
Adhi menenggak kembali minuman beralkohol yang ada di tangannya. Dia belum cukup mabuk untuk bisa melupakan kalau dirinya telah menikah. Sedangkan wanita yang dicintainya telah pergi dari Bali. Bahkan tidak melihatnya saat menikmati pesta pernikahan. Tunggu saja, aku akan membuat hidupmu menderita, Ambar. Adhi merasakan dendam yang teramat besar dan membuat dadanya sesak. Kini dia memilih untuk pergi ke kamar dan menemukan Feli telah ada disana. Hanya memakai gaun tidur tipis yang menampakkan semua tubuhnya.
"Kamu mau mandi dulu atau ... "
Tanpa menjawab Adhi maju, mendekat ke arah Feli dan menindihnya di atas ranjang. Dia mulai mencium istrinya lalu menyadari kalau rasa yang dia harapkan bukanlah seperti ini. Dia masih ingat sekali bagaimana manisnya rasa bibir Ambar dan suara ******* manja wanita itu di telinganya. Dan yang sedang dirasakannya sekarang sangatlah berbeda.
Dia berhenti mencium Feli dan bangun dari ranjang.
"Sayang" kata Feli sepertinya bingung.
"Kepalaku sakit" alasan Adhi lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia berbaring di dalam bath-up dan tertidur. malam ini dia tidak ingin melakukan apapun selain tidur dan melupakan wanita yang dengan berani menolaknya dengan banyak alasan itu.
Pagi-pagi sekali, Adhi terbangun dari tidurnya. Kepalanya kini terasa sakit, mungkin karena minum terlalu banyak alkohol kemarin malam. Dia berusaha untuk keluar dari bath-up lalu merasakan kakinya terasa nyeri. Kenapa? Apa kakinya kambuh lagi? Adhi mengangkat celana yang meutupi kakinya dan terkejut. Pergelangan kakinya tidak terlihat karena bengkak. bagaimana bisa dia tidak menyadari hal ini kemarin? Dia ingin keluar dari kamar mandi dan memanggil dokter tapi tidak bisa menahan sakit. Akhirnya dia menghubungi Kenzo dengan ponsel yang ada di kantung kemejanya.
"Panggilkan dokter ke kamarku!"
"Bos? Kenapa telepon saya pagi-pagi begini?"
"Panggilkan dokter untukku!"
"Bos sudah menikah. Kenapa tidak menyuruh istri Bos untuk melakukan itu?"
Adhi terdiam. Dia lupa telah melakukan pernikahan dengan Feli kemarin dan sekarang berada di kamar yang sama dengan istrinya itu. Istri yang bahkan tidak dia sentuh karena mengingat Ambar.
"Lakukan perintahku atau kau akan kupecat!" kata Adhi lalu menutup telepon begitu saja. Dia kembali berbaring di dalam bath-up dan melihat ke arah langit Bali yang mulai terang. Apa yang sedang dilakukan wanita itu di jakarta? Apa Ambar sedang memikirkannya? Cemburu karena berpikir kalau dia melakukan malam pertama dengan Feli?
"Ha? Kenapa saya harus cemburu?"
Adhi menoleh ke arah kiri dan wanita itu ada di pinggir bath-up, sedang melihat ke arahnya.
"Kau"
"Saya adalah wanita pertama yang Anda sentuh, lalu kenapa saya harus cemburu?"
'Iya benar. Kau adalah wanita pertama yang pernah aku sentuh' kata Adhi dalam hati lalu mencoba untuk menyentuh pipi Ambar yang ada di depannya. Perlahan bayangan Ambar memudar dan menghilang, berganti dengan rasa pedih yang ada di dalam hatinya.
"Brengsek"
Dia tidak akan pernah membiarkan wanita itu hidup tenang. Adhi akan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan wanita itu sampai memohon dan berlutut di depannya.
__ADS_1
Tak lama Kenzo datang dengan dokter dan menggedor pintu kamar. Feli yang terkejut mengetahui keadaan suaminya segera membuka kamar mandi dan menemukan Adhi sedang melihat ke ruang kosong.
"Kenapa kamu gak bilang sayang?" tanya Feli tapi Adhi malas untuk menjawab.
"Lebih baik kita ke rumah sakit. Bengkaknya terlalu besar" kata dokter lalu bersama dengan Kenzo mengangkat tubuh Adhi yang bau alkohol ke atas ranjang. Feli perlahan menangis di sisi Adhi, merasa menyesal karena tidak tahu keadaan suaminya.
"Ini bukan salahmu" kata Adhi berusaha menenangkan istrinya.
Adhi dibawa ke rumah sakit sepuluh menit kemudian. Dan menerima vonis dokter agar dia beristirahat di atas ranjang selama satu bulan penuh. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan bisa berjalan lagi, untuk selamanya.
"Apa kau gila?" tanyanya pada dokter yang membacakan diagnosanya.
"Sayang" kata Feli berusaha menenangkan hatinya yang kesal. bagaimana bisa dia ada di atas ranjang selama satu bulan saat Adhi harus mulai memimpin perusahaan?
"Aku harus bekerja. Semuanya hanya omong kosong"
Adhi berusaha untuk turun dari ranjang meskipun dilarang oleh banyak orang dan merasakan sakit yang bisa membunuhnya lalu terjatuh.
"Kami sungguh-sungguh memikirkan yang terbaik untuk Anda Tuan. Bila Anda keberatan maka silahkan Anda mencari pendapat lainnya"
Sial, sepertinya dia tidak bisa berbuat apa-apa. terpaksa dia harus menundasemua rencana. Termasuk keinginannya membuat wanita itu menderita karena berani menolaknya.
"Kak Ambar semua pesenan ini barusan datang"
Tokonya juga semakin hari semakin ramai. Pemasaran lewat media sosial memang berhasil menggaet banyak pelanggan. Dan Ambar menjadi sangat senang. Senang karena dia memiliki banyak pikiran yang membuat patah hatinya sedikit terlupakan. Juga senang karena jumlah uang yang masuk ke dalam rekeningnya.
"Kalian simpen dulu di atas, nanti kalo mau ambil biar gampang"
"Iya kak"
"Terus gimana sama undangan yang kemarin dikerjain kak?"
"Harusnya udah ada yang ambil jadi disiapin aja. Aku pergi dulu ke pasar. kalo ada yang mau dibeli lagi selain di daftar ini kalian wa aja ya!"
"Kalo boleh sih mie ayam kak"
Ambar tersenyum, dia lupa kalau sekarang sudah waktunya makan siang.
"Kalian beli aja di depan, nanti aku yang bayar"
__ADS_1
"Horeeee. makasih kak"
Ambar segera masukĀ ke dalam mobilnya setelah memesan mie ayam untuk karyawannya lalu pergi ke pasar. Lalu sebuah telepon masuk sebelum dia masuk ke dalam pasar khusus kertas dan kerajinan.
"Assalamualaikum"
"Wallaikum salam"
Ambar merasa seperti mengenal suara yang didengarnya sekarang.
"Ini?"
"Aku ... Galih"
"Oh, ada apa ya mas?"
"Kamu sibuk ya?"
"Hmmm iya. Kenapa ya?"
"Kalo ada waktu, kamu bisa makan malam atau nonton?"
"Kayaknya gak bisa sekarang mas. Ambar sibuk banget"
"Oh. Iya kalo gitu"
"Iya"
Sebenarnya Ambar tidak sesibuk itu sampai harus menolak makan-makan atau nonton. hanya saja, dia belum ingin bertemu dengan laki-laki manapun sekarang. Dia hanya ingin bekerja dan bekerja sampai mencapai impiannya.
"Ya udah. Kalo gak sibuk, kamu bisa balas pesanku?" kata mas Galih mengingatkan kalau Ambar tidak membalas pesan laki-laki itu.
"Oh, iya mas"
"Ya sudah. Assalamualaikum"
"Wallaikum salam"
Maaf ya mas Galih,bukannya kamu kurang. Tapi aku yang sudah terlanjur kotor. kamu pasti bisa kenal perempuan yang lebih baik dari aku, kata Ambar dalam hati. Dia meletakkan ponsel di tas lalu melanjutkan perjalanan ke pasar. Tanpa ada perasaan yang mengganjal.
__ADS_1