Second Lead Fate

Second Lead Fate
Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Lho kok panggilannya ditolak?


Ambar mencoba menelepon satu orang yang seharusnya bisa membuat Feli meninggalkannya. Tapi sia-sia saja. Cowok bule itu tidak mau mengangkat teleponnya. Ambar berpikir lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi yang penuh antrian. Kenzo? tidak mungkin. Lalu, bagaimana caranya membuat Feli mengerti keadaaannya kali ini?


Karena banyak orang sedang membutuhkan toilet, Ambar terpaksa keluar dan menemui Feli yang menunggunya.


"Fel, kamu masih disini?" tanyanya dengan sedikit bingung mencari cara kembali ke Mas galih.


"Iya, kan nungguin kamu buat jalan bareng"


"Fel, sebenernya ... aku disini gak sendiri"


Perkataannya membuat Feli sedikit mundur ke belakang, tidak tahu kenapa.


"Kamu ... sama Adhi?"


"Ha? Oh bukan. Bukan"


Kalau saja cowok itu ada disini, AMbar pasti tidak akan bingung.


"Kalo gitu, kamu sama siapa?"


Ambar terpaksa membawa Feli pergi melihat laki-laki yang sedang menunggunya kembali.


"Itu, Mas Galih. Cowok yang sengaja dikenalin ke aku"


"Oh, Kamu dijodohin Mbar?"


Sebenarnya, Ambar juga tidak tahu pasti. Dia sedang dijodohkan atau hanya berkenalan saja. tapi ... anggap saja seperti yang diasumsikan Feli, untuk sekarang.


"Bapak, maksa aku ketemu sama tuh cowok"


"Terus Adhi?"


Ambar melihat sahabatnya yang mulai memiliki wajah sedih setiap kali menyebut nama itu.


"Gak tau Fel, aku bingung"


Padahal, dalam hati Ambar tidak peduli dengan keadaan cowok yang mengabaikan teleponnya itu.


"Jadi, kamu juga bingung karena masalah ini ya"


Hei, kenapa sahabatnya ini berkata seperti itu? Jelas sekali Feli sedang merasa galau karena pernikahannya. tapi Ambar tidak berani menyarankan apapun karena banyak keperntingan yang terjalin disana.


"Jadi Fel. maaf aku gak bisa nemenin kamu jalan sekarang" kata Ambar lalu berusaha memelas.


"Gak apa-apa Mbar. Aku juga gak mau ganggu pertemuanmu. Tapi bukannya Adhi harus tahu?"

__ADS_1


"Eh, kayaknya nanti dulu. Aku gak tau caranya kasih tau"


Ambar ingin sekali meludahkan kata-katanya sendiri sekarang. Dia tidak peduli meskipun cowok itu tahu. Mereka tidak ada hubungan dan mungkin setelah pernikahan Feli terjadi tidak akan bertemu lagi selamanya.


"Iya. Aku juga gak bisa maksa kamu. tapi kasihan Adhi kalo kamu gini terus Mbar" kata Feli lalu menunjukkan wajah sedih itu lagi. Ambar tahu kalau seharusnya Feli yang merasa bersalah karena membuat adik iparnya tidak tahu harus berbuat apa. Seharusnya Feli meninggalkan calon suaminya dan bersama orang yang dicintainya. Meskipun ancaman kebangkrutan dan kemiskinan di depan mata. Tapi ... apalah arti pendapat pribadi Ambar. Yang dihadapi Feli sekarang terasa lebih rumit daripada hidup Ambar.


"Fel, kalo ini terjadi sama kamu. Gimana?"


"Apa?"


"Yah. Kalo kamu ada diantara dua pilihan seperti aku. Laki-laki mana yang kamu pilih?" Ambar mengerti perasaan Feli yang terdalam. Tapi dia ingin memancing Feli untuk mengutarakan perasaan yang sebenarnya. Dan berhasil. Pertanyaan Ambar menimbulkan kepanikan pada sahabatnya itu. Sepertinya Feli juga sudah menimbang apa akibat saat dia melakukan yang diinginkannya.


"Aku ... . Kayakanya aku pergi dulu Mbar. Takut ganggu kamu lebih lama lagi"


Feli tidak menjawab. Sayang sekali. Tapi apa yang harus dilakukan Ambar? Tidak ada. Dia harus kembali ke meja tempat Mas Glih menunggunya sejak tadi.


"Mas, maaf lama" katanya sebelum duduk dihadapan laki-laki itu.


"Iya. Pasti rame ya toiletnya. Ini hari Sabtu"


"Iya Mas"


"Kalo gitu, sekarang kita langsung nonton aja ya?"


Ambar melihat jam di tangan kirinya.


"Oh iya. udah jam 7"


Besok paginya, Ambar merasa tidak enak badan tapi harus segera pergi ke toko. Sebelum jam enam pagi, dia telah berdiri di depan tokonya dan membuka semua gembok. Tanpa membuang waktu, Ambar mengangkut kotak demi kotak undangan pesanan yang harus dikirim pagi ini. Tapi kepalanya terasa sakit sekali sebelum sempat menyalakan mobil. Dia berhenti sebentar dan mebaca istighfar sebanyak-banyaknya. meminta pertolongan Allah agar menghilangkan sakit di kepalanya. Tak lama, sakit kepalanya hilang dan Ambar memacu mobilnya pergi.


Tiba di alamat yang dituju, Ambar merasa terkejut sekali. Rumah yang ada di depannya ternyata sebuah kantor pemasaran rumah.


"Mau ketemu siapa?" tanya satpam berpakaian serba hitam di depan kantor itu.


"Saya antar undangan Pak Andy"


"Oh iya. Mbaknya masuk aja, sudah ditunggu di dalam"


"Makasih Pak"


 


"Aduh Bos. Bisa gak Bos nyewa pembantu aja?" tanya Kenzo yang sedang membereskan pakaian Adhi. mereka baru saja pulang dari Singapura hari Sabtu siang.


"Lakukan pekerjaanmu dan jangan mengeluh!"


"Kalau bukan pembantu. Gimana kalo istri aja Bos. Masa' saya yang mesti nyiapin sama mberesin baju Bos tiap kali keluar kota"

__ADS_1


 "Apartemenku kecil, untuk apa pembantu atau istri"


"Kalo gitu, Bos pindah ke rumah aja. Terus punya asisten, pembantu sama supir. Itung-itung mecah kerjaan saya gitu" Kenzo memang terlihat sedikit kerepotan beberapa waktu ini. Mungkin karena mobilitas Adhi yang meningkat.


"Aku akan mencari rumah"


"Bener Bos?Dimana? Apa saya aja yang carikan?" seru Kenzo senang.


"Bukan urusanmu! kau urusa saja pekerjaanmu sebelum aku mempekerjakan orang lain juga untuk menggantikanmu"


Sepulangnya Kenzo, Adhi duduk di atas ranjangnya yang besar. Seorang diri lagi. Dia mulai berpikir kalau rumah terlalu besar untuknya. Tapi, apabila di dalam rumah itu ada pembantu, mungkin dia tidak akan merasa terlalu kesepian lagi. Sepertinya dia harus mencari rumah terlebih dahulu. Dia melihat ponselnya dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab dari wanita itu. Wanita yang membuatnya kesal semalaman. Untuk apa wanita itu menghubunginya? Adhi tidak ingin tahu. Dia mengabaikan panggilan tak terjawab itu dan menghubungi salah seorang teman lamanya.


"Apa kau punya rumah?" tanyanya segera setelah teman lamanya mengangkat telepon.


"Wow, Adhitama. Senang sekali kau menghubungiku. Dan tentu saja aku memiliki rumah"


"Aku butuh rumah. Lengkap dengan isinya. Juga dua pembantu, satpam, dan supir"


"Tunggu!! Aku ini penjual rumah, bukan kantor jasa penyedia pembantu"


"Siapkan saja satu rumah lengkap untukku. Secepatnya"


"Baiklah. kapan kau membutuhkannya?"


"Akhir minggu depan"


"Oh, oke. Besok kemarilah dan pilih rumah barumu"


"Baiklah"


Besoknya, Adhi benar-benar pergi ke kantor temannya dan melihat-lihat rumah yang siap ditinggalinya.


"Semua bisa siap dalam waktu singkat, aku bisa mengaturnya. Tapi aku harus memintamu memilih rumahnya, sebelum kita tanda tangani perjanjian jual beli" jelas temannya.


"Ya. Tunjukkan padaku"


Ada lima rumah yang ditunjukkan oleh Andy, teman lama Adhi di Indonesia yang sekarang memiliki usaha jual beli rumah. Dan tanpa membuang waktu, Adhi memilih sebuah rumah dengan dinding putih yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman.


"Ini"


"Baiklah. Aku akan mengirim surat perjanjian jual belinya ke kantormu dan kau bisa tinggal di dalam rumah itu mulai Sabtu depan"


"Bagus"


Baru saja Adhi ingin keluar dari kantor pemasaran yang merangkap rumah teman lamanya itu, dia berhadapan dengan wanita itu. Wanita yang menghubunginya lima kali semalam tapi tidak dijawabnya.


"Wah, kau lagi"

__ADS_1


"Lho, Anda lagi"


Mereka bicara hampir secara bersamaan. jelas sekali wanita itu tidak menyangka bertemu dengan Adhi, begitu juga sebaliknya.


__ADS_2