Second Lead Fate

Second Lead Fate
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Ambar bangun dengan suasana hati yang bagus sekali. Dia sholat subuh bersama ibunya. Memasak sarapan yang dilakukannya jarang-jarang lalu berangkat kerja. Ke toko souvenir kecil di pinggir jalan kota besar ini. Dia menyapa dua pegawainya yang bekerja keras tanpa henti sepertinya.  Sepertinya hari ini akan sangat indah. Masalah dengan calon adik ipar Feli selesai. Kotak souvenir pesanan sahabatnya itu juga akan segera rampung akhir minggu ini. Pesanan dari orang lain juga tidak henti masuk ke dalam laman website dan instagram toko. Sungguh menyenangkan menjadi dirinya yang sederhana tapi bahagia.


Itulah yang terjadi setidaknya sampai jam pulang datang.


"Aku ingin makan daging bakar. Apa kalian mau?" tawar Ambar pada kedua pegawainya.


"Wahhh, mau lah kak"


"Oke. Ayo pergi!!"


Ambar segera menjalankan mobilnya beserta dua pegawai di dalamnya ke sebuah restoran bernuansa Korea Selatan. Mereka berbincang tentang masalah selain pekerjaan sambil menikmati makan malam. Saat Ambar sedang menikmati daging pangganya yang baru matang, ponselnya bergetar tanpa henti. Sebuah nomor asing yang tidak dikenalnya muncul di laya ponselnya. Tentu saja Ambar tidak mengangkatnya, mengira orang yang menghubunginya akan mengirim pesan. Tapi tidak. Nomor itu terus saja menghubunginya tanpa henti, sampai Ambar merasa terganggu. Akhirnya dia mengangkat telepon pengganggu itu.


"Assalamualaikum" sapanya dan dibalas dengan sebuah teriakan.


"KAU DIMANA???" AMbar menjauhkan ponsel karenamerasakan sakit di telinganya gara-gara teriakan orang yang tidak dikenalnya itu.


"Ini siapa ya?"


"Sebaiknya kau segera kemari"


"Maaf, tapi ini siapa ya? Apa Bapak ingin memesan sesuatu?"


"Cepat datang ke rumah sakit atau aku akan menghancurkan toko kecilmu itu"


Belum sempat Ambar bertanya lagi, orang yang menghubunginya menutup telepon begitu saja. Rumah sakit? Siapa yang menyuruhnya datang ke rumah sakit? Kenal juga tidak. Ambar tidak memikirkan telepon yang dikiranya usil saja itu dan kembali makan. Tak sampai lima menit, ponselnya kembali berdering dari nomor yang sama.


"Asslamualaikum"


"Apa kau sudah sampai di rumah sakit?"


"Bapak ini siapa ya? Kok menyuruh saya terus ke rumah sakit? pake ngancem lagi"


"Aku Adhi. Adhitama Elvan Syahreza. Datang kemari sekarang juga!!"


"Kenapa?"


"Apa?"


"Untuk apa saya harus ke rumah sakit lagi? Bukankah Anda yang mengatakan saya tidak sesuai untuk dijadikan ..."


Ambar berhenti bicara karena dua pegawainya mulai mendengarkannya.


"Aku ... membatalkannya"


"Tidak bisa dibatalkan"

__ADS_1


"Datanglah kemari sekarang juga atau aku akan ... "


Sebelum cowok bule itu selesai bicara, Ambar memotongnya karena kesal.


"Maaf, Tapi suara Anda tidak terdengar. Halo?? Halo???" kata Ambar lalu memutus telepon begitu saja.


"Siapa kak?" tanya pegawainya.


"Hanya orang kaya yang sombong" jawb Ambar lalu melanjutkan makan malamnya yang tertunda selama beberapa menit karena cowok di rumah sakit itu. Untuk apa sebenarnya cowok itu memanggilnya lagi? Ambar tidak ingin tahu. Lagipula, itu bukan urusannya.


 


Adhi menatap ponselnya dengan marah. Berulang kali dia mencoba menghubungi wanita yang merupakan teman Kenzo, tapi tidak pernah diangkat. Bahkan wanita itu berpura-pura ada gangguan pada teleponnya.


"Sial" umpat Adhi lalu mencoba turun dari ranjangnya. Tentu saja hal itu tidak mungkin dilakukan karena tubuhnya masih lemah karena kecelakaan lusa kemarin. Dan lagi, gips di kakinya menghalanginya melakukan gerakan yang mendadak. jailah, dia mengumpat lagi dan membetulkan duduknya. Kemudian, Adhi mulai berpikir. Bagaimana dia bisa melewati apa yang akan terjadi dengan tenang.


Terlambat. Secepat apapun dia berpikir, pintu kamarnya telah terbuka. Dua dari empat orang yang paling tidak ingin dia temui di dunia ini masuk ke dalam kamar dan melihatnya dengan tatapan datar.


"You really messed up" komentar laki-laki yang wajahnya miripo dengan Adhi, hanya sedikit lebih keras di rahang.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya tidak hanya pada laki-laki itu tapi juga pada perempuan yang terus menunduk jauh di belakang.


"Danial segera terbang kemari setelah mendengar kabar kecelakaanmu Adhi"


Jawaban Feli seakan menandakan Danial, kakaknya itu peduli padanya. Padahal, mereka tidak pernah bertemu selama lebih dari enam tahun.


Adhi menatap tajam ke kakaknya yang mengeluarkan komentar tak berperasaan itu. Sebenarnya, Adhi terbiasa mendengar semua itu, hanya saja saat ini dia tidak bisa bergerak dan memukul kakaknya. Kalau saja kaki dan tangannya bebas, dia pasti bisa meninggalkan beberapa memar di wajah yang dibanggakan oleh Danial itu.


"Pergilah!!"


"Kenapa? Bukankah kau merasa kesepian berada di tempat seperti ini sendirian? Atau kau memang biasa sendiri?"


"Danial" Feli mencoba untuk menahan Danial untuk tidak berkomentar lagi, namun percuma. Setiap bertemu, yang dilakukan Danial adalah menekan dan merendahkan Adhi.


"Aku tidak akan sendirian sekarang" jawab Adhi mengejutkan dua orang di depannya.


"Hoo. Kenapa? Apa karena kau memiliki kekasih yang memiliki agama lain itu?"


Adhi menatap lurus ke Feli. Dia sudah menduga perempuan itu akan menceritakan keberadaan Ambar pada keluarganya di London.


"Aku mencintainya" kata Adhi lalu membuang muka ke arah jendela.


"Gila. Kau sudah gila"


"Wanitaku urusanku"

__ADS_1


Ada keheningan sejenak setelah Adhi berkata seperti itu,


"Ambar perempuan yang baik. Dia pekerja keras dan pasti cocok denganmu" ujar Feli mengiris hati Adhi yang sudah hampir hancur.


"Kau adalah wanitaku. Seandainya saja kau memilihku" balas Adhi dalam hati. Sesuatu yang tidak akan pernah dia utarakan karena Feli akan segera menjadi kakak iparnya.


"Tapi dimana dia?" tanya Danial tiba-tiba, menyadarkan Adhi dari lamunannya


"Danial"


"Wanitamu ternyata juga tidak peduli denganmu. Atau ... jangan-jangan kau hanya mengarangnya?"


"Danial, lets go"


Dasar brengsek. Wanita itu juga, seharussnya datang saat dia meintanya. Kalau seperti ini, apa yang harus dikatakan oleh Adhi?


 


Selesai mengantar pegawainya pulang, Ambar sendirian di dalam mobil dalam perjalanannya pulang. Dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal. Apa karena dia melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Bos Kenzo? Apa mungkin Bos Kenzo memiliki masalah dengan hasil pemeriksaan dan tidak memiliki seseorang untuk dihubungi? Bodoh sekali. Ambar bukan keluarga maupun teman dekat cowok itu. Mustahil Bos Kenzo mwenghubunginya untuk masalah itu. Lalu, apa alasan cowok yang sudah menganggap Ambar tidak selevel dengan Feli itu menghubunginya?


Merasa tidak tenang, Ambar memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia berdiri ccukup lama di depan kamar VVIP itu karena ragu. Setelah menetapkan hati dia mengetuk pintu dan membukanya. Wah, ternyata ... ada orang lain di dalam kamar. Feli dan seseorang yang memiliki wajah dan sosok yang mirip dengan Bos Kenzo. Apa orang ini?


"Ambar!" seru Feli seperti senang bertemu dengannya.


"Feli, aku gak tau kamu disini"


Kalau tahu, Ambar tidak akan pernah menginjakkan kaki ke kamar ini lagi. Mendadak, lehernya terasa dingin seperti ada hal buruk yang akan terjadi.


"Sayang. Apa pekerjanmu sudah selesai?"


Ambar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Cowok bule yang sedang berbaring di atas ranjang itu ... memanggilnya apa? Ambar butuh waktu untuk menenangkan diri dan mulai melihat situasi yang terjadi ddi depannya.


"Baru saja"


"Baguslah. Aku kesepian dari tadi"


Ambar menahan rasa jijik yang mulai menggelitik perutnya dan mendekati ranjang tempat cowok itu berbaring.


"Maaf, apa ada yang terjadi selama aku tidak ada?"


"Tidak ada. Aku hanya sangat merindukanmu"


Sungguh, Ambar merasa mual saat mendengar cowok itu berbicara. Untung saja semua yang didengarnya adalah palsu. Kalau tidak, dia pasti sudah menonjok cowok itu.


"Aku sudah ada disini. Siapa ini?" tanya Ambar berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ini ... kakakku"


Ambar melihat laki-laki yang tampan dengan rahang gagah dan badan menjulang tinggi itu. Meskipun memiliki wajah dan warna mata yang hampir sama dengan adiknya, laki-laki ini terlihat lebih ... tenang dan menakutkan. Sejak Ambar masuk ke dalam kamar, laki-laki itu juga selalu menatapnya dengan tajam. Mungkin kakak Bos Kenzo tidak menyukainya. Rasa tegang mulai membuat Ambar gugup. Dia meraih sesuatu yang paling dekat dengannya dan berpegang erat. Dia tidak tahu kalau yang dipegangnya adalah jari tangan cowok yang sedang berbaring di atas ranjang.


__ADS_2