
Makanan bakar-bakaran khas Turki akhirnya datang memenuhi meja diantara Ambar dan Rea. tapi, apa yang ada ddi depan mereka itu tidak bisa menghilangkan rasa cemas Ambar. rasa cemas akan melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
"Aku No. No no no. Apa itu mesra-mesraan?"
"Feli nanti pasti bakal kesal kalo liat kamu sama Adhi mesra. Kalo dia memang cinta banget sama anak bodoh itu"
"Tapi, kenapa juga aku yang dikorbankan?"
"Kan kamu pacarnya Adhi sekarang?"
"Bukan"
"Yah, Feli kan taunya gitu"
"Gak. Gak mau. Aku juga gak tau maksudnya mesra-mesraan"
"Skinship gitu lho"
"Wah, kamu njerumusin aku ke neraka ya" protes Ambar tidak tahan lagi dengan ide gila Rea.
Sebelum Rea sempat bicara lagi, Ambar mengambil garpu dan mulai memasukkan potongan daging sate ke mulutnya. Yah, mirip sate karena dagingnya ditusuk.
"Masa kamu gak pernah sentuhan kulit sama Adhi?"
Pertanyaan Rea yang baru saja keluar itu mengejutkan Ambar. Dia memang pernah bersentuhan dengan cowok itu, tapi semua dilakukan dengan tidak sengaja. Ataua sengaja? Aduhh, Ambar jadi malu dan terus saja memasukkan makanan ke mulutnya.
"Pernah ya? Bagian mana?" tanya Rea lagi penasaran.
Demi membersihkan namanya di pikiran Rea yang kotor, Ambar berusaha secepatnya menelan semua daging itu.
"Ujung jari" jawabnya membungkam Rea.
"Oooo. aku pikir"
"Kamu pikir apa? Emangnya aku orang kayak gimana?"
"Iya iya. Kamu emang taat. tapi gimana dong. Feli kasihan banget"
Ambar jadi merasa tidak enak karena sudah egois. Dia kembali mengingat raut wajah sedih Feli dan merasa tidak tega.
"Ya udah deh" Tidak tahu apakah keputusannya ini akan menjadi bumerang bagi AMbar. Tapi dia harus membantu Feli agar tidak melakukan pernikahan yang akan menyiksa seumur hidupnya.
"Nah gitu dong. Pokoknya kamu harus buat hati sama kepala Feli panas. Terus dia gak tahan dan duarrr"
"Yah, semuanya akan berakhir dengan aku dibunuh sama Feli" kata Ambar kesal.
"Hahaha iya kali ya"
"Tapi, kamu yang ngomong ke cowok itu ya!"
"Siapa?"
"Ya siapa lagi"
"Adhi?"
"Iya. jangan sampe cowok itu ngira kalo aku suka sama dia"
__ADS_1
"Beres deh"
Akhirnya kesepakatan membantu Feli ddimulai. Rea bertugas sebagai kompor di sisi Feli dan Ambar melakukan ... yang harus dilakukan. Dan semuanya akan dimulai besok pagi. Saat Ambar dan Rea juga cowok itu diundang makan pagi bersama di kediaman keluarga Syahreza.
Adhi datang ke sebuah hotel kelas rendah di sebuah sudut kota. Asap rokok segera menyambutnya berganti dengan bau parfum murahan saat dia masuk ke dalam salah satu kamarnya. Seorang wanita lalu datang memenuhi tawarannya yang kemungkinan besar tidak bisa ditolak itu.
"Kamu??"
"Senang bertemu denganmu Tessa" katanya lalu tersenyum sinis.
Wanita ini adalah alasan pengusirannya terjadi sepuluh tahun lalu. Kini dia ingin wanita ini meluruskan semuanya dan membuat nama Adhi bersih. Setidaknya dihadapan keluarganya.
"Apa yang kau lakukan?? Kapan kamu datang?"
"Berkatmu aku baru kembali setelah sepuluh tahun"
Wanita di depan Adhi ini berubah. Bukan hanya secara fisik menjadi lebih berantakan tapi juga sifatnya tidak sombong seperti dulu. Selama ini dia menunggu waktu utuk meluruskan masalah yang dibuat oleh wanita ini, tapi ... rasanya tidak perlu lagi. Wanita ini sudah menerima akibat dari perbuatannya.
"Mau apa kamu ... " tanya Tessa lalu melihat dua pengawal yang dibawa oleh Adhi.
"Sebenarnya aku kesini untuk memaksa kamu membuat pernyataan terbuka. Bahwa aku tidak pernah sekalipun menyentuhmu saat menjadi kekasih Danial"
"Masalah itu? Bukannya semua itu udah lama berlalu? Danial juga buat itu jadi alasan perpisahan kami. Aku jadi rugi besar"
"Dan kau mengorbankan aku di dalam rencana besarmu"
Wanita itu menunduk lalu memeluk badannya sendiri dengan tangan yang kurus.
"Kau sangat tahu bagaimana perasaan ayahku pada Danial"
"Iya. Aku juga baru tahu setelah ayahmu menghancurkan hidupku"
Rasa kesal yang dipendam Adhi selama sepuluh tahun tiba-tiba menghilang. Dikala dia melihat bagaimana Tessa hidup, itu membuatnya tidak tega lagi. Wanita ini memang sudah hancur, luar dalam. Karena hukuman yang diberikan oleh ayah Adhi.
"Katakan kalau kau butuh sesuatu. Aku akan ada di London selama satu minggu"
"Kau menghadiri acara besar Danial dan calon istrinya?"
"Kau sudah dengar rupanya"
"Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau beritanya ada dimana-mana. Tapi, kasihan juga calon istrinya. Wanita itu akan terkurung di dalam sangkar dan tidak bisa melakukan apapun. Mungkin saja apa yang aku lakukan sepuluh tahun lalu sudah menyelamatkan kita berdua"
Tessa mengambil rokok yang disimpan di kantung jaket lalu menyalakannya.
"Kau tidak mengenal Felysia"
"Itu nama wanita itu? Yah, tidak lama lagi wanita itu juga akan menerima tekanan besar dari keluargamu. Jadi lebih baik kau pergi lagi ke Indonesia dan jangan kembali. Itulah satu-satunya nasehatku untukmu"
Adhi terdiam. Dia mulai berpikir kalau mungkin itu benar-benar akan terjadi pada Feli. Perempuan yang dicintainya.
"Tawaranku masih sama dan tidak akan berubah. Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu" kata Adhi lalu berdiri dan ingin meninggalkan hotel buruk ini.
"Bisakah aku tidur di kamar ini semalaman? Aku tidak punya tempat untuk tidur lagi" kata Tessa membuat Adhi berpikir. Seberapa besar konsekuensi yang harus ditanggung wanita itu karena menyakiti Danial sepuluh tahun lalu.
"Malam ini saja" katanya lalu pergi. Meninggalkan masalah yang selalu menghantuinya sejak sepuluh tahun lalu. Kini dia merasa lega.
__ADS_1
"Apa Anda akan kembali ke apartemen Tuan?" tanya pengawal sekaligus anak buahnya kepercayaannya itu.
"Aku akan pergi ke tempat lain dulu. Kalian kembalilah ke klub"
"Baik Tuan"
Adhi membawa mobil sendiri kali ini. Dia berkeliling London dan akhirnya sampai di depan sebuah rumah tepat saat tengah malam. Dia menghubungi seseorang dan hanya mendengar suara panggilan sampai teleponnya tersambung.
"Halo"
"Kau masih bangun?"
"Iya"
"Keluarlah!"
Adhi menutup telepon segera tanpa menunggu jawaban. Dia tidk ingin ditolak malam ini. Dan setelah menunggu lima menit, seseorang membuka pintu rumah Rea dari dalam.
"Anda kenapa datang malam-malam begini?" tanya wanita itu.
"Aku hanya tidak bisa tidur"
"Terus urusannya dengan saya apa?"
"Tidak bisakah kita bicara sebentar?"
"Tapi ini udah malam. Saya juga gak enak sama Rea"
"Rea tinggal sendiri sekarang. Dia tidak akan keberatan"
Ambar tidak punya pilihan lain dan segera keluar dari rumah Rea, dengan jaket tebal dan kaus kaki berwarna merah muda.
"Kau kedinginan?"
"Iya. Dari Jakarta kesini. Wuihhh dinginnn"
Adhi tersenyum. Kini senyum itu terasa tulus keluar dari hatinya.
"Aku menyelesaikan satu masalah malam ini"
"Masalah? Apa Anda merebut Feli?"
"Bukan" Kenapa wanita ini selalu membahas tentang Feli akhir-akhir ini ketika berbicara dengannya?
"Ohh. Saya pikir"
"Aku merasa lega" kata Adhi lalu menerima tatapan bodoh dari Ambar.
"Saya tidak mengerti"
"Kau tidak perlu mengerti"
"Oh, ya sudah. Selamat karena Anda menyelesaikannya dengan baik"
Mendengar ucapan Ambar, Adhi semakin merasa damai. Dia melihat langit dan merasa kalau hari ini cukup indah untuk dikenang.
"Langit malam ini indah juga" kata Adhi tidak menerima jawaban dari wanita yang uduk disebelahnya. Ternyata Ambar tertidur dengan menunduk. pasti lelah sekali, setelah perjalanan panjang yang seakan tidak berhenti itu. Adhi melepas jasnya lalu menarik Ambar dalam pelukannya. Dia membungkus tubuh Ambar dengan jasnya dan membuat mereka merasakan kehangatan dari satu sama lain.
__ADS_1