
Feli menerima pesan dari Ambar lalu merasa khawatir. Bagaimana tidak. Calon suaminyakini ada di jakarta dalam keadaan sakit. Tanpa ada yang menemani kecuali teman yang Feli tidak kenal sama sekali. Benar juga, dia sama sekali tidak tahu tentang kehidupan Adhi sampai saat ini. Siapa teman-teman calon suaminya, apa saja usaha yang masih dijalankan, atau bahkan alamat rumah Adhi yang baru. Bagaimana bisa dia menjadi istri Adhi yang baik kalau seperti ini? Dia berusaha mencari tahu dari Ambar, tapi sahabatnya itu sepertinya sudah tertidur.
"Halo"
"Ada apa?"
Akhirnya telepon ke calon suaminya tersambung juga setelah beberapa kali mencoba.
"Sayang, aku akan pergi dengan pesawat pertama besok. Apakah kau baik ... "
Belum selesai Feli bicara, Adhi melarangnya untuk datang.
"Tapi sayang"
"Aku lelah. AKu ingin tidur"
Tidak tahu berapa kali sudah. Tapi ... apa yang dibayangkan Feli tentang Adhi sedikit berbeda dengan bayangannya. Dulu, Adhi merupakan laki-laki paling perhatian dan mencintainya. Dibandingkan Danial, Adhi lebih sering menanyakan keadaannya. Setidaknya seperti itu sebelum ... dua bulan lalu. Saat dia mengatakan rencana pernikahannya pada Adhi. Apa hati laki-laki itu telah berubah? Tidak mungkin. lalu, untuk apa Adhi mengerahkan semua keberanian untuk merebutnya dari tangan Danial? Pasti Feli hanya terlalu banyak berpikir. Mungkin Adhi juga membutuhkan waktu bersiap untuk menikah Minggu ini. Sama sepertinya yang sedang sibuk di Bali, untuk mempersiapkan acara hari Minggu. Terutama menerima banyak sekali penolakan kehadiran para tamu yang mengetahui perubahan calon mempelai laki-laki.
"Feli, apa kau masih bangun?"
Feli berjalan ke arah pintu kamar hotel yang seluruh kamarnya telah disewa untuk seminggu. Dia membuka pintu dan melihat ibunya sedang tidak senang.
"Ini sudah malam Bu"
"Lihat ini? Apa kau tahu tentang semua ini?"
Feli mengambil ponsel ibunya yang dipenuhi penolakan tamu untuk datang ke pernikahannya.
"Feli sudah tahu"
"Duhhh. Ibu malu. Gimana kalau tidak ada tamu yang datang Minggu besok? Semua ini gara-gara anak bodoh itu. Dimana dia"
"Ibu. Ini bukan gara-gara Adhi"
"Ohhh kamu bela dia terus. Semua ini memang karena anak bodoh itu. Putra kedua yang tidak memiliki apa-apa"
"Ibu!!"
"Kenapa? Benar kan?"
Feli menunduk tidak berani memperlihatkan wajahnya yang ingin menangis. Dia tidak suka ibunya terus menerus menghina laki-laki yang dicintainya.
"Ibu, Adhi punya banyak hal. Tidak seperti yang ibu katakan. Adhi punya cafe, club, tanah, dan masih banyak lagi"
"Pastikan saja semuanya menjadi milikmu saat kalian menikah nanti! Atau ibu akan tetap menganggapnya sebagai anak bodoh"
__ADS_1
"Ibu, semua itu milik Adhi"
"Kalau kalian menikah, semuanya otomatis menjadi milikmu. Jadi, pastikan hal itu!!" kata ibunya lalu berlalu pergi meninggalkan Feli sendiri di kamarnya. Hanya bersama gaun pengantin yang berdiri tegak di pojok kamar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia sama sekali tidak bisa memikirkan jalan agar ibunya menerima Adhi dengan baik, tanpa harus merebut semua milik calon suaminya itu.
"Siapa? Feli?" tanya Andy saat Adhi melempar ponselnya di sofa tempatnya berbaring. Obat yang diberikan oleh dokter ternyata cukup bisa membuatnya rileks, sebelum Feli menghubunginya. Kini pikirannya penuh dengan pernikahan yang mungkin sudah tidak diinginkannya lagi.
"Iya" Kepalanya menjadi pusing sekarang.
"Kenapa kau seperti tidak senang menerima telepon dari calon istrimu"
"Kau pergi saja sekarang! Aku ingin sendiri"
"Tapi, di rumah ini tidak ada siapa-siapa"
"Pergi saja!"
"Kau yakin? Atau aku harus memanggil Ambar kemari?"
Adhi terkejut mendengar nama itu dan segera melihat ke arah temannya.
"Kau ... " Sepertinya Andy mengetahui sesuatu tentang apa yang sedang dirasakannya saat ini.
"Sial Dhi. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Apa yang kau tahu?"
"Aku hanya terlena untuk sebentar saja. Satu-satunya wanita yang kucintai dan akan segera kunikahi adalah Feli, bukan wanita itu. Sebaiknya kau pergi sekarang!"
Adhi bangkit dari sofa, mencari pegangan untuk pergi ke kamarnya. Dia tidak peduli lagi dengan Andy yang masih haus akan informasi itu.
"Jangan sampai kau menyesal, karena menikahi wanita yang salah"
"Salah? Feli adalah pilihan yang benar. Aku sudah mencintainya selama sepuluh tahun dan lagi wanita itu ... berbeda"
"Ambar berbeda? Karena wanita itu seorang muslim dan berhijab? Apa benar hanya itu alasanmu?"
Adhi menutup matanya, berharap kalau memang alasan itu cukup untuk membungkam teman dan juga hatinya.
"Ambar bukan wanita yang sesuai denganku. Wanita itu tidak berpendidikan tinggi, dari keluarga miskin dan ... "
"Kupikir kau bukan orang yang menilai hal itu"
Adhi tidak kuat lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya terus menerus seperti ini. Dia jatuh duduk di anak tangga dan menunduk dalam.
"Apa yang harus kulakukan? Aku sudah memutuskan untuk menikah dan tidak bisa mundur lagi"
__ADS_1
Adhi bisa merasakan temannya berjalan mendekat dan menepuk pundaknya.
"Lakukan apa yang baik untukmu. Jangan memilki penyesalan seperti dulu lagi. Aku akan pergi sekarang"
Andy meninggalkannya sendiri di rumah besar tempat dia pertama kali melihat tubuh Ambar. Seharusnya dia mengetahui perasaannya lebih awal. Seharusnya dia tidak keras kepala dan menganggap apa yang ada di pikirannya selalu benar. Seharusnya dia membiarkan hatinya menuntun keputusannya. Kini semua seperti tidak ada artinya lagi. Lama Adhi merenung di tangga sendirian dalam gelap lalu menyadari sesuatu. Mungkin saja semuanya belum terlambat. Seandainya saja ... wanita itu memang menyukainya. Mungkin saja ... mereka bisa bersatu. Kalau mereka saling mencintai pasti akan ada jalan untuk bersatu.
Mengalahkan sakit di kakinya, Adhi mengambil kunci yang ditinggalkan Andy di atas meja dan naik ke dalam mobil.
"Tuan, ini masih pagi. Anda mau kemana?"
"Aku harus pergi"
"Bukannya kaki Anda?"
"Diamlah!"
Adhi membawa mobilnya keluar, memacunya cepat menuju rumah Ambar. Dia masih ingat daerah rumah Ambar yang selalu disebut-sebut oleh Kenzo, tapi tidak tahu alamat tepatnya. Apa dia harus bertanya pada Rea? Tidak. Dia akan menghubungi wanita itu.
"Assalamualaikum. Siapa ini?"
Suara wanita itu terdengar sengau. Apa karena bangun tidur? bagaimana bisa wanita itu tidur disaat hati Adhi tersiksa seperti ini?
"Dimana rumahmu?"
"Ha?"
"Dimana rumahmu?"
"Rumah? Kenapa Anda bertanya tentang alamat rumah saya pagi-pagi begini?"
"Cepat katakan saja!" teriak Adhi tidak sabar. Dia akan segera bertemu dengan pertigaan jalan besar dan tidak ingin salah belok.
"Mau apa emangnya?"
Adhi kesal sekali harus berhadapan dengan sifat keras kepala Ambar yang seperti ini. Tapi itulah yang membuatnya tertarik pada wanita itu.
"Aku ingin bicara"
"Tentang apa?"
"Aku sedang di dalam mobil. Apa kau akan mengulur waktu agar kakiku menjadi semakin sakit karena menekan pedal gas?"
Akhirnya Adhi melakukan cara yang sering dia pakai pada Ambar. Menyentuh sisi kemanusian Ambar yang lemah.
"Jalan Kebayoran Lama gang sepuluh. Gangnya kecil jadi lebih baik Anda"
__ADS_1
"Aku akan segera sampai. Keluarlah!"
Adhi menutup telepon dan segera memecau mobilnya dengan cepat. Dia tidak ingin terlambat dan menyesal seperti sepuluh tahun lalu. Kali ini dia akan memastikan perasaan Ambar padanya dan memikirkan yang lainnya nanti.