
Berada dalam satu mobil dengan cowok yang merendahkan dirinya, sangat menyiksa untuk Ambar. Untunglah mereka tidak bicara sama sekali sampai AMbar ada di depan rumah Rea.
"Sepertinya Rea masih sibuk di kantor, tapi aku tidak punya waktu untuk menunggu"
Dengan kata lain, cowok itu ingin pergi meninggalkan Ambar sendiri disini. Di depan rumah Rea.
"Anda pergi saja"
"Kau tidak mengenal kota ini"
"Saya akan menunggu Rea disini"
"Terserah kau saja" kata cowok itu lalu benar-benar pergi dari depan rumah Rea. Dan Ambar kini sendirian duduk di tangga depan pintu Rea. Dia tidak ingin berpikir apa-apa sekarang. Ambar hanya ingin berjalan, berjalan sampai lelah lalu menghubungiorang tuanya. Terutama ibunya. Dia mendadak rindu sekali pada ibunya.
Ambar mulai melihat peta dan menjelajahi jalan dengan jarinya. Rumah Rea terletak di daerah Notting Hill. Dekat dengan Kensington Palace dan Holland Park. Apa sebaiknya dia pergi kesana? Sekalian menyusuri berbagai kafe dan pusat perbelanjaan yang nampak semarak di sepanjang jalan. Berbekal ponsel yang terus menampakkan peta, Ambar memulai petualangannya. Dia kagum sekali dengan kebersihan jalan yang dilaluinya. Juga dengan berbagai pucuk daun serta bunga yang mulai bermunculan. Seminggu lagi, kata Rea musim semi akan dimulai. Dan saat itu pasti sangat indah sekali. Sayang Ambar harus pulang di waktu itu. Mungkin dia akan pulang lebih cepat lagi. Karena tidak sanggup berada disini lebih lama lagi. Toh Feli sudah dikelilingi teman dan orang-orang yang mencintai dirinya.
Sampai di taman Holland, dia menemukan kursi kayu panjang yang ada di bawah naungan pohon besar dan rindang. Tentu saja dia duduk disana dan menemukan beberapa tanaman bunga yang tumbuh menghijau di depannya. Sungguh menenangkan. Berada di taman dimana tidak ada yang mengenalmu. Sinar matahari menerpa wajah dan itu tidak membuat gerah. Ambar menikmati waktu sendirinya sampai ponselnya berdering.
"Assalamualaikum"
"Ambar"
Ambar terhenyak, dia mendengar suara laki-laki yang dikenalnya. Yang dibuat perumpamaan kalau Ambar sebanding dengan pekerja miskin oleh cowok itu.
"Ken"
"Gimana London? Duh aku lupa telpon kamu kemarin. Bos ninggal kerjaan banyak banget"
"Disini ... gak ada siapa-siapa"
"Hah?"
"Iya, mending di Jakarta. Rame"
"Kamu kenapa?"
"Eh, kenapa emangnya?"
"Suaramu. Kamu nangis?"
Ambar tersenyum. Bisa-bisanya Kenzo mengetahui bagaimana perasaannya lewat telepon.
"Gak. Kenapa mesti nangis? Aku kan ... setrong. Eh, disana kan masih jam 3 pagi, kok kamu masih bangun?"
"Iya nih. Aku baru pulang dari klub. Sekarang pengen tidur, tapi telpon kamu dulu. Kangen"
"Hueeekkk. Jijik banget dengernya"
"Kenapa? kan boleh kangen sama calon istri sendiri"
Calon istri? Ambar lupa tentang lamaran Kenzowaktu itu.
"Emangnya aku mau nerima?"
__ADS_1
"Yah, siapa tahu kamu khilaf terus bilang iya ke aku"
Lagi-lagi Ambar tersenyum. Dia tidak tahan dengan pembicaraan seperti ini tapi, Kenzo membuatnya sangat santai dan tidak mengingat lagi apa yang baru saja terjadi.
"Gak mungkin aku khilaf"
"Tapi cincinnya masih di kamu kan?"
"Ambar merogoh kantung di dalam tasnya dan merasakan sesuatu berbentuk lingkaran itu.
"Masih"
"Nah, berarti aku ada kesempatan kan?"
"Udah ah"
"Mbar"
"Hem?"
"Ayahku sakit"
"Innalilahi"
"Hoi, ayahku belum mati"
"Bukan gitu. Cuman. Kok bisa?"
"Gak tahu. Mau keluar malah darah tinggi"
"Gak. Ibu udah mulai siapin alat-alat kedokteran sama obat buat minggu depan"
"Tinggal bentar lagi ya" kata Ambar bersyukur. Tidak lama lagi, lebih tepatnya tujuh hari lagi, akhirnya ayah Kenzo yang ditahan karena korupsi dana sekolah itu akan dibebaskan. Dia ikut senang dengan apa yang akan dialami temannya.
"Iya. Kamu pasti udah pulang kan waktu itu?"
"Udah. Insya Allah"
"Aku kan mau pamer calon istri ke ayah"
"Diiihhh jijik ah"
"Eh, ini beneran. Nanti kamu jadi kepaksa nikah sama aku"
Sungguh, Ambar ingin sekali tertawa keras kalau saja dia tidak di negeri orang sekarang.
"Nanti aku kabur"
"Coba aja"
"Udah ah. Aku mau nikmatin pemandangan nih. Kayak di film-film"
"Aku video call ya"
__ADS_1
Kenzo mengubah panggilan menjadi VC dan Ambar menunjukkan taman yang ada di depannya.
"Keren kan?"
"Iya. Ya udah, aku tenang kalo lihat kamu gak apa-apa. Telpon aku kapanpun. Dan ... kalo kamu kesepian, coba aja cincin itu di jari. pasti gak kesepian lagi"
"Wallaikum salam Ken" kata Ambar lalu menutup telepon dan Kenzo. Tapi dia mengeluarkan cincin yang diberikan oleh Kenzo dari dalam tasnya. Ambar memperhatikan uliran yang menghias cincin emas itu lalu dengan sengaja mencoba di jari manisnya. Cukup, pas. Bagus juga. Apa dia nerima lamaran Kenzo aja? Dengan begitu, masalah pernikahannya akan terselesaikan. Juga ... dia tidak akan pernah merasakan sakit karena dihina sebagai pekerja rendahan.
Lama sekali dia membiarkan cincin itu melingkari jari manisnya. Rasanya memang sedikit aneh karena dia tidak pernah memakai perhiasan sebelumnya. Ambar lebih memilih memakai anting dan bukan perhiasan lengkap seperti orang lainnya. Setelah agak lebih lama lagi, dia melepas cincin itu dan menyimpannya kembali di dalam tas. Kini, dia menghubungi Rea, bertanya apa sahabatnya itu tidak sibuk.
"Kamu nunggu terus disana?"
"Iya"
"Aku kirimin kode rumah. kamu masuk aja ya. Tapi, orang tua aku bakal pulang malam ini, gak apa ya"
Ambar berpikir dengan cepat lalu ...
"Kalo gitu ku pindah ke hotel aja ya. Gak enak sama ortu kamu"
"Eh, kenapa? gak apa lagi"
"Aku pengen ngerasaain tinggal di hotel soalnya"
Karena Ambar terus bersikeras, akhirnya Rea menyetujui kepindahannya ke hotel.
"Tapi aku belum bisa pulang nih"
"Tenang aja. Aku juga lama beres-beresnya"
"Oke"
Ambar bangkit dari kursi taman yang menemaninya selama satu jam setengah lalu pergi kembali menyusuri jalan untuk ke rumah Rea.
Sampai disana ternyata dia menemukan seseorang sedang tidak ingin ditemuinya.
"Dari mana saja kau?"
"Ada urusan apa Anda kemari?"
"Aku kembali lagi karena kupikir kau akan hilang"
"Saya bukan anak kecil"
"Apa yang akanj kau lakukan sekarang?"
"Masuk dan mengemasi barang"
"Mau kemana kau?"
"Bisakah Anda pergi sekarang? Saya baik-baik saja"
"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya tidak ingin Feli kehilangan sahabatnya di hari pentingnya"
__ADS_1
Ambar menekan kode kunci rumah Rea dan pintu akhirnya terbuka. Dia berbalik dan melihat wajah Bos Kenzo dan teringat kalau cowok itu telah menyakiti hatinya.
"Kalau begitu katakan pada Feli, bahwa saya baik-baik saja. Terima kasih" katanya lalu menutup pintu dan pergi ke kamarnya. Dia harus segera mengemasi barang dan memesan hotel yang sekiranya dekat dari sini.