
Setelah menerima telepon Ambar seperti bermimpi. Dia tidak pernah berpikir kalau cowok itu akan menghubunginya subuh dan berkata akan datang ke rumah.
"Pasti hanya bercanda" kata Ambar pada dirinya sendiri lalu berusaha untuk tidur kembali. Semalaman dia tidak bisa tidur karena menangis. Sesudah sholat subuh tadi, otaknya menjadi sedikit lebih jernih dan mulai merasa kantuk. Tapi, dia belum tertidur saat ibunya membangunkannya.
"Apaan Bu?"
"Ada tamu. Katanya janjian sama kamu. Ibu kayak pernah lihat. Bule"
Ambar memaksa matanya terbuka lalu bangun dari kasur. Dia memakai hijab yang ada di dekatnya dan segera berlari turun. Menemui cowok yang dia pikir hanya bercanda itu.
Dan di teras rumahnya yang sederhana, Ambar melihat cowok itu duduk. Masih mengenakan setelan jas yang sama dengan malam sebelumnya. Kelihatannya bahkan itu dalah jas yang dipakai cowok itu saat bertemu dengannya di butik. Apa Bos Kenzo tidak pulang semalam?
"Untuk apa Anda kemari?" tanya Ambar segera setelah keluar dari rumah.
Cowok itu melihat ke arah Ambar lalu tiba-tiba berdiri, mengejutkannya.
"Aku ingin bertanya sesuatu"
Sesuatu? Apa yang ingin ditanyakan cowok itu sampai datang subuh-subuh seperti ini? Bahkan sinar matahari yang telah terbit belum terlalu tampak di langit.
"Apa?"
"Kenapa kau menolak lamaran Kenzo?"
"Ha?"
Kenapa cowok itu tahu kalau dia menolak lamaran Kenzo? Apa Kenzo mengatakan semuanya pada Bosnya? Setelah tahu kalau Ambar menolak lamarannya karena memiliki perasaan pada Bosnya? Kelihatannya tidak mungkin.
"Kau menolak lamaran Kenzo, kenapa?"
"Itu bukan urursan Anda"
"Itu urusanku"
"Karena Kenzo anak buah Anda? Atau karena Anda kesal karena saya tidak jadi istri bawahan yang sesuai dengan profil saya? Seorang wanita pemilik toko kecil yang hanya cocok menikah dengan seorang bawahan?"
Sebenarnya Ambar tidak ingin mengatakan semua ini, apa pilihan yang dimilikinya? Mengungkapkan kebenaran kalau dia menyukai cowok itu?
"Kau tidak menjawab pertanyaanku"
__ADS_1
Suasana tiba-tiba menjadi hening saat Ambar melihat mata biru milik Bos Kenzo. Dia mulai berpikir, apa jawaban yang sebenarnya diinginkan oleh cowok itu? Pasi ada alasan cowok itu datang kemari hanya sekedar untuk bertanya tentang hal ini? Apa cowok itu ... ? Belum sempat Ambar mengkonfirmasi kecurigaannya, ayahnya pulang dari masjid dan melihat Bos Kenzo.
"Assalamualaikum. Siapa ini?"
"Wallaikum salam. Ini calon suami Feli Pak" jawab Ambar lalu menoleh ke arah Bos Kenzo yang sedang menatapnya dengan ekspresi aneh. Seperti tidak suka dengan jawaban Ambar pada pertanyaan ayahnya.
"Oh. Mau apa subuh kesini?"
Nah, itulah yang Ambar juga tidak tahu.
"Selamat pagi Pak. Saya hanya ingin bertanya pada putri Anda"
"Tapi, bukannya kamu orang yang ada di rumah sakit waktu itu?"
Oh, ternyata ayah Ambar mengingat wajah Bos Kenzo. Payah, seharusnya waktu itu Ambar bicara jujur saja tentang cowok itu.
"Iya" jawab Bos Kenzo singkat, membuat ayahnya tidak bertanya lagi dan segera masuk ke dalam rumah. Meninggalkan mereka berdua sendiri lagi.
"Sebaiknya Anda pulang sekarang. Bukannya kaki Anda ... "
"Kau mengalihkan pembicaraan lagi"
"Ha? Saya bukan ... "
Kenapa dari tadi cowok iu begitu terpaku pada pertanyaan ini? Memangnya apa urusan cowok itu dengan keputusannya? Toh, cowok itu juga akan menikah besok pagi.
"Saya tidak tahu kenapa Anda terus saja bertanya tentang ini. Saya menolak lamaran Kenzo karena memang belum siap untuk menikah"
"Hanya itu alasannya?"
"Sebenarnya jawaban apa yang Anda inginkan?"
Ambar melihat wajah Bos Kenzo tiba-tiba menunduk lalu sedikit memerah. Entah itu karena efek sinar matahari yang mulai terlihat atau karena hal lain. Tapi, Ambar bersumpah melihat berkas kemerahan itu di wajah Bos Kenzo sekarang.
"Kau ... menyukaiku. Kau menolak lamaran Kenzo karena menyukaiku"
Apa ini? Kenapa tiba-tiba cowok itu menyimpulkan seperti itu? Darimana bisa cowok itu? Kenzo? Apa mungkin? Tapi ... apa itu akan merubah apa yang akan terjadi? Sepertinya tidak. karena Ambar telah menyelesaikan perasaannya sendiri semalam. Dan Allah telah membuatnya sedikit tenang.
"Tidak. Saya tidak menyukai Anda. Memangnya saya bodoh? Kenapa saya harus menyukai calon suami sahabat saya sendiri?"
__ADS_1
Adhi terpukul. Dia memberanikan diri, menahan rasa sakit yang teramat sangat di kakinya demi mendengar hal ini? Dan kenapa Ambar terlihat begitu tenang saat berkata tidak menyukainya? Apa meamng semua ini hanya khayalannya saja?
"Jadi, kau tidak memiliki perasaan apapun padaku?"
Sial. Kenapa sekarang dia terdengar seperti pengemis yang bodoh di hadapan wanita itu?
"Tidak Tentu saja tidak. Lagipula, kenapa saya harus menyukai Anda?"
"Kau menangis di London. Kau marah karena aku menikah dengan Feli dan ... kau diam saja saat kucium. Apa itu bukan karena?"
"Apa yang Anda bicarakan? Sepertinya Anda sudah salah menilai saya. Dan saya sudah menampar Anda saat itu. hanya saja saya menahannya karena kita berada di rumah orang tua Anda"
"Kau ... tidak menyukaiku?"
"Apa Anda gila? Kita hanya bertemu selama dua bulan. Anda juga laki-laki milik Feli. Jadi ... kenapa saya harus ... "
Ada sesuatu yang terasa sakit di dalam dada Adhi. Dia tidak membayangkan akan menerima komentar seperti ini. Bukannya wanita itu menyukainya/ Atau hanya dia yang menyukai cewek itu?
"Feli. Kalau aku bukan ... "
Belum selesai Adhi bicara, cewek itu memotong kata-katanya.
"Saya tidak tahu untuk apa sebenarnya Anda datang kemari. Tapi kita bertemu karena Feli. Semuanya berawal karena Feli. Seandainya bukan karena Feli, mungkin Anda tidak mengenal saya. Dan tidak. Saya tidak menyukai Anda sedikitpun. karena itulah saya mendorong Anda untuk segera mengungkapkan perasaan dan tidak menjadi orang bodoh seperti sebelumnya"
Orang bodoh? Kenapa wanita itu bicara seakan mengerti tentang perasaan Adhi? Wanita itu ...
"Jadi, kau bahagia kalau aku menikah dengan Feli?"
"Tentu saja"
"Kau merasa baik-baik saja kalau aku berciuman dan melakukan semuanya dengan Feli?"
"Itu bukan urusan saya. mau Anda melakukan apapun dengan Feli"
Adhi tidak tahu harus berpikir apa sekarang. Dia pergi kemari karena bepikir akan menerima kata cinta yang juga dirasakan oleh wanita itu. Bukannya merasa dipermalukan seperti ini.
"Jadi, kau memang tidak ... "
"Sebaiknya Anda pergi sekarang. matahari sudah tinggi dan penampilan Anda terlalu mencolok untuk daerah ini"
__ADS_1
Wanita itu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Adhi sendiri di teras sederhana yang bahkan tidak lebih besar dari kamar mandinya. Bodoh. Dia merasa sangat bodoh sekarang. Kenapa dia seperti mengungkapkan perasaannya dan menerima sebuah penolakan besar? Seharusnya dia tidak mengikuti kata hatinya dan datang kemari. Dia belum pernah merasa malu sampai seperti ini. Dia begitu yakin wanita itu juga mencintainya dan apa yang didapatkannya? Sebuah omong kosong besar.
Baru saja dia ingin pergi lalu melihat punggung Ambar ada di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup. Tadi dia ingin sekali memeluk wanita itu, tapi sekarang ... tidak lagi. Dia melakukan kesalahan dengan datang kemari. Kini dia yakin dengan pernikahannya. Memang hanya Feli, perempuan yang ditakdirkan untuknya.