
Adhi merasakan sesuatu menyentuh kulitnya. Jari-jari ramping yang panjang perlahan memberikan kehangatan pada tangannya yang sedang di gips. Kenapa wanita ini memegangnya? Apa karena takut atau merasa terintimidasi? Tanpa terasa, Adhi menyunggingkan senyum di wajahnya dan menikmati sentuhan hangat wanita itu.
"Danial, sebaiknya kita pergi. Ambar juga sudah ada disini" kata Feli, sesuai dengan harapan Adhi. Perempuan itu terlihat tidak nyaman saat Ambar masuk ke dalam kamar. Ternyata, kehadiran wanita ini membuat Feli merasa tidak nyaman dan ingin sgera pergi. Sepertinya, Adhi perlu mempertimbangkan lagi keputusannya semalam.
"Kami pergi dulu Mbar, Adhi. Semoga cepat sembuh" kata Feli lagi lalu mengajak calon suaminya pergi.
Akhirnya, Adhi terbebas dari sakit yang dirasakannya sejak Feli datang.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya wanita yang tetap memegang jarinya.
"Iya"
"Benarkah? Mereka gak bakalan balik lagi kan?"
"Tidak"
"Alhamdulillah" kata wanita ini lalu melepas pegangan tangannya. Mendadak, Adhi merasa aneh. Sepertinya dia kehilangan sesuatu yang membuatnya nyaman.
"Jadi itu calon suami Feli? Wah cakep banget. Tapi kok kayaknya ngeri ya? Apa bener kalo orang itu kakak Anda? Kenapa kesannya beda banget?"
Ternyata wanita ini berpikir banyak hal di kepalanya yang tertutup kain itu.
"Apa kau belum pernah melihatnya?" Sungguh aneh kalau seseorang yang mengaku sahabat tidak pernah melihat calon suami Feli.
"Pernah tapi dari internet. Feli gak pernah bagiin foto dia sama calon suaminya. Tapi, kata Rea itu wajar soalnya mereka tinggal jauh-jauhan. Calon suaminya di London, Feli di Tokyo"
Adhi mencoba mengingat-ingat lagi. Dia juga tidak pernah sekalipun melihat foto kakaknya dan Feli bersama. bahkan foto pertunangan mereka saja, Adhi tidak pernah melihatnya. Dia masih berusaha mengingat ketika Ambar bertanya sesuatu.
"Bos ... Bos"
"Ya"
"Kenapa Bos panggil saya kesini? Apa karena ada Feli dan calon suaminya?"
Adhi kini mengingat apa yang dirasakannya saat mencoba menghubungi Ambar sebelum Feli dan kakaknya datang.
"Kenapa kau menolak panggilanku?" tanyanya marah. Belum pernah sekalipun ada yang menolak panggilannya. Dia adalah Adhi, Adhitama Elvan Syahreza. banyak sekali wanita yang mengharapkan telepon darinya.
"Sinyalnya jelek. Saya tadi makan daging jauhhhh banget"
"Kau pikir aku akan mempercayainya?"
"Terserah, mau percaya apa gak"
__ADS_1
Adhi memang mencium bau daging saat wanita itu berada di dekatnya. Tapi tetap saja dia merasa kesal karena wanita itu tidak segera datang saat dia memintanya.
"Permisi, selamat malam"
Adhi tidak sadar ada perawat yang datang ke kamarnya, membawa nampan berisi makanan. Dia lupa belum makan sejak siang tadi.
"Silahkan masuk" sapa wanita itu ramah, berbeda sekali dengan nada bicara saat bicara dengannya.
"Saya hanya mengantar makanan. Tolong panggil saya lagi kalau Tuan Adhitama selesai makan"
"Baik"
Wanita itu menerima nampan makanan yang diserahkan oleh perawat lalu meletakkannya di atas meja. Tanpa diperintah, wanita itu mendekati ranjang Adhi dan mulai menyiapkan meja. Dengan sigap, teman Kenzo itu menyiapkan makan, mengatur ketinggian sandaran ranjang lalu melangkah mundur. Kelihatannya, wanita ini berbakat menjadi asistennya, lebih daripada yang bisa dilakukan oleh Kenzo.
"Saya gak tahu kalo Anda belum makan"
"Lalu ... kenapa?"
"Harusnya Anda makan tepat waktu kalau ingin segera pulih"
"Baiklah Sayang" goda Adhi.
"Apa?"
"Siapa yang mau? Saya gak mau jadi kekasih Anda, apalagi dipanggil seperti itu. Hii, jijik"
Wanita ini aneh sekali. Sama sekali tidak terpesona dengan wajah Adhi, juga enggan dipanggil dengan sebutan yang diinginkan oleh banyak wanita.
"Lau kenapa kau kemari?"
"Saya hanya takut keadaan Anda memburuk dan tidak ada orang yang ada disini untuk menemani"
Wanita itu terdiam setelah menjawab pertanyaan. Kini, Adhi mulai mengingat wanita bernama Ambar itu. Menjemput temannya yang hilang selama tiga hari meskipun memakai pakaian serba tertutup. Membantu Kenzo membersihkan apartemen Adhi hanya karena temannya itu mencari pekerjaan baru. Dan kata-kata Feli yang baru saja didengarnya tadi, membuat Adhi menyimpulkan bahwa Ambar tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Jadi, meskipun Adhi bukanlah teman Ambar, dia bisa memanfaatkan rasa simpati wanita itu.
"Kalau begitu bantulah aku lagi"
"Tapi Anda bisa mencari yang lebih layak daripada saya"
Tunggu, Adhi merasa Ambar menekankan kata layak dalam ucapannya. Memang, Ambar tidak layak dibandingkan dengan Feli. Benar juga kalau Adhi bisa mendapatkan wanita manapun untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Dan Adhi yakin kalau wanita lain akan lebih menghayati perannya daripada Ambar. Tapi, ternyata kehadiran Ambar disisinya, membuat Feli segan untuk mendekat. Dua kali saat Ambar disini, Feli benar-benar tidak mendekatinya seperti dulu lagi.
"Tentu saja. Tapi Feli terlanjur mengenalmu sebagai kekasihku"
"Sial"
__ADS_1
"Kau mengumpat padaku?"
"Tidak, saya hanya ... berpikir kalau semua ini hanya menambah rumit keadaan dan akhirnya merepotkan. Tapi, sebaiknya Anda makan dulu. Keburu dingin"
Adhi melihat makanan di depannya dan mulai mengambil sendok. Dia melihat Ambar perlahan menjauhinya dan duduk di sofa. Seperti memberinya ruang sendiri. Ternyata wanita ini cukup pengertian pada orang lain. Setelah makan, Adhi merasa badannya tidak nyaman. Dia sudah dua hari tidak mandi, sehingga badannya terasa lengket. Apa dia harus memanggil perawat untuk meminta handuk kecil?
Ambar duduk di sofa untuk memberi waktu cowok itu makan dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Gara-gara simpati, dia kini terjebak dalam sandiwara yang tidak bisa diprediksi akhirnya. Meskipun sudah mencoba tadi, Ambar masih merasa tidak pantas. Bagaimana bisa dia melihat wajah Feli nantinya? Seharusnya dia tidak pernah datang ke kamar dan rumah sakit ini. Seharusnya dia tidak pernah mengenal cowok ini. Dan yang lebih penting adalah dia seharusnya tidak pernah menjawab permintaan tolong Kenzo. Semua ini terjadi karena teman bodohnya itu. Kalau saja, Kenzo tidak menghubunginya malam itu, dia tidak akan pernah terjebak dalam hal ini.
Prangg ... prang ... .
Terdengar suara benda jatuh yang cukup memekakkan telinga. AMbar melihat ke arah ranjang dan melihat cowok yang tadinya berbaring itu mencoba untuk bergerak turun. Tentu saja Amabr segera menghampirinya dan membantu mengambil gelas dan piring yang terjatuh.
"Apa Anda memerlukan sesuatu? Bukannya Anda tidak boleh turun dari ranjang"
"Aku hanya ... "
Kelihatannya cowok ini membutuhkan sesuatu tapi terlalu gengsi untuk meminta tolong pada Ambar.
"Apa saya harus memanggil perawat?"
"Tidak, aku hanya membutuhkan ... handuk"
Ambar menoleh kekanan dan kiri untuk mencari keberadaan handuk yang dimaksud, tapi tidak menemukannya. Dia kemudian mencari di lemari-lemari yang ada disana dan pergi ke kamar mandi.
"Apa Anda ingin membasuh badan?" tanyanya segera setelah menemukan handuk kecil di kamar mandi. karena setahu Ambar, pasien kecelakaan seperti Bos Kenzo, belum boleh mandi.
"Iya"
Mendengar jawabab Bos Kenzo, Ambar segera membasahi handuk dengan air hangat dan memerasnya. Dia memberikan handuk kepada cowok yang kembali berbaring di rajangnya.
"Silahkan, apa saya harus memanggil perawat untuk membantu Anda?"
"Tidak perlu, aku hanya ... "
Tiba-tiba, tanpa peringatan apapun. Cowok itu membuka baju rumah sakit dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya di depan Ambar.
"Ha!!!" seru Ambar lalu segera berbalik dan menutup mulutnya. Gila cowok ini. Kok bisa gak mikir kalo Ambar ada disitu. Dengan perlahan dia bergerak ke arah sofa dan menutupi matanya.
Meskipun menutup mata, masih terbayang dada dan perut berotot yang basah dengan keringat. Ambar mengutuk matanya karena melihat sesuatu yang seharusnya terlarang untuknya. Cowok itu juga, kenapa tidak memberitahu terlebih dahulu sebelum melepas baju? Berdosalah Ambar karena terus teringat pada badan tanpa atasan itu.
__ADS_1