
"Kapan kamu bisa nonton?"
Ambar mendesah tidak ingin menjawab. Ini sudah kelima kalinya dia dijebak dalam sebuah perjodohan oleh Ratih dan orang tuanya.
"Saya masih sibuk"
"Kamu gak mau lanjut ketemu aku ya?"
Oh, tepat sekali. Tumben laki-laki yang kali ini bisa membaca gelagat tidak sukanya.
"Maaf. Tapi saya tidak ada rencana untuk menyukai seseorang dalam waktu dekat"
"Kenapa? Apa kamu gak mau nikah?"
Bukan. AMbar bukannya tidak mau menikah. Dia hanya belum siap.
"Mau. Tapi tidak sekarang"
"Tapi umurmu sudah dua tujuh kan?"
Wah, sialan. Kenapa laki-laki ini bawa umur ke pembicaraan mereka.
"Iya"
"Kalo mau punya anak bukannya lebih baik di umur yang masih muda. Wajah kamu juga gak keliatan muda lagi"
Ambar kesal sekali. Kenapa sekarang laki-laki di depannya menyebut masalah fisik dengannya. Seolah laki-laki itu merasa lebih baik daripada Ambar. Dia sudah bersabar selama dua jam hanya untuk makan nasi goreng di mall dan ini yang didapatnya.
"Saya masih muda. Saya rajin olahraga dan makan sehat. Tidak ada alasan bagi saya kelihatan tua selain dibuat stress oleh orang lain" katanya kesal.
"Ohh. Jadi karena kamu punya usaha sendiri, mobil, rumah terus menganggap remeh laki-laki? Hebat banget ya kamu. Hidup aja sendiri selamanya kalo gitu" ejek laki-laki yang bahkan tidak membayar untuk steak yang dimakannya itu lalu pergi.
"Dasar! Apa salahnya hidup sendiri selamanya? Daripada punya suami kayak gitu. Hiii"
Ambar membayar makanan lalu pergi berjalan-jalan di mall. Kegiatan yang sudah lama sekali tidak pernah dia lakukan selama ini. Dia melihat-lihat ke sebuah toko aksesoris dan melakukan pengamatan lapangan. Inilah yang dilakukannya selama satu tahun setelah Feli pergi. Bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu untuk beristirahat untuknya. Karena dia akan segera memikirkan Feli saat rehat., jadi, Ambar memilih untuk tetap memeras otaknya agar kelelahan dan tidur tanpa bermimpi apapun. Jujur, dia masih terus dihantui oleh perasaan bersalah pada Feli dan calon anaknya yang tidak sempat lahir itu.
"Kenapa gagal lagi?" tanya Ratih yang datang menghampiri ke tokonya.
__ADS_1
"Oh, kamu yang kenal sama laki-laki tadi?"
"Iya. Padahal dia itu anak tunggal; dari keluarga kaya. Punya pabrik kertas di Pasuruan"
Apa? Punya pabrik kertas? Sepertinya Ratih ditipu. Tidak mungkin seorang pengusaha besar berani berkata seperti itu pada perempuan yang tidak dikenalnya.
"Udah deh. Aku gak mau mikir tentang itu lagi"
"Terus kapan kamu mau nikah? Ibu sama bapak kamu yang nyuruh aku nyariin terus. Mereka diam tapi tetap berharap kamu bisa menikah dan punya anak. Ngasih mereka cucu"
Apakah dia tidak menginginkan pernikahan? tentu saja ingin. Tapi, apa dia boleh bahagia setelah mengakibatkan hidup seseorang menderita seperti itu? Rasanya tidak.
"Udah. jangan bawa-bawa ibu sama Bapak"
"Kamu ini!!! kamu masih ngerasa bersalah ya sama temenmu di Bali itu? itu bukan salah kamu Mbar. Cewek itu aja yang salah gak bisa jaga dirinya sendiri"
"Ratih!!"
Kini Ambar marah. Dia tidak mau ada orang yang menyebut-nyebut Feli di depannya. Dia ... .
"Ya udah. terserah kamu. mau terus perawan sampe tua. Usaha wedding tapi gak mau nikah. terserah kamu aja ah. Bodo" ucap Ratih lalu pergi meninggalkan Ambar sendiri di ruangannya. Perawan sampai tua, itu bukanlah hukuman untuknya. Dia tidak keberatan untuk tua dan sendiri. Tapi ... Bapak dan ibunya? Apa yang harus dilakukannya untuk kedua orang tuanya? A[a dia memang harus menikah dan melakukan semua itu demi kedua orang tuanya?
Adhi berdiri di depan jendela dan menyadari penampilannya memang seperti pengemis. Dengan penampilan dan baunya, pasti banyak yang mengira dia seperti itu. Tapi ... untuk apa juga dia memperbaiki penampilannya? Dia duduk dan kembali mencari botol minuman keras.
'Tidak ada. Semuanya kosong. Sial. harusnya dia beli tadi sebelum pulang' katanya pada diri sendiri lalu mendapati sobekan kertas di kantung mantelnya.
"Datang lagi untuk sup panas dan teh manis besok"
Adhi hanya bisa memandang sobekan kertas itu dalam waktu lama. Kenapa? Kenapa orang itu memberinya sup panas yang membuat tubuhnya hangat? Disaat istrinya berbaring di dalam tanah dalam keadaan dingin.
Tidak tahu apa alasannya, beberapa kali Adhi berangkat dari rumah untuk membeli minuman keras. kakinya selalu mengarah ke sebuah tempat yang dikenalnya. kali ini dia datang di pagi hari dan tidak melihat aktivitas apapun di dalam bangunan itu. Mereka tidak akan punya sup pagi-pagi begini. Dia ingin melanmgkah pergi lalu sebuah panggilan menahannya.
"Mas, udah datang?"
Adhi menoleh pada pria yang sama dengan malam itu. Pria itu juga ada disini pagi-pagi begini? pikirnya.
"Sekarang belum ada sup. tapi ada teh manis, mau?" tawar pria itu lalu menarik Adhi masuk ke dalam masjid.
__ADS_1
Adhi mengira di dalam masjid tidak ada aktivitas apapun, ternyata dia salah. Ada banyak pria dan wanita yang sedang berkumpul dan bernyanyi. Tapi bukan nyanyian yang diknelanya. Lebih seperti doa karena dilakukan dalam bahas Arab yang tidak dikenalnya.
"Kalo pagi ada tadarusan, membaca Al-Quran. jadi kalo teh manis sama kue kecil ada. Ayok mas"
Adhi diseret ke sebuah sudut lalu dihidangkan segelas besar teh yang masih mengepul. Dan juga beberapa kue yang dia tahu tidak ada di London. Dia pernah melihatnya di Indonesia.
"Ayo dimakan, ini cucur, kue mangkok sama risoles. Buatan pengunjung masjid juga buat yang tadarusan pagi" kata pria bernama Heri itu.
"Panas" kata Adhi lalu menyeruput teh manis di gelas besar. Kehangatan segera meresap ke dalam tubuhnya, membiarkannya merasakan otot-otot kakunya meleleh untuk beberapa detik. Dia menurunkan gelas lalu mulai makan kue mangkuk berwarna putih di depannya. Sama, masih hangat. Mulutnya yang tidak terbiasa mengunyah makanan selama ini mulai merasa kering dan dia membutuhkan minum. Tapi dia lupa kalau teh itu masih panas. Sehingga Adhi terbatuk dan memuntahkan kue di dalam mulutnya.
"Emang panas Mas. Pelan-pelan" kata Hari lalu membersihkan bekas muntahnya.
"Kenapa?"
"Apa"
"Kenapa kau seperti ini?"
"Saya?"
"Kenapa kau baik padaku?" tanya Adhi lalu melihat mata Hari yang teduh.
"Saya gak baik kok mas. Sama dengan mas, saya ini juga peminum sebelum ketemu istri di London"
"Omong kosong"
"Lho, bener ini. Saya dulu kerja di kapal. kalo gak minum rasanya gak kuat. Tapi istri bimbing saya balik ke jalan Allah"
"Aku banyak dosa" aku Adhi lalu menunduk merasa malu.
"Semua orang banyak dosa mas. Gak ada yang bersih dari dosa. Tapi ... kalo udah tahu gitu, jangan nambah dosa lagi. Cepet-cepet berbuat baik, biar gak tambah nyesel"
"Terlambat untukku"
"Mati, itulah batasnya. kalo mas masih hidup, berarti belum terlambat"
"Aku membunuh istri dan anakku. Aku ... "
__ADS_1
Adhi tidak bisa bicara lebih panjang lagi. Dia menangis, mengeluarkan air mata yang disimpannya selama satu tahun penuh. Dihadapan orang asing yang bahkan tidak mengenalnya.