
"Mbar, ini tolong bawa ke depan!"
"Iya Budhe"
Hari ini Abar tidak bekerja. Dia mengambil cuti selama dua hari dan sedang menjadi pekerja lepas di rumah Ratih. Sebenarnya bukan pekerja karena dia hanya dibayar dengan nasi kotak sisa.
"Mbar, coba klamu lihat Ratih. Udah siap belum anak itu?"
"Siap Budhe"
Ambar pergi ke kamar Ratih dan melihat temannya itu sedang berias. Ini pernikahan ketiga Ratih. Jodoh memang tidak dapat diprediksi datangnya. Setelah bercerai dua bulan lalu, Ratih dengan mudah mendapatkan calon suami yang baru. Temannya itu memang cantik dan tidak terlihat seperti ibu dua orang anak.
"Ratih. Kamu udah makan belum? Ditanya Budhe"
"Nanti aja Mbar. Akad nikah tinggal dua jam lagi"
Ambar melihat jam di tangannya dan mengangguk tanda mengerti.
"Aku bilang ke Budhe kalo gitu"
"Mbar. Aku boleh pinjem sepatu kamu yang kemarin itu gak?"
Ambar mencibir, bagaimana bisa Ratih tahu kalau dia baru saja membeli sepatu khusus untuk menghadiri undangan.
"Yaaa. Aku ambilin dulu"
"Makasih"
Tanpa mendengar kata-kata Ratih, Ambar pulang dan mulai mencari sepatu yang baru dibelinya kemarin. Setelah menemukannya, Ambar bergegas kembali ke rumah Ratih tapi mendengar ayah dan ibunya di kamar. pasti ayah dan ibunya sedang berganti baju untuk acara akad nikah Ratih.
"Bu ... " Ambar ingin menyarankan baju yang akan dipakai ibunya tapi tidak jadi karena mendengar namanya disebutkan oleh ayahnya di dalam kamar.
"Ratih sudah tiga kali mau nikah. Anak kita kapan bawa laki-laki ke rumah?"
"Kan Bapak sudah janji gak bawa-bawa masalah ini lagi"
"Tapi ... tetangga-tetangga sudah pada tanya kapan Ambar nikah. Pacar saja gak punya, gimana disuruh nikah"
"Ambar itu gak mau pacaran Pak. nanti kalau sudah jodohnya pasti datang waktunya Ambar nikah"
"Sampai kapan? Tunggu Bapak mati baru anak itu nikah"
__ADS_1
"Pak ... "
Diluar kamar, Ambar hanya bisa merasa bersalah. Inilah yang tidak disukainya setiap kali ada tetangga yang menikah. Bahkan banyak tetangganya yang belum cukup umur sudah menikah. Sedangkan dia? Tidak pernah menunjukkan niat untuk menikah. Tapi dia tidak berhak untuk menikah. Apalagi badannya telah disentuh oleh laki-laki. Dia masih merasa dirinya kotor sampai sekarang. Seorang perempuan yang kotor tidak berhak mencintai laki-laki. Dia hanya berhak mengabdikan diri untuk kedua orang tuanya. Ambar menahan rasa bersalahnya dan kembali ke rumah Ratih.
"Ini sepatunya" Ambar menyerahkan sepatu mahal berwarna putih dengan hiasan manik-manik cantik kepada Ratih.
"Makasih ya. Aku cuma pinjem kok. Nanti aku balikin"
Yah, sama seperti janji Ratih untuk tas dan baju yang dipinjamnya dari Ambar. Dan semuanya tidak pernah ada yang kembali satu-pun. Tapi Ambar tidak pernah keberatan, karena Ratih adalah satu-satunya teman masa kecilnya yang dekat sampai sekarang.
"Ya"
"Eh, sini. kamu juga dirias yuk. Sama pake mehndi juga. Biar cakep"
"Ngapain sih?"
Ambar sebenarnya tidak mau tapi kekuatan Ratih yang luar biasa berhasil memaksanya duduk di antara para MUA profesional yang disewa. Dengan cekatan mereka memakaikan mehndi putih dengan pola yang cantik di tangan Ambar. Mengubah tangan kasarnya menjadi seperti lukisan yang indah.
"Kita rias juga ya Mba" kata bawahan MUA yang sekarang sedang merias Ratih.
"Saya cuman tamu undangan, gak perlu"
"Udah. kamu diam aja Mbar. Lama banget kan kamu gak pernah dandan full kayak gini" kata Ratih memaksanya. Akhirnya Ambar menyerah. Toh tidak ada salahnya dia bersolek disaat pernikahan temannya. Asalkan tidak setebal yang sedang dipakai Ratih sekarang.
"Jangan tebel-tebel mba ya. Saya gak suka"
"Beres"
Satu jam kemudian Ambar merasa dirinya lebih seperti pengantin daripada tamu undangan. Untung saja dia memakai gamis biru dan bukan kebaya. Bisa-bisa dia dikira pengantin, bukan Ratih yang menggunakan kebaya berwarna putih.
"Lho, Ambar. kamu"
"Bu, ini kerjaan Ratih"
Ibunya pasti terkejut melihatnya dengan riasan lengkap seperti ini.
"Cantik. Seperti pengantin"
"Apaan sih Bu"
"Coba kamu juga menikah. Pasti Bapak bakal seneng banget"
__ADS_1
Ambar tidak lagi bisa memasang senyum di wajahnya. Dia sungguh merasa bersalah disaat ibunya yang bicara seperti itu.
"Ibu"
"Maaf. Ibu sudah janji gak bakal ngomong itu. tapi kamu memang cantik Nak"
Kini Ambar mencoba untuk tersenyum lagi. Sebelum pengantin pria datang, ratih kembali memaksanya mengambil foto.
"Sini, aku yang fotoin" kata Ratih lalu merebut ponsel di tangan Ambar.
Ratih mulai mengarahkan gaya Ambar seperti fotografer profesional. Tidak tahu bagaimana hasil fotonya nanti.
"udah ya. Udah capek nih"
"Iya, ini. Eh, gak sengaja aku ngirim ke status"
"Apa?"
Ambar segera memeriksa ponselnya dan benar, ratih mengirim foto dirinya ke status wa. Dia ingin menghapus foto itu lalu merasa sayang. ternyata Ratih pandai juga mengambil foto. hasilnya membuat Ambar menjadi seperti orang lain. Mungkin tidak ada salahnya mengirim foto seperti ini ke status.
"Ayo Mbar. Siap-siap. Pengantin cowok udah mau dateng"
Ambar segera mematikan dering ponselnya dan bersiap menyambut calon suami Ratih. Dia tidak tahu ada beberapa orang yang terkejut dengan foto di satusnya dan mencoba untuk menghubunginya.
Kenzo sedang duduk, menunggu Bos-nya turun dan mengantar ke perusahaan. Ini adalah kesibukan baru Kenzo sejak dua bulan lalu. Meskipun lelah karena tidur hanya selama dua atau tiga jam, dia tidak berani mengeluh lagi. karena bos Adhi selalu mengancam untuk memecatnya setiap kali mengeluh. Hampir saja dia mengantuk lalu iseng melihat status-status di whatsapp. Foto seseorang tiba-tiba menyita perhatiannya. Rasa kantuk dan lelah yang tadi dirasakannya hilang dalam sekejap. Berganti dengan kesal dan marah. Apa ini? Kenapa Ambar memiliki foto seperti ini? Cantik sekali, tapi ... bagian belakangnya seperti dekorasi pernikahan. Apa Ambar? Tidak mungkin. Meskipun tidak setiap hari memberi kabar, dia tahu bagaimana keadaan Ambar. Dari Rindu yang sekarang menjadi seperti mata-matanya.
Tapi, Ambar tidak akan pernah posting foto seperti ini kalau bukan ... . Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Apa Ambar benar-benar menikah? Dengan siapa? Kenzo dengan cepat menghubungi Ambar tapi tidak tersambung. Kemana perempuan itu? Tidak mungkin. Tidak mungkin. Kenzo mencoba untuk menghubungi Ambar beberapa kali tapi tetap tidak tersambung. Dia juga menghubungi Rindu untuk memintanya poergi ke rumah Ambar tapi adiknya itu juga tidak menjawab. Kenapa semua orang tidak menjawab telepon darinya?
Kenzo begitu kesal sampai tidak sadar tingkahnya dilihat oleh atasannya.
"Apa yang kau lakukan? Siapkan mobil!"
"Itu tidak penting sekarang" jawab Kenzo dengan suara membentak.
"Apa katamu?!"
"Semua ini karena Bos. Kenapa Bos membuat saya tetap berada di Suarabaya? Seharusnya Bos mengirim saya ke Jakarta"
"Ada apa denganmu?"
"Ambar menikah dan saya harus pergi ke jakarta sekarang. Bos bisa memecat saya kalau perlu!"
__ADS_1
Kenzo meninggalkan pekerjaan dan juga Bos-nya begitu saja. Dia tidak peduli dengan apapun lagi sekarang. Yang ada dalam pikirannya hanya apakah dia bisa datang tepat waktu dan mencegah Ambar menikah.