
Danial memacu mobilnya dengan kencang. Mengetahui perempuan yang selama ini dia kejar setiap hari berlari ke laki-laki lain, khawatir pada laki-laki lain dan bukan dirinya. Membuatnya sangat kecewa dan sedih. Enam tahun, bukan waktu yang singkat untuknya merubah perasaan biasa menjadi cinta pada perempuan itu. Tapi, Feli lebih memilih Adhi, adiknya yang selalu mendapatkan apapun keinginannya itu. Tanpa berhenti, Danial sampai di kediaman keluarga Syahreza sebelum malam menjelang. Ibu dan ayahnya yang sedang berbincang di ruang tengah melihatnya masuk dan terkejut.
"Danial, apa yang terjadi?"
Dia tidak menjawab pertanyaan ibunya dan terus berjalan menuju kamarnya. Tanpa menyerah ibunya mengikuti langkah Danial yang cepat.
"Danial, sayang. Apa yang terjadi?"
Dia berhenti tepat di depan kamarnya lalu menoleh ke arah ibunya.
"Pernikahan ini tidak perlu diteruskan" katanya lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Dia tidak bergerak setelah itu. hanya berdiri dibalik pintu saat ibunya meminta penjelasan dari luar kamar.
Selalu saja seperti ini. Kenapa selalu saja berakhir seperti ini? pikir Danial lalu duduk di lantai dan meletakkan punggungnya di pintu.
Sejak kecil, dia selalu diperlakukan seperti layaknya penerus perusahaan. Tanggung jawab yang bahkan dia tidak kenal sudah diperkenalkan sejak dia masuk ke sekolah dasar. Sedangkan Adhi, adiknya yang lahir dua tahun setelah dia bebas dari apa yang namanya tanggung jawab. Adhi bebas melakukan apa saja yang diinginkannya. Berteman, berolahraga bahkan mencoba apa saja, Adhi bisa bebas melakukannya. Sedangkan dia hanya bisa bermimpi untuk bisa lepas dari tanggung jawab menjadi penerus ayahnya di perusahaan.
Bukannya tidak ingin meneruskan usaha keluarga, Danial hanya butuh sedikit kebebasan. Saat akhirnya dia menyukai seseorang, wanita itu ternyata hanya mengejar statusnya sebagai penerus perusahaan yang kaya. Awalnya dia tidak mempermasalahkannya dan menjalani hubungan dengan baik. Ayahnya yang mengetahui sifat asli kekasihnya mulai bergerak sesudah Danial mengatakan niat untuk menikah. Dan Adhi, adiknya itu menjadi kambing hitam ayahnya. Untuk mengusir satu-satunya wanita yang membuatnya bebas.
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya membuat Danial semakin marah. Adhi, adiknya itu diusir dari rumah oleh ayahnya. Itu berarti Adhi boleh melakukan apapun yang diinginkannya. Tanpa harus menanggung nama baik keluarga seperti dirinya. Meskipun tahu kalau apa yang dirasakannya pada adiknya itu salah sasaran, Danial mulai membuat Adhi gagal. Agar adiknya itu tahu kalau hidup tidaklah mudah. Semua kegagalan Adhi mebuatnya sedikit lebih baik. Sampai adiknya itu menyukai seorang perempuan dari negeri yang sama sekali tidak pernah diketahuinya.
Felisya.
Pertama melihat perempuan itu, Danial tidak merasakan apa-apa. Dia hanya memandang Feli sebagai perempuan dengan kecantikan biasa yang mampu membuat Adhi kehilangan akal. Tapi setelah enam tahun, perasaan biasa itu berubah. Dia mulai emmperhatikan perempuan itu melebihi dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah terjadi. Llau sekarang? Apa yang didapatnya dari ini? Tidak ada. Semua ini gara-agara teman Feli itu. Rencananya hancur semua karena wanita dengan penutup kepala yang lancang itu. Tapi ... wanita itu .... kelihatannya juga melakukan semua ini karena terpaksa. Karena tangis yang dilihat Danial di mata Ambar menandakan kalau wanita itu mencintai Adhi. Bodoh sekali. Bodoh sekali. Sama seperti drinya. Kenapa juga dia menjadi sebodoh ini hanya karena perempuan?
Danial bangun dari duduknya lalu berganti pakaian. Tidak akan ada yang berubah meskipun dia meratapi nasibnya sekarang. yang terpenting adalah membatalkan semuanya yang sudah direncanakan. Dia tidak mungkin menikah dengan perempuan yang memilih laki-laki lain daripada dirinya. Danial turun ke bawah dan menjumpai ayah dan ibunya.
"Apa maksudmu tidak melanjutkan pernikahan?" tanya ayahnya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Aku membatalkan pernikahan ini"
"Tapi Danial. Semuanya sudah berjalan sampai seperti ini dan ... "
"Aku akan mengurus semuanya. Termasuk para tamu yang terlanjur diundang"
"Apa alasanmu? Apa kau pikir membatalkan pernikahan secara tiba-tiba seperti ini baik di mata orang?"
Ayahnya selalu menekankan menjaga nama baik keluarga tanpa memikirkan perasaan keluarganya. Danial sudah muak dengan hal itu.
"Aku membatalkannnya. Urusan perusahaan dan nama baik keluarga adalah tanggung jawabku. Ayah tidak perlu mengkhawatirkannya" katanya lalu pergi dari rumah. Menuju perusahaan yang sangat disayangi oleh ayahnya itu.
"Maaf, maaf" kata Feli terus menerus dengan tetap meneteskan air mata di pipinya.
"Jangan minta maaf lagi. Mari kita pergi sekarang"
Mereka masih ada di pondok sedangkan semua teman yang mengelilingi tadi sudah pergi semuanya. Termasuk dua sahabat Feli yang Adhi tidak tahu keberadaannya itu.
"Tapi, kau harus pergi ke rumah sakit dulu"
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja"
Adhi bangkit dan merasakan sakit di perut dan kakinya. Sial. Kakinya yang baru saja sembuh dari kecelakaan rupanya tidak luput dari tendangan Danial tadi. Tapi dia bisa menahannya. karena Feli kini bersamanya.
Keduanya keluar dari pondok saat hujan telah berakhir. Matahari senja mulai bersinar dan menyapu pepohonan dengan sinar kemerahannya. Adhi berjalan tertatih melalui jalan setapak dengan Feli di pelukannya. Lalu dia teringat seseorang dan berhenti di tengah jalan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Feli heran.
Adhi juga tidak tahu kenapa dia berhenti, tapi tubuhnya bereaksi secara natural untuk melihat sekeliling. Mencari seseorang yang mengganggu di hatinya. Lalu dia tersadar kalau wanita itu kini bukan lagi urusannya yang terpenting. Karena perempuan yang ada di pelukannya adalah yang paling berharga sekarang.
"Tidak ada apa-apa"
"Kenapa Rea sama Ambar pergi ya?Padahal Aku pengen seneng sama-sama." komentar Feli tiba-tiba.
"Iya, kemana mereka" tanya Adhi.
"Katanya balik ke London. Gak mau ganggu kita berdua"
Tidak tahu kenapa, Adhi mulai merasa kecewa dengan kabar yang baru saja dia dengar dari Feli.
"Biar aku saja yang menyetir, aku takut ... "
"Tidak apa. Aku baik-baik saja"
Adhi segera membawa Feli untuk pulang ke apartemennya di London. Kini, dia harus menghadapi apapun yang menunggu mereka setelah keputusan ini.Dia tahu pasti kalau ayahnya serta orang tua Feli tidak akan tinggal diam akan masalah ini. Semoga saja Danial tidak memperbesar masalah dan membuat semuanya menjadi semakin rumit. Sampai di apartemen, Adhi duduk di sofa lalu melihat Feli menyusuri tempat tinggalnya itu. Saat kekasihnya itu pergi melihat kamar, Adhi segera menghubungi Kenzo. Memerintahkan anak buahnya itu untuk mempersiapkan semua surat tanah yang dimilikinya.
Meskipun terkejut, tapi Kenzo yang baru bangun dari tidurnya itu menurut dan melakukan semua perintah Adhi. Kini dia tinggal berharap, kalau keputusannya ini tidak membuat Adhi kembali terpuruk. Seperti enam tahun yang lalu. Sebuah suara pintu terbuka dengan agak aneh, membuatnya melihat ke arah kamar. Disana ... ada Feli dengan hanya memakai pakaian adalamnya saja. Berdiri dengan canggung dan malu-malu. Perempuan itu mendekat ke arah Adhi lalu mulai menyentuhnya. Sentuhan yang ditunggunya tapi ... kenapa Adhi tidak menyukainya? Sebelum Feli melepas pakaian dalam, Adhi menghentikan aksi kekasihnya.
"Ini masih terlalu awal. Kita punya banyak waktu setelah ini"
"Tapi ... "
"Aku mencintaimu. Dan kita bisa melakukannya kapanpun. Hanya tidak sekarang" kata Adhi tegas lalu memeluk tubuh rapuh Feli.
__ADS_1