Second Lead Fate

Second Lead Fate
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Akhirnya ... Adhi merasa lebih nyaman sekarang. Dia bisa membasahi badannya yang lengket karena keringat itu. Tapi, baju rumah sakit itu sudah terlalu basah untuknya. Pakaian apa yang akan dipakainya sekarang? Adhi melihat ke arah wanita yang membantunya membawa handuk dan berharap akan mendapat pertolongan lagi. Tapi ... kenapa wanita itu menutup matanya? Kapan juga Ambar berpindah sejauh itu darinya? Ada apa sebenarnya dengan wanita itu?


"Selamat malam Bos!!!!"


Mendadak seorang anak buah yang tidak tahu diri masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Lho, Bos. Kok telanjang? Terus ... Ambar??? Kenapa kamu ada disini? Kenapa? Apa yang terjadi?"


Kenzo segera mendekati Adhi setelah melihat temannya yang duduk di sofa dengan menutup mata. Anak buahnya itu segera menutupi badan Adhi dengan selimut.


"Apa yang kau lakukan?" protes Adhi.


"Ambar ... jangan begini Bos"


"Apa?" Adhi melepas selimut yang diberikan Kenzo.


"Duh, Bos"


Adhi dan Kenzo begitu sibuk dengan selimut, tidak mmenyadari kalau wanita yang tadi duduk di sofa telah menghilang.


"Apa yang kau lakukan??" tanya Adhi lalu membuang selimutnya dan mengetahui AMbar telah pergi.


"Saya melindungi Ambar. Lagipula kenapa Bos lepas baju dihadapan Ambar? Apa yang sudah kalian lakukan bersama di kamar ini?"


Adhi menunjuk sofa tempat Ambar duduk


"Temanmu itu sudah pergi"


"Apa? Ambar ... Ambar!" Kenzo berlari keluar kamar. Kemungkinan besar mengejar temannya yang kabur itu.


Suasana di kamar menjadi heing kembali setelah Ambar dan Kenzo pergi, meninggalkan Adhi sendiri. Dia tidak mengerti dengan kelakuan anak buahnya yang terus menutup tubuhnya dengan selimut. Meskipun menutupi semua bagian tubuhnya, Adhi yakin Ambar pernah melihat tubuh laki-laki. Tidak mungkin wanita berusia dua puluh enam tahun seperti Ambar tidak pernah melihat tubuh bagian atas laki-laki yang telanjang. Atau ... tidak? Melihat reaksi wanita itu, menandakan kalau Ambar ... . Benarkah? Sungguh wanita yang aneh. Apalagi ketika sahabat wanita itu adalah Rea dan Feli.


 


Akhirnya ... akhirnya ...


Ambar menginjakkan kaki di rumah yang sangat dirindukannya. Dia akhirnya bisa meninggalkan rumah sakit dan cowok yang tidak tahu aturan itu.


"Mbar, baru pulang Nak?"


Ambar segera pergi memeluk ibu yang datang menyambutnya.


"Assalamualaikum Bu"


"Kenapa ini?"


"Gak apa-apa Bu. Ambar cuma kangen banget sama ibu hari ini"


Ibunya melepaskan pelukan Ambar dan mulai menatapnya dengan khawatir.


"Dua hari ini kamu kok aneh Nak? Apa ada kejadian di toko?"


"Gak ada Bu. Ambar mau mandi dulu, gerah"

__ADS_1


"Jangan lupa makan!"


"Iya"


Ambar masuk ke dalam kamarnya dan segera mengambil handuk lalu terdiam. Karena handuk, dia mengingat kulit sedikit coklat dan kencang. Keringat yang mengalir melalui parit otot terbentuk di perut cowok yang ... . Ambar melempar handuk yang dia pegang ke lantai dan kemudian menampar dirinya sendiri.


"Kamu gila!! Apa yang kamu bayangkan Ambar???" teriaknya di dalam kamar.


"Mbar, kenapa?"


Suara ibunya dari luar kamar segera menyadarkannya.


"Gak ada apa-apa Bu"


"Cepet mandi terus makan"


"Iya"


Ambar menggigit bibir bawahnya dan menyalahkan diri sendiri karena terbayang sesuatu yang seharusnya dia lupakan. Untuk mengusir bayangan itu, Ambar berlari ke kamar mandi. Menyalakan musik di luar kamar mandi dan mengalirkan air dari ujung kepalanya. Berharap dapat mengusir hal-hal yang mengganggu pikirannya. Selsai sholat Isya', dia makan dan berbincang dengan ibunya tentang apa yang terjadi di sekitar rumah. Rupanya, teman yang dulu pernah dia bawa pulang setelah hilang tiga hari, baru saja melahirkan anak ketiganya. Ratih telah menemukan suami yang baik dan hidup bahagia di rumah mertuanya. Ambar ikut senang mendengar kabar bahagia itu. Tapi ... begitu ibunya menyinggung cucu, mata Ambar berputar.


"Nanti kalo sudah waktunya Bu"


"Gimana bisa waktunya kalo kamu gak punya suami?"


"Ya, cari calon suami dulu. Kan sekarang beda, semua tiu harus dipikir baik-baik baru diputusin mana yang baik"


"Apa kamu udah punya pilihan?" tanya ibunya.


"Belum"


"Ya gitu deh. Jodoh kan juga rahasia Allah"


"Tapi kamu harus usaha juga. Jangan deket-deket terus sama Kenzo"


"Apa hubungannya sama Kenzo?"


Ambar tidak mengerti hubungan antara dia tidak segera menikah dengan temannya itu.


"Kenzo itu laki-laki"


"Siapa bilang Kenzo perempuan?"


"Laki-laki gak akan melirik perempuan yang sering didatangi laki-laki lain"


Ambar terdiam. Dia tidak pernah sekalipun berpikir seperti itu tentang laki-laki. Apa mereka bodoh? Tidak dapat membedakan mana teman dan pacar?


"Udah Bu. Ambar mau tidur aja dulu. Ngantuk"


"Iya. kamu tidur sana"


Ambar meninggalkan ibunya yang sedang asyik menonton sinetron dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar dia meikirkan tentang perkataan ibunya. Kalau ingin memiliki calon suami, apa Ambar harus mengorbankan pertemanannya dengan Kenzo? Sungguh aneh. Lebih bik dia tidur saja sekarang.


Itulah rencananya. Namun yang terjadi lain dari yang direncanakan. Setiap kali dia menutup mata, kulit yang basah dengan keringat itu selalu muncul di otaknya. Apa dia mengalami yang dinamakan puber terlambat? Karena itu Ambar selalu mebayangkan aurat laki-laki yang dilihatnya tadi? Apa sudah waktunya dia memiliki suami? Ohhh, Ambar menggosok matanya dengan kuat berharap apa yang dilihatnya tadi hilang begitu saja.

__ADS_1


Pagi harinya Ambar terbangun tepat pukul lima pagi. Dia bergegas mengambil air wudhu dan sholat Subuh yang terlambat. Meskipun tidur terlalu malam, akhirnya dia bisa melupakan apa yang sudah dilihatnya. Juga dengan bantuan ponsel yang memperlihatkannya kartun spons kuning konyol beserta teman bitang lautnya.


"Masak apa Bu?" tanyanya yang pergi ke dapur untuk membantu ibunya.


"Tempe goreng tepung sama telur dadar. Bapakmu harus pergi pagi hari ini"


"Kemana Bu?"


Ayah Ambar sekarang tidak lagi menjadi sopir angkot lagi. Tapi, karena ingin tetap bekerja, Ambar menyarankan ayahnya mencari pekerjaan yang santai dan tidak terlalu melelahkan. Karenanya sudah lebih dari lima tahun ini ayahnya bekerja sebagai sopir pribadi seorang pensiunan dosen yang terkadang masih mengajar.


"Bogor"


"Wah jauh"


"Iya. makanya ibu siapin makan dulu biar Bapakmu gak bingung cari makan nanti"


"Ambar bantu"


Karena bantuan Ambar, acara memasak menjadi lebih singkat. Tak lama ayahnya keluar dari kamar dan sarapan.


"Ambar, kamu makan juga" kata ibunya melihat Ambar akan kembali ke kamarnya.


"Nanti aja Bu, belum laper"


"Ambar ... duduk!"


Setelah mendengar perintah ayahnya, Ambar tidak berani pergi ke kamar dan duduk tepat di hadapan ibunya.


"Kenapa Pak?"


"Kemarin Bapak ketemu sama anaknya Bos. Namanya Galih, dia dosen Teknik Sipil di Universitas Negeri. Pegawai negeri sipil"


Ambar masih tidak tahu arah pembicaraan ayahnya. Apa untuk menyombongkan anak majikannya atau menyindirnya karena tidak kuliah.


"Terus kenapa Pak?"


"Dia pengen ketemu kamu"


"Hah?"


Kenapa tiba-tiba? Apa maksudnya ini?


"Galih, umurnya dua delapan. Beda dua tahun sama kamu. Cari istri yang berhijab, punya pekerjaan dan Bapak ngenalin kamu"


"Ngapain?"


"Apa?"


"Kenapa Bapak?"


"Kamu sudah cukup umur untuk meniklah. Bapak sama ibu juga pengen cepet-cepet gendong cucu kayak tetangga yang lain. Nanti Bapak kasih nomor kamu ke Galih dn kalian bisa kontakan sendiri"


Ambar sebenarnya mengerti tentang kekhawatiran ayah dan ibunya tentang hal ini. Karena melihat semua temannya yang kebanyakan menggendong bayi, ibunya juga sering mengingatkan untuk segera menikah. Usianya yang sudah dua puluh enam juga merupakan pertimbangan untuk segera menikah.

__ADS_1


Tapi, pernikahan bukan sesuatu yang mudah untuk Ambar. Mengingat dia pernah memiliki tubuh yang gendut, wajah jelek berjerawat, dan tidak disukai siapapun di masa itu. Kini, Ambar hanya bisa diam mendengar nasehat-nasehat ayahnya tentang pernikahan.


__ADS_2