Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tujuh Puluh


__ADS_3

Adhi terkejut. Bisa dibilang sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ambar saat mereka bertemu. Wanita itu dengan berani memasukkan tangannya ke lengan Adhi. Dan Ambar melakukannya dengan sedikit malu-malu, seakan baru saja memutuskan untuk melakukan hal itu. Apa yang terjadi? Semalam tidak ada tanda-tanda bahwa Ambar akan melakukan sesuatu. Mereka juga tidak pernah membicarakan tentang masalah kontak fisik pada peraturan sandiwara di depan Feli. Apa wanita ini memang mulai menyukainya? Dan tidak tahan lagi menyembunyikan rasa suka itu. Sehingga di London ini, Ambar mulai menunjukkannya di depan semua orang. Perlahan sudut bibir Adhi naik tidak terkendali. Dia merasa hari ini akan menyenangkan.


"Bagaimana pendapatmu tentang London Ambar?" tanya ibu Adhi tanpa melihat ke arah putranya sama sekali. Dari kemarin, sebenarnya Adhi mendapatkan beberapa panggilan dari wanita yang melahirkannya itu. Tapi Adhi tidak ingin mengangkatnya. Dia masih memiliki rasa kesal karena selama sepuluh tahun ibunya itu tidak pernah menghubungi ataupun menemuinya secara langsung. Semuanya hanya kabar yang diutarakan oleh Danial.


"Sangat dingin" jawab wanita itu lalu menggetarkan bahunya sedikit. Adhi sengaja menjulurkan tangan untuk memegang bahu Ambar, dan wanita itu tidak menolaknya. Sama sekali tidak ada penolakan yang selalu diperlihatkan oleh Ambar seperti di Jakarta.


"Cih, apa kau mulai menunjukkan romansa disini sekarang?" tanya Danial membuat Adhi menarik kembali tangannya.


"Danial"


"Tenanglah. Adhi sepertinya tidak terganggu dengan itu. Iya kan? Sebenarnya berapa lama kalian menjalin hubungan?"


Adhi melihat ke arah Feli dan memperhatikan kalau wajah perempuan itu memereah. Apa Feli demam? Lalu dia beralih ke Danial yang masih menunggu jawaban.


"Baru saja. Kami sudah mengenal selama enam tahun tapi baru saja menjadi kekasih"


"Iya, tapi berapa lama? Karena kalian terlihat sangat dekat sekarang"


"Dua bulan" jawab Ambar mengejutkan semua orang, termasuk Adhi. Seharusnya wanita itu menjawab jangka waktu yang lebih lama lagi.


"Hanya dua bulan?"


"Iya"


"Kami memang baru bertemu kembali dua bulan lalu. Tapi kami segera meresmikan hubungan karena tidak bisa terpisah lagi" tambah Adhi ingin memperbaiki suasana yang menjadi kurang nyaman.


"Jadi kalian kenal sejak enam tahun lalu. Berpisah, lalu kembali dan menjadi sepasang kekasih?" tanya Danial lagi menginterogasi. Adhi kesal sekali kalau kakaknya itu melakukan semua ini. Seakan Danial ingin membuka rahasia yang ada di dalam hati masing-masing orang.


"Kami bertemu enam tahun lalu. Saat itu ... saya bertemu secara tidak sengaja dengan Adhi. Kami bertemu lagi beberapa kali sebelum hilang kontak sama sekali. Lalu dua bulan lalu, kami bertemu secara tidak sengaja. Dan memutuskan untuk menjalin hubungan secara serius" jawab Ambar menghentikan Danial bertanya lagi.

__ADS_1


Tapi ... ini pertama kalinya Adhi mendengar Ambar menyebut namanya. Wanita itu memang tidak menggunakan panggilan sayang, namun itu cukup membuat Adhi senang.


"Baguslah kalau kalian baru saja menjalin hubungan. Kalian bisa berpisah setelah ini" sela ayah Adhi merubah suasana sarapan yang sudah tenang.


"Lebih baik kau bersama Edrea yang memiliki latar belakang keluarga jelas" sambung ayahnya tidak peduli. Adhi melirik ke ayahnya untuk beberapa detik.Kini Adhi mengerti kenapa Rea diundang dalam makan pagi ini.


"Saya tidak menyukai putra Anda" kata Rea tidak peduli dengan tatapan ayah Adhi yang berubah kejam.


Adhi lalu menoleh untuk melihat keadaan Ambar, namun wanita itu terlihat baik-baik saja.


 


Ambar menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri setelah menerima ucapan merendahkan dari sang ayah keluarga Syahreza. Sebenarnya dia sangat mengerti kalau kehadirannya tidak diterima disini. Karena apa? Tentu saja karena dia hanyalah orang miskin untuk ukuran keluarga super luar biasa kaya ini. Dari hari pertama dia tahu hal itu. Tapi tetap saja, perkataan seperti itu menyakiti hatinya. Dia berusaha sangat keras selama ini bukan untuk direndahkan. Dan dia juga mendirikan usahanya sendiri, tanpa bantuan dari siapapun. Jadi, dia merasa agak sakit hati karena ucapan sang ayah.


"Aku akan senang sekali memiliki dua menantu dari keluarga yang hebat. Bukan dari keluarga yang tidak diri seperti itu" kata sang ayah lagi. kali ini menyinggung keluarga Ambar. Tentu saja hal itu membuatnya marah. Dia sama sekali tidak berhubungan dengan Bos Kenzo. Sama sekali. Dia hanya disini karena membantu Bos Kenzo mendapatkan istri yang sesuai dengan kriteria ayahnya.


"Sungguh, butuh seseorang dengan hati besar untuk bertemu dan bicara dengan Anda"


"Apa kau bilang?"


Suasana makan pagi yang awalnya tenang dan menyenangkan karena dilakukan di alam terbuka berubah menjadi lebih dingin lagi sekarang.


"Saya pikir Anda, sang pengusaha yang memulai semuanya dari nol bisa menghargai orang lain dengan lebih baik. Ternyata Anda sudah mulai tua dan pikun"


"Apa?"


Tidak ada yang berani menyela pertengkaran Ambar dan sang pemilik rumah. bahkan para putra yang kelihatan memiliki jabatan dan kedudukan lebih besar dari Ambar.


"Saya telah bekerja sejak kecil. Dan saya pikir Anda juga melakukan hal yang sama. Seharusnya Anda tahu kalau orang seperti kita tidak mudah menerima hinaan tentang keluarga seperti itu"

__ADS_1


Sang ayah diam. Tidak lagi berkata keras pada Ambar. Lalu dia melanjutkan makan pagi yang hanya terdiri dari telur dan beberapa potong buah serta roti itu. Rasa rindu pada Indonseia, bubur ayam dan pecel mulai muncul dalam hati Ambar.


"Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk mengakhiri sarapan" usaha sang ibu memecah keheningan. tapi tidak terlalu berhasil.


"Jadi kau bekerja dari kecil?"


Ambar menatap tegas sang ayah yang memiliki sosok kuat meskipun sudah tua itu.


"Iya"


"Apa pekerjaan orang tuamu?"


"Ayah saya supir dan ibu saya memiliki toko kelontong"


"Pekerjaan apa yang sudah kau lakukan sampai sekaang?"


"Mentor, pelayan restoran, bagian potong di pabrik tekstil, dan membuat souvenir, invitation, kotak hiasan, dekor pelaminan sederhana"


"Pekerjaan yang remeh"


"Iya, tapi cukup untuk saya bertahan hidup sampai sekarang"


"Kau harus belajar bisnis kalau ingin mendapat lebih banyak uang"


"Saya akan belajar"


"Bagus. Belajar dan berusahalah lebih keras demi keluargamu!"


"Baik. Saya akan melakukan hal itu"

__ADS_1


Hati Ambar lega sekarang. Dia tidak lagi merasa direndahkan oleh pengusaha kaya dan berkuasa ini lagi. Dia merasa bisa melindungi harga diri keluarganya, dan perasaan itu membuatnya senang sekali. Dia lalu melihat ke arah Bos Kenzo dan cowok itu tiba-tiba membelai kepalanya. Begitu pelan dan menenangkan bagi Ambar. Dia begitu merasa disayang oleh cowok yang tidak akan pernah menjadi miliknya itu.


__ADS_2