Second Lead Fate

Second Lead Fate
Sembilan Puluh Enam


__ADS_3

"Ken, kamu dimana?" tanya Ambar berusaha mencari pertolongan.


"Kenapa? Kamu seneng ketemu sama Bos? Pengen pamer?"


"Kamu mabuk ya?"


Bukannya Kenzo menyatakan berhenti mengkonsumsi minuman keras sejak setahun yang lalu? Lalu ini apa?


"Bukan urusanmu"


Kenzo menutup telepon, membuat Ambar sedikit terkejut. Dia belum pernah menanggapi Kenzo yang seperti ini, lebih baik Ambar diam dan mencari cara lain. Lagipula, dalam keadaan mabuk Kenzo menjadi teman yang tidak berguna.


"Halo Fel"


"Ambar, katanya Adhi udah ketemu kamu ya"


"Fel, kayaknya ada yang salah sama tunangan kamu. Kaki Bos Adhi bengkak banget. Kamu mesti kesini"


"Apa??? Padahal aku udah bilang biar Adhi pergi ke dokter kemarin di London. Bisa gak kamu anter Adhi ke rumah sakit Mbar? Aku bakal cari pesawat buat ke sana sekarang"


"Apa? Wah kayaknya gak bisa Fel. Aku juga punya kerjaan"


Sebenarnya Ambar tidak memiliki pekerjaan apapun hari itu. Kurang lebih, dia hanya melakukan pengawasan pada dua pegawainya. Hanya saja, dia tidak mungkin mau menghabiskan waktu lebih lama dengan cowok itu.


"Aduuuhhh gimana ya Mbar? Aku udah dapet pesawat tapi besok pagi baru berangkatnya"


"Tapi Fel"


"Tolong ya Mbar. Tolong kali ini aja" pinta Feli dengan nada memelas.


Ambar ingin sekali menolak, ingin sekali. Tapi ...


"Iya deh. Tapi cuma sampe pagi ya. Kamu harus cepet Dateng ke rumah sakit begitu landing"


"Iya Ambar. Makasih ya. Aku bakal telpon Adhi sekarang"


Ambar menurunkan ponsel yang dari tadi menempel di telinganya. Dia menarik napas panjang dan kemudian mengirim pesan pada ibunya. Memberi kabar kalau dia tidak bisa pulang karena menunggu temannya yang sedang sakit. Tentu saja dia tidak berterus terang, atau ayahnya akan menyusul dan menyuruhnya pulang.


Dia kembali ke butik dan menemukan konsultan jas sedang membopong cowok yang ukuran tubuhnya dua kali lipat itu.


"Saya akan membawa Anda ke rumah sakit. Feli ... "


"Dia akan kesini besok pagi. Kau tidak perlu memberitahu tentang jadwal calon istriku!"


Ambar menarik tangan yang seharusnya menggantikan peran konsultan menopang tubuh cowok itu. Tiba-tiba dia merasa kesal pada cowok itu.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Anda bisa masuk mobil dan saya yang menyetir"


"Itu mobil mewah"


"Siapa yang tanya"


"Kau tidak akan bisa mengendarainya"


"Semua mobil sama saja"


"Kau tidak akan bisa. Oughhh sialan"


Ambar menoleh ke belakang dan melihat tubuh cowok itu hampir jatuh. Kelihatannya konsultan butik itu tidak lagi kuat menahan beban yang berat. Ingin sekali dia membiarkan semuanya lalu tertawa saat cowok itu akhirnya terjatuh. Tapi dia tidak sejahat itu. Ambar membantu konsultan itu menopang tubuh Bos Kenzo untuk masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih atas bantuannya. Jasnya harus siap sebelum hari Sabtu." kata Ambar lalu menyalakan mobil yang bukan miliknya itu.


"Kau tidak akan bisa mengendarainya"


"Berisik"


"Apa katamu?"


"Anda berisik!" ujar Ambar lalu membawa mobil Bos Kenzo dengan mulus ke arah rumah sakit.


Teman Feli. Ternyata hanya itulah peran Ambar dalam cerita ini. Peran pendukung yang membuat dua pemeran utama bersatu lalu perlahan menghilang begitu saja. Seperti tidak pernah ada.


"Anda minta saja sebanyak-banyaknya"


Ambar kini memilih untuk diam dan berkonsentrasi ke jalanan. Sebenarnya dia juga takut kalau terjadi apa-apa dengan mobil ini. Harga perbaikannya pasti akan mahal sekali.


Sampai di rumah sakit, Ambar segera meminta tolong perawat untuk menjemput Bos Kenzo dari mobil. Dia tidak mau kalau harus menopang tubuh berat itu lagi.


"Kakinya" kata Ambar lalu menunjuk kaki cowok itu. Sekedar memberikan informasi pada perawat dan dokter yang akan menangani.


Lama dia menunggu diluar ruang Gawat Darurat lalu diminta untuk mengisi surat rawat inap oleh perawat. Terpaksa dia menghubungi Feli lagi untuk meminta identitas diri calon suaminya. Dan dari situ, Ambar baru tahu kalau cowok itu ternyata tidak terlalu tua. Hanya terpaut tiga tahun lebih tua darinya. Berarti dia salah mengira selama ini. Selama ini Ambar tidak pernah tahu apa-apa tentang cowok itu. Tentu saja karena mereka baru saja kenal selama dua bulan saja.


Sekitar satu jam kemudian Ambar melihat cowok itu di dorong dengan kursi roda, keluar dari ruang Gawat Darurat.


"Kenapa?" tanya Ambar ingin tahu keadaan Bos Kenzo.


"Hanya luka sebelumnya menerima tekanan besar dan bengkak. Kami sudah memberikan suntikan untuk mengurangi bengkak dan ini resep obat yang harus diminum oleh Pak Adhitama" penjelasan dokter yang menangani cowok itu.


"Baiklah. Terima kasih" balas Ambar lalu membawa cowok itu ke apotik untuk menebus obat.


"Aku bosan, bisakah kau cepat sedikit?!" kata cowok itu.

__ADS_1


"Makanya jangan sakit"


"Kenapa kau marah-marah terus dari tadi?"


"Saya tidak marah"


"Kalau kau tidak ingin berada disini, pergi saja!"


Kata-kata cowok itu begitu membuat kesal Ambar. Seharusnya orang yang sakit bertingkah seperti orang sakit. Lemah dan tak berdaya. Tapi cowok itu, kelihatannya bisa meruntuhkan tembok dengan amarahnya.


"Saya sudah berjanji pada Feli akan menjaga Anda sampai besok pagi. Jadi jangan mengeluh dan tidak lama lagi kita akan pulang" jelas Ambar berusaha bersabar.


"Kita pulang?"


"Ha?"


"Kau berkata kita akan pulang. Ke rumahmu atau rumahku?"


Ambar tidak memiliki rencana atau apapun dalam otaknya saat berkata seperti itu. Tapi kenapa Bos Kenzo membuatnya terdengar seperti dia sedang ingin pulang bersama?


"Tentu saja rumah Anda. Saya tidak akan merasa nyaman kalau tunangan Feli ada di rumah."


"Tunangan Feli? Hanya itu saja aku bagimu?"


Ambar menatap mata biru yang kini terletak sekitar lim puluh centimeter di bawahnya itu. Bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan Bos Kenzo. Apa cowok itu berharap lebih darinya? Tapi, sebelum dia bisa bertanya, nama cowok itu dipanggil untuk mengambil obat.


"Sudah. Anda bisa pulang sekarang" kata Ambar lalu ingin mendorong kursi roda tapi tidak jadi. Karena cowok itu telah mengayuh kursi rodanya sendiri, menuju pintu keluar.


"Bisa tidak Anda pelan sedikit?" kata Ambar lalu mengejar kursi roda yang seperti terbang itu.


"Kakimu terlalu pendek"


"Tidak boleh berlari di rumah sakit"


"Itu aturan mu sendiri"


"Ha?"


Ambar semakin jauh dari kursi roda cowok itu dan mulai menambah kecepatan berjalannya. Tak lama dia melihat cowok itu beserta kursi rodanya berhenti dan merasa lega. Tapi dia tidak bisa memperlambat langkah karena lantai yang menurun di depannya. Belum lagi dia harus terpeleset dan menatap ngeri tempat jatuhnya. Untung saja sebuah tangan terulur tepat menangkap pinggangnya.


"Sampai kapan kau akan berada di pangkuanku?"


Ambar mulai membuka satu persatu kelopak matanya dan bersyukur tidak terjatuh. Pasti malu sekali rasanya kalau sampai jatuh di depan banyak orang. Tapi, dia tidak ada di tanah dan tidak sedang berdiri. Faktanya, dia kini duduk di pangkuan Bos Kenzo, di atas kursi roda yang dibuat ngebut tadi semakin membuatnya malu.


Dia tidak jadi bersyukur dan mengutuk apa yang sudah dilakukannya. Seharusnya dia tidak berlari tadi. Sial.

__ADS_1


__ADS_2