
"Wah. Aku tidak percaya ternyata kau ada di sini" kata Ambar sinis sambil melihat ke arah Kenzo.
"Aku hanya membantu Bos"
"Kau tidak pernah menghubungiku tapi membantu Bos mu?"
"Aku hanya ... ingin kau bahagia"
Ambar mendesah. Sudah berapa kali dia mendengar kata-kata itu hari ini. Sejak pagi hari saat menikah dengan cowok itu, semua orang sepertinya memiliki pemikiran yang sama. Menginginkan kebahagiaan Ambar. Padahal mereka tidak tahu kalau sekarang dia hanya menjalani apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya saja.
Ambar ada di dalam kamarnya saat malam semakin larut dan akhirnya cowok yang resmi menjadi suaminya datang. Mereka berdua tidak mengatakan apapun dan Ambar merasa tersiksa dengan keheningan ini. Dia lalu berdiri dari kasur dan ingin keluar dari kamar, meskipun sekedar untuk mengambil minum.
"Mulai besok kita akan tinggal di rumahku" kata cowok itu menghentikan Ambar.
"Ha?"
"Kau hanya mengajukan syarat kita akan tinggal di Jakarta"
"Tapi ... "
"Aku tidak akan menghalangimu datang ke rumah kedua orang tuamu. Tapi kita akan memulai pernikahan ini di rumah yang lain"
Ambar tidak bisa menjawab lagi. Dia memang mengajukan cukup banyak syarat kemarin pagi. Dan cowok itu menyetujui semuanya. Jadi ... untuk hal ini lebih baik dia mengalah. Toh, Ambar masih bisa pergi ke rumah orang tuanya kapan saja.
"Saya ... akan mengambil minum" katanya lalu pergi ke lantai bawah dan menemukan ibunya sedang tertawa dengan Rea.
"Akhirnya ... Rea bisa pulang dengan tenang Tante" kata Rea yang didiengarnya.
"Terima kasih ya Re. Ibu berhutang banyak"
"Jangan begitu. Ambar berhak untuk bahagia meskipun dengan sedikit dorongan"
"Iya"
Ambar membatalkan niatnya untuk mengambil minum dan kembali ke kamarnya. Ternyata semua orang memang melihatnya selama ini sebagai wanita yang menderita.
Kembali ke kamar, Ambar membuka pintu dan melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Dia hanya bisa berbalik dan menahan seruan di mulut ketika cowok itu menyadari kehadirannya.
"Kenapa kau tidak masuk"
__ADS_1
Bagaimana dia bisa masuk saat cowok itu sedang bertelanjang dada sekarang.
"Tidak apa"
"Mana minummu?"
Oh iya. DIa berencana mengambil minum tadi.
"Tidak jadi"
"Masuklah! Atau kau ingin kedua orang tuamu dan Rea melihat kita berdua seperti ini"
Dengan berat hati Ambar masuk ke dalam kamarnya dan merasa sangat canggung. Untungnya, cowok itu telah memakai baju sekarang. Hanya sebuah kaus putih dengan celana panjang yang sama seperti sebelumnya.
"Anda bisa tidur sekarang" ujar Ambar yang masih merasa canggung.
"Kau tidak tidur? Kata ibumu, kau sejak pagi belum beristirahat sama sekali dan menyuruhku memastikan putrinya tidur lebih awal"
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya"
"Aku akan sholat Isya' dulu sebelum tidur"
"Sejak kapan Anda pindah agama?" tanyanya penasaran.
"Sejak delapan bulan lalu"
"Apa itu karena ... "
Mata biru yang cerah itu melihat ke arah Ambar dan membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Tidak. Aku tidak melakukannya karenamu, kalau itu yang kau maksud" jawab cowok itu lalu masuk ke dalam kamar mandi Ambar dan menutup pintu.
Ambar hanya diam saja di atas kasur saat melihat punggung cowok yang sedang melakukan gerakan sholat itu. Aneh sekali rasanya. Seperti tidak nyata menyaksikan sendiri cowok itu melakukan semua gerakan sholat dengan benar.
"Kau tidak tidur?" tanya cowok yang ternyata sudah selesai melakukan sholat itu.
"Belum"
"Apa kau tidak akan melepas hijab?"
__ADS_1
"Ha?"
"Kau menyuruhku berjanji untuk tidak menyentuhmu, tapi bukan untuk melihatmu di balik hijab itu"
Ambar mengedipkan matanya berulang kali. Berusaha mengingat kalau dia memang tidak menyebutkan hal itu di syaratnya kemarin. Tapi ... apa dia benar-benar akan melepas hijabnya? Di depan cowok itu?
"Saya ... "
"Aku berhak melihatnya"
"Ha?"
"Aku berhak melihatmu tanpa sehelai benangpun"
"Apa?"
"Kau tidak menyebutkannya dalam syarat kemarin"
"Tapi itu bukan berarti"
"Aku berhak karena aku suamimu ... yang sah"
"Anda tidak bisa melakukan itu"
"Bisa"
Setelah berdebat agak lama, Ambar memegang erat baju dan hijabnya. Takut kalau cowok yang ada di depannya hilang kendali llau melakukan sesuatu padanya. Tapi ketakutannya tidak terjadi. Cowok itu memilih untuk berbaring di kasur dan membuka laptop. Sepertinya bekerja. Detak jantung Ambar berangsur berkurang dan tidak membuat dadanya sesak lagi. Dia memilih diam dan ikut berbaring di atas kasur. Membelakangi cowok yang terlihat masih bekerja itu.
Adhi kini menyesal telah menyetujui syarat yang diajukan wanita yang kini menjadi istrinya itu. Seharusnya dia tidak terburu-buru memutuskan hanya karena ingin segera menikahi Ambar. Dan sekarang dia hanya bisa memandangi tubuh Ambar dari belakang. Tubuh yang tertutup rapat dengan selimut juga hijab.
"Apa kau sudah tidur?" tanyanya pada Ambar tapi tidak dijawab.
Dan saat Adhi mendekat, terdengar suara mendengkur halus yang membuatnya kecewa berat. Dia tidak akan bisa apa-apa malam ini. Padahal ini adalah malam pertamanya sebagai seorang pengantin. Tapi ... mungkin ini yang terbaik. Adhi tidak ingin memaksa AMbar melakukan sesuatuyang tidak diinginkannya. Apalagi dengan perasaan yang masih tersangkut pada rasa bersalaah terhadap Feli.
Adhi kembali pada laptopnya dan mulai membalas semua file yang dikirim oleh Danial. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan dia merasakan sebuah tangan memeluk lengannya. Dia menoleh dan melihat ke arah wajah wanita yang sedang tertidur itu. Gaya tidurnya tidak berubah dari yang terakhir diingat oleh Adhi. Hijab wanita itu berputar dan hampir menutup wajahnya. Terpaksa dia harus melepas hijab itu dan memandang rambut hitam panjang milik Ambar yang terurai.
Bukankah rambut wanita itu pendek? Dalam dua tahun ternyata rambut itu telah memanjang dan membuat mata Adhi tidak bisa lepas darinya. Perlahan Adhi meletakkan leptopnya di samping ranjang dan tangannya bergerak membelai rambut Ambar. Dia kemudian menghirup harum rambut Ambar dan tidak sadar telah berada dekat sekali dengan wanita itu. Tidak ada jarak lagi antaranya dan istrinya. Bibir Ambar tampak menggoda dan Adhi segera bergerak mendekat. Belum sampai menyentuh bibir istrinya, Adhi teringat akan janjinya sendiri kemarin pagi.
"Seharusnya aku tidak berjanji apapun" sesalnya lalu berusaha keras mengangkat dirinya menjauh dari tubuh Ambar. Lebh baik dia bekerja hari ini dan semoga wanita itu dengan cepat melupakan semua syarat yang diajukan. Disaat itu, Adhi tidak akan menahan diri lagi.
__ADS_1