Second Lead Fate

Second Lead Fate
Seratus Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Ambar terbangun saat mendengar pintu kamar terbuka. Tampak di depan matanya punggung laki-laki yang memakai kemeja dan keluar dengan membawa sajadah. Cowok itu ... ternyata benar menjadi muslim. AMbar tak pernah membayangkan sebelumnya akan menjalani sebuah pernikahan dengan cocok itu. Semua karena dia tahu kalau mereka memang memiliki perbedaan keyakinan. Dan sekarang? Meskipun mereka memiliki keyakinan yang sama, Ambar masih belum bisa melupakan apa yang telah terjadi pada sahabatnya.


"Sudah bangun Mbar?" tanya ibu yang berada di depan kamarnya.


"Kok gak masuk Bu?"


"Kamu sekarang udah nikah. Gimana ibu bisa masuk sembarangan?"


Ambar diam lalu turun dari kasur dan membuka pintu lebih lebar lagi.


"Ngapain sih Bu. Kok jadi gini?"


Ibunya lalu mengusap wajah Ambar dengan lembut.


"Kamu udah nikah dan punya tanggung jawab sama suamimu. Jadi ... jangan bangun siang! Cepet masak buat suamimu sana!"


Ambar kaget mendengar ibunya berteriak dengan suara yang sangat kuat.


"Iya. Ambar sholat dulu"


"Cepet!!"


Ambar kembali ke dalam kamar lalu mengambil air wudhu. Sebelumnya dia mengikat rambut lalu menyadari sesuatu yang aneh. Bukankah kemarin malam dia memakai hijab waktu tidur? Apa laki-laki itu mengingkari janjinya uantuk tidak menyentuhnya? Ambar memeriksa tubuhnya sendiri dan tidak menemukan hal yang aneh lainnya. Lalu kenapa rambutnya tergerai bebas? Ambar mencari hijabnya dan menemukannya di lantai.


"Kau harus memperbaiki cara tidurmu" kata seseorang yang masuk ke dalam kamar dan mengejutkan Ambar. Laki-laki itu ternyata sudah poulang dari masjid.


"Apa hijab saya terlepas sendiri dan bukan Anda yang ... ?" tanya Ambar curiga lalu ingin memakai hijabnya lagi. Tapi laki-laki itu menahan tangannya dan mendekat.


"Kalau aku yang melakukannya, bukan hanya hijab yang terlepas" bisik laki-laki itu membuat tengkuk Ambar merinding.


Menahan rasa malu, Ambar pergi ke kamar mandi, sholat Subuh dan lari ke lantai bawah untuk membantu ibunya.


"Wahh, gimana rasanya jadi pengantin baru??" teriak Rea yang ternyata sudah menunggu di meja makan.


"Bukannya kamu udah pergi?"


"Wah, udah nikah sekarang aku yang diusir. Sedih banget jadi sahabat yang jomblo"


Ingin sekali Ambar mengunci mulut Rea tapi tidak bisa karena keberadaan ibu dan ayahnya disana.


"Kamu gak tidur di hotel?"


"Ngapain? Aku kan mau pulang bentar lagi"


"Apa?"


"Iya. Jam tujuh aku harus udah ada di bandara"

__ADS_1


Ambar mendadak merasa menyesal telah berpikir ingin menyakiti Rea tadi.


Akhirnya Rea pergi, diantar oleh Bos Kenzo ke bandara. Ambar hanya bisa berdiri di teras dan merasa sedih.


"Sudah ... kalian pasti bisa ketemu lagi nanti. Semoga Rea cepet-menikah juga" kata ibunya sedikit mengobati rasa sedih Ambar.


"Iya"


Di dalam mobil dengan Rea, membuat Adhi sedikit tidak nyaman. Karena sahabat istrinya itu memandangnya dengan mata kejam sejak masuk ke dalam mobil sampai sekarang.


"Kalau kau menyakiti Ambar. Aku tidak akan segan datang ke jakarta dan membunuhmu!!" katanya berusaha untuk mengancam.


"Aku tidak akan melakukan hal itu"


"Yahhh kau bisa mengatakan apapun dengan mulutmu itu. Tapi aku tidak akan percaya. Kau tetaplah laki-laki brengsek yang sudah membuat sahabatku pergi dengan menyedihkan. Jadi kalau kali ini kau melakukannya lagi. Aku akan mengerahkan segala yang kupunya untuk membuatmu terkubur hidup-hidup" kata sahabat Ambar itu lalu keluar dari mobil dengan hentakan kaki yang kuat.


Adhi menghela napas panjang dan kembali ke rumah istrinya. Disana dia menemukan Larry dan dua pengawalnya telah siap di depan rumah.


"Kalian datang lebih awal"


"Rumah yang akan Anda tinggali telah siap"


"Bagus. Aku akan segera pergi kesana pagi ini"


"Baik"


"Siapa?" tanya Ambar segera lalu berdiri. Adhi memandang tubuh istrinya dan merasa kesal. Dia segera melepas jasnya dan membungkus tubuh Ambar yang hanya memakai baju rumahan itu.


"Dia adalah asistenku yang baru. Lebih tepatnya anak buah Danial yang diperintahkan untuk membantuku"


"Asisten?" tanya Ambar lagi lalu membuat gerakan menolak pemberian jas Adhi. Tapi dia tidak menyerah dan memaksa istrinya memakai jas.


"Aku akan menceritakan semuanya nanti. Dia datang kemari untuk membantu kita pindah"


Sepertinya Ambar belum mengatakan rencana mereka tinggal bersama. Tapi kedua orang tua Ambar sudah mengira hal ini terjadi.


"Jadi Nak Adhi sudah punya rumah di Jakarta?"


"Sudah Bu. Saya sudah memiliki rumah ini sejak tiga tahun lalu"


"Ibu gak tau"


"Ambar pernah kesana"


"Kok Ambar gak pernah cerita?"


Adhi tiba-tiba merasa kesal mengetahui kalau Ambar tidak pernah menceritakan apapun tentangnya kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sopir?"tanya Ambar saat masuk ke dalam mobil Adhi yang baru. Lengkap dengan sopir, Larry dan dua pengawal yang membawa mobil lain.


"Iya"


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Sepertinya firasat wanita ini sangat kuat, mengetahui sesuatu hanya karena hal ini.


"Ayahku terkena serangan jantung. Danial memanggilku untuk memimpin perusahaan yang terletak di Asia"


"Apa ayah Anda baik-baik saja? Lalu kenapa Anda disini?"


Adhi pikir, Ambar akan bertanya tentang pekerjaannya ternyata salah.


"Ayahku akan membaik."


"Apa saya perlu pergi ke London?"


"Apa kau ingin memamerkan status barumu sebagai istriku?"


Mata Ambar kembali melotot dan beralih melihat keluar jendela. Seperti menyesal telah bertanya banyak.


"Aku akan sering pergi ke London. Kau bisa menginap di rumah orang tuamu saat aku tidak ada" kata Adhi lalu melihat ke arah Larry yang seakan ingin mengatakan sesuatu. pasti pekerjaannya telah disiapkan oleh Danial sekarang. Dia akan segera sibuk mulai besok Senin.


"Baguslah kalau begitu" jawab Ambar sedikit membuat Adhi kecewa. padahal dia ingin wanita itu menahannya pergi dan membatalkan semua perjanjian yang mereka buat. Agar Adhi memiliki keyakinan kalau wanita itu masih sangat mencintainya seperti dulu.


Mereka sampai di rumah yang kosong selama tiga tahun itu. Adhi masuk diikuti oleh Ambar dan Larry serta dua pengawalnya.


"Saya telah menyiapkan beberapa keperluan Anda berdua di rumah ini. Silahkan beristirahat Tuan dan ... Nyonya"


Sepertinya Larry masih belum terbiasa memanggil Ambar sebagai istri dari Adhi. Itu bisa dimengerti.


"Rumah ini ... " kata Ambar lalu melihat dengan pandangan berputar. Adhi tersenyum lalu mendekat ke arah istrinya.


"Kaulah satu-satunya wanita yang pernah datang kemari. Dan sekarang sebagai istriku. Jadi ... bersihkan rumah ini dengan baik" katanya lalu pergi ke kamarnya.


"Ha? Saya yang harus membersihkannya? Anda tidak punya pembantu seperti dulu?"


"Aku akan menghadirkan pembantu kalau kau membatalkan perjanjian kita"


"Ha? Tidak!! Saya akan membersihkannya sendiri"


"Bagus. Siapkan makan siang sekarang. Aku sudah lapar"


"Tapi saya juga harus bekerja"


"Ingat kewajibanmu sebgai seorang istri"

__ADS_1


Adhi meninggalkan Ambar yang kedengarannya akan segera meledak itu. Dia berharap wanita itu akan cepat menyerah sebelum dia harus kembali ke London lusa nanti.


__ADS_2