Second Lead Fate

Second Lead Fate
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

"Bos hanya bawa ini ke London?"


"Iya"


"Saya tahu kalau itu kampung halaman Bos. Tapi satu tas pasti tidak cukup. Gimana kalo Bos nanti butuh baju hangat, baju santai, celana pendeka"


"Aku bisa membelinya disana"


"Wah, sombong sekali. Benar-benar London Boy"


Adhi menggelengkan kepala karena mendengar ucapan Kenzo yang pagi ini terpaksa datang ke rumahnya. Besok, dia akhirnya akan berangkat ke kota kelahirannya, tempat dimana semua keluarganya tinggal. Dan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Lakukan apa yang menurutmu benar. Atau yang biasanya kulakukan selama aku tidak ada"


"Wah sedih sekali hati ini. Bos tidak mengajak saya ke kampung halaman" ucap Kenzo diselingi dengan sedikit nada melambung disetiap akhir kata.


"Jangan bercanda!"


"Saya benar-benar kecewa. Gimana bisa Bos dan Ambar bisa menikmati London sedangkan saya harus ada disini bekerja"


Tangan Adhi berhenti selama beberapa detik setelah mendengar nama wanita itu disebut, lalu kembali biasa lagi.


"Aku akan bekerja dari sana. Jadi jangan membuat masalah"


"Ya, baik Bos"


Kenzo keluar dari ruangan kerja Adhi, entah kemana. Mungkin juga meminta makanan pada pembantu. karena itu yang biasa dilakukan anak buahnya yang selalu kelaparan itu.


Tak lama Kenzo kembali ke ruangan Adhi, kali ini dengan sedikit terburu-buru.


"Apa?" tanya Adhi sebelum Kenzo bicara.


"Apa Ambar pernah kesini Bos?"


Adhi melepaskan keyboard laptop dan melihat anak buahnya yang terlihat kesal.


"Apa maksudmu?"


Sebuah cincin emas kemudian ditunjukkan oleh Kenzo padanya.


"Kenapa cincin ini disini?"


"Aku tidak tahu"


"Ini cincin yang saya berikan ke Ambar kemarin"


Adhi teringat tentang masalah lamaran yang diajukan oleh Kenzo pada wanita itu. Jadi, Kenzo memberinya cincin dan terjatuh saat Ambar menginap disini beberpa hari lalu.

__ADS_1


"Pasti itu cincin salah satu pembantuku"


"Tapi, saya ingat sekali kalau ini cincin yang saya belikan untuk Ambar"


"Kaupikir hanya kau yang mampu membeli cincin itu?" kata Adhi sinis. Berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Ambar pernah datang ke rumah ini dan tidak sengaja menjatuhkan cincin lamarannya.


"Memang tidak. Tapi ... "


Adhi bangun dan mengambil cincin yang dipegang oleh Kenzo, lalu meletakkannya di meja.


"Ambar tidak datang kemari, mana mungkin itu cincin yang kau berikan padanya"


"Iya ya"


Adhi lega. Anak buahnya ini ternyata tidak terlalu detail dalam memperhatikan bentuk cincin yang diberikannya pada Ambar.


"Ini semua berkas yang diperlukan untuk mengurus pembelian cef baru. Kau urus dari sini. Kalau ada yang penting, kau hubungi aku"


"Baik Bos"


Meskipun Kenzo terus memperhatikan cincin yang kini ada di atas meja, anak itu akhirnya pergi juga. Adhi mengambil cincin itu dan melihat tidak ada sesuatu yang spesial. Hanya cincin emas polos, dengan ukiran yang memutarinya. Bagaimana bisa anak buahnya melamar seseorang dengan cincin seperti ini? Ambar harusnya menerima cincin dengan berlian di tengahnya. Berlian yang kecil tapi terlihat sangat bagus di jari pendek wanita itu. Adhi meletakkan cincin itu kembali di meja dan meluruskan punggungnya. Kenapa juga dia harus peduli dengan apa yang seharusnya wanita itu terima. Lebih baik dia segera mengembalikan cincin itu dan membicarakan masalah di London pada Ambar.


 


"Sudah siap semua kak?" tanya pegawai yang melihat Ambar pulang dari kantor imigrasi.


"Wah seru banget. Jadi ngiri deh"


"Jangan ngiri ya. Aku kalo gak dibayarin juga mikir-mikir mau kesana. Ngurus-ngurusnya mahal juga, apalagi tiketnya"


"Tapi siapa tau ya kak"


"Iya. Kali aja kalian nanti dapet suami orang Inggris, aku diajak kesana deh. Gratis lagi"


Candaan ketiganya tentang kepergian Ambar selesai cepat sekali. Berganti dengan jadwal pekerjaan yang harus dilakukan dua pegawainya selama Ambar ada di London.


"Jadi, kalian cuma bikin ini sama ini aja selama aku disana. masalah pengiriman nanti biar aku atur dari sana"


"Oke kak"


Tak lama adzan sholat Dhuhur berkumandang. Ambar mengakhiri rapat singkat itu dan mengajak dua pegawainya makan siang setelah sholat. Sepulangnya makan mie ayam di jalan dekat toko, Ambar melihat sebuah mobil mewah yang dikenalnya sedang terparkir di depan toko.


"Bukannya itu?" tanya Ambar pelan lalu seorang cowok keluar dari mobil itu. Cowok yang bertemu bayangannya saja dihindari oleh Ambar. Detak jantungnya meningkat hanya karena melihat cowok itu berdiri di depan mobil.


"Sial. Ngapain sih tuh orang kesini" katanya kesal.


"Lho, bukannya itu cowok cakep yang waktu itu kak?" tanya pegawainya.

__ADS_1


"Iya"


"Kok kak Ambar kayak gak seneng ketemu cowok itu"


"Iya"


Ambar berjalan mendekat ke arah cowok yang masih bertahan di depan mobilnya. Padahal sekarang matahri sedang terik-teriknya. Tapi penampilan cowok itu terlihat berbeda. Bos Kenzo hanya memakai kaos dan celana denim santai untuk datang kemari. Bukan jas lengkap seperti yang selalu dipakainya.


"Untuk apa Anda kemari?" tanya Ambar lalu berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak semakin cepat.


"Ada sesuatu yang ingin kuberikan, juga ingin membicarakan sesuatu"


"Apa itu?"


"Kau menyuruhku membicarakannya disini?"


"Apa Anda mau ke toko?"


"Lebih baik masuklah ke mobil. Kita bicara di tempat lain"


"Tapi pekerjaan saya masih banyak" alasan Ambar hanya agar cowok ini segera menyelesaikan urusannya.


"Matamu"


"Ha?" Kenapa tiba-tiba cowok ini mengatakan sesuatu tentang matanya?


"Ada sesuatu"


Ambar mematung saat cowok itu mendekat lalu menyentuh pipinya. Ada rasa panas yang dirasakan Ambar saat jari cowok itu menyentuhnya


"Apa-apaan sih?" Ambar menepis tangan cowok itu dan merasa kesal.


"Ada bulu mata yang jatuh"


Ohhh, Ambar sempat berpikir macam-macam hanya karena cowok itu mengambil bulu matanya yang jatuh. Duhhh, otak. Tolong jangan memikirkan sesuatu yang aneh.


"Baiklah saya bisa bicara tapi hanya untuk beberapa menit" jawabnya lalu pergi ke sisi lain mobil dan masuk ke dalamnya.


"Kau sudah makan?" tanya cowok itu.


"Sudah. baru aja. Mi ayam"


"Sayang sekali"


"Emangnya kenapa?"


"Tidak ada"

__ADS_1


Mobil bergerak menjauh dari toko dan dua pegawai Ambar yang masih berdiri di depannya. Dengan segera Ambar mengirim pesan pada keduanya untuk melanjutkan pekerjaan


__ADS_2