya yang saling lihat-lihatan.


"Udah, kamu mandi terus istirahat sana!" suruh ibunya dengan nada khawatir.


"Ambar tahu kalo Bapak pengen Ambar cepet nikah, tapi semua kan ada prosesnya Bu. masa baru ketemu satu kali udah disuruh nikah"


"Iya, ibu ngerti. Bapakmu cuma gak sabar"


"Ambar masuk dulu Bu"


Ambar meninggalkan ibunya yang berdiri di tengah ruangan dan merebahkan diri di atas kasur. Semakin lama, tekanan menikah yang diajukan ayahnya terasa mencekik. Dia jadi tidak ingin bertemu lagi dengan Galih atau siapapun itu. Dia hanya ingin hidup seperti sebelumnya. Toh, dia bahagia walaupun tidak pernah punya pacar. Ambar merasa kesal dan marah sekarang. Dia bangun dari kasur, melepaskan hijab lalu meletakkannya sembarangan. Ambar berjalan dengan cepat ke kamar mandi dan tidak sengaja menabrak kaki meja. Rasa nyeri bercampur sedih menjalar dari kelingking kakinya ke kepala. Membuatnya ingin menangis, meringis juga tertawa bersamaan.


Setelah rasa sakit sedikit mereda, dia pergi ke kamar mandi dengan kepala yang ringan. Sepertinya, rasa sakit tadi telah menghapus semua kekhawatiran, kesedihan dan pikirannya yang tidak berguna. Tapi rasanya sakit sekali. Dia tidur dengan nyenyak malam itu sampai sesorang menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras.


"Apa sih?" tanyanya dengan mata tertutup dan suara sengau bangun tidur.


"Mbar bantu aku"


"Ha? Apa?"


"Mbar bangun!"


Saat goncangan di tubuhnya terasa lebih kuat, Ambar terpaksa bangun.


"Apa sih?? Kok kamu ada disini?"


"Mbar anterin aku!"


"Ratih, ini jam dua. Aku besok mesti kerja"


Ambar ingin kembali dalam tidurnya tapi teman kecilnya itu tidak membiarkannya.


"Suamiku kayaknya selingkuh. Kamu harus antar aku"

__ADS_1


"Ha?" Ambar terpaksa duduk lagi lalu melihat wajah teman kecilnya yang basah dengan air mata.


Ratih sudah tinggal jauh dari daerah ini sejak menikah dengan suaminya yang kedua. Tapi kenapa sekarang temannya ini ada di kamarnya untuk meminta tolong sesuatu seperti itu?


"Aku gak mau ikut campur lagi Tih. Aku kapok"


Ambar teringat pergulatan sengit antara Ratih dengan selingkuhan suami pertamanya di sebuah mall beberapa tahun lalu. Dia malu tapi terpaksa harus memaksa ratih berhenti sebelum dilaporkan ke polisi karena penganiayaan.


"Masa aku lagi susah gini, kamu gak mau bantu sih Mbar?"


"Bukannya gitu. Ini kan masalah rumah tangga kamu, aku cuman orang luar. Gak berani ikut campur"


"Kamu belum pernah suka sama laki-laki sampai segitunya sih. Makanya kamu gak ngerti"


Waduh, kenapa sekarang apa yang terjadi dalam hidup Ambar dibawa-bawa.


"Paling gak, tunggu aja sampai suami kamu pulang terus tanyain deh"


"Aku ini lagi kumpulin bukti Mbar. Ayo cepet kamu anterin aku sekarang"


Ratih dengan kuat menarik Ambar sampai terjatuh dari kasurnya. Dia mendarat di bokongnya terlebih dahulu, menimbulkan rasa sakit yang membuat matanya melotot.


"Kamu setres" ejeknya pada teman kecilnya itu.


"Gimana gak stress aku Mbar. Dua kali aku nikah tapi mesti diselingkuhin. Aku capek terus diginiin Mbar"


Inilah salah satu alasan Ambar memilih untuk tidak memiliki pacar atau suami dulu.


"Ya udah, aku anter. Ngomong-ngomong, kok kamu bisa masuk?"


"Ibumu yang bukain pintu"


"Lha, ibu bangun?"


"Iyalah. Masa' aku panjat jendela kamu di lantai dua ini?"


"Aku mau ganti baju dulu"


"Udah cepet. Keburu nanti aku gak bisa mergokin dia selingkuh"


"Iya iya. kamu keluar aja dulu"


Ambar tetap memakai kaos abu dan celana kulot krem yang ada dipakainya untuk tidur tadi lalu menyambar hijab langsung pakainya di sandaran kursi dan keluar dari kamar.


"Lama banget sih" keluh Ratih saat Ambar turun pelan-pelan dari lantai atas.


"Berisik! Minta tolong nyolot"


"Ya udah cepet"


Diluar rumah, Ambar bertemu dengan ibunya yang memakai jaket tebal.


"Bu, aku anter Ratih dulu"


"Sebenernya ibu gak setuju kalian pergi malem-malem gini. Tapi"


"Budhe, aku cuma minta tolong Ambar buat nganterin doang. Bukannya macem-macem"


"Iya, tapi kan gak ada laki-laki yang bisa jagain. Apa Budhe bilang ke pakdhemu aja?"


"Jangan Budhe. nanti pakdhe ember. Bilang-bilang ke ibu"


Ambar hanya melihat Ratih dan ibunya dari samping. Dia tidak menyimak karena masih mengantuk.


"Ayo!" ajak Ratih lalu menyeret Ambar ke mobil.

__ADS_1


"Bu, aku pergi dulu. Assalamualaikum"


"Wallaikumsalam. Hati-hati Mbar"


"Iya"


"Aduh ayo cepetan!!. Nanti selingkuhan suami gue keburu kabur"


Ambar masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan cepat-cepat membawanya keluar dari halaman rumah. Sebelum ayahnya nanti bangun dan mulai marah.


"Emang suami kamu ada dimana?" tanya Ambar pada Ratih yang kelihatan pucat. Kelihatannya masalah temannya itu sedikit berat kali ini.


"Di "


"Kamu pengen aku anter kamu ke klub?"


"Iya. Terus kemana?"


"Ratih, ini jam dua pagi. paling klub juga udah bubar"


"Makanya itu aku ajak kamu jam segini"


Tanpa bertanya lagi, Ambar memacu mobilnya di jalan yang sepi dan menuju klub malam yang ada di pusat ibukota.


"Udah nyampe nih" kata Ambar lalu mendengar suara musik yang merembes keluar klub.


"Kamu ikut aku yuk masuk"


"Kamu gila ya?"


Ambar teringat kelakuan Ratih saat mereka masih sembilan belas tahun lalu.


"Aku takut"


Wah, tumben. Biasanya ratih tidak pernah takut apapun. Termasuk dengan tempat yang akan dia tuju kali ini. Kenapa sekarang?


"Aku takut kalo ternyata suamiku bener-bener selingkuh. Gimana dong Mbar?"


Ambar merangkul teman kecilnya yang memiliki banyak jalan berbatu dalam hiddupnya itu dan berusaha memberi semangat. Dia memang belum pernah merasakan apa yang dialami oleh Ratih. Tapi pasti sakit sekali saat dikhianati.


"Udah. Aku ikut kamu. Kita liat aja dulu. Jangan berasumsi apa-apa dulu"


Akhirnya Ambar menemani Ratih ke dalam klub malam yang luas itu. Musik yang tadi didengarnya tipis, lama kelamaan menggelegar. Banyak orang mulai melihat ke arah Ambar, mungkin karena baju yang dipakainya. tapi dia tidak peduli pandangan orang. Tujuannya kemari hanya untuk membantu Ratih menemukan ... .


"Ketemu. Tuh Mbar"


Ambar melihat ke arah ujung jari telunjuk Ratih yang mengarah ke sebuah tempat duduk penuh pria. Dari lima pria itu, Ambar melihat suami Ratih ada di tengahnya. Tapi ada yang aneh.


"Tih, kayaknya kita pulang aja dulu"


"Kenapa? Aku pengen kesana terus ngejambak cewek yang lagi ... "


Ambar menahan lengan Ratih agar temannya itu tidak berjalan maju.


"Kayaknya bukan cewek Tih"


Ratih melongo melihat Ambar lalu beralih ke suaminya yang sedang duduk itu.


"Apa???"


"Kita pulang aja ya"


"Tapi ... "


Ambar menarik Ratih yang sudah lemah dan ingin berjalan keluar dari klub malam itu. Tapi sebuah badan besar, tinggi menghalangi jalan keluar.

__ADS_1


"Sungguh mengejutkan kau ada disini Ambar"


Ambar mendongak dan samar-samar melihat sepasang mata biru yang sedang menatapnya. Sial. Kenapa dia ketemu cowok ini lagi.


__ADS_2