Second Lead Fate

Second Lead Fate
Enam Puluh Satu


__ADS_3

Adhi menatap wanita yang sedang memainkan gelas berisi es kopi di depannya. Wanita  itu sejak tadi terus saja membicarakan Feli dan akhirnya membuat Adhi mengatakan rencananya di London. Tapi, kenapa kelihatannya wanita itu sedih setiap kali Adhi emmbicarakan masalah feli? Ambar seringkali menunduk dan menyembunyikan matanya dari Adhi. Apakah mungkin? Adhi menepis pikirannya yang aneh sekali lagi. Bagaimana bisa wanita itu bermimpi untuk menyukainya? Level Ambar adalah Kenzo dan bukan Bos-nya, pikirnya lalu membusungkan dada. Merasa sombong.


"Tapi, apa benar Anda bisa melakukan sesuatu?"


Tiba-tiba saja Ambar menanyakan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Kenapa dia merasa diremehkan?


"Apa maksudmu?"


"Kata Rea, keluarga Anda termasuk menakutkan. Dan sebagai pemimpin baru keluarga, bukankah itu membuat Danial lebih menakutkan?"


"Menakutkan? Kau pikir keluargaku vampir?"


"Bukan, hanya saja dengan kekuasaan dan uang berlimpah pasti membuat seseorang menjadi lebih ... mengerikan"


Adhi benar-benar diremehkan oleh wanita ini. Adhi pikir Ambar akan emndukungnya, ternyata tidak percaya dengan kemampuannya sama sekali.


"Aku juga kaya dan ... " Belum selesai dia menyombongkan diri, Ambar berdiri dari kursinya.


"Saya harus kembali bekerja. Ini sudah hampir Ashar"


"Tunggu, aku belum selesai bicara masalah di London"


"Anda atur saja sendiri. Saya masih sibuk. Jangan lupa mengirim pesan saja"


Wanita itu keluar dari kedai kopi dengan berlari, seakan ingin sekali pergi dari hadapan Adhi secepatnya.


"Sial" umpat Adhi lalu menyusul Ambar pergi dari kedai kopi.


Dia memasukkan tangan di kantong dan merasakan sesuatu. Cincin. Kenapa juga dia lupa memberikan cincin ini pada wanita itu? Sungguh pelupa. Dia terlalu larut membicarakan masalah Feli dan rencananya di London nanti. Apa yang harus dilakukannnya? Apakah dia harus mendatangi Ambar dan memberikan cincin ini atau ... . Adhi memutuskan untuk menyimpan cincin itu untuk sementara waktu. Sampai dia memiliki kesempatan untuk mengembalikannya pada Ambar.


 


Hari masih terang saat Ambar kembali ke tokonya dan bekerja kembali. Dia ingin sekali melupakan masalah yang sedang dibicarakan Bos Kenzo tapi tidak bisa. Pengungkapan cinta cowok itu pada Feli selalu terngiang di telinganya. Dadanya sakit ... tidak ... hatinyalah yang terasa sakit. Rasanya seperti tidak bisa bernapas dengan lega. Seperti ada sesuatu yang menindih dadanya dan itu tidak bisa hilang dengan mudah.


"Kak, kenapa?" tanya pegawainya yang melihat Ambar memegang dadanya.


"Tidak. Tidak apa"


"Tiap kali keluar sama bule itu, kenapa kak Ambar pulangnya jalan kaki?"


"Eh, masa'?"


"Iya. Aku perhatiin kakak juga jarang ngomong"


"Ah, pasti cuma perasaanmu aja"


"Tapi kakak emang gak ada hubungan sama bule itu kan?"


"Ya Gak lah. mana mungkin lah" katanya mengelak.


"Ya udah kalo gitu. Soalnya kakak juga bakal pergi ke London sama orang itu kan? Hti-hati kepincut lho kak"

__ADS_1


Terlambat. Dia memang sudah kepincut sama tuh cowok.


"Gak mungkin. Aku tahu batasannya" jawab Ambar kini dengan serius lalu kembali bekerja.


Dua hari berlalu dengan cepat, dan kini saatnya Ambar berangkat ke London. Rea menghubunginya tadi pagi untuk mengingatkan Ambar pada jam keberangkatannya. Saat itu Ambar sempat mengatkan rencana Bos Kenzo pada Rea.


"Benarkah? jadi Adhi punya rencana?"


"Iya, kayaknya gitu"


"Masalah jaman dulu ya? pasti rahasia deh. Aku soalnya gak pernah denger tuh"


"Yang penting cowok itu emang beneran cinta sama Feli kan" hati Ambar sakit lagi mendengar dirinya sendiri bicara.


"Iya sih. Tapi Feli ... "


"Kenapa?"


"Kayaknya Feli udah nyerah. Sejak datang kesini dua hari lalu, Feli kelihatannya udah nyerah sama cintanya"


"Kok gitu. Terus gimana?"


"nanti kita ngomong aja sama-sama, sekalian buka rahasia kalo kamu sama Adhi sebenernya gak pacaran"


"Oh iya. bener"


Ambar merasa lega sekarang. Feli memiliki kesempatan besar untuk bisa hidup bahagia dengan cintanya. Meskipun Ambar juga tidak tahu bagaimana caranya Bos Kenzo membuat kakaknya mundur dari pernikahan. Dia mengakhiri teleponnya dengan Rea setelah melihat jam di atas meja.


"Oke. Aku tunggu di London ya. Besok kujemput"


"Oke oke" Ambar menutup teleponnya dan segera memeriksa isii tasnya lagi.


"Udah siap semua?" tanya ibunya yang baru datang lalu memeriksa sekali lagi isi koper Ambar.


"Udah Bu kayaknya"


"Sikat gigi, pakaian dalam, alat sholat?"


"Udah semua"


"Kaos kaki"


"Udah"


Ambar menutup koper dan mengangkatnya ke bawah. Ayahnya ada disana dan melihat Ambar tanpa berkata apapun. Sejak Ambar menolak untuk dijodohkan, ayahnya sama sekali tidak pernah bicara lagi. Seperti merajuk, tapi Ambar tidak ingin mengindahkan hal itu. Dia memang belum ingin menikah dan juga tidak ingin dipaksa. Biarkan saja nanti kalau memang sudah waktunya. Jodoh yang terbaik untuknya akan datang begitu saja.


"Jangan sampai ada yang lupa"


Ambar berhenti mendorong kopernya karena mendengar suara ayahnya.


"Iya Pak"

__ADS_1


"Ati-ati naruh duit!"


"Iya"


Ambar tersenyum, merasa senang karena ayahnya mau bicara padanya. Meskipun bentuknya adalah nasehat.


Akhirnya dia bisa pergi dengan lega. Ambar berangkat ke bandara dengan ojek online karena tidak ingin ayah ibunya tahu kalau sebenarnya dia tidak berangkat sendiri ke London. Ada seseorang yang sudah menunggunya di Soekarno-Hatta.Setelah melewati jalanan macet, dia sampai di bandara dan mulai mencari dimana tempatnya harus boarding. Disaat dia sedang sibuk mencari, ponselnya berdering.


"Halo"


"Dimana kau?"


"Saya sudah di Soehat. lagi cari tempat ... "


"Aku bisa melihatmu dari sini. Diam saja disana dan tunggu aku"


"Oh, iya"


Ambar meletakkan ponsel di tasnya lalu melihat-lihat sekitar. Tak lama Bos Kenzo muncul dengan kaos yang ditutup jas. Sangat cocok dipakai oleh orang sepertinya. Tinggi dan ... . Ambar berhenti berkomentar dalam hati, takut melanggar janjinya sendiri untuk menghapus perasaannya.


"Ayo kita pergi"


"Saya bisa bawa sendiri kopernya"


Cowok itu tidak mendengarkan dan membawa koper Ambar pergi. Terpaksa dia mengikuti jalan cowok itu ke ruang tunggu. Dan terkejutlah dia saat mengetahui bahwa tempat tunggu yang ada di depannya adalah untuk penumpang bisnis.


"Apa kita akan naik kelas bisnis?"


"Iya"


"Oh, Anda tidak bilang"


"Apa ada yang salah?"


"Nggak"


Hanya saja, Ambar hampir pingsan saat mencari tahu daftar harga tiket Jakarta-London di internet. Apalagi tiket kelas bisnis, sungguh mencekik leher beda harganya.


Ambar duduk tepat di sebelah Bos Kenzo dan kagum dengan bagaimana beruntungnya dia sekarang. Mungkin pergi bersama dengan cowok ini tidak begitu buruk. Buktinya dia bisa mendapatkan fasilitas semewah ini. Sungguh menyenangkan, pikir Ambar lalau tersenyum. Perjalanan delapan belas jam dengan satu kali transit di Doha-Turki dimulai juga. Awalnya Ambar khawatir karena belum pernah berada di dalam pesawat untuk waktu selama itu. Tapi dua jam kemudian, dia mulai terbiasa.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Bos Kenzo.


"Saya hanya ingin mencari ide untuk souvenir baru"


"Apa kau juga mengurus pemasarannya?"


"Iya"


"Kalau begitu, apa gunanya pegawaimu?"


"Tidur"

__ADS_1


Ambar tidak ingin bicara lagi dan tenggelam dalam pekerjaannya. Di mulai membuat rancangan yang ada di kepalanya dan menggambarnya di memo. Dia begitu serius sampai tidak tahu kalau cowok yang duduk di sebelahnya memperhatikan sejak tadi.


__ADS_2