
Danial sedang bersiap dengan perlengkapan mendakinya lalu berhenti saat ada perempuan masuk ke dalam kamarnya. Selama berkenalan, bertunangan sampai sekarang, perempuan itu tidak pernah mau masuk ke dalam kamarnya. Alasannya beragam tapi Danial tidak pernah mempermasalahkannya.
"Sungguh kejutan"
"Danial"
"Apa yang kau butuhkan? Aku sudah membawa semua peralatan untuk kita" katanya llau berbalik, tidak ingin melihat wajah Feli yang semakin pucat.
Sejak bertemu dengan Ambar dia banyak berpikir. Dan akhirnya dia memutuskan sesuatu yang mungkin akan membuatnya hancur. Tapi ... seperti kata AMbar. Dia juga bukan hanya laki-laki yang mencintai Feli. Dia adalah Direktur perusahaan, pemegang banyak perusahan kecil lainnya termasuk milik ayah Feli. Jadi, dia lebih besar kalau dibandingkan luka yang akan diterimanya nanti.
"Aku ... ingin bicara"
Tapi tetap saja. Dia mencintai perempuan ini lama sekali. Meskipun awalnya dia hanya ingin merebut apa yang diuskai oleh Adhi, sekarang dia benar-benar menyukai Feli.
"Kita bicara sambil jalan saja"
"Tidak bisa. Aku harus ... mengatakannya sekarang"
"Sebaiknya kita pergi sekarang. Kalau tidak semua akan menunggu lebih lama" katanya lalu membawa tas dan melewati perempuan yang seakan ingin menangis itu. Jangan! Jangan lakukan ini padaku Feli! Atau aku tidak akan pernah melepasmu pergi.
Adhi melirik sekilas ke belakang dan merasa tidak nyaman. Wanita itu ... tersenyum. Seakan menyetujui apa yang akan dia lakukan berikutnya. Adhi ikut tersenyum dan mulai berpikir kalau ini adalah jalan terbaik untuknya dan juga semua orang. Sampai di depan hotel dekat danau yang termasuk salah satu rangkaian danau di Taman Nasional Lake District, semua teman termasuk Danial dan Feli sudah tiba lebih dulu. Adhi mencoba membantu Ambar untuk mengambil tasnya tapi tidak jadi. Wanita itu sudah mengambilnya sendiri tanpa perlu bantuannya.
"Apa yang kaubawa?" tanyanya lalu melihat mata Ambar.
"Air, camilan, buku, ponsel, ipad, baju ganti, payung, jas hujan ... semua" jawab wanita itu lalu berlalu mendahuluinya. Adhi menjulurkan tangannya dan menghentikan langkah Ambar.
"Kubawakan tasmu"
Wanita itu menggenggam erat tali tasnya lalu menjawab
"Tidak perlu. Saya bisa bawa sendiri" kata AMbar lalu berlari kecil menyusul Rea.
"Oh, ini kekasih Adhi? Kecil sekali" komentar teman Danial yang merupakan cucu pertama pemilik pabrik mobil keluarag Jerman itu.
"Yah, kecil sekali. Dan ... apa itu yang ada di kepalanya"
Adhi dengan sigap menampik tangan yang berusaha menyentuh penutup kepala Ambar.
"Jangan sentuh kekasihku!"
"Oppss. Sorry. Kau sudah tersihir oleh cinta rupanya"
"Urus dirimu sendiri. Jangan mengurus kekasihku"
"Okay" kata teman Danial lalu tertawa dengan yang lainnya. Adhi menoleh ke arah Ambar, berusaha memeriksa keadaan wanita itu. Tapi Ambar terlihat baik-baik saja.
Pendakian ke arah Danau Derwentwater akhirnya dimulai. Sengaja, Adhi pergi paling terakhir untuk menemani Ambar yang juga berada di barisan paling belakang.
__ADS_1
"Kau bisa memberikannya padaku kalau berat" katanya menyela percakapan Ambar dan Rea.
"Tidak perlu. Saya bisa"
"Kamu ngapain sih Dhi? Orang kita cuman jalan paling lama dua puluh menit" tambah Rea membela temannya.
Adhi menyerah dan melihat-lihat sekeliling. Suasana dan pemandangan yang selalu membuatnya rindu pada negara asalnya kini ada tepat di depan matanya. Secara tak sengaja, mata Adhi bertemu dengan Feli. Perempuan itu dari tadi terlihat seperti menangis tapi berusaha menahannya.
'Tenanglah cintaku. Tidak lama lagi aku akan membawamu bersamaku' katanya dalam hati lalu tersandung batu dan terjatuh ke depan.
"Sial!"
"Hahahaha. Lagian kamu ngapain sih Dhi" ejek Rea dan hampir semua teman-temannya dulu. Lalu sebuah tangan terulur ke arahnya. Tangan kecil yang kemudian disambutnya dengan senang hati.
"Tidak apa-apa?" Tanya Ambar lalu membersihkan lutut Adhi yang kotor. Dia merasa diperlakukan seperti anak kecil, tapi ... dia menyukainya.
"Tidak apa. Kau terkejut?"
Ambar mendongak melihat ke arahnya dan Adhi dapat melihat bibir bawah tipis itu sedikit bengkak. Pasti karena apa yang dilakukannya.
"Sedikit. Tapi ... bisakah Anda tidak melakukan ini? Sangat memalukan"
Apa? Adhi pikir wanita itu mengkhawatirkannya.
"Oh, aku mempermalukanmu?"
"Iya. Anda kan sudah tua, masa jatuh kayak anak kecil"
"Tetap saja Anda lebih tua" kata Ambar lalu menyentuh jaket Adhi dengan lembut. Wanita itu segera menarik tangannya saat Adhi menyadarinya.
"Lho mana Rea?" tanya wanita itu. Adhi melihat ke arah depan dan tidak menemukan siappaun.
"Kita tertinggal"
"Aduhh terus gimana?"
Ambar tampak bingung dan khawatir, lucu sekali.
"Aku sudah kenal daerah ini, jadi kita akan baik-baik saja"
"Tapi Anda kan sudah sepuluh tahun tidak kesini. Kali aja ada jalan yang pindah"
Adhi perlahan mulai khawatir kalau saja apa yang dikatakan Ambar benar. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat dan kemungkinan ada perubahan jalan yang dia tidak tahu. Dia berusaha menyingkirkan kekhawatirannya dan mulai melangkah ke depan.
"Ikuti aku. Aku yakin jalan yang kuambil benar"
Sepuluh menit kemudian, Adhi mulai merasa kalau keyakinannya benar. Dia melihat cermin besar yang terbentang di depannya. Juga beberapa temannya yang mulai mengarungi danau dengan perahu.
"Aku sudah katakan kalau aku ... " Adhi berhenti bicara karena Ambar tampak terpukau dengan pemandangan Derwentwater. Wanita itu membebaskan matanya untuk memandang ke seluruh penjuru danau dan menikmati semuanya.
__ADS_1
"Subhanallah"
Terdengar kata-kata itu diucapkan Ambar berulang kali. Adhi ikut diam di sebelah wanita itu dan mencoba merekam semua yang dilihatnya hari ini.
"Kalian dari mana aja? Ayo main perahu Mbar" kata Rea yang merusak suasana hening mereka. Rea segera menyeret Ambar dan mengajaknya ke perahu yang sudah dinaiki Feli. Ketiganya kemudian membawa perahu ke tengah danau dengan cepat, membuat Ambar tampak kikuk. pasti ini pertama kalinya wanita itu naik perahu seperti ini.
"Kau ... tertinggal"
Adhi menyadari kehadiran kakaknya dan mengangguk pelan.
"Kalian yang terlalu cepat"
"Harus, atau aku akan menyesal nanti"
"Apa?"
Adhi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan kakaknya, tapi laki-laki itu tetap berdiri di depannya dan melihat perahu yang dinaiki ketiga sahabat itu.
Ambar berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya di atas perahu dan sibuk membayangkan kalau dia tercebur nanti. Dia memakai jaket denim yang berat, bisa gawat kalau dia tenggelam. Dia tidak ingin kelihatan seperti perempuan yang lemah seperti ... Feli. Ambar lupa kalau sahabatnya itu sedang ada di depannya, memegang kayuh.
"Kenapa Mbar?" tanya Feli
"Gak, cuman kagok"
"Ayooo!!! Kita kelilingi danau ini" seru Rea dari belakang Ambar terdengar begitu menyeramkan. Dan akibat dari perbuatan Rea segera terasa. Segera setelah turun dari perahu, Ambar dan Feli merasa pusing dan muntah. Sedangkan Rea hanya bisa duduk dan bengong, menahan mual.
"Re, kamu sih!!" ujar Feli kesal
"Tunggu, aku juga pusing"
Ambar mengamati dua sahabatnya lalu tertawa. Feli juga mulai tertawa saat Ambar duduk di samping Rea. Mereka bertiga tertawa, menyalahkan perbuatan bodoh Rea.
"Untung aja kita gak kecebur" kata Ambar lalu menghapus air matanya yang keluar.
"Iya. Aku gak bisa bayangin kita keluar dari danau basah-basahan"
"Semuanya gara-gara kamu Re"
Sudah lama sekali, Ambar tidak merasakan kegembiraan seperti ini. Dia merindukan susana seperti ini. Dia merindukan kedua sahabatnya.
"Fel. Aku bukan pacar Pak Adhitama" aku Ambar tiba-tiba. Dia tidak mau lagi berbohong dan menyakiti hati sahabatnya.
"Apa??"
"Iya Re. Ambar bukan pacar Adhi"
"Tapi ... "
__ADS_1
"Fel, cowok itu sayang banget sama kamu. Apa kamu mau semuanya berakhir kayak gini? Kamu nikah sama orang lain?"
Sudah. Akhirnya, Ambar mengungkapkan semuanya. Tidak ada lagi beban dalam hati yang selama dua bulan ini harus ditanggung olehnya. Tidak ada lagi kebohongan yang akan dilakukannya. Dan yang lebih penting ... dia tidak akan lagi berada dekat dengan cowok yang membingungkan hatinya.