Second Lead Fate

Second Lead Fate
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Sepulangnya dari Bali, Adhi mendapatkan laporan yang tidak menyenangkan dari salah satu anak buah kepercayaannya. Acara ulang tahun perusahaan dijadikan ajang perkenalan calon menantu baru keluarganya. Sebenarnya Adhi tidak mempermasalahkan kalau kehadirannya tidak diharapkan. Tapi saat dia mendengar dan melihat daftar tamu acara bridal shower yang akan dilaksanakan seminggu sebelum pernikahan Danial, Adhi marah. Ada seseorang yang sangat dia benci melebihi kakaknya diundang secara resmi ke acara itu. Mantan pacar Danial yang menghancurkan kehidupan Adhi. Juga penyebab keretakan hubungan dia dan keluarganya. Dan dengan sgala cara yang bisa dia lakukan, akhirnya Adhi berhasil memasukkan namanya ke dalam daftar tamu acara bridal shower itu.


"Jadi, Anda akan pergi ke London untuk seminggu Bos?" tanya Kenzo setelah memasukkan jadwal kerja Adhi yang harus ditunda karena kehadirannya di pesta itu.


"Iya. Kau atur perjalananku, dan jangan buat masalah selama aku pergi"


"Apa Bos akan menghentikan pernikahan Feli?"


Pertanyaan yang sedikit mengejutkan bagi Adhi. Dia tidak ada niatan untuk melakukan itu, tpi semua orang pasti akan mencurigai kedatangannya.


"Tidak"


"Anda datang sendiri kesana. Ke pesta sebelum pernikahan kakak Anda dan Feli dimulai. Semua itu akan membuat semua orang curiga"


Benar juga apa kata Kenzo. Kedatangannya ke pesta itu pasti akan mebuat semua orang berpikir kalau Adhi akan merebut calon pengantin sebelum pernikahan. Kecuali ... .


Adhi melihat lagi daftar tamu yang dikirimkan oleh anak buahnya di London dan mencari nama seseorang. Meskipun tidak mengira wanita itu akan diundang ke London, Adhi yakin Feli sangat menghargai sahabatnya. Dan benar. Ada nama Ambar disana.


"Aku tidak akan datang sendiri"


"Apa? Bos sudah punya pacar?"


"Ada. Dia ... " Adhi berhenti menjelaskan setelah melihat wajah Kenzo yang ingin tahu. Kalau anak buahnya ini tahu dia akan datang bersama Ambar, maka semuanya akan menjadi rumit. Karena Kenzo sudah pasti memiliki perasaan pada temannya itu.


"Siapa Bos? Artis? Model? Sexy?"


"Dia hanya seseorang yang tidak akan merugikanku"


"Wah, baru kali ini ada wanita yang tidak menginginkan sesuatu dari Bos"


Jari Adhi yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya terhenti. Sekali lagi, anak buahnya ini benar lagi. Dari semua wanita yang ada di sekitarnya, hanya Ambar tidak pernah meminta apapun. Meskipun dia merepotkan, membuat wanita itu membohongi sahabatnya sendiri, tapi Ambar tidak pernah meminta sesuatu. Bukan karena Ambar orang yang kaya. Karena wanita itu memiliki harga diri yang tinggi karena berusaha keras untuk mencapai tujuan hidupnya. Sama seperti yang harus dilakukan Adhi selama ini. Bibir kanan Adhi perlahan naik dan membentuk sebuah bulan sabit melengkung di wajahnya.


"Bos, apa ada yang salah?" tanya Kenzo mengembalikan wajah Adhi seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Tidak ada"


"Bos, tersenyum"


"Apa? Kau pasti bermimpi"


"Apa Bos membayangkan bersetubuh dengannya?"


"Apa??" Adhi terkejut dengan apa yang ada di pikiran Kenzo. Bagaimana bisa anak buahnya berpikir kalau Adhi akan melakukan itu dengan temannya sendiri. Ambar bukanlah wanita seperti itu. Wanita itu bahkan menutupi semua bagian tubuhnya. Kecuali saat Adhi berhasil memegang sesuatu yang kenyal. penuh dan berpuncak keras saat itu. Adhi yakin kalau Ambar juga merasakan sesuatu karena sentuhan Adhi. Tapi wanita itu pintar sekali lari dan menghilang.


Dan Adhi akhirnya melihat lagi wanita itu. Dia memiliki kesempatan untuk membicarakan rencananya datang ke London berdua dengan Ambar. Tapi wanita itu tidak memberikan jawaban yang menyenangkan. Satu kata yang terdiri dari dua huruf, selalu dipakai Ambar untuk menghindari pertanyaan apapun.


"Aku tidak suka jawabanmu"


"Ha?"


"Kenapa kau menjawab dengan kata itu lagi?"


"Ha?"


"Ha?"


Sudah cukup. Adhi kesal. Dia tidak tahan lagi dengan jawaban asal sebut yang dilakukan oleh Ambar. Dia mendekat ke arah wanita yang matanya semakin membesar itu.


"Kau mulai membuatku kesal"


"Ha?"


Adhi semakin mendekat dan menekan wanita itu ke railing pembatas dan menghirup aroma yang berbeda dengan terakhir kali memeluk Ambar.


 


Ambar diam, Dia tidak bisa menjawab apa-apa saat cowok yang bertanya padanya berada dalam jarak sedekat ini. Cowok ini, kenapa seperti ini lagi. Dua kali sudah Ambar harus berada dalam jarak sedekat ini dengan Bos Kenzo.

__ADS_1


"Sayang"


Ambar mendongak melihat bibir tipis itu bergerak dan memanggilnya dengan mesra.


"Sayang" kata Bos Kenzo lagi.


Ambar mengerti kalau kata-kata itu bukanlah yang sebenarnya. Dia tahu kalau kata-kata itu hanyalah sebuah alat untuk membuat sandiwara atau kebohongan mereka menjadi seperti nyata. Tapi ... tetap saja. Suara berat dan hembusan napas hangat yang menyentuh kulit pipi Ambar bercampur dengan panggilan itu membuatnya merasa tidak tenang. Di harus membuka mulut atau terjebak dengan perasaannya yang tidak karuan.


"Iya ... iya. Tapi tidak disini. Panggilan itu berlaku kalau ada Feli"


Selesai, dia sudah mengatakan jawabannya. Seharusnya cowok itu menjauh dan membebaskan Ambar dari kurungannya. Dia tidak merasa aman berada di pagar pembatas seperti ini.


"Kenapa kau tidak mencoba? Apa kau gugup?"


"Ha?" Ambar menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terbiasa mengatakan jawaban yang sama.


"Kau menyukaiku?"


Ambar kini melihat mata biru yang ada tepat di depannya. Gawat. Dia tidak boleh berlama-loama dengan orang ini. Dia harus segera pulang.


"Hahaha Anda bercanda. mana mungkin saya menyukai ... Anda"


Lalu dia menunduk, mencoba untuk tidak melihat mata biru itu lagi.


"Kalau begitu panggil saja. Apa susahnya? Kita akan sering bersama di London dan aku tidak mau Feli mengira aku putus darimu"


Feli. Benar. Ambar harus terus mengingat nama sahabatnya itu.


"Sayang. Sayang. Sayang. Puas?"


Cowok itu akhirnya melepas kurungan badannya dan Ambar terbebas. Ada rasa sedih bercampur kesal yang diam-diam merasuki hatinya. Tidak tahu kenapa.


"Bukankah itu hal yang mudah?" tanya cowok itu seperti tidak habis melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Ya mudah. Tapi saya harus memperingatlkan Anda. Kita ... bukanlah muhrim. Jadi ... jauhkan semua bagian tubuh Anda dari saya. Karena saya ... Ambar tidak akan terima kalau Anda menyentuh atau mendekat lagi"


Ambar membusungkan dada dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Lalu meninggalkan cowok itu sendiri di atap cafenya. Dia tidak bisa berpikir apapun dan ingin segera pulang.


__ADS_2